Perjalanan kisah seorang wanita, jatuh bangun dalam membangun karir dalam hidupnya, hingga akhirnya menjadi sosok wanita kuat dengan dukungan dari seorang laki-laki yang sangat berkuasanya.
Kehidupan yang penuh dengan luka, bahkan kepingan layar hidupnya ada yang hilang dari ingatan.
Sebuah Rahasia yang tak terduga akan ditemukan, bersama dengan sosok anggota keluarga Klan Nugraha yang tak lain adalah Aftan Brian Nugraha.
Misteri apa apa yang akan terkuak pada akhirnya?, yuk ikuti semua kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dukungan
Bagaimana dengan laki-laki itu Aftan?" Tanya Leon sebelum menutup ponselnya.
"Biarkan saja dulu, aku ingin tau reaksi dari istriku, apa yang akan dia lakukan nanti" jawab Aftan.
"Oh, baiklah, aku juga sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk menggoyangkan perusahaanya, bukan hal yang sulit" Leon memberikan penjelasan yang di butuhkan.
"Hem, bagus, untuk sementara itu dulu, dan istirahatlah, kau pasti lelah"
"Okey, aku dalam perjalanan pulang"
Aftan mengerutkan keningnya, mencerna kata-kata Leon barusan.
"Pulang?, kau dari Club malam?"
"Begitulah, membawa kekasihku lagi dari tempat itu"
"Ck, aku sarankan, ganti saja wanita mu, dia tidak membawa pengaruh baik bagimu"
"Aku mencintai nya Af"
"Persetan dengan itu, lakukan saranku jika kau tidak ingin menyesal nantinya"
"Heh, akan ku pikirkan"
"Selalu itu jawaban mu" Akhirnya Aftan menutup perbincangan dalam ponselnya.
Kembali Aftan menatap balkon kamarnya dan ternyata pintu penghubung sudah tertutup rapat, lalu pandangannya berpindah di atas sofa dimana Andin telah tertidur di sana dengan selimut yang menutupi hampir seluruh tubuhnya.
Aftan tersenyum, mengerti jika sebenarnya Andin masih belum benar-benar tertidur, lalu pergi mendekati.
"Tidur di sofa akan membuat tubuhnya tidak nyaman, apa perlu aku mengangkat mu pindah ke atas tempat tidur?"
"Tidak!, aku bisa sendiri!"
Andin terkejut dan bergegas bangun, berjalan cepat menuju tempat tidur, lalu menarik selimutnya kembali.
Aftan hanya menggelengkan kepala, lalu menyusul dan merebahkan tubuhnya perlahan disamping Andin dengan jarak yang masih aman.
"Andin.." panggil Aftan.
"Hem"
"Aku lebih suka melihat wajah mu daripada punggung mu, tidak baik melakukan itu pada suamimu"
Deg
Andin terdiam, lebih tepatnya terkejut, debaran jantungnya belum bisa di tenangkan, tapi sekarang kembali harus bertalu-talu.
Perlahan Andin membalikkan badan, kedua matanya menatap ke bawah, sengaja menghindari tatapan mata Aftan yang tepat di depannya.
"Apa aku tidak sedap dipandang mata?" Tanya Aftan.
Lagi-lagi, Andin terdiam, merasa tersudut dan tak mampu menolak keinginan Aftan, akhirnya tatapan matanya kini beradu.
"Aku belum terbiasa tidur dengan orang lain di sampingku, berikan aku waktu" ucap Andin pada akhirnya.
"Tentu saja"
"Terimakasih"
"Hem, apa ciuman ku baru yang pertama kali?"
"Apa?" Andin terkejut dan seketika wajahnya memerah, sangat malu karena belum ada pengalaman sama sekali akan hal itu.
"Aku, maaf, aku tidak pandai dalam hal itu" jawab Andin.
"Aneh, wanita sekelas dirimu tidak pandai dalam hal berciuman?"
Andin semakin merasa malu, di usianya yang sudah cukup matang, dirinya bahkan tak tau tehnik berciuman dengan pasangan sama sekali.
"Ck, bisakah kita tidak membahas hal itu?" Akhirnya Andin sudah tak tahan lagi.
Sedangkan lawan bicaranya kini sudah tertawa lirih, namun jelas masih bisa di dengar dan dilihat oleh Andin.
"Menyebalkan!" Gumam Andin nampak mulai kesal.
Aftan tersenyum, lalu tangannya membelai lembut pipi Andin dan kecupan hangat berlabuh di keningnya.
"Tidurlah, kau butuh istirahat untuk aktifitas mu besok" ucap Aftan dengan lembut.
Beribu kupu-kupu terasa berterbangan di hatinya, rasanya begitu indah, manis dan luar biasa.
Tuhan, apa maksud mu mempertahankan ku dengan salah satu klan keluarga Nugraha ini, benarkan untuk menjadikan hidupku lebih baik lagi?, begitulah Andin bertanya dan berharap dam hatinya.
Lalu dirinya segera berdoa sebelum matanya akhirnya benar-benar terpejam, namun sesuatu membuatnya tersentak dan kembali melebarkan matanya.
Tiba-tiba tangan kekar itu menariknya dengan kuat, hingga kini tubuhnya masuk kedalam sebuah pelukan hangat, pembatas sebuah guling yang di beri oleh Andin terlempar entah kemana.
"Aftan?"
"Tidurlah, jangan berisik, aku lelah"
Sudah cukup ucapan itu tidak mungkin untuk di bantah, protes yang akan di layangkan tentu akan percuma saja, akhirnya Andin terdiam, menata kembali debaran jantungnya hingga beberapa saat kemudian kembali tenang dan ikut terpejam.
*
*
Pagi hari yang masih gelap dan dingin, setelah keduanya melakukan ibadah subuh, kembali Aftan merebahkan tubuh nya diatas kasur.
Berbeda dengan Andin yang tak ingin lagi membuat jantungnya seolah berlari, dirinya tak kembali di tempat semula, tapi matanya sedang mencari-cari sesuatu dan tali rambut coklatnya ternyata ada di atas kasur tempatnya tidur semalam.
"Ish, kenapa juga tali itu ada disana" gumamnya kesal, lalu perlahan mengambilnya tanpa ingin mengganggu tidur suaminya.
Hampir saja dirinya pergi dari sana, namun tiba-tiba merasa aneh, saat tubuhnya seolah tertarik dan terhentak hingga masuk kedalam selimut yang sama bersama suaminya.
"Akh!" Andin berteriak kaget.
"Masih pagi, temani aku dulu" ucap Aftan yang rupanya terbangun kembali.
"Tapi_"
"Ini sangat nyaman, jangan pergi" ucapnya lagi dan membuat Andin membeku di tempatnya.
"Apa yang akan kau lakukan pada orang-orang yang sudah memperlakukanmu dengan tidak adil?" Pertanyaan yang membuat Andin terkejut kembali berpikir akan penderitaan yang lalu.
"Apa kamu mengetahui semuanya?" Tanya Andin memastikan.
"Hem, bisa dibilang, sebagian besar" Aftan menjawab dengan tenang.
"Aku masih belum memikirkan hal itu, bagiku sekarang karirku yang terpenting lebih dulu, aku ingin meraih sukses setidaknya seperti dahulu"
"Apa perlu aku menempatkan mu ke dalam jajaran direksi salah satu perusahan ku?"
"Tidak, jangan Aftan, aku ingin berada dipuncak karirku dengan usaha dan kemampuan ku sendiri"
"Lalu, apa pa yang bisa aku bantu, haruskah aku duduk diam melihat mu sengsara untuk menggapai semua itu?"
"Bukan begitu, maaf, bukannya aku tidak menghargai bantuan mu, setidaknya biarkan aku berusaha semaksimal mungkin, aku berjanji, jika sudah tidak sanggup lagi, pasti akan meminta bantuan mu" ucap Andin menjelaskan dan tidak ingin terjadi salah paham.
"Hem, baiklah, asal kau tidak melupakan siapa dirimu sekarang ini"
"Iya, aku tau batasanku"
Aftan kembali menatap mata itu, terlihat benar ada jiwa kuat di dalam sana, semangat yang membara akan cita-cita hidupnya dan Aftan bangga akan hal itu.
"Kau tau itu pasti, ini akan sulit bukan?" Ucap Aftan.
"Iya, tentu saja, aku tau akan hal itu, tapi bukan berarti aku harus menyerah sebelum mencoba, aku yakin, hasilnya pasti akan luar biasa, apapun itu" ucap Andin dengan senyum manisnya.
"Ada aku yang akan berada di belakangmu, mendukung semua usaha yang akan kamu lakukan, apapun itu, jangan lupakan aku, mengerti?"
Deg
Andin terasa ingin terbang, sungguh kata-kata Aftan tak disangka sama sekali, kini hatinya sangat bahagian, hingga tak terasa matanya sudah berembun.
"Terimakasih" ucapnya pelan.
Aftan tersenyum, tangannya membelai wajah Andin seolah menguatkan, dan Andin menyeka air matanya yang hampir menetes, tangan Aftan pun membantunya, lalu kemudian turun dan menyusuri bibir indah Andin yang ranum.
Seketika ada aliran listrik yang menyapa keduanya, Sensasi dan hasrat itu muncul kembali, kali ini Andin merasakan lebih dan seolah tak terbendung.
"Aku menginginkan ini" ucap lirih Aftan semakin membuat merinding.
Akhirnya kecupan yang begitu intens di berikan dibibir Andin, semakin lama semakin dalam, ada gigitan dan luma-tan berkali-kali.
"Emmh"
Lengu-han Andin bahkan kini mulai terdengar begitu syahdu, dan kemudian_
Suara ponsel yang berdering mengejutkan mereka.
"Shiit!"
Aftan segera menyambar dan menerima panggilan pentingnya.
Bersambung.
Yang manis-manis sudah di berikan, yuk jangan lupa kasih Author KOMEN yang banyak, LIKE, VOTE dan tonton IKLANNYA.
andin itu padti arsy yg hilang ingatan dan mungkun wajah nya juga udah di oprasi sama ibu angkatnya yv dojter bedah itu