Bumi, anak SMA biasa yang cuma jago ML, terbangun pada tahun 6026 untuk menjadi penolong dunia. Ia harus mencari sebuah daerah yang paling aman di muka bumi, tapi ia malah terdampar di wilayah yang hanya diisi oleh perempuan muda dan cantik. Pemimpin mereka ingin Bumi menghamili semua yang ada di sana, padahal ternyata mereka adalah...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Bab 28
Suara langkah kaki orang itu semakin terdengar mendekat.
Srek.
Srek.
Srek.
Bumi, Nuri, dan Pam berdiri di tempatnya masing-masing. Masih dengan posisi hendak siap menghajar siapa pun yang turun. Mereka bisa melihat cahaya lampu senter yang dipakai orang itu di dadanya. Lampu senter Bumi dan yang lainnya sudah mati sejak tadi mereka mendengar langkah kaki itu.
Tiba-tiba langkah kaki itu berhenti.
Di balik kegelapan, Bumi melirik Pam. Pam menggelengkan kepala.
Bumi melirik ke atas. Orang itu berhenti. Terlihat cahaya senternya berhenti di satu titik. Apa mungkin orang itu tahu, ada kami di sini, pikir Bumi. Jantungnya berdetak kencang. Keringatnya mengalir. Badannya yang masih basah karena air di saluran sebelumnya, terasa semakin dingin. Dingin menunggu kekacauan demi kekacauan yang akan terjadi.
Kaki orang itu bergerak lagi.
Pam memberikan kode mengangguk pada Bumi, agar bersiap untuk menerkam orang itu. Bumi membalas dengan anggukkan, tapi langkah kaki orang itu berhenti lagi. Betis Bumi sudah tidak tahan lagi, kakinya kram.
Tapi orang itu tiba-tiba melompat turun. Membuat semuanya kaget.
Bumi langsung meninju orang itu. Orang yang menggunakan masker itu menghindari Bumi. Tangan Bumi jadi menonjok anak tangga. “Addduuuh!” suara Bumi yang kesakitan menggema bersamaan dengan suara tangannya beradu dengan besi metal.
Orang itu kemudian memukul kepala Bumi. Bumi jatuh tersungkur. Nuri memukul kepala orang itu dengan senjatanya, tapi kemudian orang itu menunduk. Tangan Nuri jadi menghantam dinding. Orang itu menendang kaki Nuri. Nuri jatuh mendeprok ke lantai. Pam mengambil kesempatan, lalu menodongkan senjata ke depan muka orang itu. Orang itu mengangkat kedua tangannya ke udara.
“Pam?” tanya orang itu. Suara perempuan yang terdengar sangat muda. Tingginya memang lebih pendek dari Pam.
“Sally?” tanya Pam menurunkan senjatanya.
“Pam!” orang itu memeluk Pam sekuat tenaga sambil menangis. “Aku kira aku nggak bakal ketemu kamu lagi.”
“Sally!” Pam memeluk balik dan menangis terharu.
Nuri membantu Bumi bangkit. Bumi memegang kepalanya yang terasa nyeri, cenat-cenut habis kena hantaman tangan orang itu.
“Aku nggak percaya, Nash bilang kamu ke sini! Aku langsung naik motor dan bergegas menunggu kamu di atas. Tapi kamu nggak juga muncul. Aku takut kamu nggak bisa melawan arus aliran air! Jadi aku ke sini,” Sally membuka maskernya. Pam menyalakan lampu senter di dadanya.
Bumi dan Nuri juga melakukannya. Mereka bisa melihat seorang perempuan yang mukanya mirip dengan Pam, hanya saja memang terlihat jauh lebih muda. Mungkin masih umur 16 tahun.
“Bumi, Nuri, ini Sally, adikku,” Pam mengenalkan Sally pada Nuri dan Bumi.
“Sori, kepala kamu nggak apa-apa?” tanya Sally pada Bumi sambil menatap kepala Bumi.
“Ah, ya, agak pusing sih. Tapi aku masih ingat nama aku,” kata Bumi berusaha bercanda.
“Sori, kaki kamu aku tendang,” kata Sally pada Nuri.
“Agak sakit sih,” kata Nuri sambil mengusap kakinya yang memang sejak awal sudah sakit. Habis jalan jauh dari tempat Nash ke lubang saluran air itu.
“Nuri ini kakaknya Bumi, katanya dia adalah Ratu adil,” jelas Pam pada Sally.
Sally langsung membuka mulut dan melotot menatap Nuri. “Wooow!”
Nuri dan Bumi saling lirik.
“Ratu adil itu beneran ada, Kak?” tanya Sally pada Pam.
“Yah, setidaknya aku lihat dia benar-benar bisa mengusasai kerajaan Arbuck,” kata Pam pada Sally.
Sally geleng kepala, tidak percaya, “Kamu menguasai kerajaan Arbuck?” tanyanya pada Nuri sambil melihat Nuri dari kepala sampai kaki.
“Yah, aku juga nggak percaya aku bisa menguasai kerjaan Arbuck,” kata Nuri sambil menatap Bumi.
“Oh, apalagi aku!” Bumi menggelengkan kepala.
“Kalau begitu, ini berarti…,” Sally menunjuk ke Bumi lalu menatap Pam.
Pam mengangguk, “Ya, setidaknya begitu lah yang diramalkan orang-orang.”
“Wow!” Sally menutup mulutnya, lalu berkata, “Aku boleh peluk kamu?”
Bumi menatap Pam, seolah bertanya boleh kah?. Pam mengangkat kedua bahunya, seolah menjawab, terserah.
“Ya?” Bumi membuka kedua tangannya.
Sally memeluknya sambil berbisik, “Please, selamatkan bumi.”
“Namaku Bumi. Kalau kalian bantu aku selamat, tentu bumi juga akan selamat,” kata Bumi tanpa sadar apa yang dibicarakannya.
Nuri memutar kedua bola matanya, “Terus berarti kita bisa langsung ke atas?”
“Oke!” Sally melepaskan pelukannya pada Bumi. “Reunian kita, kita tunda dulu, Kak.”
Pam mengangguk.
“Masih banyak yang aku ceritakan dan aku tanyakan sama kakak, tapi ini yang paling penting,” Sally mengeluarkan secarik kertas yang berisi festival peringatan tentara California.
“Festival?” tanya Nuri.
“Iya, setiap tahun ada festival ini,” jawab Pam singkat.
“Semua orang akan tertuju pada festival ini. Michael bakal ikutan ini, Kak!” kata Sally semangat.
“Wah! Michael? Dia sudah bisa bawa motor gede?” tanya Pam tidak percaya.
“Oh, kakak nggak tau. Habis kakak dan teman-teman pergi, dia rajin minum protein dan olahraga, Kak! Sekarang badannya, jadi!” Sally memeragakan pamer bicep.
“Aku nggak sabar ketemu dia.”
“Dia juga pasti nggak sabar ketemu kakak. Setiap hari dia selalu bilang, pengen jadi kuat, pengen bantuin kakak sama temen-temen,” Sally terlihat mellow.
“Oke, guys, bisa fokus ke strategi lagi?” tanya Bumi hati-hati, tidak ingin membuyarkan kedekatan kakak beradik ini, tapi sepertinya di permukaan sudah semakin mendekati sore, dan perutnya sudah luar biasa lapar.
“Sori, sori!” Sally dan Pam minta maaf.
“Oke. Jadi semua orang akan fokus ke festival ini. Malam ini malam pertama. Jadi euphorianya masih tinggi. Penjagaan di sekitar sini masih cenderung sepi. Jadi kita bisa dengan mudah ke…,”
“Rumah Prof Keiko?” tanya Nuri semangat.
“Oh! Jangan! Justru Prof Keiko lagi sibuk ngurusin festival. Bahaya kalau kita ke sana. Kita ke rumahnya kalau sudah mendekati akhir festival.”
“Oh, gitu,” wajah Nuri tampak kecewa.
“Sementara menunggu waktu, kita bisa memulihkan tenaga kalian, dan menyusun strategi selanjutnya,” jelas Sally.
“Nash sudah cerita semuanya ya?” tanya Pam heran Sally bisa membuat strategi seperti ini.
“Yah, garis besarnya. Walau aku agak ragu, Prof Keiko bakalan membantu kalian kembali ke tahun 2026. Mengingat kamu adalah ratu adil dan kamu adalah sang penyelamat bumi,” kata Sally menatap Nuri dan Bumi sambil menyimpan kertas selebaran festivalnya. “Tapi setidaknya kita harus coba, ya kan?”
Pam menghela napas, lalu menatap Bumi.
Bumi mengangguk.
“Ayo!” Sally memakai maskernya, lalu mulai bersiap memanjat tangga. “Kita harus bisa ke permukaan sebelum malam.”
Pam mengikuti Sally.
“Berapa tinggi tangga ini?” tanya Nuri pada Bumi yang menyuruh Nuri naik duluan.
“Nggak tinggi, cuma sekitar dua puluh meter,” teriak Sally yang dengan cepat terlihat menjauh.
“Kakak nggak kuat? Mau aku gendong?” tanya Bumi.
“Aku coba dulu,” kata Nuri, lalu memulai pendakian.
Bumi berada paling akhir. Ia melihat ke bawah, semakin dia naik, semakin gelap. Apa yang ada di atas sana. Ia mulai berpikir untuk benar-benar menyelamatkan bumi ketimbang kembali ke tahun 2026.