NovelToon NovelToon
NEW SAGA WARISAN PRIMORDIAL

NEW SAGA WARISAN PRIMORDIAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Abai Shaden

Ribuan tahun setelah Kaisar Primordial Wang Tian menghilang ke dalam keheningan dimensi untuk menjaga keseimbangan alam, silsilah darahnya telah bercabang menjadi klan-klan besar yang menguasai berbagai penjuru dunia.

​Istri pertama, Lin Xuelan, melahirkan garis keturunan Penjaga Samudra. Istri ketiga, Mora, melahirkan klan Bayangan Langit. Istri keempat, Lin Xia (setelah menjadi manusia sepenuhnya), melahirkan garis Pedang Dewa. Namun, cerita kita kali ini bermula dari garis keturunan istri kedua, Sui Ren, Sang Permaisuri Angin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abai Shaden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: Rembulan Darah di Hutan Arwah dan Perisai Sang Alkemis

Kabut tebal berwarna perak menyelimuti **Hutan Larangan Arwah**, sebuah wilayah di pinggiran Benua Mistis di mana hukum ruang dan waktu terasa melintir. Di sini, pepohonan memiliki wajah-wajah yang merintih dan akar-akarnya bergerak mencari mangsa yang terluka.

**Wang Jian** terkapar di atas tumpukan daun busuk yang bercahaya neon. Kondisinya mengenaskan. Jubah naganya yang legendaris kini hanya berupa sisa-sisa kain yang terbakar. Sisik emas di punggungnya pecah, memperlihatkan daging yang hangus akibat ledakan cahaya Permaisuri. Nafasnya pendek dan tersedak oleh darahnya sendiri yang mulai mendingin.

"Jian... tetaplah sadar! Kumohon!" suara **Lin Meiling** bergetar.

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu di dasar jurang, peran mereka terbalik sepenuhnya. Meiling, yang biasanya berdiri di belakang punggung lebar Jian, kini berlutut di depannya dengan tangan yang bersinar ungu bintang.

### **Perlindungan Terakhir Meiling**

Tiba-tiba, semak-semak di sekeliling mereka berdesir. Sepasang mata merah menyala muncul dari kegelapan. Mereka adalah **Lupus Arwah**, monster pemakan jiwa yang tertarik pada bau esensi naga Jian yang sedang sekarat.

"Jangan mendekat!" teriak Meiling.

Ia berdiri, merentangkan tangannya lebar-lebar. Meskipun tubuhnya masih lemah setelah ritual transmutasi, sisa energi Permaisuri di dalam meridiannya memberinya kekuatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

**"Teknik Bintang: Perisai Nebula Abadi!"**

Sebuah kubah cahaya ungu yang dipenuhi bintik-bintang keemasan menyelimuti mereka berdua. Seekor Lupus Arwah melompat, mencoba mencakar kubah tersebut, namun tangannya hangus saat bersentuhan dengan energi bintang Meiling.

Jian mencoba mengangkat kepalanya, matanya yang kabur menatap punggung kecil Meiling. "Mei... ling... lari... tinggalkan aku..."

"Diam, Bodoh!" Meiling menoleh sejenak, air mata membasahi pipinya yang kotor. "Kau sudah menjemputku dari neraka berkali-kali. Sekarang, biarkan aku yang menjagamu, meskipun itu berarti aku harus membakar jiwaku sendiri!"

### **Alkimia di Tengah Pertempuran Hidup Mati**

Kawanan Lupus Arwah semakin banyak, jumlahnya mencapai puluhan. Mereka mulai menabrakkan diri secara serentak ke perisai Meiling. *KRAK!* Retakan mulai muncul pada kubah ungu tersebut.

Meiling tahu perisai itu tidak akan bertahan lama. Ia mengambil sebuah kuali kecil dari cincin ruangnya dan beberapa tanaman herbal yang sempat ia petik di dalam kuil sebelum melarikan diri. Dengan gerakan tangan yang cepat dan presisi, ia mulai meracik obat di tengah badai serangan.

"Api Bintang, murnikan! Esensi Bumi, satukan!"

Ia menciptakan **Pil Regenerasi Naga-Bintang**. Ini adalah alkimia tingkat tinggi yang seharusnya dilakukan di laboratorium yang tenang, namun Meiling melakukannya dengan peluru energi arwah yang mendesing di sekelilingnya.

Setelah pil itu terbentuk, ia segera memasukkannya ke mulut Jian. "Telan ini, Jian! Aktifkan intimu!"

### **Detik-Detik Terakhir: Kepungan Tak Terelakkan**

Energi pil itu mulai bekerja, namun luka Jian terlalu dalam. Esensi naga yang hilang tidak bisa dipulihkan dalam sekejap. Sementara itu, perisai Meiling akhirnya hancur.

*PRANG!*

"AAKKH!" Meiling terlempar ke belakang saat seekor Lupus raksasa menghantam dadanya.

Para monster itu kini tidak lagi ragu. Mereka melihat mangsa mereka sudah tak berdaya. Pemimpin Lupus Arwah, seekor monster setinggi lima meter, berjalan perlahan menuju Jian yang tergeletak lemas. Ia membuka rahangnya, bersiap untuk menghancurkan kepala Sang Naga Iblis.

Jian menutup matanya. Ia merasakan dinginnya maut menjalar di lehernya. *Maafkan aku, Meiling... aku gagal membawamu pulang...*

Tepat saat taring monster itu hampir menyentuh kulit Jian, sebuah ledakan angin puyuh raksasa menghantam hutan tersebut.

*WUUUUUUUUSSSSSHHHH!*

### **Kedatangan Para Saudara: Penyelamatan di Ambang Maut**

"**Sembilan Putaran Angin: Putaran Kedelapan - Pemutus Langit!**"

Sesosok bayangan putih melesat dari langit, membelah pemimpin Lupus Arwah menjadi dua bagian hanya dengan satu tebasan angin. Debu dan darah monster berhamburan.

"Kalian terlambat, tapi setidaknya kalian datang tepat waktu!" suara tegas itu berasal dari **Wang Lei**.

Di belakangnya, **Wang Han** dan **Wang Chen** mendarat dalam formasi segitiga, langsung melepaskan dinding api dan air untuk menyapu sisa-sisa kawanan monster arwah.

"Kakak Jian!" Wang Chen segera berlari dan memeriksa denyut nadi Jian. "Sial, esensinya hampir habis! Han, bantu aku dengan **Teknik Transfer Kehidupan**!"

Ketiga saudara Jian itu, yang berhasil menembus Gerbang Transendensi dengan bantuan koordinat yang ditinggalkan Jian, telah mempertaruhkan nyawa mereka melintasi dimensi untuk mencari saudara mereka.

"Siapa kalian?!" tanya Meiling waspada, sambil mencoba berdiri meski tubuhnya gemetar.

"Kami adalah saudaranya, Nona," jawab Wang Lei sambil menangkis serangan arwah lain yang mencoba mendekat. "Dan kami tidak akan membiarkan naga terakhir klan kita mati di hutan busuk ini."

### **Pertempuran Terakhir di Hutan Arwah**

Meskipun ketiga saudara itu kuat, Benua Mistis mulai mengirimkan penjaga alaminya. Hutan Arwah seolah-olah marah karena kehadiran para "orang luar". Akar-akar raksasa mulai mencuat dari tanah, mencoba menarik mereka semua ke dalam bumi.

"Kita harus pergi sekarang! Portal kembali ke Benua Pasir Merah mulai tidak stabil!" teriak Wang Han.

Jian, yang mulai mendapatkan sedikit kesadaran berkat pil Meiling dan energi dari saudaranya, menggenggam tangan Meiling erat. "Ayo... kita pergi... bersama..."

Wang Lei mengangkat tubuh Jian di pundaknya, sementara Wang Chen melindungi Meiling. Mereka berempat berlari menembus kabut perak, dikejar oleh ribuan arwah dan akar yang haus darah. Di ujung hutan, sebuah retakan dimensi berwarna emas-ungu mulai menutup.

"LOMPAT!"

Tepat saat portal itu lenyap, mereka semua melompat masuk, meninggalkan Benua Mistis yang kini dipenuhi oleh kemarahan para dewa.

### **Status Kultivasi Akhir - Bab 28:**

* **Wang Jian:** * **Status:** Kritis (Stabil secara medis namun kehilangan kekuatan kultivasi).

* **Pencapaian:** Berhasil membawa keluar Meiling.

* **Lin Meiling:** * **Status:** Pelindung Utama (Baru menyadari potensi penuh Alkimia Bintangnya).

* **Sekutu:** Wang Lei, Han, dan Chen (Terluka ringan akibat perjalanan dimensi).

1
evelyn Syaquita
new saga
adalah bacaan wajib bagi penggemar genre kultivasi yang mencari cerita dengan kedalaman emosional dan aksi yang memukau. Meskipun memiliki beberapa kiasan (tropes) klasik genre Xianxia, eksekusinya tetap terasa segar dan membuat ketagihan.
evelyn Syaquita
Tahapan dari Qi Condensation hingga [Tahap Tertinggi] dijelaskan dengan detail yang memuaskan, membuat pembaca ikut merasakan jerih payah sang protagonis dalam bermeditasi dan menerjang kesengsaraan langit (Heavenly Tribulation).😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!