Adel dan Vano adalah orang asing yang tidak saling mengenal dan mereka harus terjebak dalam sebuah pernikahan yang disebabkan oleh sebuah perjanjian ibunya dan sahabat ibunya di masa Sekolah.
"Kita menikah bukan atas dasar cinta,kenapa kita harus sama seperti pasangan yang lain?,kamu boleh mengambil peran istri hanya di depan orang tua kita saja, setelah itu kamu bebas melakukan apapun sesuai keinginan kamu,aku tidak akan ikut campur selagi itu masih dalam batas wajar. Dan satu lagi jangan pernah ikut campur dengan urusan pribadiku"kata Vano
Mendengar ucapan Vano ,hati Adel sedikit nyeri entah pernikahan macam apa yang akan dia jalani nantinya.
Hingga di awal pernikahan Vano tidak juga menyadari kalau dirinya mulai menyimpan rasa dengan istrinya.
Siapa diantara mereka yang ternyata mulai jatuh cinta duluan,,,,,yuk lanjut baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dik Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Kecemburuan Adel
Setelah selesai membersihkan diri, Vano keluar kamar untuk mencari istrinya.
Hingga akhirnya Vano menemukan Adel yang masih sesenggukan di meja makan dengan di temani oleh mamanya.
Vano terus mengembangkan senyumnya, kala melihat istrinya yang masih menangisi bau parfum asing itu.
Vano bersyukur gara-gara parfum itu, dirinya bisa tau kalau Adel memang sudah benar-benar mencintai dan tidak mau kehilangannya.
Vano yang melihat Adel masih sesenggukan di pelukan mamanya menjadi tidak tega dan berniat menghampiri istri dan mamanya.
"Sayang..." Sapa Vano mendekat ke arah Adel dan Lisa.
Mendengar panggilan sayang dari suaminya, Adel melepas pelukan Lisa, dan mengusap air matanya dengan tisu.
Lisa yang melihat anaknya mendekat, segera memberikan kode agar Vano menjelaskan permasalahan yang terjadi.
"Kebetulan kamu ada di sini Vano, sini duduk selesaikan kesalahpahaman diantara kalian berdua!" Ucap Lisa tegas.
"Iya Ma. Aku ke sini juga mau menjelaskan sama Adel kok." Jawab Vano (duduk di sebelah Adel lalu memegang kedua tangan Adel yang ada di atas meja).
"Sayang mas minta maaf ya, gara-gara parfum tadi kamu jadi salah paham sama mas," ucap Vano tulus.
"Salah paham?" Tanya Adel.
"Iya sayang kamu salah paham. Mas bisa jelasin semuanya sama kamu." Jawab Vano.
"Oke. Sekarang aku mau dengar penjelasan Mas Vano!" Ucap Adel lagi.
"Begini sayang, filing kamu memang benar kalau bau parfum yang ada di baju kerja Mas itu memang milik seorang perempuan," jelas Vano dengan menatap mata Adel.
"Tu, kan, benar Ma, parfum itu milik perempuan," adu Adel pada ibu mertuanya.
"Sayang... Mas itu belum selesai bicara jangan di potong dulu dong!" Kata Vano.
"Iya Del, kamu dengerin dulu penjelasan dari Vano, jangan di potong dulu ya sayang," kata Lisa.
"Maaf." Ucap Adel pelan dengan menundukkan kepalanya.
"Yaudah, lanjutkan penjelasan kamu Vano!"
"Mas lanjutin ceritanya ya sayang?" tanya Vano pada istrinya.
Adel menjawab dengan menganggukkan kepalanya.
"Tadi pagi pas suami kamu ini meeting di salah satu proyek, ada kecelakaan kecil dengan klien mas. Beliau terpeleset dan hampir jatuh sayang, karena saat itu mas yang ada di dekatnya, jadi mau nggak mau mas menangkapnya, mungkin karena kejadian itu parfumnya jadi menempel di pakaian mas." Jelas Vano panjang lebar.
"Jadi Mas Vano pelukan sama perempuan itu?" Tanya Adel kembali emosi.
"Bukan pelukan sayang, tapi lebih tepatnya mas menolongnya agar nggak jatuh ke lantai. Dan kejadian itu murni ketidaksengajaan." Jawab Vano sungguh-sungguh.
"Tapi kan tetap saja Mas Vano sudah peluk-peluk perempuan itu." Ucap Adel kesal.
"Kamu cemburu hem...." Goda Vano sambil menaikturunkan alisnya.
"Enggak..! Siapa juga yang cemburu!" Jawab Adel mengelak.
"Kalau nggak cemburu terus namanya apa dong?", "Sudahlah sayang ngaku aja, kamu cemburu kan, kamu takut kehilangan mas kan, iya kan?" Melihat wajah istrinya yang sudah memerah Vano semakin semangat untuk menggodanya.
"Mama, Mas Vano nakal Ma godain Adel terus dari tadi," rengek Adel pada mertuanya.
Lisa tersenyum melihat drama kesalahpahaman anak dan menantunya kini sudah selesai.
"Vano, istri itu di sayang bukan di godain terus, itu lihat mukanya Adel sudah merah." Kata Lisa mengelus pundak Adel lembut.
"Dasar tukang ngadu!" Ucap Vano pada Adel.
"Biarin wleee...." Jawab Adel kembali memeluk ibu mertuanya.
Setelah meluruskan kesalahpahaman anak dan menantunya, Lisa kembali ke kamar.
"Sayang, udah sore mama mau mandi dulu ya." Kata Lisa pada Adel. "Dan kamu Vano jangan buat istrimu sedih atau salah paham lagi, kalau ada masalah selesaikan baik-baik dengan kepala dingin jangan pakai emosi." Kata Lisa.
"Iya Ma."Jawab Vano dan Adel hampir bersamaan.
"Tu, kan, sayang gara-gara kamu sih, keluar kamar pakai acara nangis segala," ucap Vano setelah kepergian mamanya.
"Mas Vano kok nyalahin aku sih, inikan salah Mas Vano sendiri, ngapain nggak jelasin dari tadi waktu aku masih di kamar. Apa jangan-jangan Mas Vano seneng ya buat aku nangis-nangis kayak tadi?" Jawab Adel nggak mau kalah.
"Bukan begitu sayang, tadi itu mas bener-bener blank saat lihat kamu udah nangis dan menuduh mas selingkuh, tapi setelah mas ingat kejadian tadi siang mas baru sadar.", "Jadi beneran kamu cemburu Yang?" Tanya Vano.
"Apa aku salah kalau cemburu jika Mas Vano bersama perempuan lain?" Tanya Adel balik.
"Ya nggak salah dong Yang, mas juga seneng kok kalau kamu cemburu begini, itu tandanya kamu sangat mencintai mas, iya kan?" Ucap Vano dengan merangkul pundak Adel.
"Enggak tuh ...!" Jawab Adel cuek.
"Halach...! Bilangnya aja enggak, tapi tadi nangisnya kenceng banget." Ledek Vano.
"Mama.....!" Teriak Adel.
"Sayang, udah dong jangan nangis lagi, entar aku di marahi mama kalau buat kamu nangis lagi." Kata Vano sambil menutup mulut Adel yang teriak memanggil Lisa.
"Makanya jangan godain aku terus, ingat nggak pesan mama tadi. Kalau istri itu disayang bukan di godain terus."
"Yaudah mas minta maaf deh, sini mas sayang aja kalau gitu." Kata Vano sambil mencium kening Adel.
Di tempat lain,
Ayu kini sedang berdiskusi dengan asistennya.
"Nana...!" Panggil Ayu pada asistennya.
"Iya Bu. Kenapa?"
"Besuk malam bukannya ada undangan ulang tahun dari tuan Revan, CEO dari perusahaan xx itu?"
"Iya Bu, benar. Apa Bu Ayu berniat menghadiri undangan beliau?"
"Apa mungkin tuan muda Nugraha juga di undang tuan Revan Na?" Tanya Ayu lagi.
"Kemungkinan besar iya Bu, soalnya saya denger yang di undang itu teman terdekat sama kolega bisnisnya. Tuan muda Nugraha kan salah satu kolega bisnisnya perusahaan xx Bu, jadi pasti beliau mengundangnya." Jelas Nana.
"Kalau begitu nanti kamu siapkan pakaian terseksi untuk saya pakai ke acara itu ya Na,"
"Baik Bu. Nanti akan saya siapkan."
Di kediaman keluarga Nugraha, kini penghuni rumah sedang makan malam bersama. Setelah makan malam mereka berkumpul di ruang tengah untuk sekedar mengobrol santai.
"Vano." Panggil tuan Nugraha.
"Iya Pa, kenapa?"
"CEO perusahaan xx mengundang perusahaan kita untuk hadir di acara ulang tahun beliau. Karena kamu calon pewaris perusahaan Nugraha, jadi papa suruh kamu hadir untuk mewakili dari perusahaan kita, bisa kan?"
"Kenapa harus Vano sih Pa, kenapa tidak Papa saja?" Tanya Vano.
"CEO perusahaan xx kan masih muda, dan mungkin seumuran sama kamu, maka dari itu papa suruh kamu yang mewakili. Kalau papa kan sudah tua, jadi sudah tidak pantas bergabung dengan yang muda-muda." Jelas Nugraha.
"Yaudah deh iya, besuk aku akan datang." "Tapi acaranya diadakan dimana Pa?"
"Acaranya di gelar di club terbesar di kota ini."
"Oke Pa. Nanti Vano akan ajak Kevin juga buat nemenin Vano bolehkan Pa?"
"Boleh. itu terserah kamu."