"Tanpa kita sadari, perasaan ini tumbuh seiring berjalannya waktu."
— Naura dan Rahsya —
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunny0065, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prihatin
Kenyataan pahit terputar bak kaset rusak, tak ingin di buang dari memori kepala Adara.
Gadis nekat menyakiti diri sendiri itu, kini menatap hampa langit-langit kamar.
"Ternyata sudah siuman. Tunggu sebentar, saya panggilkan dokter untuk memeriksa kembali," kata Suster.
Adara mengangkat tangan lemahnya, menahan langkah Suster.
"Adik ingin menyampaikan sesuatu?" terka Suster.
Adara menggumam tanpa suara membuat Suster mendekatkan satu telinganya ke arah mulut pasien untuk mendengar lebih jelas.
"Aku enggak mau ketemu siapapun."
Suster menegakkan tubuh. "Baik."
Saat Suster keluar, Bu Salma baru saja kembali ke unit gawat darurat dan disambut helaan nafas Pak Satpam.
"Atas permintaan pasien. Maaf sekali Pak, Bu, sementara waktu kami melarang siapapun bertemu dengan pasien," beritahu Suster.
"Adara sudah sadar? Saya ingin bertemu dengannya," binar Bu Salma.
Suster melarang masuk. "Harap maklumi permintaan pasien."
"Baik Suster," patuh Pak Satpam.
Kepergian Suster digantikan Pak Satpam menjaga pintu, melarang Bu Salma masuk.
"Minggir Pak, saya berhak atas Adara! Kalian tidak bisa menolak saya bertemu dengannya," marah Bu Salma.
"Adara ingin sendiri, Bu, biarkan beberapa jam tidak diganggu siapapun, ini demi kebaikan putri Ibu," ucap Pak Satpam memberi pengertian.
"Bapak jangan kurang ajar sok menasehati, saya lebih mengerti Adara. Kalian tahu apa tentang hidupnya? Saya perlu menemaninya!"
"Dokter sedang dijemput Suster untuk memeriksa kondisi terbaru Adara. Sudah, hentikan marah-marah Ibu kepada saya lebih baik Ibu telpon Den Rahsya buat datang ke sini, kasihan saudarinya terbaring di rumah sakit," tutur Pak Satpam.
Benar, putranya harus mengetahui keterpurukan adiknya. Bu Salma melenggang pergi, akan menghubungi anaknya di luar.
Menyimak perdebatan di balik pintu, Adara berkeringat dingin, detakan jantungnya berdebar kencang, nafasnya memburu.
Sesak.
*
Suapan bolu tak jadi dilahap saat ponsel di saku kemeja Rahsya berdering.
"Bentar." Rahsya mengeluarkan benda pipih.
"Siapa?" tanya Naura.
"Bunda."
"Angkat aja, lagian udah lama kamu enggak mengabari keluarga di sana," kata Naura.
"It's okay."
Panggilan tersambung.
Rahsya menekan simbol pengeras speaker pada layar handphone, membiarkan Naura ikut dengar apa-apa dikatakan bundanya.
"Halo, Mas?"
"Iya, Bunda?"
"Kamu di mana? Kenapa tidak pulang-pulang ke rumah? Lupakan, ada hal penting lebih darurat dari pada itu, kalau boleh meminta segeralah datang ke rumah sakit Sinar Abadi, di sini, Adara sedang dirawat."
Terkejut.
Sendok ditangan Naura jatuh ke pangkuan, sedangkan Rahsya menegang di sofa.
"Halo, Mas, kenapa diam? Cepatlah datang ke rumah sakit, Bunda tunggu!"
Sambungan putus sepihak.
Rahsya menarik nafas panjang, menghembus berat. Bagaimana ini, sekalinya menerima kabar di kejauhan sana, adiknya masuk rumah sakit.
"Kita ke rumah sakit." putus Rahsya tanpa pikir panjang melepas lapisan jas hitam yang membalut tubuh atasnya, menyisakan kemeja putih.
"Malah bengong, mau ikut enggak?" ajak Rahsya buru-buru.
Tak sempat menikmati makanan manis terpaksa Naura menaruh potongan bolu di atas meja.
Naura tidak mengerti, mengapa di momen bahagia seperti ini Bu Salma membagi kabar menyedihkan tentang Adara.
"Kamu tunggu di jalan. Aku pamitan dulu sama Papa, nanti aku nyusul kamu, takutnya kalau pergi enggak bilang-bilang kita dicariin," kata Naura.
"Aku tunggu di motor."
Rahsya pergi.
Naura menyambar tas selempang kecilnya di sudut sofa, beranjak mencari papanya yang ternyata beliau sedang berkumpul bersama belasan rekan kerjanya di pelataran belakang kafe.
"Papa, aku pergi keluar sama Rahsya," ijin Naura.
Papa Aksan mengangguk tanpa nanya-nanya, pikirnya mereka berdua cuma keluar jalan-jalan.
Setelah sun tangan, Naura putar arah menuju pinggir jalan di mana suaminya menunggu sambil menunggangi kuda besi roda dua nya.
Rahsya membantu Naura memakai helm full face, lalu menunggunya naik.
"Peluk erat. Kita ngebut." Rahsya menyalakan mesin motor.
"Jangan ngebut, aku takut menggelinding ke jalan."
"Enggak akan, kamu cukup pegangan erat, kita kejar waktu."
"Masalahnya aku takut jatuh," rengek Naura.
Rahsya mengelus punggung tangan Naura yang melingkar erat di perutnya. "Kalau kamu kenapa-napa, aku siap tanggung jawab."
Setelah cukup lama menunggu Naura luluh, barulah Rahsya dapat leluasa melajukan motor. Ngebut.
Tiba di rumah sakit Sinar Abadi. Rahsya menitipkan motor kepada tukang parkir.
Naura mual-mual, kepalanya pening, apapun yang ada di sekitarnya tampak memiliki bayangan ganda. Mabuk perjalanan.
"Kenapa lagi?" tanya Rahsya.
"Pusing. Aku enggak sanggup jalan," keluh Naura.
Perempuan dilanda mual masuk ke pelukan Rahsya.
"Sebelum periksa ke dokter mau aku antar kamu ke kamar mandi?" tawar Rahsya.
"Ini cuma gejala masuk angin, nanti juga sembuh," tolak Naura.
"Ya udah, kita ke apotik, cari herbal," kata Rahsya.
"Mas, wajah mbaknya pucat, masuk angin?" tembak Pak Satpam yang jaga di area tempat parkir.
"Kayaknya masuk angin," angguk Rahsya.
"Sini, saya beliin fresh care, Antangin, roti, sama mineral," simpati Pak Satpam.
Rahsya mengangguk, mengeluarkan selembar uang biru dari saku celana dan memberikannya. "Tolong bantuannya Pak," ucapnya.
Pak Satpam menyebrangi jalan raya, terlihat mendatangi beberapa toko. Tidak lama kemudian, Bapak berhati baik kembali lagi dan menyerahkan kantong plastik putih berisi belanjaan kepada Rahsya.
"Ambil kembaliannya Pak. Makasih udah bantu saya," kata Rahsya.
"Sama-sama Mas."
Rahsya memapah Naura duduk di kursi tunggu tersedia di luar rumah sakit.
"Rotinya makan, udah itu baru minum, hirup ini," ucap Rahsya sembari membuka tutup kemasan aromatik.
Naura menelan rasa mual bersama roti. Demi kembali sembuh.
Lalu Naura meneguk mineral, habis itu Rahsya bantu mendekatkan aromatik ke hidung istrinya.
Pusing dan mual yang Naura derita mulai berangsur hilang setelah lima menit menghirup aroma itu.
"Kuat jalan?" tanya Rahsya.
"Energiku belum pulih, tunggu beberapa menit lagi," lirih Naura.
"It's okay."