Kartini berparas ayu tapi gemuk bekerja sebagai perawat kakek jompo yang bernama Chandresh. Walaupun berbadan gendut, Kartini bekerja dengan gesit dan merawat kakek seperti orang tuanya sendiri. Ketulusan hati Kartini membuat Chandresh kakek kaya raya itu ingin menjodohkan Kartini dengan cucunya yang bernama Arga Dhiendra Chandresh.
Arga menolak tegas karena ia sudah mempunyai kekasih yang bernama Nadine, tetapi ancaman kakek akan menggantikan posisi jabatan Ceo yang Arga emban kepada saudara sepupunya bila tidak mau menikahi Kartini membuat Arga Dhirendra bingung untuk ambil keputusan.
Nah, apakah Arga akhirnya menerima Kartini sebagi Istri? Kita ikuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
"Mana kecoak-nya, Bos?" Tanya Kartini mencari serangga menjijikkan itu di lantai, tapi tidak menemukan. Kemudian mendongak menatap wajah Arga yang juga menatapnya datar.
"Loe itu kecoaknya!" Arga mendengus malas, lalu bergerak ke arah kaca merapikan dasi.
Buk!
"Aagghhh..." Arga berteriak memegang pangkal lengannya yang ditinju Kartini. Dia baru merasakan bahwa tenaga Kartini lebih dari tenaga tokoh film yang bernama Tarzan.
"Makanya jangan asal bicara! Tega banget saya disamakan kecoak!" Kartini ngomel-ngomel sambil merapikan tempat tidur Arga yang masih berantakan.
"Awas saja, kalau di depan teman-teman goe, loe sendawa gitu lagi, jorok tau tidak!" Arga melirik tajam. "Memalukan!"
Kartini mendadak menghentikan kegiatannya menarik seprai. Ia menatap Arga merasa bersalah, ternyata Arga tadi mengumpat karena ia bersendawa. kali ini Arga benar, seharusnya ia bisa jaga image di depan Arga pria berkelas itu. Tetapi Kartini bukan tipe orang yang pura-pura menjadi orang lain.
"Maaf Bos, lain kali nggak gitu lagi," Kartini tersipu malu.
Arga tidak lagi merespon, ia menyisir rambutnya dengan perasaan campur aduk. Setelan jas hitam yang rapi melekat di tubuhnya, parfum mahal menguar, ia ambil tas kerja kulitnya. Penampilannya yang gagah dan tampan membuat aura CEO yang dimilikinya semakin terpancar kuat.
Sebelum berangkat, ia hanya melirik sekilas ke arah Kartini tanpa mengucapkan sepatah kata pun, lalu berjalan keluar kamar.
"Bos mau berangkat? Tunggu Bos," Kartini meninggalkan tempat tidur mengejar Arga yang sudah berdiri di ambang pintu kamar.
"Ada apa lagi?! Saya sudah kesiangan. Oh, kamu minta uang nafkah, mana rekening kamu? Nanti saya transfer," ucap Arga, ia akan memberi nafkah selama Kartini menjadi istri kontrak-nya selain uang kompensasi.
Namun, Kartini tidak menjawab, ia maju mencium telapak tangan Arga yang aromanya wangi itu seperti istri kebanyakan ketika suaminya hendak berangkat bekerja.
Arga kaget, tapi tidak menolak ketika tangannya dicium Kartini. Tanpa berkata-kata ia menuruni tangga dengan langkah cepat, Kartini mengantar keluar.
"Hati-hati ya, Bos," Kartini melambaikan tangan ketika Arga memundurkan kendaraan miliknya. Arga menarik napas panjang, kenapa wanita itu tidak marah meskipun ia marah-marah.
Kartini masih memandangi mobil mewah itu menjauh dari rumah.
"Syukurlah... kalian akhirnya saling menyayangi," ujar bibi yang sudah menutup pagar mengusap pundak Kartini. Dia memperhatikan momen Kartini dan Arga pagi ini menyangka teman yang sudah ia anggap anak sendiri itu menjadi ratu di hati Arga.
Kartini tersenyum kecut, padahal ia hanya ingin bersikap mengalah selama kontrak pernikahan belum usai, dan tidak mau bersikap yang akhirnya mencurigakan kakek.
"Oh iya Bi, di laci kamar banyak baju untuk saya, siapa yang membeli?" Inilah yang ingin Kartini tanyakan, karena baju tersebut pas di tubuhnya.
"Aku tidak tahu Tini, mungkin Den Arga yang membelikan untuk kamu," Bibi terharu, tidak menyangka jika Arga akan perhatian seperti itu kepada Kartini, padahal sebelumnya keduanya saling bersi keras menolak perjodohan mereka. Obrolan berakhir ketika mereka berpisah, bibi melanjutkan pekerjaannya, sementara Kartini berjalan ke kamar kakek masih bertanya-tanya siapa yang memilih baju untuknya?
**********
Sedangkan Arga sudah tiba di depan gedung pencakar langit pusat kota, perusahaan besar milik Kakeknya yang kini ia pimpin. Sesampainya di lobi, suasana seketika berubah.
"Selamat pagi, Tuan Arga!"
"Selamat pagi, Pak!"
Satu per satu karyawan dan karyawati yang berpapasan dengannya menyapa sambil membungkukkan badan dan mengangguk hormat. Pandangan mereka tertunduk, tidak berani menatap wajah bos muda itu terlalu lama karena reputasi Arga yang dikenal dingin, tegas, dan sangat disiplin.
Arga berjalan dengan langkah panjang dan cepat, wajahnya datar tanpa ekspresi. Ia hanya mengangguk tipis sebagai balasan, matanya menatap lurus ke depan menuju lift pribadinya.
Para karyawati tak kuasa menahan decak kagum, meski hanya berbisik-bisik.
"Wih... ganteng banget sih Bos kita hari ini. Aura nya makin mempesona," bisik salah satu sekretaris.
"Bukan dari dulu Bos kita itu memang sikapnya begitu? Tapi bagi aku sih, senang saja dipimpin beliau," Karyawan wanita itu tahu jika perusahaan ini menjadi rebutan dua pria yakni cucu tuan Chandresh.
"Betul, aku jadi khawatir kalau Kenzo galak dan seram itu yang akan memimpin perusahaan ini," imbuh karyawan lain. Di balik tampang dingin Arga, pria itu pemimpin yang baik. Gaji karyawan naik setiap tahun selama dipimpin Arga, belum lagi bonus tambahan bila penjualan meningkat bukan hanya marketing saja yang merasakan uang insentif.
Semakin lama obrolan mereka semakin ramai dan terdengar ke sekeliling. Bukan hanya tentang kerja keras Arga dan Kenzo tapi sudah merambah ke hal pribadi.
"Tapi ngomong-ngomong Kenzo juga tampan loh. Pasti beruntung banget cewek yang bisa dapetin hati Pak Kenzo."
Rupanya antara Kenzo dan Arga masing-masing mempunyai pengikut di perusahaan Chandresh Grup. Mereka juga membicarakan tentang Nadine kekasih bosnya itu. "Betapa bahagianya kekasih Tuan Arga, wanita cantik itu pasti akan menjadi ratunya Bos," puji mereka, tidak tahu jika suara mereka yang seperti pasar malam itu masih di dengar Arga.
"Awas kalian yang pro Kenzo akan saya catat," ujar Arga dalam hati, bibirnya tersenyum miring. Dia lantas ingat Kartini yang saat ini menjadi istrinya. Mereka tidak tahu saja, bahwa "ratu" yang kini resmi menjadi istrinya justru adalah wanita yang makannya lahap dan tidurnya ngorok kencang seperti mesin diesel.
"Dasar kalian tidak tahu apa-apa..." gumam Arga pelan sebelum pintu lift tertutup, meninggalkan kerumunan karyawan yang masih terpana.
Tiba di ruangan seorang wanita sudah menunggunya.
...~Bersambung~...
lnjut kk👍
siapa.tuh yg datang jangan bilang itu Nadine yah
atau....gundik mu Arga...🤣🤣🤭🤭🤭 entahlah hy emak yg tau