NovelToon NovelToon
Manual Book: Obsesi Tersembunyi Sang CEO Dingin

Manual Book: Obsesi Tersembunyi Sang CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / CEO / Mantan / Nikah Kontrak
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

"Zel, kita cuma nikah kontrak! Berhenti kirim kurir obat ke sekolah, aku malu sama guru-guru lain!"
Dazello Zelbarra, CEO dingin itu justru menarik Runa ke pelukannya. "Di catatanku, jam segini lambungmu mulai perih karena kamu lupa sarapan. Aku tidak peduli kamu malu, Runa. Aku hanya peduli kamu tetap hidup untuk melunasi kontrakmu padaku."
Runa Elainzica, guru honorer yang ceroboh dan pelupa, terpaksa menikahi mantan pacarnya, Dazello ‘Azel’ Zelbarra, demi menyelamatkan sekolahnya dari kebangkrutan.
Runa mengira Azel membencinya. Namun, ia tak pernah tahu bahwa di ponsel Azel terdapat aplikasi rahasia berjudul "Runa’s Manual Book". Sebuah catatan obsesif berisi ribuan detail tentang kebiasaan kecil Runa, pantangan makannya, hingga cara melindunginya saat badai datang.
Dunia mereka berbeda, tapi di buku catatan Azel, nama Runa sudah tertulis sebagai milik sahnya... selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Runa mengembuskan napas panjang, membiarkan bahunya merosot saat melihat mobil-mobil mewah terus melaju meninggalkan lobi terminal. Di tangannya, tumpukan brosur itu tinggal tersisa lima lembar. Kertas-kertas itu sudah terasa lembap karena keringat di telapak tangannya.

"Ayo, sedikit lagi, Runa. Lima lagi," bisiknya pada diri sendiri, mencoba menyemangati kakinya yang mulai terasa kebas.

Ia melirik jam tangannya—jam tangan plastik murah yang kacanya sudah sedikit tergores. Sudah hampir empat jam ia berdiri di sini. Sebenarnya, pihak yayasan tidak mewajibkan para guru turun ke jalan, tapi kuota murid baru di sekolah tempatnya mengajar tahun ini menurun drastis. Jika tidak ada murid baru, bantuan operasional akan dipangkas, dan itu artinya gaji para guru honorer seperti dirinya akan semakin terancam.

Runa berjalan pelan menuju kursi tunggu yang terbuat dari besi dingin. Ia duduk perlahan, membiarkan tas bahunya yang berat merosot ke lantai. Rasa pening mulai berdenyut di pelipisnya.

Mungkin karena udara bandara yang terlalu dingin, atau mungkin karena ia lupa kapan terakhir kali ia meminum air putih hari ini.

Ia merogoh tasnya, mencari botol minum, namun jemarinya hanya menemukan ruang kosong. "Ah, ketinggalan di meja guru," gumamnya pelan sambil memijat pangkal hidungnya.

Pikirannya melayang pada sosok pria yang tadi sempat ia lihat sekilas. Dari kejauhan, di antara barisan orang-orang bersetelan jas, ia merasa melihat seseorang yang sangat ia kenali. Postur tubuh yang tegap, cara berjalan yang angkuh namun berwibawa, dan aura yang seolah bisa membekukan udara di sekitarnya.

Azel?

Runa segera menggelengkan kepalanya kuat-kuat, membuat rasa peningnya semakin menjadi. Enggak mungkin. Mana mungkin dia ada di sini. Dan mana mungkin dia memperhatikanku.

Bagi Runa, Azel adalah bab dari masa lalu yang sudah ia kunci rapat-rapat dalam kotak besi, lalu ia buang ke dasar laut terdalam. Mengingat pria itu hanya akan membuatnya merasa semakin kecil. Perbedaan status mereka dulu sudah seperti bumi dan langit, apalagi sekarang. Azel pasti sudah berada di puncak dunia, sementara dirinya masih berkutat dengan debu kapur dan tagihan listrik yang sering telat dibayar.

Runa kembali berdiri saat melihat rombongan penumpang baru keluar dari pintu otomatis. Ia memaksakan senyum, mengangkat brosurnya kembali.

"Permisi, Bapak, Ibu... Mungkin tertarik untuk pendidikan putra-putrinya di sekolah alam kami..."

Suaranya terdengar serak. Beberapa orang melewatinya dengan tatapan iba, beberapa lagi menolak dengan lambaian tangan kasar. Runa tetap tersenyum, meski di dalam kepalanya, ia mulai membayangkan kasur tipisnya di kosan dan aroma minyak kayu putih untuk meredakan mual yang mulai naik ke kerongkongannya.

...----------------...

Sementara itu, di dalam mobil yang melaju membelah kemacetan Jakarta, Azel tidak berhenti menatap layar ponselnya. Namun, ia tidak sedang memeriksa harga saham.

Ponselnya menampilkan sebuah foto yang baru saja dikirim oleh asistennya melalui pesan singkat. Foto itu diambil secara diam-diam dari jarak jauh, memperlihatkan Runa yang sedang duduk menyendiri di kursi besi, tampak sangat kecil dan lelah di bawah besarnya konstruksi bangunan bandara.

Azel memperbesar foto itu, fokus pada wajah Runa yang sedang memejamkan mata.

"Pucat sekali," desisnya.

Tangannya bergerak membuka aplikasi Notes yang terkunci dengan kata sandi. Di sana, terdapat sebuah catatan lama yang tanggal pembuatannya sudah bertahun-tahun yang lalu. Ia menggulir layar ke bawah, mencari barisan kalimat yang sudah sangat ia hafal.

’Kalau dia kelelahan, dia nggak akan bilang. Dia cuma bakal diam, merem sebentar, terus paksa jalan lagi.’

Azel mematikan layar ponselnya dengan kasar, lalu menatap keluar jendela, pada lampu-lampu kota yang mulai menyala seiring dengan tenggelamnya matahari.

"Pak, informasi mengenai sekolah tersebut sudah saya dapatkan," suara asistennya memecah keheningan. "Sekolah swasta tingkat dasar di pinggiran kota. Kondisi finansialnya sedang tidak stabil. Ibu Runa sudah mengajar di sana selama tiga tahun terakhir."

Azel mengetukkan jarinya di atas armrest kulit mobil. "Berapa utang yayasan itu?"

"Cukup besar untuk ukuran sekolah kecil, Pak."

Azel menarik napas dalam, aroma parfum maskulin yang mahal memenuhi kabin mobil. "Siapkan dokumen kerjasama. Bilang pada mereka, aku akan memberikan dana hibah penuh tanpa batas. Tapi, aku tidak mau berurusan dengan kepala sekolahnya."

Ia menjeda kalimatnya, matanya berkilat tajam di balik kegelapan.

"Katakan pada mereka, aku hanya mau menandatangani kontrak itu di hadapan guru yang tadi membagikan brosur. Secara pribadi. Di kantorku."

"Baik, Pak. Kapan Anda ingin ini dijadwalkan?"

Azel menyeringai tipis, sebuah seringai yang tidak menunjukkan keramahan sama sekali. "Besok pagi. Dan pastikan dia datang dalam keadaan sudah makan. Kalau dia pingsan di lobi kantorku, kalian semua yang akan tanggung jawab."

1
Ayusha
ya ampun kirain aku yg kelewat baca beneran ke IGD. 😄
Ayusha
nyatet nya tar aja kenapa si jel, lg panik masih sempet2nya nulis /Facepalm/
Ariska Kamisa: 🤣🤣🤣🤣
kelakuan ajel emang...
total 1 replies
Ayusha
ya ampyuun sampe segitunya jel /Facepalm/
Ayusha: kalo aku di posisi Runa mungkin udh gila. gila karena ke absurdan Ajel, dan Ter gila2 Karena kebucinan nya 🤣🤣
total 2 replies
Ariska Kamisa
/Pray//Pray//Pray//Pray//Pray//Pray/
Ayusha
/Joyful//Joyful/
Ayusha
katanya kayak meluk kayu kering, emang masih naf su juga 🤣
Ariska Kamisa: emang dasar ajel mah bilangnya apa tapi kelakuannya apa 🤭🤭🤭
total 1 replies
Ayusha
balon kali terbang /Sob/
Ayusha
mantap jel, aku padamu 😍
Ariska Kamisa: ♥️♥️♥️♥️
total 1 replies
Nesya
dapat suami yang mencintai, mertua yang baik dan pengertian beruntung ny kamu runa, nikmati harimu runa waktunya bahagia
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Nesya
👍🏻👍🏻
Ariska Kamisa: terimakasih jempolnya kak♥️♥️♥️
total 1 replies
Ayusha
sa ae lu jel. melting kan gue 🤭
Ariska Kamisa: ♥️♥️♥️♥️♥️
total 1 replies
Ayusha
tinggal bilang "menikahlah denganku"
apa susahnya sih, pake alesan dijodohin segala 🤣
Ariska Kamisa: tsundere banget ya kak ...🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Ayusha
oke, tim cowok posesif dengan segala obsesi nya🤭
Ariska Kamisa: oke satu tim kita kak.. terimakasih banyak ♥️♥️♥️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!