Bukan salahmu karena kamu lahir dari seorang wanita yang belum menikah.
Tapi takdir begitu kejam. Hanya karena tidak punya Ayah, hampir semua orang mencemoohnya.
Saat mengetahui dia lahir dari pemerkosaan, Syahida bertekad untuk mencari keadilan buat ibunya yang selama ini telah berjuang sendiri merawat dan membesarkan dirinya..
Bisakah Syahida membuktikan kalau ibunya wanita baik-baik yang tidak mendapatkan keadilan
Dan bagaimana pula perjalanan cintanya?..
Yuuuk ikuti kisahnya di novel ini..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha Gibran, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
"Jangan takut, aku percaya padamu dan aku melindungi kamu," Andra menenggelamkan Nadien yang terus menangis kedalam pelukannya.
Mereka terdiam beberapa saat.
Kenangan masa lalu Andra terbayang kembali saat melihat Kayla menangis dalam balutan selimut karena tubuhnya yang tidak memakai apa-apa, belum lagi tuduhan Gurazi yang memojokkan Kayla. "Kayla …" ringis hati Andra.
Sedang Nadien merasa sangat bahagia, akhirnya bisa mendepak Gurazi.
Nadien mulai tenang. "Kita pulang ya," pinta Nadien.
"Kita masing-masing bawa mobil, kamu bisa menyetir sendiri?"
Nadien mengangguk pelan.
Mereka berdua berjalan keluar dari villa itu.
Penjaga Gurazi kaget melihat anak majikan mereka berjalan sambil memeluk wanita itu.
"Tugas kalian selesai, ini sedikit dulu, aku tidak bawa uang cash banyak, ini dulu, nanti pembayaran kalian ambil ke kantor papa," seru Andra.
Karena mereka tahu siapa Andra mereka setuju. Semua penjaga Gurazi pulang meninggalkan villa itu.
Andra dan Nadien meninggalkan villa itu, Andra langsung pulang kerumahnya menceritakan pada ibu dan adiknya kelakuan Gurazi, sedang Nadien pulang kerumahnya untuk ganti baju. Setelah selesai ganti baju, Nadien segera ke kantor Kevin.
"Kevin …." Nadien berlari kearah Kevin dan memeluknya.
"Berhasil?" Tanya Kevin.
"Emmm," Nadien mengangguk, sedang dia masih memeluk Kevin.
***
Penderitaan Gurazi di mulai, segala hal yang atas nama Gurazi sudah berpindah atas nama Andra. Sovia pun mengurus cerai dengan Gurazi. Kini Gurazi berada di sebuah rumah kecil di sudut gang yang Andra belikan untuknya.
Namun tanpa teman, tanpa keluarga, juga tidak memiliki uang sedikitpun. Belum lagi penyakit yang dia derita semakin parah, Gurazi menderita dalam gubuknya seorang diri.
Nadien mendatangi gubuk tempat Gurazi bersama Kinar, membawa beberapa kebutuhan pokok.
"Hai Gurazi," sapa Kinar.
"Kik---Kinar?" Gurazi terkejut melihat Kinar datang bersama Nadien.
"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Nadien dengan seringai mengejek.
"Apa salahku padamu sehingga kamu membuatku seperti ini? Di usia tua ini tanpa teman dan tanpa keluarga perih," ringis Gurazi sambil menahan rasa sakitnya.
"Harusnya pertanyaan itu yang aku tanyakan padamu, apa salah laki-laki yang bernama Fa'az sehingga kamu membunuh dia dengan membakar dia dalam rumahnya," seru Nadien.
"Fa'az, dia yang menjebloskan aku ke penjara, aku membalas perbuatannya," seru Gurazi.
"Dan sekarang istri Fa'az membalas kembali," seru Nadien.
Gurazi menganga.
"Aku Syahida, anak Kinar yang lahir dari perkosaan, anak itu beruntung, karena berhasil membuatmu mendekam dalam jeruji besi berkat bantuan Fa'az, namun kamu menabuh genderang perang lagi, karena kamu aku kehilangan suamiku dan kehilangan wajah asliku," seru Nadien.
Nadien dan Kinar meninggalkan gubuk Gurazi. Mereka puas melihat keadaan Gurazi yang sangat memprihatinkan.
"Kenapa aku baru tahu penolongku selama ini masih hidup, sekarang percuma! Aku tidak memiliki apa-apa," ringis Gurazi.
Gurazi melirik barang yang di bawa Kinar barusan, dia belum makan sejak tadi malam, Gurazi bagkit perlahan mengambil sebungkus mie instan dan sebutir telor, dia melangkah menuju dapurnya.
"Mie instan dulu, aku sangat lapar, aku tidak mampu kalau memasak dulu," ringis Gurazi menahan rasa lapar dan rasa sakitnya.
Gurazi menghidupkan kompor gasnya.
"Beruntung gas masih ada," seru Gurazi.
Namun tiba-tiba dia merasakan sakit yang sangat luar biasa, hingga dia kehilangan kesadarannya. Sedang api kompor terus menyala. Karena dalam wajan itu kering wajan itu menghitam, lama-kelamaan api itu menjalar dinding rumah yang lapuk itu.
****
Di luar rumah.
"Seperti kebakaran itu," seru warga yang melihat asap hitam mengepul dari arah rumah Gurazi.
"Itu rumah pak Aji warga baru disini," seru warga.
Warga sekitar tidak mengenal siapa Gurazi, mereka memanggil Gurazi dengan panggilan pak Aji.
Warga berusaha menolong Gurazi, karena warga tahu kalau Gurazi sakit dan tinggal seorang diri. Namun suara ledakkan keras dari tabung gas membuat api semakin besar.
Warga terus berusaha memadamkan api tersebut. Namun saat api padam warga tidak bisa berbuat banyak, mereka menemukan Gurazi yang nampak mengenaskan, warga membawa Gurazi kerumah sakit, berharap bisa menolong, namun Gurazi sudah meninggal.
Warga sekitar mengurus jasad Gurazi dan menguburnya di tempat pemakaman umun di desa mereka.
***
Nadien, Kevin ataupun Andra tidak mengetahui keadaan Gurazi, tidak tahu dan tidak mau tahu, kematian Gurazi mereka juga tidak ada yang tahu.
Waktu terus berjalan, rencana pernikahan Nadien dan Andra semakin dekat.
"Andra, aku mau jujur, diriku ini bukan asli diriku, aku dapat musibah sehingga aku harus mejalankan operasi bedah plastik," Nadien berharap Andra mundur dari hubungan ini, dia tidak rela jika harus mematahkan hati Andra lagi.
"Aku tidak perduli, aku nyaman bersama kamu," seru Andra.
***
Mendengar kalau Nadien akan menikah dengan Anda, Gita langsung mendatangi Nadien ke kantor Nadien.
"Tante …." sapa Nadien ketika melihat Gita masuk kedalam ruangannya.
"Apa salah anakku? Dia mencintai kamu dari dulu, bahkan saat kamu masih sendiri, karena kesalahanku kamu menikah dengan Fa'az, lihat perjuangan Kevin buatmu selama ini, kenapa kamu lagi-lagi akan menikah dengan orang lain?" Air mata Gita bercucuran.
"Sampai sekarang Kevin masih mencintai kamu, tapi kamu akan menikah dengan orang lain," ringis Gita.
"Aku harus apa? Apa aku harus mematahkan hati Andra juga?" Ringis Nadien.
Gita terdiam, dia teringat kalau Andra juga pernah patah hati. Gita bingung, dia kasihan pada Andra, namun juga prihatin dengan Kevin.
Gita meninggalkan ruangan Nadien begitu saja.
***
"Bagaimana ini? Pernikahan kalian tinggal satu minggu lagi," seru Kinar.
"Mau bagaimana lagi bu, jika Andra jodoh Syahida, aku harus rela bu, aku tidak mau mematahkan hati orang lagi"
"Tapi Kevin juga cinta kamu"
"Aku sudah sangat berterimakasih berkat usaha kamu, nama kakakku bersih, beberapa waktu lalu tante Sovia datang kerumah dan minta ma'af, mengembalikan kehormatan kakakku itu sudah cukup, teruskan Syahida, jangan buat Andra patah hati, dia laki-laki yang baik," ucap Kevin yang tiba-tiba ada diantara mereka.
"Nak Kevin …" ringis Kinar.
"Aku patah hati tidak akan menyia-nyiakan lagi hidupku, tapi kalau Andra? Jangan kamu patahkan hati Andra," pinta Kevin.
Nadien langsung memeluk Kevin, "Kamu orang yang sangat baik, andai ada kesempatan untuk mundur dari pernikahan ini, aku akan sangat bahagia jika bisa menjadi pasangan kamu," ringis Nadien dalam pelukan Kevin.
***
Kevin pulang dengan bermacam rasa yang berkecamuk di batinnya.
"Harusnya dari dulu aku meng ikhlaskan kamu Syahida, ternyata mencoba ikut bahagia lebih baik daripada aku tenggelam dalam duka," seru Kevin.
***
Hari ini Nadien dan Andra menghadiri kegiatan sosial di sebuah rumah sakit jiwa. Kegiatan berjalan dengan lancar. Selesai acara Andra dan Nadien berjalan santai berkeliling area rumah sakit jiwa tersebut. Senyuman yang tadi menghiasi wajah Andra mendadak hilang, ketika melihat seorang pasien rumah sakit jiwa yang tidak asing baginya.
"Kayla?" Ringis hati Andra, seketika perasaannya meledak melihat wanita gila itu.
"Nadien kamu pulang duluan saja, aku ada perlu," seru Andra.
"Okey, aku pulang beb," kecupan lembut dari Nadien mendarat di pipi Andra.
Setelah Nadien pergi Andra meraih ponselnya dan langsung menelpon Kevin.
Kevin di sudut lain heran melihat Andra menelpon dirinya, tanpa buang waktu Kevin langsung menggeser tombol hijau tersebut.
"Hallo Andra, ada apa nih?" Sapa Kevin berusaha santai.
"Kev, sejak kejadian itu aku tidak pernah bertemu Kayla, Kayla di mana Kev?"
"Whoyyy kamu itu akan menikah, kenapa cari kakak aku"
"Aku berhutang maaf pada Kayla, Kev"
"Nanti aku akan sampaikan," seru Kevin.
"Kayla di mana Kev?"
"Kayla kerja di luar negri," jawab Kevin.
Kevin berusaha menahan air matanya, setiap pertanyaan orang yang bertanya di mana Kayla, selalu mereka jawab seperti itu, padahal Kayla dirawat di rumah sakit jiwa karena Gurazi.
Tanpa bicara apa-apa Andra mematikan panggilan teleponnya dengan Kevin.