"Aku cantik, lo mau apa??" (Evelyn Radistya)
"Lo emang cantik daripada gue, tapi lo gak akan bisa merebut Tristan dari gue." (Atalia Prameswari)
"Aku laki-laki mapan, masih muda dan tampan, kenala harus memilih barang bekas kalau yang ori bisa didapat." (Tristan Wijaya Ramadhan)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MASIH USAHA
ATA
Sepulang dari Batu Malang, aku disibukkan persiapan nikah dengan Tristan, maunya minggu ini tapi aku menolak keras, gila aja, nikah kayak mau nonton bioskop tanpa persiapan apapun, ogah lah. Sebagai seorang wanita tentu aku mau pernikahan terkonsep, tidak serba dadakan juga. Lagian apa kata orang perumahan nikah kok buru-buru, udah tekdung? kayak gak tau hobi warga +62 aja, hobinya suka ngitung jarak hamil, nikah dan melahirkan. Eh...
Pagi ini aku berangkat naik motor, Tristan ada meeting pagi dan langsung menuju ke lokasi klien. Baru saja masuk loby, pengganggu datang.
"Enak ya jadi pacar atasan, langsung diajak liburan begitu selesai seminar. Diajak ngamar ya?" selidiknya dengan wajah sok manis.
Aku meliriknya sekilas, diam dan tahan, gak usah emosi. Dia hanya main kata-kata untuk memancingku berbuat anarkis, menampar misalnya, ya wajar juga sih kalau aku tampar, mulutnya gak pernah disekolahin.
"Gimana? enak udah dicicipi Pak Tristan, manis kali ya? Eh tapi lo perawan kan?"
Aku tak menanggapi, aku segera menekan nomor lantai ruang kerja aja, gak penting banget kalau menanggapi ocehan si penggoda itu.
"Kalau lo masih amatir, mau gue ajarin? atau Pak Tristan aja yang privat sama gue gitu?"
Aku tersenyum muak, "Sakit jiwa," ketusku.
"Gue? sakit jiwa? ya enggak dong, gue hyper *** aja, kurang nendang kalau cuma satu laki."
Aku hanya menggelengkan kepala, bisa ya cewek ngomong sevulgar itu, gak ada malu-malunya. Aku yang mendengar aja jijik dan risih.
"Ta, boleh kali ya gue manfaatin mama mertua lo buat mulusin rencana gue buat bobok ama Pak Tristan, pakai pil pera**s**g misalnya?" bisik Evelyn penuh goda.
"Coba aja, kenapa harus bilang ke gue? denger ya, Lyn. Kalau lo emang mau Tristan, masuk ke ruangannya nah silahkan telanjang aja langsung, daripada harus pakai pil segala, kalau sudah diminum trus dia lampiasin ke gue, enak di gue dong ya."
Evelyn terdiam, gak menyangka aku akan membalas dengan kalimat dewasa, keluar dari lift aku ingin muntah, jijik juga dengan bahasa gue. Astaghfirullah.
"Kenapa lo?" tanya Mbak Tiwi yang langsung menghampiri mejaku, tahu ada oleh-oleh.
"Wanita penggoda ngebet banget mau sama laki gue, ancam kasih pil pera**s**g lagi."
Entah benar atau tidak, omongan Evelyn membuatku takut. Wanita licik tentu memiliki banyak cara untuk menjebak mangsanya, dan kehadirannya memang tak menentu ada di dekat Tristan. Mereka akan bertemu kalau klien hasil deal dari Evelyn lanjut menjalin kerja sama. Stress aku memikirikannya.
"Aku tuh heran, Mbak. Aku gak pernah ngusik dia tapi kenapa dia ngebet banget sama Tristan sih?"
Aku ingin mengurai benang merah sikap Evelyn yang tiba-tiba menyerangku dan ingin bermain sama Tristan, selama ini dia anteng dengan Arik cova, kenapa harus melenceng ke Tristan sih.
"Lagi Hor** mungkin karena udah di depak Pak Arik dan Pak Dar," lanjut Lita yang baru datang dan langsung nimbrung.
"Eh..gimana-gimana?" tanyaku meminta penjelasan.
Mbak Tiwi yang menjadi narasumber pagi itu, seminar di SBY membuatku ketinggalan info. Asna datang ke kantor ini, memaki Evelyn karena ketahuan lagi pangku-pangkuan dengan Pak Dar setelah makan siang. Kok apesnya, pintu ruangan Pak Dar gak dikunci dan Asna langsung melabrak dan melempar surat gugatan pada Pak Dar.
"Hebih deh siang, itu. Pak Arik turun tangan dan nanti siang keputusan dari Pak Tristan."
"Hah? Kok gak cerita apa-apa masalah ini?" aku kaget dong, kejadian itu terjadi saat aku sudah bersama Tristan, dan gak mungkin juga Tristan gak dihubungi Arik. Kenapa sih, masalah dengan Evelyn selalu ditutupi sama Tristan, dan aku selalu tahu dari orang lain. Menganggap gak penting? atau diam-diam mengurusi perempuan itu tanpa sepengetahuanku? dan aku dilarang berpikir macam-macam? Tristan sehat gak sih?
Kamu gak mau jelasin apa-apa saat kita di Malang?
Aku kesal, masih saja Tristan menutupi apapun yang berhubungan dengan Evelyn. Sikapnya abu-abu sekali, setiap pembahasan Evelyn selalu saja tegas menolak, tapi kalau ada urusan dengan Evelyn di kantor sepertinya mati-matian menutupi.
Nanti ikut rapat saja setelah makan siang di ruanganku.
Hufh...aku menghela nafas kasar, baru saja aku chat dia langsung balas. Coba kalau aku diam saja, masih kah aku dicolek diajak rapat.
Sebel aku sama kamu.
Bukan membalas via chat, Tristan langsung menghubungiku, ia sudah gak mau ada salah paham padaku, apalagi mendekati hari H nikah.
"Sayang, dari awal aku udah bilang kan, kalau aku gak mau kamu terlibat urusan dengan Evelyn," jelasnya tegas.
"Tapi ujung-ujungnya aku dilibatkan, kan? dan asal kamu tahu, dia tuh ngebet banget buat dapetin kamu."
"Dan aku gak akan tergoda sayang?"
"Oh ya? kayaknya kok kamu selalu menutupi masalah Evelyn dariku. Sengaja banget aku tahu dari orang lain."
"Sayang---"
"Malas aku sama kamu."
Tut
Mbak Tiwi, Lita saling pandang, ternyata Tristan takut denganku, dan mereka juga menahan tawa.
"Udah, yang penting nanti ikut kan?" tanya Lita.
"Iya tapi aku kesal banget sama Tristan itu."
Lita dan Mbak Tiwi melongo, seorang bos dipanggil hanya nama. Keduanya tidak menyangka mungkin kalau aku seberani itu sama Tristan dalam hal panggilan.
Lagi khusyuk dengan pekerjaan, dan laporan perjalan dinas, bos ganteng main duduk di depan kerjaku. Tak kulirik dan tak kusapa.
"Ayo makan siang Sayang," ajaknya.
"Masih banyak pekerjaan," tolakku tanpa menatap wajahnya.
"Ayolah Sayang, jangan marah gitu sama aku. Sayangku cuma ama kamu."
"Heleh, omdo."
"Kalau jutek, aku cium kamu di sini," ancamnya dengan berbisik. Wah...main ciam cium nih bos, aku yakin cuma gertak.
"Halah, mana berani sih seorang bos main cium depan karyawan, gak takut dicap bos mesum?" sindirku masih mengetik. Pokoknya aku malas banget menatap wajah Tristan.
Tak kusangka detik berikutnya sebuah sentuhan hangat dan basah terasa di pipi kananku. Segera kutoleh dan si pelaku hanya cengesan, mataku semakin melotot tatkala Lita dan Mbak Tiwi melihatnya, keduanya menutup mulut mereka dengan map. Mampus deh, duh malu banget.
"Bos sinting emang," ucapku ketus sambil memegang pipi kananku.
"Makanya kalau aku bilang apa langsung nurut, ayo makan siang atau aku cium bibir kamu," ancamnya dengan wajah tengilnya. Aku mendengus kesal, kok bisa sih aku jatuh cinta sama bos eror kayak gini. Dengan sedikit kesal, aku menyimpan hasil kerjaan terlebih dahulu, lalu pamitan dengan Lita dan Mbak Tiwi, baru deh jalan beriringan dengan Tristan. Ia mengajak Arik juga yang sudah menunggu di lobi, sepertinya ini waktunya mengorek tingkah Evelyn mumpung ada Arik juga.
yg jelas ditunggu kelanjutannya