Rosetta Luwig di hidupkan kembali setelah mengalami sebuah kecelakaan dimana ia sedang mengandung anak kakak tirinya. Dia mencintai Jhonatan Maxiliam, namun ternyata pria itu justru mencintai adiknya. Dengan berbagai cara dia menjebak Jhonatan hingga mengandung anaknya, namun sayang ternyata anaknya tidak di akui bahkan keluarganya membencinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sayonk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kau yang memperkosa ku
Albert tak bisa menahan tangisnya. Ia pun memeluk Daddy Agam dengan erat dan menangis dalam pelukannya. "Daddy."
Daddy Agam tak bisa menahan rasa harunya. Ternyata ia memiliki seorang anak laki-laki. Nyonya Diane perlahan melangkah.
"Nak."
Albert melepaskan pelukannya dan berpindah ke arah Nyonya Diane. "Mommy."
Rosetta menghapus air matanya. Ia tak bisa menahan tangisnya dan ia bahagia bisa bertemu dengan adiknya.
Sedangkan Lili meneguk air ludahnya dengan susah payah, ia tak percaya jika ia bukan anak kandung Daddy Agam dan Nyonya Diane. Selama ini ia sudah mendapatkan semuanya. Ia tidak ingin kehilangan semuanya.
“Bohong!” Teriak Lili. “Kau pasti berbohong Rosetta! Tidak mungkin aku bukan anak kandung mereka.” Rasa tak terima di hatinya menggebu-gebu, dari awal Rosetta selalu ingin merebut darinya.
“Lili semuanya sudah terbukti.”
“Kau melakukan ini supaya kau mendpatkan perhatian Mommy dan Daddy lagi kan?”
Plak
Rosetta tak memikirkan entah ia berada di mana saat ini, ia tak ingin lagi menahan semua penghinaan Lili pada dirinya dan Javer. “Bukan hanya sekali kau menuduh ku dan bukan hanya sekali kau menghina ku dan Javer,” ucapnya dengan bibir gemetar. “Aku sudah keluar dari keluarga ini, aku hanya mengembalikan adik ku yang di siksa oleh orang tua mu.”
Maxiliam memijat pelipisnya. Lili selalu emosian, menasehatinya bagaikan angin lalu.
“Dari dulu kau memang tidak menyukai ku, aku menerimanya. Bahkan saat kau perkataan mu menyiratkan aku mendorong mu, aku diam Lili. Aku hanya ingin adik ku kembali pada keluarga ini. Dan kau, saat orang tua meminta tolong pada mu kau biarkan saja mereka. Kau bahkan tidak merespon mereka.”
“Aku tidak percaya mereka kedua orang tua ku, aku syok.”
“Hebat sandiwara mu Lili.” Rosetta merasa lelah. Ia tidak ingin meladeni keluarga ini. “Ya sudah terserah dirimu.” Ia melihat ke arah Albert. “Adik karena kamu sudah ada di sini, aku ingin kembali. Jadi kamu disinilah dulu.”
“Apa Kakak tidak ingin di sini?” Tanya Albert. Ia memang ingin bersama dengan kedua orang tuanya, tapi ia ingin bersama dengan kakaknya.
“Tidak!” Tegasnya.
Ehem
Nyonya Diane berderhem. “Rosetta bagaimana jika kau tinggal di sini?”
“Tidak, saya tidak ingin. Mario ayo kita pergi.” Ia sama sekali tidak ingin menetap sekalipun di rumah orang tuanya. Sudah cukup baginya di sakiti dan di perlakukan tidak adil, ia berharap kedua orang tuanya memperlakukan adiknya dengan baik.
Daddy Agam terlihat bingung antara ingin menahannya dan tidak, ia seperti ragu karena malu pada sikapnya dulu. “Rose, Rosetta.” Ia berlari dan berhasil menahan Rosetta saat berniat memasuki mobilnya.
“Ada apa?” Tanya Rosetta dengan wajah datar. Ia memang berniat untuk kembali ke Sisilia karena Javer berada di sana, ia menitipkan Javer pada tetangga sebelahnya.
“Apa kau tidak ingin menginap?” Tanya daddy Agam dengan bicara lembut.
“Tidak!” Rosetta membuka pintu mobilnya.
“Rosetta maafkan Daddy, bisakah kamu kembali ke keluarga ini.”
Kedua mata Rosetta terasa panas, dadanya terasa sesak. “Maaf, aku sudah memiliki kehidupan dimana aku tanpa keluarga ini.”
Rosetta melanjutkan masuk ke dalam mobilnya hingga mobil itu pun menghilang. Ia menghapus air matanya.
….
Sedangkan Albert ia mengedarkan pandangannya. Ia di buatkan kamar sebelah dengan kamar Rosetta dulu. Ia senang akhirnya bisa menemui keluarga aslinya.
Sedangkan Lili, dia masih menangis di depan Daddy Agam dan Nyonya Diane.
“Kami akan tetap mengakui mu sebagai putri kami,” ucap daddy Agam. Ia tak mungkin membiarkan Lili pergi karena ia juga sudah menyayangi Lili.
“Benar, kamu tidak perlu khawatir Lili.”
“Aku hanya takut Mom, aku memang mendapatkan panggilan, tapi aku tidak tau kalau sebenarnya dia orang tua asli ku. Aku hanya takut Mommy dan Daddy tidak menyayangi ku.” Ia memeluk nyonya Diane dan menangis dalam pelukannya. “Aku tidak memiliki siapa pun Mommy, hidup ku hancur karena kak Rosetta. Dia sudah mengambil semuanya dari ku. Aku tidak memiliki siapa pun kecuali kalian.”
Nyonya Diane pun merasa kasihan, memang benar semuanya salah Rosetta. Tapi bagaimana pun juga Rosetta tetap putrinya. “Tidak sayang, itu tidak benar. Kami akan tetap menjadi orang tua mu.”
“Lili bisakah kau memaafkan Rosetta.”
Kedua mata Lili menajam. Mana mungkin ia melepaskan Rosetta begitu saja. “Iya Mom, aku sudah memaafkan kak Rosetta, tapi masih sakit Mom. Aku ingin melupakannya dan menerima kak Rosetta.”
“Terima kasih karena sudah memaafkan Rosetta, kau memang putri yang baik,” ucap daddy Agam. Setelah membaik, ia ingin menjemput Rosetta. Ia sangat merindukan kebersamaannya dengan Rosetta dan Javer.
Tidak akan aku biarkan Rosetta kembali, akulah satu-satunya putri dirumah ini. Aku akan membuat kalian dan Rosetta berpisah selama-lamanya batin Lili.
Sedangkan Maxiliam, ia pun menghilang. Ia mengikuti mobil Rosetta dari jauh. Ia tidak rela Rosetta berada di apartement yang sama dengan Mario, namun anehnya ia mengikuti Rosetta bukan jalan menuju apartemen. "Mau kemana mereka?"
Ia terus mengikuti Rosetta dan Mario hingga tibalah di sebuah kota. Ia tak menyangka mengikuti keduanya terlalu jauh. Ia melihat Rosetta dan Mario masuk ke dalam sebuah hotel. Maxiliam pun keluar dan mengikuti mereka masuk.
Setelah melihat keduanya berbicara dengan resepsionis, keduanya pun memasuki sebuah lift. Ia melihat lift menuju ke lantai 7. Setelah Mario dan Rosetta masuk, ia menggunakan lift sebelahnya dan ikut menekan ke lantai 7. Tepat pintu lift terbuka ia melihat Mario dan Rosetta memasuki sebuah kamar yang bersebrangan.
"Mereka tidak satu kamar, syukurlah." Maxiliam merasa senang. Ia pun mengetuk pintu hotel Rosetta.
Ceklek
"Mario kau butuh apa lagi ..." Rosetta membeku melihat siapa orang di depannya.
Maxiliam pun mendorong Rosetta dan menutup pintu hotelnya.
"Kenapa kau di sini Maxiliam? Kau mengikuti ku?" tanya Rosetta dengan nada sarkas.
"Rosetta aku mengkuti mu, aku takut kau bersama dengan Mario."
"Aku bersama Mario bukan urusan mu, sudah cukup! Jangan mengikuti ku, Pergi Maxiliam!" bentak Rosetta.
Maxiliam menggelengkan kepalanya. Banyak hal yang ia ingin bicarakan dengan Rosetta. "Aku tidak akan pergi."
Rosetta membuka pintunya namun Maxiliam mencegahnya. "Aku akan berteriak!"
"Berteriak saja, aku tidak takut sama sekali."
Rosetta tak main-main, ia pun mengeluarkan suaranya dengan keras sambil memaksa untuk membuka pintu di belakang Maxiliam. "Tolo ...."
Kedua mata Rosetta terbelalak, bibirnya terkunci rapat oleh bibir Maxiliam. Ia mendorong tubuh Maxiliam namun Maxiliam justru memeluknya dan menekan tengkuknya.
Maxiliam terus mencium Rosetta hingga ia merasakan sakit di bibirnya, ternyata Rosetta menggigit bibirnya.
Rosetta ingin menampar Maxiliam yang telah kurang ajar padanya namun tangannya di tahan oleh Maxiliam. Dengan gerak cepat Maxiliam mendorong tubuh Rosetta ke atas kasur.
"Maxiliam jangan kurang ajar, aku akan berteriak."
"Baik, kau boleh berteriak, tapi saat semua orang datang kau yang harus bertanggung jawab." Maxiliam membuka kemejanya hingga memperlihatkan tubuh seksinya.
"Apa yang kau lakukan Maxiliam?" tanya Rosetta dengan wajah memerah menahan malu.
"Berteriaklah, semua orang akan tau kau yang memperkosa ku." Ia pun menuju ke atas ranjang dan menutupi tubuhnya separuh dengan selimut.
"Apa? Kau gila!"