Perjalanan hidup Elleana Callista Miller tidak semudah dan seindah wajahnya. Memiliki penampilan yang cantik serta kekayaan yang luar biasa di negaranya membuatnya menjadi target siapa aja yang ingin memiliki kekayaan keluarga Miller termasuk keluarga pamannya yang mengakibatkan Elleana harus kehilangan kedua orangtuanya. Untuk bisa hidup dan membalaskan perbuatan pamannya dia harus bersembunyi di negara lain serta sang kakak Elleana yaitu Edward Jullio Miller harus berjuang mempertahankan perusahaan keluarga Miller. Kenyataan pahit yang dirasakan Elleana bertambah ketika mengetahui bahwa sang kakak bukanlah kakak kandungnya.
Xavier Alexander Romanov, pria tampan dan kaya raya. Banyak di gilai para wanita meskipun memiliki sifat dingin dan kejam terhadap musuh-musuhnya menjadi daya tarik tersendiri bagi yang melihatnya. Banyak yang ingin menjadi kekasihnya karena ketampanan dan kekayaannya, tetapi Xavier tidak tertarik karena masa lalunya yang di khianati sang kekasih Allona Debora sang model yang terkenal. Demi melindungi keluarganya dan dirinya sendiri dia menjadi ketua mafia yang sangat di takuti.
Bagaimanakah kisah keduanya ? apakah takdir mempersatukan mereka dengan kisah yang indah ? serta mampukah mereka mempertahankan cinta ketika masa lalu hadir di kehidupan keduanya ?
Ikuti dan baca kisah mereka yang penuh dengan lika - liku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranty Yoona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kerja Sama
Di pagi hari sebelum berangkat ke kantor seperti biasanya dua kakak adik yang sangat akrab sedang sarapan bersama.
Mereka saling bertukar cerita.
"Kak Ed kau sudah menemui klien besar yang akan kerja sama dengan perusahaan kita.." Tanya Elleana.
"Belum, siang ini aku akan bertemu dengannya." Jelas Edward.
"Hm baguslah, semoga nanti berjalan dengan lancar. Kau harus bisa meyakinkannya kak."
"Tentu, kau tidak perlu mencemaskannya." Edward tersenyum tulus. Edward terus menatap Elle, seperti ingin berbicara tetapi ia masih ragu-ragu.
"Elle apa kau sedang dekat dengan seseorang ?" Ucap Edward serius. Elleana yang mendengarnya menjadi terbatuk-batuk. Lalu segera mengambil minumnya.
"Astaga apa maksud kak Ed ? Aku dekat dengan seseorang.. haha tidak kak." bohong Elleana. Ia menjadi gugup. Sedangkan Edward Terus menatapnya membuat Elleana menjadi semakin gugup dan panik.
"Apakah kau yakin Elle.." Edward menekankan perkataannya.
"Hm iya kak..." Ucap Elleana yang berusaha tetap tenang. Ia berpura-pura asik dengan makananya. ia tidak ingin bertatapan dengan Edward takut Edward nya itu dapat melihat jelas kebohongannya.
"Ya sudah cepat selesaikan makanmu.. Aku akan segera berangkat." Ucap Edward datar.
Ia segera beranjak dari kursi dan berjalan ke arah ruang tamu. Ia mengambil Jas dan memakainya serta mengambil tas kantornya yang berada di sofa lalu segera keluar dari rumah memasuki mobilnya. Ia di antar oleh supir pribadinya.
Sepanjang perjalanan Edward hanya terdiam memandang keluar jendela wajahnya yang dingin menjadi semakin dingin. Ia mengepalkan tangan kirinya.
"Kenapa kau menjadi tidak jujur padaku Elle.. Apa sekarang aku sudah tidak berarti lagi bagimu". Ucap Edward dalam hati.
***
Sesampainya di kantor. Baik Elleana maupun Edward sedang sibuk.
Mereka berdua sedang diskusi bersama,, tapi di sini ada hal yang berbeda sejak tadi Edward hanya diam saja sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu. Elleana dengan ragu mulai berbicara lebih dulu.
"Hm Kak Ed.." saat di panggil pun Ed masih tetap fokus pada berkas yang sedang ia baca.
"Kak Ed, apa ada sesuatu yang terjadi.." Elleana mencoba menanyakannya langsung. Edward pun langsung menoleh dan menatapnya dengan lekat.
"Ada apa Elle, apa ada yang masih kurang jelas tentang proposal kita ini ?" Edward mengalihkan pembicaraan, ia memang tidak ingin membahas apapun selain pekerjaan, entah memang tidak mood atau ia memang ingin bersikap profesional.
"Huhh.." Elleana membuang nafasnya dengan kasar. Kemudian ia beranjak dari sofa yang di tempati itu..
"Sepertinya kak Ed memang sedang tidak ingin di ganggu.. aku permisi dulu.." Ucap Elleana datar kemudian ia meninggalkan ruangan Edward.
Edward pun hanya memandang datar ia terdiam sejenak, lalu menyandarkan tubuhnya di sofa dalam posisi duduknya. Ia memejamkan mata untuk menghilangkan rasa gelisahnya.
Di sisi lain, ada dua pria tampan yang baru saja turun dari mobil BMW mewahnya di depan gedung Miller Group. Tentu saja itu menjadi pusat perhatian banyak orang dan ya siapa yang tidak mengenal salah satu pria tersebut, wajah tampannya, keahliannya dalam berbisnis tentu sudah menjadi topik hangat di kalangan pembisnis. Asisten pribadinya itu menuju meja resepsionis dan bertanya dimana ruangan CEO karena memang mereka sudah membuat janji. Dan resepsionis tersebut segera memberitahu mereka untuk menaiki lift ke lantai 44 itu.
Edward yang masih setia memejamkan matanya itu merasa terganggu karena suara ketukan pintu.
Tok.. tok.. tok
"Masuk.."
"Tuan, klien yang kita tunggu sudah datang, mereka di lobby tuan dan sedang menuju ke ruangan." Jelas Justin. Dan Edward mendengarnya dengan mata yang masih terpejam posisi yang masih bersandar. Justin yang melihatnya pun menjadi terheran ada apa dengan bos nya ini.
"Hmm apa semuanya sudah kau siapkan, Justin ?" Tanya Edward serius. Ia membuka matanya dan membenarkan posisi duduknya.
"Sudah.. kau tidak perlu khawatir.." Justin meyakinkan.
Perlu di ketahui Edward, Martin dan Justin adalah teman satu kampus. Ayah justin memiliki perusahaan yang lumayan besar dan ia lebih memilih menjadi sekretaris sekaligus asisten pribadi di perusahaan keluarga Miller, bukan karena apa-apa karena ayahnya akan memberikan perusahaan keluarganya kepada kakak tertuanya, mengingat ia memang anak angkat di keluarga tersebut jadi ia ingin membuktikan kepada keluarganya bahwa ia mampu mencapai kesuksesan dengan usahanya sendiri. Ya mereka memang mempunyai kesamaan sama-sama anak angkat. Bedanya Edward memiliki kasih sayang dari orangtua angkatnya itu sedangkan Justin ia harus berjuang sendirian.
"Hm baiklah.." Ucap Edward datar.
Tidak lama kemudian suara ketukan pintu terdengar. Justin dengan sigap segera membukakan pintu ruangan lalu memberi hormat.
Edward dan juga Justin menyambut kedua pria tampan dengan kharisma nya yang luar biasa itu. Ini pertama kalinya Edward bertemu dengan klien yang memiliki aura yang kuat. Ia melihat lekat ke pria yang memiliki aura tersebut, entahlah tidak bisa ia artikan.
"Selamat siang tuan Edward, dan Tuan Justin. Saya Jack asisten pribadi dari Bos saya Xavier dan ini adalah Xavier Alexander Romanov Presdir dari A.X Romanov Group." ucap Jack memperkenalkan dirinya dan juga Xavier.
"Ya kami sudah menunggu kedatangan kalian sejak tadi. Saya Edward CEO Miller Group dan ini asisten pribadi saya Justin. Silahkan duduk." Edward mempersilahkan Xavier serta Jack untuk duduk. Dan mereka sudah duduk kecuali Justin dan Jack yang tetap berdiri tidak jauh dari bos mereka masing-masing.
"Terimakasih sebelumnya tuan Xavier karena telah bersedia datang dan mau mempertimbangkan kerjasama yang saya tawarkan. Sejujurnya saya cukup terkejut karena perusahaan anda menerima penawaran kerja sama ini dengan cepat." Ucap Edward antusias. Ya walaupun ia sedang tidak tenang hatinya tetapi ia harus tetap profesional dalam bekerja.
"Ya karena saya tertarik dengan penawaran kerjasama perusahaan anda tuan Edward. Dan saya selalu memberikan kesempatan pada setiap perusahaan yang bersungguh-sungguh." Kata Xavier santai.
"Maksud tuan Xavier...." Edward menatap lekat ke arah Xavier.
"Siapa yang tidak mengetahui CEO Miller Group yang beberapa tahun ini menjadi perbincangan hangat di kalangan pembisnis, kerja keras anda mempertahankan perusahaan sungguh membuat saya terkesan jadi tidak ada salahnya saya menerima kerjasama ini." Ucap Xavier tulus. Ia memang sangat terkesan dengan Edward yang bekerja keras mempertahankan perusahaan keluarga Miller sejak sepeninggalnya Presdir terdahulu yang tak lain adalah ayah dari wanita yang ia cintai. Tentu saja ia sudah mencari tahu setiap perusahaan yang akan bekerja sama dengannya terlebih lagi berkaitan dengan wanitanya.
"Terimakasih, tuan Xavier. Saya sangat tersanjung anda mengetahui dengan baik tentang saya juga perusahaan ini, tetapi sepak terjang saya masih kurang di bandingkan kemampuan anda yang lebih memumpuni." Edward juga memuji Xavier. Ya ia sangat mengagumi Xavier pewaris Romanov Group yang kemampuan berbisnisnya luar biasa di usianya yang muda sudah memiliki jabatan presdir dengan kemampuannya sendiri.
"Ya saya juga menyukai kerja keras anda tuan Edward." Xavier tersenyum tipis.
Mereka berdua mulai menandatangani kontrak kerjasama perusahaan mereka. Edward dan Justin tersenyum senang akhirnya mendapatkan kesempatan bekerjasama dengan A.X Romanov Group.
"Baiklah, untuk meeting selanjutnya kita bisa bicarakan lain waktu. Asisten pribadi saya nanti akan menghubungi anda." Xavier segera beranjak dari tempat duduknya,,
"Terimakasih saya senang bekerja sama dengan anda tuan Xavier." Edward pun berdiri lalu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Xavier.
"Ya saya pun begitu." Ucap Xavier yang berjabat tangan dengan Edward.
Kemudian ia segera keluar dari ruangan dan tentu saja di antar oleh Edward.
Tiba-tiba saja berpapasan dengan wanita cantik. Ya siapa lagi kalau bukan Elleana.
"Kau..." Pekik Elleana.
Elleana sangat terkejut sungguh ia tidak percaya bahwa klien yang bekerja sama dengan Miller Group adalah perusahaan A.X Romanov Group.
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
.
Jangan lupa Like, Vote dan Follow ya 🤗🤗
aku gak Nemu cerita yg garing, bagus bangeeeeet.
semangat ya buat cerita2 baru, suka 🥰🥰🥰🥰🥰