NovelToon NovelToon
Siksa Kontrak Sang CEO: Air Mata Di Atas Ranjang Madu

Siksa Kontrak Sang CEO: Air Mata Di Atas Ranjang Madu

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Selingkuh / Konflik etika
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Asha mengira pernikahan kontrak dengan Arlan, sang Titan industri, adalah jalan keluar dari kemiskinan. Namun, ia salah. Di balik kemewahan Kota Neovault, Asha hanyalah "piala" yang dipamerkan di antara deretan wanita simpanan Arlan. Puncaknya, Arlan membiarkan Asha disiksa oleh selingkuhannya sendiri demi menutupi skandal bisnis. Saat tubuhnya hancur dan janinnya terancam, Asha menyadari bahwa ia tidak sedang menikah, melainkan sedang dikuliti hidup-hidup oleh pria yang ia cintai. Ketika cinta berubah menjadi dendam yang dingin, apakah air mata cukup untuk membayar pengkhianatan yang berdarah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebangkitan Sang Martir

Cairan kimia dari suntikan Dr. Silas terasa dingin merambat di pembuluh darah Asha, membawa sensasi kebas yang perlahan melumpuhkan kesadarannya. Namun, jauh di dalam relung jiwanya, sebuah amarah purba meledak, menjadi bensin bagi api pertahanan yang belum padam sepenuhnya. Asha merasakan genggaman para penjaga sedikit melonggar karena mereka mengira wanita itu sudah menyerah pada nasib. Dengan sisa tenaga yang entah datang dari mana, Asha menyentakkan kakinya ke arah perut penjaga di sebelah kirinya.

"Ugh!" pria itu mengerang, terhuyung mundur karena tendangan tak terduga itu.

"Apa yang kau lakukan?! Pegang dia!" teriak Arlan dari dekat jendela, wajahnya memerah karena murka melihat adanya perlawanan.

Asha tidak membuang waktu. Ia menyambar lampu meja kristal yang berada di dekat sofa dan mengayunkannya dengan liar ke arah Dr. Silas. Pecahan kaca beterbangan, menggores wajah sang dokter yang pengecut. Dalam kekacauan singkat itu, Asha melompat dari sofa, mengabaikan rasa sakit yang luar biasa di rahim dan kepalanya. Fokusnya tertuju pada satu benda: map cokelat berisi dokumen kontrak dan surat cerai paksa yang tergeletak di meja kerja Arlan.

"Jangan biarkan dia mengambil kertas itu!" jerit Elena, suaranya melengking tinggi penuh ketakutan akan kegagalan rencana mereka.

Tangan Asha meraih pemantik api perak milik Arlan yang tergeletak di atas asbak. Dengan gerakan cepat yang didorong oleh keputusasaan, ia menyulut ujung dokumen tersebut. Api kecil segera menjilati kertas tipis itu, membesar dengan cepat karena dibantu oleh sisa wiski yang tumpah di atas meja.

"Kau gila, Asha! Hentikan!" Arlan menerjang maju, mencoba mematikan api dengan tangannya sendiri, namun Asha justru melemparkan dokumen yang sedang membara itu ke arah gorden sutra yang menjuntai di ruang kerja tersebut.

Api menjalar ke atas, menciptakan dinding api yang memisahkan Asha dari para pengejarnya. Di balik kepulan asap hitam yang mulai memenuhi ruangan penthouse yang mewah itu, Asha menatap Arlan untuk terakhir kalinya. Matanya yang merah bukan lagi karena air mata, melainkan karena dendam yang membeku.

"Kontrak ini sudah selesai, Arlan. Kau tidak akan pernah memiliki jiwaku lagi," desis Asha dengan suara yang terdengar asing bagi dirinya sendiri.

"Kau tidak akan bisa keluar dari sini hidup-hidup, jalang!" raung Arlan, wajahnya tampak mengerikan tertutup bayangan api yang menari-nari.

Asha tidak membalas. Ia berbalik dan berlari menuju balkon penthouse. Angin malam Neovault yang kencang menyambutnya, membawa aroma polusi dan kebebasan yang pahit. Di bawah sana, ribuan meter di bawah kaki yang gemetar, sungai The Rust mengalir seperti naga hitam yang membelah kota. Sungai itu adalah tempat pembuangan limbah, tempat di mana tidak ada manusia yang sanggup bertahan hidup lebih dari beberapa menit karena arus dan racunnya.

"Asha! Berhenti di sana!" Arlan muncul di ambang pintu balkon, wajahnya berlumuran jelaga. "Kau hanya akan mati konyol! Kembali ke sini dan mungkin aku akan mempertimbangkan untuk membiarkanmu hidup!"

Asha berdiri di tepi pagar balkon yang sangat tinggi. Ia menoleh sedikit, menatap Arlan dan Elena yang kini berdiri berdampingan dengan ekspresi ngeri. "Mati di sungai itu jauh lebih terhormat daripada hidup sebagai piala di tangan iblis sepertimu."

"Jangan lakukan itu, kau akan menghancurkan segalanya!" teriak Elena, namun ia tidak berani mendekat karena panas api yang masih merayap di belakang mereka.

"Selamat tinggal, Neovault. Selamat tinggal, penderitaan," bisik Asha pada angin.

Asha memejamkan matanya, membayangkan wajah janin yang mungkin sedang berjuang di dalam rahimnya. Ia menarik napas panjang untuk terakhir kali sebelum menjatuhkan tubuhnya ke belakang, terjun bebas ke dalam kegelapan malam yang abadi. Rasa mual di perutnya berganti dengan sensasi ringan yang luar biasa saat gravitasi menariknya ke bawah dengan kecepatan tinggi.

Suara teriakan Arlan yang memanggil namanya terdengar semakin mengecil, tertelan oleh deru angin yang memekakkan telinga. Detik berikutnya, tubuh Asha menghantam permukaan air sungai The Rust dengan dentuman yang sangat keras. Dinginnya air terasa seperti ribuan jarum yang menusuk kulitnya sekaligus. Kegelapan menyelimutinya saat ia mulai tenggelam ke dalam arus yang liar dan beracun.

Di atas sana, di puncak penthouse yang mulai terbakar, Arlan berdiri terpaku menatap permukaan sungai yang gelap. "Cari dia! Aku tidak peduli dia masih bernapas atau tidak, aku ingin tubuhnya ditemukan!" perintah Arlan kepada para pengawalnya dengan suara yang bergetar.

Namun, sungai The Rust tidak pernah mengembalikan apa pun yang telah ditelannya dengan mudah. Keesokan paginya, berita besar mengguncang Neovault Metropolis. Istri dari CEO terkemuka, Arlan Valeska, dinyatakan mati secara hukum setelah insiden kebakaran di penthouse dan tindakan bunuh diri yang disaksikan oleh beberapa saksi mata. Arlan mengadakan konferensi pers singkat dengan wajah yang pura-pura berduka, sementara Elena berdiri di sampingnya dengan senyum tersembunyi di balik kerudung hitamnya.

"Istriku mengalami gangguan mental yang berat. Ini adalah tragedi bagi keluarga kami," ucap Arlan di depan puluhan kamera wartawan.

Bagi dunia, Asha Valeska telah tiada. Namanya dihapus dari daftar warga negara, hartanya disita oleh perusahaan Arlan sesuai kontrak, dan keberadaannya dianggap sebagai noda yang telah dibersihkan. Arlan merasa telah menang. Ia merasa telah menutup bab gelap dalam hidupnya dan siap untuk melangkah menuju puncak kejayaan yang lebih tinggi tanpa gangguan dari wanita yang ia anggap sampah.

Namun, di kedalaman distrik Rust yang kotor dan terlupakan, di sebuah gubuk nelayan yang tersembunyi di balik tumpukan kontainer tua, seorang pria bernama Silas—bukan dokter Silas yang bekerja untuk Arlan, melainkan seorang mantan rekan bisnis Arlan yang telah lama dikhianati—sedang menatap tubuh wanita yang terbaring lemah di atas ranjang kayu.

"Kau beruntung, wanita kecil. Jaring nilonku menangkapmu sebelum kau tersedot ke turbin pembuangan," gumam pria itu sambil membersihkan luka di dahi Asha dengan alkohol murah.

Asha terbatuk, mengeluarkan air sungai yang hitam dan berbau logam dari paru-parunya. Matanya terbuka sedikit, menatap langit-langit gubuk yang bocor. Ia tidak mati. Suntikan Dr. Silas ternyata tidak cukup kuat untuk membunuh janinnya, dan arus sungai tidak cukup kuat untuk mematahkan semangat hidupnya.

"Di mana... aku?" tanya Asha dengan suara yang nyaris tidak terdengar.

"Di tempat di mana orang-orang mati bangkit kembali untuk menagih hutang," jawab pria itu dengan senyum yang menyimpan dendam serupa. "Arlan mengira kau sudah jadi santapan ikan. Dia salah besar."

Asha merasakan denyutan di rahimnya. Rasa sakit itu masih ada, namun kini disertai dengan tekad yang mengerikan. Ia menyentuh bahunya yang masih menyisakan bekas luka bakar cerutu. Setiap rasa sakit di tubuhnya kini menjadi bahan bakar bagi satu tujuan tunggal yang akan ia kejar hingga napas terakhirnya.

"Dia akan membayar," bisik Asha, suaranya kini terdengar sangat dingin, seolah-olah seluruh kehangatan dalam dirinya telah hanyut di sungai The Rust. "Dia akan memohon untuk mati, sama seperti dia memaksaku memohon kemarin malam."

Pria itu memberikan segelas air bersih kepada Asha. "Siapa namamu?"

Asha menatap gelas itu, melihat pantulan wajahnya yang hancur namun penuh dengan api kemarahan. "Asha Valeska sudah mati di sungai itu. Namaku tidak penting sekarang. Kau bisa memanggilku dengan apa pun, selama itu berarti kehancuran bagi Arlan."

"Baiklah, kalau begitu. Mari kita mulai kebangkitanmu, wahai sang martir dari Neovault," ucap pria itu sambil meletakkan sebuah koran pagi yang memajang foto Arlan yang sedang tersenyum palsu di depan publik.

Asha meremas koran itu hingga hancur. Di dalam gubuk kecil yang terasing itu, sebuah kontrak baru telah terbentuk. Bukan kontrak di atas kertas yang dilegalkan oleh hukum Neovault, melainkan kontrak darah yang diikat oleh dendam. Inilah awal dari kebangkitan seorang wanita yang telah kehilangan segalanya, yang akan kembali bukan sebagai korban, melainkan sebagai eksekutor yang akan meruntuhkan menara gading tempat Arlan bertahta.

"Nikmati kemenanganmu untuk sementara, Arlan," batin Asha sambil menatap lampu-lampu kota Neovault yang berkilau di kejauhan dari celah dinding gubuk. "Karena setiap detik yang kau habiskan sekarang, adalah detik yang kupakai untuk merencanakan kejatuhanmu yang paling berdarah."

Babak pertama telah usai dengan darah dan air mata, namun babak kedua baru saja dimulai di balik bayang-bayang distrik Rust yang terpinggirkan. Sang martir telah bangkit, dan Neovault Metropolis tidak akan pernah sama lagi setelah wanita ini melangkah kembali ke pusat kota dengan identitas yang akan menghantui setiap mimpi buruk Arlan selamanya.

1
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
EsKobok: siaaappp kakk 💪💪
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
ingatlah Arlan, bahwa karma itu ada😁
𝐀⃝🥀Weny: nek kurma enak thor.. lha nek karma🤣🤣
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!