Aluna hanya ingin bekerja.
Sebagai istri yang terdesak ekonomi, ia tak pernah menyangka dunia kerja akan memberinya lebih dari sekadar gaji—ia menemukan rasa dihargai.
Sampai ia bertemu atasannya.
Pria dingin yang terlalu sering mengkritiknya.
Terlalu sering memanggil namanya dengan nada rendah.
Terlalu sering berdiri lebih dekat dari yang seharusnya.
Aluna sudah menikah.
Dan pria itu telah dijodohkan.
Seharusnya tidak ada yang tumbuh di antara mereka.
Namun setiap sindiran terasa seperti perhatian.
Setiap jarak terasa seperti godaan.
Dan setiap konflik… justru memperdalam sesuatu yang tak boleh ada.
Ketika rumah tak lagi menjadi tempat pulang,
dan kantor menjadi pelarian yang berbahaya—
Aluna harus memilih:
bertahan pada ikatan yang retak,
atau tenggelam dalam cinta yang tak pernah dimaksudkan untuk terjadi.
Karena beberapa pernikahan dimulai bukan dari restu…
melainkan dari keberanian menanggung dosa bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DNA
Dan untuk mengetahui siapa Ayah biologis anak ini..
Aku harus memastikannya sendiri..
Aluna melangkah mendekati rumah itu—
Rumah yang tidak asing baginya.
Rumah yang pernah menjadi tempat pulang paling hangat, sekaligus rumah yang menjadi saksi bisu tumbuhnya luka.
Tok.. tok.
Ia mengetuk pintu itu.
Seseorang dari dalam membukanya.
Wajah itu—
Membuka luka lama yang belum sepenuhnya kering.
Gavin.
Ia berdiri dibalik pintu.
Wajahnya tercekat tak percaya pada sosok yang ia tatap saat ini.
"Aluna," Ucapnya lirih.
Aluna tersenyum padanya, "boleh aku masuk?"
Gavin mempersilahkannya masuk, mereka duduk di sofa ruang tengah.
Aluna menyapu seluruh ruangan itu, wajahnya tersenyum tipis.
Gavin hanya diam menatapnya.
"Apa kamu baik?" tanya Gavin.
"Iya, aku baik," Aluna berusaha terlihat tenang. "Bagaimana dengan mu?"
Gavin menundukkan pandangannya sesaat, "Aku.." kalimatnya tertahan. "Aku terlalu lemah, tanpa mu." Suaranya bergetar.
Hening diantara mereka.
"Aku datang untuk mengambil beberapa barang ku yang tertinggal," Aluna memecah keheningan.
Gavin mempersilahkan untuk mencari barangnya.
Aluna melangkah ke kamar.
Matanya mencari sebuah sisir, namun..
Sisir itu terlihat bersih.
Aluna keluar dari kamar itu.
Ia melangkah menuju kamar mandi, Aluna mengambil sebuah sikat gigi, namun terdapat tiga buah sikat gigi disana.
Ternyata dia sudah mengganti sikat giginya..
Dan aku tidak tahu mana miliknya.
Ia kembali ke ruang tengah, menatap Gavin dari kejauhan, sampai—
Pandangannya jatuh pada bagian bawah meja yang berada di sofa.
Aluna terdiam sesaat memikirkan sesuatu, lalu ia kembali duduk di sofa itu.
"Sudah menemukan barang mu?" tanya Gavin.
"Belum, aku lupa meletakkannya terakhir kali dimana."
"Memangnya apa?" tanya Gavin yang mulai penasaran.
"Buku novel," katanya.
"Mau aku bantu carikan?" ucap pria itu.
"Boleh," Aluna tersenyum manis pada pria itu.
Gavin pergi menuju kamar ibunya.
Saat itulah Aluna mengambil sisa puntung rokok yang berada dibawah meja.
Lalu cepat-cepat ia bungkus dengan tisu dan menyimpannya dalam tas.
"Gavin," panggil Aluna.
Gavin keluar dari kamar.
"Lain kali saja, aku ada urusan mendadak jadi harus pergi."
Aluna berdiri dari duduknya, melangkah menuju pintu.
Tiba-tiba tangannya ditahan oleh Gavin.
"Aluna," ucap Gavin.
Sontak Aluna menoleh.
Gavin menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca. "Aku minta maaf," suara pria itu bergetar.
Aluna hanya diam.
"Aku tidak bisa tanpamu.. aku berantakan." Air mata pria itu akhirnya mengalir di pipinya. Gavin terisak di hadapan Aluna.
Aluna perlahan melepaskan genggaman tangan Gavin, "kamu akan terbiasa nantinya."
Perempuan itu melangkah pergi meninggalkan Gavin.
***
Aluna berdiri di lobi rumah sakit, matanya menatap papan informasi yang berganti-ganti angka dan nama, tapi pikirannya sama sekali tidak fokus.
Tangannya menggenggam tasnya dengan erat.
Apakah aku benar-benar siap untuk ini? pikirnya.
Apakah aku ingin tahu jawaban yang bisa mengubah semuanya?
Napasnya tertahan, dada terasa sesak. Setiap detik yang berlalu seperti menambah beban di pundaknya.
Ia menatap pintu menuju ruang laboratorium, lalu kembali menatap lantai yang dingin di bawah kakinya.
Bagaimana kalau hasilnya… tidak seperti yang aku harapkan?
Bagaimana kalau aku tidak siap menghadapi kebenaran itu?
Aluna menelan ludah, rasa takut dan penasaran beradu dalam dirinya.
Ia tahu satu hal: untuk mendapatkan jawaban, ia harus melangkah melewati rasa ragu itu.
Namun langkah itu terasa begitu berat, seolah dunia menahannya, menuntutnya untuk memilih: keberanian atau kenyamanan ilusinya sendiri.
Aluna menarik napas panjang.
Untuk sesaat, ia memejamkan matanya seolah mengumpulkan sisa keberanian yang masih tersisa di dalam dirinya.
Lalu… ia melangkah.
Pintu itu terbuka perlahan di hadapannya.
Udara dingin dari dalam ruangan menyambutnya, membuat tubuhnya sedikit merinding.
“Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?” suara petugas terdengar ramah.
Aluna sempat terdiam.
Bibirnya terbuka, namun tak ada suara yang keluar.
"Saya ingin melakukan tes DNA,” akhirnya ia berkata pelan, nyaris berbisik.
Kalimat itu terasa berat.
Seolah sekali diucapkan, tidak ada jalan untuk kembali.
Petugas itu mengangguk, mempersilakannya duduk.
Beberapa lembar formulir disodorkan ke hadapannya.
Aluna menatap kertas-kertas itu cukup lama.
Huruf-huruf di atasnya tampak jelas, namun terasa begitu jauh untuk dipahami.
Tangannya bergerak pelan, mengambil pulpen.
Namun jemarinya gemetar.
Ini hanya tanda tangan…
Kenapa terasa seperti aku sedang menyerahkan seluruh hidupku?
Ujung pena itu akhirnya menyentuh kertas.
Namanya tertulis di sana.
Dan pada detik itu, sesuatu di dalam dirinya terasa benar-benar berubah.
Beberapa saat kemudian, petugas menjelaskan prosedur yang harus dilakukan.
Aluna hanya mengangguk pelan, meski sebagian dari dirinya masih terasa kosong.
Saat jarum suntik itu bersiap mengambil sampel darahnya, ia tanpa sadar menggenggam ujung bajunya sendiri.
Ini akan menentukan segalanya…
Jarum itu menembus kulitnya.
Sedikit perih—tapi tidak sebanding dengan rasa yang mengganjal di dadanya.
Aluna memalingkan wajahnya, tak berani melihat.
Beberapa menit kemudian, semuanya selesai.
Aluna menatap sejenak benda kecil di tangannya, puntung rokok itu terasa jauh lebih berat dari seharusnya.
Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia menyerahkannya pada petugas medis di hadapannya.
“Ini… sampelnya,” ucapnya pelan.
Petugas itu menerimanya tanpa banyak tanya, sementara Aluna perlahan menarik tangannya kembali.
Ada perasaan aneh yang merambat di dadanya—seolah, bersama benda kecil itu, ia juga sedang menyerahkan jawaban yang selama ini ia takuti.
“Silakan menunggu hasilnya dalam beberapa hari ke depan,” ucap petugas itu.
Aluna hanya mengangguk.
Ia bangkit perlahan dari kursinya, langkahnya terasa ringan—
namun entah kenapa, hatinya justru terasa semakin berat.
Karena sekarang…
ia tidak lagi berada di antara ragu dan tidak tahu.
Ia sedang berjalan menuju sebuah jawaban—
yang mungkin akan menghancurkan, atau justru menyelamatkannya.
***
Foto itu…
Arka memejamkan matanya sejenak, namun bayangan hitam-putih itu justru semakin jelas di pikirannya.
Sebuah gambar samar—
terlalu kecil untuk ia pahami,
tapi cukup untuk membuat dadanya terasa berat.
USG…
Kenapa benda itu ada di kamar Aluna?
Napasnya tertahan.
Jangan bilang…
Tidak.
Ia menggeleng pelan, mencoba menepis kemungkinan yang tiba-tiba muncul begitu saja.
Kalau itu benar…
Kenapa dia tidak bilang apa-apa?
Rahangnya mengeras.
Aluna selalu terlihat baik-baik saja.
Selalu tersenyum, selalu menghindar setiap kali ia mencoba masuk lebih dalam.
Tapi sekarang—
semua itu terasa seperti sesuatu yang sengaja ia sembunyikan.
Apa dia tidak percaya padaku?
Atau…
memang ada sesuatu yang tidak ingin aku tahu?
Arka membuka matanya perlahan.
Ada sesuatu yang mengganjal.
Bukan hanya rasa penasaran tapi juga ketakutan yang tidak bisa ia jelaskan.
Kalau itu benar…
siapa…?
Pertanyaan itu menggantung di kepalanya.
Dan untuk pertama kalinya,
ia menyadari—bahwa ada jarak di antara mereka
yang tidak pernah ia sadari sebelumnya.