NovelToon NovelToon
BLUE EYES

BLUE EYES

Status: tamat
Genre:Persahabatan / Bullying dan Balas Dendam / Teen School/College / Tamat
Popularitas:1.8M
Nilai: 5
Nama Author: Sinho

Sosok wanita Cantik dan Ceria bermata biru menjalani harinya dengan semua masalah yang ada, Kisah misteri dan juga Asmara yang datang silih berganti ikut menyertai.

Teman dan musuh tak bisa terlihat dengan nyata, bahkan cinta dan obsesi sulit untuk dibedakan.

Lalu bagaimana semua bisa terlewati, bahkan kematian menyertai perjalanannya, bagaimana kisah ketegangan penuh trik dan intrik akan berakhir, dan misteri terungkap dengan segala tipu daya, bahkan kekonyolan yang ada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Percekcokan

Aftan terdiam, hanya menatap tajam Ailina yang masih menunggu jawaban.

"Sudahlah, aku sudah tidak bisa lagi melacak keberadaan mu, kamu sudah puas kan?!" Aftan melangkah pergi begitu saja meninggalkan Ailina.

"Oh, My God, kenapa urusan malah jadi runyam seperti ini" gumam Ailina yang kini juga berjalan menuju kelasnya.

Sampai siang menjelang sore, Ailina tak mendapati kabar apapun dari Aftan yang biasanya paling rajin menanyakan soal makan dan juga pulang, Ailina memastikan kalau Aftan kali ini benar-benar marah padanya.

"Sudahlah" gumam Ailina kini melangkah menyusuri jalanan kampus menuju pintu keluar.

Pikirannya masih bingung akan sikap Aftan, tak terasa Ailina jauh melangkah tanpa mencari transportasi untuk sampai di Apartemen yang baru ditempati, dan tiba-tiba saja, sebuah tangan menyambar.

Reflek perlindungan diri, Ailina bergerak cepat melawan, dan dengan sigap kini balik menyerang.

"Kau?" Ailina ternganga melihat sosok yang kini ada di depanku.

Tersenyum, itu yang kini dilihat dari seorang laki-laki tampan tepat di depan matanya.

"Mata birumu, aku sangat menyukai itu" ucapnya.

Ailina langsung mundur beberapa jengkal, kembali tangan itu ingin meraih wajahnya, dan tentu saja Ailina tidak mengijinkannya.

"Apa yang kau lakukan disini Sky?" Ucap Ailina dingin dan ketus.

Tidak ada jawaban, hanya senyuman tipis dan tatapan mata yang intens mengamati Ailina.

"Aku merindukan mu" jawaban yang seketika memporak porandakan hati Ailina.

Ailina terdiam, tak tau apa yang dirasakan, hatinya begitu terpaut akan sosok Sky setelah kejadian masa lalu dimana dirinya pernah berinteraksi.

Namun ada juga luka yang menyayat hati, dimana perlakuannya yang tidak bisa di mengerti, datang dan pergi sesuka hati, muncul dan menghilang tanpa permisi dan bahkan pernah mengusirnya.

"Pergi, dan jangan muncul di depanku seenak mu sendiri" ucap Ailina dengan tatapan tajamnya.

Tampak wajah aneh itu seolah mengamati dan mencerna apa yang dikatakannya Ailina, melihat hal itu, Ailina segera berbalik dan meninggalkannya begitu saja.

Berharap sosok itu menahannya, atau paling tidak menjelaskan sebuah alasan, tapi kenyataanya tidak, Ailina merasa sangat kecewa dan terus melangkah pergi dari sana.

"Aku semakin menyukaimu" gumam seorang laki-laki yang ditinggal pergi begitu saja oleh Ailina.

"Tuan?" Seseorang menyadarkan.

"Hem, kita pergi" ucapnya.

Sebuah mobil mewah mendekat dan membawanya pergi dengan segera.

*

*

Ailina sampai juga di Apartemen, hatinya yang sempat kacau sudah ditata lagi dengan benar, lalu dirinya segera masuk dan mengedarkan pandangan ke sekitar.

Meletakkan map penting didalam laci mejanya, lalu Ailina duduk sejenak, memijit pangkal hidungnya dan menarik nafas dalam beberapa kali untuk menangkan pikiran.

Kini berjalan masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri, gemericik air shower yang membasahi tubuhnya membuat Ailina terasa rileks kembali.

Dirasa sudah cukup, Ailina segera keluar dan memakai pakaian ganti, merapikan diri dengan hijabnya dan bersiap diri untuk keluar, memantapkan hati untuk meminta maaf akan perlakuannya kepada Aftan tadi siang.

"Kemana kak Aftan?, Belum pulang?" Tanya Ailina dalam hati sambil berjalan ke dapur dan berniat untuk memasak.

Hampir satu jam Ailina bergelut disana, sampai hidangan makan malam pun sudah siap untuk disantap, Ailina tersenyum berharap nanti Aftan akan hilang dari kemarahan.

Namun sampai pukul sembilan malam, Aftan tak kunjung datang, beberapa pesan pun yang dikirimkan tak ada balasan, sempat menghubungi beberapa kali juga percuma, tak juga di angkat.

Ailina tak mau ambil pusing lagi, bodoh amat karena perutnya sudah kelaparan, segera membaca doa dan menikmati makanannya yang sudah dingin.

Tiba-tiba pintu Apartemen terbuka.

"Kak, baru pulang?, Sorry aku lapar nunggu kak Aftan, jadi makan duluan" ucap Ailina.

Tak ada sahutan, Aftan berjalan tanpa menoleh dan masuk ke dalam kamar, lalu menutup rapat pintunya.

"What?, Menyebalkan!" Gumam Ailina kesal dan melanjutkan lagi makannya.

Sampai akhirnya perut Ailina kenyang, tak juga ada tanda-tanda Aftan keluar dari kamarnya, setelah membereskan meja makan, Ailina segera mengetuk pintu kamar.

"Kak, makanan masih ada di meja, sudah aku siapkan, aku istirahat duluan!" Akhirnya Ailina tetap saja memberitahukan.

Tak ada sahutan apapun, sepi dan sepertinya tak ada tanda-tanda pergerakan sama sekali, Ailina meraih ponsel dalam sakunya dan mengirim pesan ke Aftan seperti yang di katakan tadi.

Malam yang tenang untuk semua beristirahat, dan keadaan Apartment itu pun sepi.

*

*

"Keterlaluan!" Teriak Ailina pagi-pagi dengan rasa kesalnya.

Melihat makanan yang disiapkan diatas meja makan itu akhirnya basi, tentu saja karena Aftan tak menyentuhnya sama sekali, hingga masih utuh dan berbau.

"Buka kak, buka!" Teriak Ailina sudah tak bisa menahan kesalnya.

Tak juga ada jawaban, hingga akhirnya Ailina menggunakan cara terakhir dengan kekuatannya.

Ceklek

Pintu pun akhirnya bisa dibuka dengan paksa dan Ailina menerjang masuk melihat Aftan tengah duduk di balkon kamarnya.

"Kak Aftan itu kenapa sih?, Dari datang sampai sekarang gak keluar kamar, makanan yang aku siapkan semalam sampai basi, kalau kak Aftan gak mau makan harusnya taruh dalam kulkas, bisa aku hangatkan buat sarapan pagi, tidak mubadzir!" Teriak Ailina yang kini sudah ada di depan Aftan yang masih terdiam.

Aftan melihat sejenak, lalu menatap ke sisi lain sambil menikmati kopi buatannya sendiri.

"Aku minta maaf kalau apa yang aku lakukan kemaren membuat kak Aftan marah, tapi kak Aftan memang sudah keterlaluan dengan memasang alat pelacak padaku, apalagi tanpa sepengatahuan ku" ucap Ailina walaupun masih belum ada respon apapun dari Aftan.

"Aku akan kembali ke Apartemen ku!" Ucap Ailina semakin kesal dan segera berbalik melangkah menuju pintu.

"Jangan berani melakukan hal itu!" Akhirnya Aftan bersuara, namun masih tidak mau menatap Ailina.

"Itu urusanku!" Ucap Ailina makin kesal dan menutup pintu itu cukup keras.

"Ailina!" Teriak Aftan tak di pedulikan.

Aftan masih berusaha tetap tenang dan diam ditempatnya, tak mendengar apapun lagi setelah pintu itu tertutup, hingga beberapa menit kemudian_

"Sial!" Ucap Aftan segera berlari keluar, dan mengejar Ailina.

Rupanya Ailina tak main-main dengan ucapannya, sudah membawa kopernya dan hampir sampai di pintu apartemen.

"Hentikan!" Ucap Aftan meraih koper itu dan melemparnya kesamping.

"Kak Aftan jangan keterlaluan!" Ucap Ailina makin kesal dan ingin meraih kopernya kembali.

Aftan tak membiarkan, lalu meraih tangan Ailina dan menariknya.

"Lepaskan kak!, Aku tidak tahan kalau berada ditempat yang sama tapi kak Aftan membiarkanku seolah aku tidak ada"

"Itu karena kamu tidak nyaman dengan caraku melindungi mu"

"Masih banyak cara yang lain, tidak harus menganggu privasi ku!" Sahut Ailina yang masih berada dalam genggaman tangan Aftan.

"Tidak ada, itu cara teraman!"

"Kak Aftan keterlaluan!"

"Itu karena aku tidak mau terjadi sesuatu padamu, tidak ingin sesuatu melukai mu,dan tidak ingin kehilangan mu!" Sahut Aftan.

Aftan semakin mendorong Ailina ke tembok hingga tak bisa bergerak untuk memberontak.

"Aku pun sama kak, kita saudara harus saling melindungi, itu sudah kewajiban kita"

"Bukan hanya itu, tidak sesederhana itu Ai"

"Maksud kak Aftan apa?" Ailina mulai dibuat bingung.

Aftan meraih wajah Ailina, menatap mata biru itu dengan penuh sayang, dan entah keberanian dari mana, ada dorongan kuat yang membuat dirinya memegang bibir Ailina dan mengusapnya lembut.

"Apa yang Kak Aftan lakukan, hentikan!" Teriak Ailina berusaha mendorong tubuh Aftan yang menguncinya.

"Aku mencintaimu Ai, Maaf"

"What?!, Jangan gila kak!"

Aftan seolah tak mendengar ucapan Ailina yang sangat terkejut, justru semakin ingin meraih bibirnya untuk di pagut.

Heh, kira-kira apa yang terjadi berikutnya ya?, yuk KOMENnya biar makin seru, jangan lupa HADIAH, VOTE, LIKE, dan Tonton IKLANnya.

Bersambung.

1
Wulan Dari
adiknya sky tepatnya kembarannya
Wulan Dari
adiknya sky si arsy
Wulan Dari
aku tuh dah beberapa kali baca cerita keluarga nugrsha gk pernah bosan bacanya walaupun baca berulang2kali suka semua novel mu thorr😍😍😍😍
Ummah Intan
Luar biasa
Gini Antika
eagle nugraha thorrr bukan brian
kalau brian nugraha itu turunan alex
Heryta Herman
sky sky..jadi lelaki ga genleman...kamu merendahkan harga diri wanita yg kamu suka..padahal adikmu juga wanita...hhuuhh..
aristi
sky kah???
Fafa Marketology
emang BLH ya klu sepupu
Rochman Syah
cerita tentang Evan & Ethan ad GK Thor...
penasaran in q nya😊😊
Elin Erliana
Lumayan
Suherni Erni
kenakan..balas dendam ngga jelas.cari tau dlu masalah sebenernya.otak udang dipake
Aya Yeyet
selalu keren Thor karya mu, trimakasih...
Renny Mamrat
Luar biasa
Whatea Sala
Selalu ku tunggu karyamu berikutnya.
Mas Chabibah Muslich
Luar biasa
erinatan
ututututu kacian babang sky cini cini akoh peyuk🤣🤣🤣
erinatan
pasti sky
erinatan
aku baru baca karyamu KK dan ini yg kedua cukup bikin penasaran juga semoga othor bisa menghasilkan karya2 yg lebih menakjubkan lg
erinatan
apkh Arsy ank sky
siti Hasanah
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!