NovelToon NovelToon
RYUGA

RYUGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Cintapertama / Idola sekolah
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Yudi Chandra

Vierra Quinn Maverick menjadi anak baru di SMA Lentera Cendekia.
Namun di hari pertamanya, ia kembali bertemu dengan teman SMP-nya, Ryuga Arashima Renzo. Dingin, karismatik, dan kini dikenal sebagai Leader of RAVENIX, geng motor paling disegani di Jakarta. Sosok yang dulu begitu dekat dengannya… sebelum sebuah kesalahpahaman memisahkan mereka.
Quinn memilih pergi tanpa berpamitan kepada Ryuga.
Pertemuan itu bukan sekadar reuni, melainkan benturan dua hati yang belum benar-benar selesai.
"Mulai detik ini, jauhin gue!" — Quinn.
“Jauhin lo? Coba ulang lagi kalimat itu sambil liat mata gue. Masih berani?” — Ryuga.
Di tengah konflik sekolah, rivalitas geng, dan rahasia yang terungkap perlahan, mereka dipaksa menghadapi satu pertanyaan:
Apakah cinta pertama mereka telah usai…
atau justru belum pernah benar-benar padam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28

Sore hari di Jakarta terasa hangat dengan semburat jingga yang mulai merayap di langit. Cahaya matahari yang perlahan meredup memantul pada rel-rel besi di sebuah terminal kereta api yang ramai. Suara pengumuman dari pengeras suara bersahut-sahutan dengan derap langkah para penumpang yang lalu-lalang, koper-koper beroda yang bergesekan dengan lantai, serta aroma khas stasiun yang bercampur antara logam, kopi, dan perjalanan.

Di antara keramaian itu, Quinn berdiri sambil sesekali menjinjit, matanya sibuk menyisir pintu keluar.

Di sampingnya, Vexa mengunyah permen karet dengan santai.

“Lo kayak emak-emak nunggu anaknya pulang merantau, sumpah.”

Quinn melirik tajam.

“Diem deh. Ini sahabat gue. Lo nggak ngerti.”

Vexa menyeringai.

“Oh ngerti kok. Ini pasti yang barbar level dewa itu kan?”

Quinn mengangguk bangga.

“Lebih barbar dari gue.”

Vexa langsung melotot.

“Wah gawat sih. Dunia bisa kiamat.”

Belum sempat Quinn membalas, tiba-tiba—

“QUINNNNN!!!”

Sebuah suara nyaring memecah keramaian.

Quinn langsung menoleh, matanya berbinar.

“FINKAAAA!!!”

Seorang gadis dengan gaya santai dan aura penuh energi berlari ke arahnya, bahkan hampir menabrak beberapa orang.

Tanpa ragu, mereka langsung berpelukan erat.

“GUE KANGEN BANGET SAMA LO, ANJIR!” seru Finka heboh.

“GUE JUGA, BEGO!” sahut Quinn tak kalah heboh.

Mereka saling mengguncang bahu satu sama lain, terlalu heboh sampai beberapa orang menoleh.

Vexa hanya berdiri sambil menatap mereka datar.

“…ini dua manusia atau sound system?”

Quinn menarik Finka mendekat.

“Nih, kenalin. Ini Vexa. Sahabat gue di sini.”

Finka langsung menyipitkan mata, mengamati Vexa dari atas sampai bawah.

“Ini yang katanya barbar juga?”

Vexa menyilangkan tangan, menantang.

“Kenapa? Ngeri?”

Finka mendekat, lalu tiba-tiba merangkul Vexa.

“Wah cocok. Kita satu frekuensi.”

Vexa tertawa.

“Gue udah suka lo.”

Quinn menepuk jidat.

“Gila. Tiga orang kayak kita digabung… bisa-bisa Jakarta goyang.”

Tak lama kemudian, mereka bertiga sudah berada di sebuah kafe estetik dengan jendela besar yang menghadap jalanan kota. Lampu-lampu gantung berwarna warm menyala lembut, menciptakan suasana hangat. Aroma kopi dan pastry memenuhi udara, sementara suara musik akustik mengalun pelan.

Meja yang mereka incar adalah spot paling strategis—dekat jendela, dengan sofa empuk dan pemandangan langsung ke luar.

Namun—

Langkah Quinn terhenti.

Tatapannya berubah.

Di sisi lain, Naomi sudah berdiri lebih dulu di dekat meja itu, bersama Vanya dan Sherly.

Naomi tersenyum tipis.

“Oh… kebetulan banget.”

Vanya menyilangkan tangan.

“Meja ini kita duluan yang lihat.”

Sherly mengangguk cepat.

“Iya. Jangan serakah dong.”

Quinn tertawa sinis.

“Lucu ya. Mata gue juga masih berfungsi. Gue juga lihat duluan.”

Vexa maju satu langkah.

“Dan kaki kita lebih cepet.”

Finka menyeringai lebar.

“Kalau mau rebutan, ayo. Gue lagi butuh olahraga ringan.”

Naomi menghela napas pelan, tetap dengan wajah lembutnya.

“Kenapa harus ribut sih? Kita bisa gantian.”

Quinn mendengus.

“Gantian apaan? Ini bukan ayunan TK.”

Vanya mendekat, nada suaranya naik.

“Lo pikir lo siapa sih?”

Quinn menatapnya datar.

“Yang jelas bukan figuran.”

Sherly mencibir.

“Percaya diri banget lo.”

Finka langsung menyahut.

“Emang. Daripada percaya diri tipis tapi nyinyir tebel.”

Vexa menepuk tangan pelan.

“Cakep. Gue suka.”

Naomi masih berusaha tenang, tapi matanya mulai menajam.

“Quinn… kita nggak perlu kayak gini.”

Quinn tersenyum tipis, tapi dingin.

“Justru gue ngerasa ini perlu.”

Keheningan sejenak terasa menegang.

Aura di antara mereka berubah.

Hangatnya kafe terasa kontras dengan suasana di meja itu.

Vexa tiba-tiba duduk santai di sofa.

“Yaudah, gue duduk duluan ya. Yang kuat mental, silakan ngusir gue.”

Finka langsung ikut duduk, menyandarkan diri dengan santai.

“Nyaman juga.”

Quinn ikut duduk terakhir, menyilangkan kaki dengan anggun.

“Jadi? Mau lanjut debat, atau cari meja lain?”

Vanya mengepalkan tangan.

“Sok banget lo!”

“Udah, Nao. Cari tempat lain aja.” ucap Vexa menyeringai tipis.

Naomi diam.

Tatapannya tertuju pada Quinn.

Ada sesuatu di sana.

Cemburu.

Kesal.

Tapi juga… tertahan.

...----------------...

Suasana kafe yang semula hangat berubah menegang. Percakapan yang tadinya hanya saling sindir kini meningkat menjadi benturan emosi yang nyata. Tatapan tajam saling beradu, suara mulai meninggi, dan beberapa pengunjung mulai melirik ke arah mereka dengan rasa penasaran.

Vanya melangkah maju dengan wajah kesal yang tak lagi disembunyikan.

“Lo tuh dari tadi nyolot banget, ya!”

Quinn menyilangkan tangan, menatapnya tanpa gentar.

“Kenapa? Tersinggung? Ya jangan jadi orang yang gampang disindir.”

Vanya kehilangan kendali.

Tanpa peringatan, tangannya mendorong bahu Quinn dengan kasar.

Tubuh Quinn terhuyung ke belakang. Kakinya hampir kehilangan pijakan. Waktu seolah melambat. Ia sudah bersiap jatuh—membayangkan tubuhnya menghantam lantai keras kafe yang dingin.

Namun—

Sebuah tangan kuat tiba-tiba melingkar di pinggangnya.

Menahan.

Menariknya kembali ke dalam keseimbangan.

Hangat. Kokoh. Tegas.

Quinn membelalakkan mata.

Saat ia menoleh—

Kael.

Pria itu berdiri di belakangnya, satu tangan masih menahan tubuh Quinn agar tidak jatuh. Wajahnya dingin, rahangnya mengeras, dan matanya… tajam seperti pisau.

Quinn cepat-cepat menjauh, sedikit canggung.

“…thanks.”

Kael tidak langsung menjawab.

Tatapannya justru beralih—pelan, penuh tekanan—ke arah Vanya.

Dan suasana… berubah.

Udara terasa lebih berat.

Kael melangkah maju satu langkah.

“Lo yang dorong dia?” tanya Kael dengan nada rendah dan dingin.

Vanya yang tadi galak, kini mendadak membeku. Wajahnya pucat.

“G-gue… itu—”

Kael menatapnya tanpa ekspresi, tapi justru itu yang membuatnya lebih menakutkan.

“Punya masalah, selesain pake otak. Bukan pake tangan.”

Suasana hening.

Bahkan suara sendok dan cangkir di kafe terasa meredam.

Sherly menelan ludah.

“Nao… kita pergi aja…”

Naomi menatap Kael sejenak. Ia tahu betul siapa pria di hadapannya.

Ketua geng motor Phantom.

Reputasinya yang terkenal kejam bukan sekadar cerita.

Naomi menarik napas, lalu menunduk sedikit.

“…maaf.”

Namun Kael tidak merespons.

Tatapannya tetap pada Vanya.

“Kalau gue lihat lo nyentuh dia lagi…”

Ia berhenti sejenak. Suaranya tetap tenang, tapi mengandung ancaman yang nyata.

“…lo yang bakal jatuh berikutnya. Dan nggak ada yang bisa nyelametin lo.”

Vanya gemetar.

“I-iya…”

Naomi segera menarik tangan Vanya.

“Udah. Kita pergi.”

Mereka bertiga berbalik, berjalan cepat meninggalkan kafe.

Vexa langsung melonjak dari duduknya.

“WOYYY! LARI LO! JANGAN BALIK LAGI!”

Finka ikut berdiri, bertepuk tangan keras.

“BYEEE! HATI-HATI DI JALAN, JANGAN KESELIP LAGI!”

Quinn menahan tawa, menggeleng.

“Kalian berdua… malu-maluin.”

“Bodo amat! Yang penting menang!” seru Vexa tersenyum puas.

“Tim kita nggak pernah kalah, say!” sahut Finka yang tidak sadar bahwa ia baru beberapa menit mengenal Vexa.

Suasana kembali cair.

Quinn lalu menoleh ke arah Kael, yang masih berdiri di sana dengan ekspresi datar, seolah semua itu bukan apa-apa.

Quinn sedikit melunak.

“Thanks, ya… kalau tadi lo nggak nangkep gue—”

Kael memotong pelan.

“Lo harusnya lebih hati-hati.”

Quinn mengangkat alis.

“Gue lagi ribut, bukan lagi main catur.”

Sudut bibir Kael nyaris terangkat.

Tipis sekali.

“Ya… tetap aja.”

Sejenak hening.

Ada sesuatu yang aneh di antara mereka—bukan canggung, tapi… samar.

Kael kemudian mengalihkan pandangan.

“Gue pergi.”

Quinn mengangguk.

“Hm.”

Kael berjalan pergi tanpa menoleh lagi.

Namun entah kenapa…

Quinn sempat memperhatikan punggungnya lebih lama dari yang seharusnya.

Begitu Kael benar-benar pergi, Finka langsung mendekat dengan wajah penuh rasa penasaran.

“QUINN.”

Quinn melirik malas.

“Apa?”

“Lo kenal cowok tadi?” tanya Finka.

Vexa langsung ikut nimbrung.

“Iya, njir. Auranya tuh kayak… boss mafia versi hemat kata.”

Quinn menghela napas kecil.

“Kenal. Dia Kael.”

Finka mengangguk-angguk.

“Oooo… Jadi namanya Kael.”

Lalu matanya menyipit.

“Kael…”

Ia mendadak nyengir.

“Namanya keren juga.”

Quinn mencibir.

“Terus?”

Finka mendekat, suaranya diturunin dramatis.

“Tapi… kalau dilihat-lihat…”

Quinn mulai curiga.

“Apaan lagi lo?”

Finka menunjuk Quinn, lalu ke arah pintu tempat Kael pergi.

“Dia mirip lo.”

Quinn mengernyit.

“Hah?”

Vexa langsung tertawa.

“Eh iya juga ya! Sama-sama galak!”

Finka makin heboh.

“Jangan-jangan kalian jodoh!”

Plak!

Quinn langsung melempar tisu ke wajah Finka.

“JANGAN NGACO!”

Finka ngakak keras.

“Beneran, anjir!”

Vexa ikut tertawa sampai hampir jatuh dari kursinya.

“Gue setuju sih. Musuh Ryuga lagi. Makin seru!”

Quinn mendengus, tapi pipinya sedikit memanas.

“Kalian tuh ya… kalau nggak ngomong aneh, nggak hidup.”

Finka masih nyengir.

“Tapi serius, Quinn… cowok tadi tuh beda.”

Quinn terdiam sejenak.

Dalam hatinya, ia mengakui—

Kael memang berbeda.

Cara dia muncul…

Cara dia melindungi…

Dan tatapan dinginnya yang anehnya… terasa aman.

Jujur saja ia memang mengagumi Kael. Tapi bukan sebagai wanita kepada pria. Tapi, sebagai adik kepada kakaknya.

Namun Quinn segera menggeleng, mengusir pikirannya sendiri.

“Udah, nggak usah bahas dia lagi.”

Vexa menyandarkan dagu di tangan.

“Siap, nyonya Ryuga.”

Finka langsung menimpali.

“Ups, nanti ada yang cemburu lagi.”

Quinn langsung menyambar sendok dan mengancam mereka.

“Gue lempar nih!”

Tawa mereka bertiga pecah memenuhi kafe.

Namun jauh di dalam hati Quinn…

ia tahu—

hari ini, sesuatu mulai berubah.

Dan ia belum tahu… perubahan itu akan membawanya ke mana.

...****************...

1
Nur Halida
fiks kael kembarannya quinn
ollyooliver🍌🥒🍆
kael?🤔
ollyooliver🍌🥒🍆
lah ngapain emosi kalau ibunya sendiri baru tau dan meminta memperkenalkan dengan baiik.
sikap ryuga ini boleh dingin, tapi haruslah menghormati orngtua jugaa karna dia hidup maih dengan uang orngtuanya😌
Nur Halida
eh beneran kael saudaranya quinn??
Adinda
mungkin kael kakaknya Quin mungkin selena dan armand kehilangan anak pertamanya
Nur Halida
jangan jatuh cinta pada kael ya quinn...😔
Nur Halida
apa iya kael kakaknya quinn?
hmmm 🤔
Angelia nikita Sumalu: Masih plot twist sih...
apa mungkin Kael kembarannya quiin tapi terpisah
total 2 replies
ollyooliver🍌🥒🍆
ryuga mmng anak yg buat ibunya darting, terlalu cuek sama ibunya sendiri bahkan hal untuk yg wajar seorng ibu tau. gk bagus sikap seperti itu pd ibu sendiri, klau orng lain wajar.
ollyooliver🍌🥒🍆
kemarin kan baru ketemu, udab dikota yg sama lagi..gk mungkin gk akan ketemu. lebay
Nur Halida
emang kalo berhadapan dg quinn ryuga gak bisa berkutik😁
Nur Halida
wkwkwkwk.. di kenalin sama anak sendiri🤣🤣🤣
Nur Halida
udah pacaran mareka mah gak usah dijodohin lagi🤭
ollyooliver🍌🥒🍆
lamjuttt
Nur Halida
ada ada aja nih si vexa 🤭
Yudi Chandra: hehehe....ganjen dia🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Nur Halida
ya emang ufah terlamabat kael karena quinn udah punya ryuga seorang😁jadi sebelum perasanmu semakin dalam kamu harus lupain quinn biar gak sakit2 banget entar😁
Yudi Chandra: betul tuh betul😅😅😅
total 1 replies
Durahman Rahman
sangat baguss
Yudi Chandra: makaciiiiiih....🙏🙏🙏🙏
kalau ada kritik dan saran tulis aja ya. aku terima semua masukannya🤗🤗🤗🤗
total 1 replies
ollyooliver🍌🥒🍆
kalau tau, knp masih berharap dodol!😏
Yudi Chandra: iya tuh. dodol banget emang😅😅😅😅😅
total 1 replies
Nur Halida
aku selalu dukung kamu ga. .😍😍😍
Yudi Chandra: hehehe...aku juga😅😅😅😅
total 1 replies
Nur Halida
quinn jangan jatuh cinta sama kael quinn ...ingat ryuga quinn... kasihan ryuga quinn udah nunggu kamu lama...
Yudi Chandra: iya betul. kasian Ryuga ya kan🤗🤗🤗😅😅😅
total 1 replies
Nur Halida
oke naomi ... kamu nyerah aja gak usa deket2 lagi ama ryuga karena ryuga udah cinta mati sama quinn
Yudi Chandra: namanya cinta itu buta lo. naomi cuma mau dapetin cintanya🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!