Demi mendapatkan uang untuk biaya operasi jantung Sang Nenek, Kanaya rela menjadi ibu pengganti bagi pasangan suami istri Yuga Tjandra dan Zielin.
Tak mau melahirkan diluar ikatan pernikahan, Kanaya meminta suami dari Zielin itu menikahinya secara siri dan sepakat untuk bercerai begitu anak yang dikandungnya telah lahir.
Bagaimanakah kisah rumah tangga mereka selanjutnya, jika Yuga akhirnya juga mencintai Kanaya? Relakah Zielin membagi suaminya dengan ibu pengganti untuk anak mereka?
Jangan lupa rate ⭐lima dan follow akun medsos author.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samudra lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RK - Chapter 28
"Mas, kamu bercanda kan?" tanya Zielin. Dia ingin memastikan jika ia memang tidak salah mendengar.
"Aku serius, Zi."
Tatapan mata Yuga menegaskan segalanya. Laki-laki itu memang tidak pernah main-main dalam setiap pengambilan keputusan. Yuga juga bukan orang yang suka berbasi-basi, dia akan mengatakan tidak suka, jika memang dirinya tidak suka dan akan mengatakan suka, jika memang ia suka.
"Tapi, kenapa Mas? Bukankah sebelumnya kita sudah sepakat hanya akan menjadikan wanita itu sebagai ibu pengganti? Kenapa tiba-tiba kamu berubah? Katakan padaku alasannya!" Zielin tidak terima, dia membutuhkan pejelasan dari keputusan yang diambil oleh suaminya itu.
"Aku mencintai Naya, Zi," aku Yuga.
"Cinta? Lalu aku?" tanya Zielin dengan wajah memelas.
"Aku juga mencintaimu, Zi."
"Jika kamu mencintaiku kenapa kamu mau menjadikan dia istri sahmu, Mas?" sentak Zielin. Dia merasa tidak terima harus berbagi suami dengan wanita miskin bayarannya.
"Kamu yang menghadirkan dia diantara kita. Kamu yang membuatku akhirnya merasa nyaman dengannya, dan kamu yang memberikan kesempatan kepadanya untuk mengambil hatiku," jelas Yuga.
"Jadi, kamu mau menyalahkanku? Kamu ingin menimpakan semua kesalahan ini kepadaku? Begitu?" Zielin menangis. "Tega kamu, Mas!"
"Zi, aku tidak menyalahkanmu. Tapi, aku tidak bisa membohingi hatiku, jika aku juga jatuh cinta dengannya sama seperti aku mencintaimu. Apalagi, dia juga sudah mengandung anakku. Jadi, Zi... aku mohon terimalah Kanaya sebagi madumu. Aku janji akan berusaha bersikap adil kepada kalian berdua. Aku mohon, Zi, aku mohon!" pinta Yuga dengan sungguh-sungguh.
Ini pertama kalinya Yuga memohon sesuatu kepada Zielin dan permintaan itu untuk wanita lain.
"Seandainya aku menolak, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Zielin.
Sebagai wanita yang selalu diratukan oleh Yuga, tentu permintaan Yuga ini mencederai harga dirinya. Apalagi Zielin tahu bahwa Kanaya hanya orang miskin yang bekerja di klub malam milik Mona. Seorang wanita malam tidak akan pernah pantas untuk bersaing dengan dirinya.
"Aku tidak akan melakukan apa pun. Aku akan terus memohon sampai kamu mau menerima dia jadi madumu," jawab Yuga. Ia sadar, wanita mana pun tidak akan rela berbagi suami dengan wanita lain, termasuk Zielin. Tapi, Zielin lah yang sudah menghadirkan Kanaya di hidup mereka demi harta warisan.
"Jika aku terus menolak?"
"Selamanya aku akan terus memohon," jawab Yuga.
"Aku butuh waktu untuk memikirkan ini. Aku mau ke kamarku dulu." Zielin langsung masuk ke kamarnya. Ia juga mengunci pintu kamarnya tersebut dari dalam.
Kanaya yang sejak tadi mendengarkan perdebatan antara suami siri dan istri sahnya tersebut hanya bisa menghela napas berat. Dia benar-benar merasa bersalah karena menjadi alasan keduanya bertengkar.
Kanaya bisa memahami perasaan Zielin saat ini, wanita mana pun di belahan dunia ini tidak akan pernah rela membagi cinta suaminya kepada wanita lain.
"Apa aku salah karena jatuh cinta dengan Mas Yuga?" batinnya Kanaya.
Wanita yang sedang hamil tersebut mengusap perutnya dengan lembut. "Tidak masalah jika akhirnya aku tetap tidak bisa menjadi istri sah dari Mas Yuga asal aku masih bisa berada di sisimu, Nak. Sebagai apa pun aku rela, asal masih bisa ikut mengasuhmu." Kembali Kanaya bermonolog.
Kanaya rela tetap dianggap pembantu di rumah ini asal ia masih diberikan kesempatan untuk tetap berada di samping calon anaknya kelak.
"Tidak usah banyak berpikir. Tidak baik untuk kesehatanmu dan anak kita."
Suara Yuga mengagetkan Kanaya. Wanita yang sedang berdiri di balik tembok itu pun menatap wajah suaminya.
"Mas, kamu tidak perlu meminta hal tersebut kepada Nyonya Zi. Aku tidak membutuhkan status sebagai istri sah Asal aku masih bisa berbakti kepadamu di rumah dan diizinkan untuk ikut merawat anak ini kelak, itu tidak masalah buatku. Aku tidak butuh dunia mengakuiku sebagai istrimu. Asal kamu mengakuiku sebagai istrimu itu sudah cukup bagiku," jelas Kanaya.
Itulah kelebihan Kanaya, wanita itu rela tetap menjadi "simpanan" demi nama baik Yuga dan keluarganya. Dia juga tidak mengharapkan harta darinya. Yuga menarik istri sirinya tersebut ke dalam pelukan.
"Aku tahu. Tapi, kamu juga istriku, sudah seharusnya kamu juga mendapatkan tempat yang sama seperti Zi. Jadi, aku ingin kamu tetap bersabar untuk ini," ucap Yuga. Dia mengusap rambut panjang Kanaya dengan lembut.
"Apa kamu sudah makan?" tanya Yuga sambil menatap wajah cantik Kanaya.
Kanaya menggeleng.
"Kenapa belum makan? Harusnya tidak usah menungguku, kan kamu tahu kalau aku makan siang dengan papa," tegur Yuga.
"Maaf. Aku tidak terbiasa makan sendiri, dulu setiap jam makan aku pasti pulang ke rumah dan makan bersama dengan nenek. Meski dengan lauk yang sangat sederhana, tapi bisa makan bersama itu adalah hal yang sangat menyenangkan." Kanaya menarik memorinya ke beberapa tahun lalu sebelum neneknya mulai sakit-sakitan.
Saat itu, meski hidup mereka serba kekurangan, tetapi hati keduanya bahagia karena bisa menghabiskan waktu bersama-sama. Namun, sekarang dia tidak bisa melakukan itu. Kanaya tidak mau neneknya curiga dengan kehamilannya. Wanita sepuh tersebut pasti akan kaget jika tahu dirinya rela mengontrakkan rahim untuk bisa membuat neneknya tersebut sehat kembali.
"Kapan nenekmu akan dioperasi?" Pertanyaan Yuga kembali menarik raga Kanaya dari ingatan masa lalu.
"Bulan depan."
"Apa kamu akan ikut ke sana?" tanya Yuga lagi.
"Tidak. Aku tidak mungkin ikut. Dokter Wisnu bilang, seenggaknya membutuhkan waktu beberapa bulan agar jantung nenekku normal seperti sedia kala dan aku tidak mungkin terus berada di sisinya selama itu karena pasti perutku semakin membesar. Nenek akan terkejut, jika tahu ternyata aku hamil. Jika itu terjadi, pasti akan berakibat buruk bagi kesehatan jantungnya."
"Lalu?"
"Aku sudah bilang sama nenek tidak bisa menemaninya selama beliau di luar negeri karena harus bekerja. Dan alhamdulillah, nenek bisa menerima itu. Aku juga sudah memberitahu beliau akan ada perawat yang menamaninya selama 24 jam," jelas Kanaya.
"Maaf."
"Maaf? Untuk apa?" Kanaya memicing.
"Jika bukan karena kamu harus mengandung anakku, pasti kamu bisa menemani nenekmu selama menjalani perawatan di luar negeri."
"Kamu salah. Aku tidak akan bisa membawa nenekku ke luar negeri untuk berobat, jika aku tidak mengandung anakmu. Jadi, tidak ada yang salah atau pun benar dalam hal ini. Karena semuanya kita lakukan dengan penuh kesadaran tanpa paksaan. Aku rela mengandung anakmu demi uang, dan kalian rela membayarku dengan bayaran besar demi mendapatkan anak. Walau akhirnya, kita berdua sama-sama saling mencintai," jelas Kanaya lagi.
Yuga mengangguk mengerti. "Kapan nenekmu akan berangkat ke luar negeri?"
"Dua minggu lagi," jawab Kanaya.
"Aku akan ikut menjenguk nenekmu sebelum beliau berangkat."
"Tap.... "
"Kamu tenang saja, aku tidak akan mengaku sebagai suamimu. Aku bisa mengaku sebagai atasanmu, mungkin," potong Yuga.
Kanaya tersenyum. "Baiklah. Kamu boleh menemui nenekku sebelum beliau berangkat ke luar negeri."
"Tapi, ada hal penting yang harus kamu lakukan sekarang juga."
Kanaya mengernyit.
"Kamu harus makan sekarang. Aku tidak mau istri dan anakku kelaparan!" seru Yuga. "Aku akan menyuapimu."
Kanaya kembali tersenyum. "Oke," jawabnya.
Yuga merangkul pundak istri sirinya tersebut dan membawanya ke ruang makan.
Zielin yang sejak tadi memperhatika mereka dari lantai atas begitu kesal. Dia mengepalkan tangannya dengan sangat kuat.
"Aku tidak bisa membiarkan semua ini. Mas Yuga tidak boleh mengakui wanita itu sebagai istri. Tidak! Tidak akan aku biarkan harta warisan itu jatuh ke tangan wanita murahan itu. Tidak akan!" gumamnya. Dia kemudian benar-benar masuk ke dalam kamarnya untuk menghubungi seseorang.
"Sayang. Aku ingin kamu melakukan sesuatu untukku!" titah Zielin kepada orang di ujung sana yang ia pangil dengan sebutan 'sayang.'
🍂🍂🍂
Kira-kira Zielin mau ngapain ya?🤔
Jangan lupa untuk berikan like, komen, vote, dan gift sebanyak-sebanyak. Terima kasih.