Semenjak kematian kedua orang tuanya. Sri yang memiliki nama lengkap Sri Wahyuni harus rmengorbankan untuk tidak bersekolah dan berjualan jamu untuk membiayai kehidupan sehari harinya bersama Cipto adik kandungnya.
Kehidupanya yang terbilang miskin dan kekurangan. Membuat tekadnya semakin kuat untuk meneruskan perjuangan almarhum ibunya berjualan jamu keliling.
David adalah seorang lelaki yang terlahir dari sebuah keluarga kaya raya. Namun kekayaaan yang melimpah tak seindah ekspektasinya.
David harus menelan pahitnya kehidupan ketika kedua orang tuanya resmi bercerai dan meninggalkanya bersama Sang Kakek yang selau menyayangi dan merawatnya hingga dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arby yingjun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEBUNTUAN AMANDA
Salah satu kolega penting David tiba tiba tergeletak pingsan tak sadarkan diri. Dialah kolega yang sempat meminum anggur pemberian dari Cipto.
"David ada apa ini?" tanya Adolf yang merasa kaget dengan keadaan salah satu kolega pentingnya.
David segera merengkuh dan memeriksa denyut nadi salah satu koleganya yang pingsan itu. Dan David segera membawanya ke dalam kamar tamu.
"Cepat panggil Dokter Ramos kesini!" titah David.
Kepala pelayan segera menghubungi Dokter pribadi keluarga Morata. Dan berselang hampir satu jam kemudian, Dokter pribadi keluarga pun telah datang.
"Permisi Tuan, izinkan saya memeriksanya." pinta Dokter Ramos pada David dan Adolf.
David dan Kakek Adolf mengangguk dan mempersilahkan Dokter Ramos untuk segera memeriksa keadaan salah satu koleganya.
Dokter Ramos segera memeriksa salah satu kolega penting David.
"Apa ada orang lain selain kolega anda yang mengalami hal ini?" tanya Dokter ramos pada Kakek Adolf dan David.
Setelah itu David baru saja sadar dan teringat dengan Cipto yang tadi sempat mengalami pusing dan sakit perut.
"Ada Dokter, ayo ikuti saya!" David menarik Dokter Ramos dan mengajak berlari berpindah ke kamar dimana Cipto berada.
Dengan rasa penasaran yang sangat mendalam. Dan ingin memastikan dugaanya, Dokter Ramos langsung memeriksa Cipto.
Tak hanya itu, Dokter ramos juga mengambil sample darah dari Cipto dan salah satu kolega David yang kini masih belum sadarkan diri.
"Sebenarnya ada apa ini, Dokter? jelaskan padaku!" pinta Adolf yang kini terlihat cemas dan merasa malu dengan kolega pentingnya.
Dokter Ramos melepas stetoskop dan memasukanya ke dalam saku jasnya sebelum menjawab pertanyaan dari Adolf.
"Tuan besar, Kedua pasien ini mengalami keracunan makanan. Dan saya berani bertaruh walau saya belum mendapatkan hasil dari sample darah yang telah saya ambil tadi." jelas Dokter Ramos.
David yang mendengar hal itu. Seketika dirinya murka sekali.
"Kepala pelayan!" seru David dengan emosi meluap luap.
Ketua pelayan segera datang dan berdiri di hadapan David dengan wajah tertunduk takut.
"Apa kerjamu, hah! Kenapa kau bisa teledor dengan makanan yang telah kau siapkan pada kami?" David mengangkat kerah kepala pelayan dan terlihat akan segera menghajarnya.
"Hentikan mas!" Sri menahan lengan David.
"Maaf, Tuan David. Yang menjadi tanda tanya besar di kepala saya saat ini, kenapa hanya dua orang saja yang keracunan, sedangkan tamu penting anda yang lainya tidak apa apa." Dokter Ramos mengeluarkan alibinya.
David melepas kerah kepala pelayan dan menghempaskanya.
"Jadi maksud anda, Dokter?" David yang masih merasa bingung.
Dokter Ramos menghela nafasnya dalam.
"Menurut dugaan saya. Ada seseorang yang mencoba meracuni hanya pada satu orang saja, akan tetapi ... satu orang lainya tidak sengaja menelan racun itu karena tidak mengetahuinya." jelas Dokter Ramos.
Amanda dan Erika yang sedari tadi berdiri disana. Kini wajah mereka memucat ketakutan.
"Tuan David, cepat ikuti saya!" pinta Dokter Ramos sambil berlari ke ruang makan keluarga Morata.
Di ruang makan keluarga Morata. Dokter Ramos langsung menanyakan posisi duduk Cipto dan salah satu kolega pada David.
"Tuan David, mana piring bekas makanan atau minuman yang telah mereka gunakan?" tanya Dokter Ramos.
David pun segera menunjukan pirik yang berisi Steak milik Cipto dan anggur minuman milik salah satu koleganya.
Dokter Ramos segera mengambil dan menyerahkan sisa makanan itu pada Asistenya.
"Cepat kalian periksa steak dan anggurini! dan cepat laporkan hasilnya padaku!" titah Dokter Ramos.
Kedua Asisten Dokter Ramos mengangguk dan segera pergi menuju laboratorium yang berada di rumah sakit milik keluarga Morata.
"Dokter ... bagaimana dengan keadaan Adik saya?" tanya Sri yang kini menangis.
"Tenanglah nona. Ke tiga Asisten saya sudah melakukan tindak penyelamatan di kamar Tuan Cipto. Jadi saya harap, anda untuk bisa lebih tenang dan menunggu sampai Tuan Cipto sadar." jelas Dokter Ramos.
"Terima kasih Dokter Ramos. Saya tidak tahu lagi harus berkata apa kepada anda." ucap David.
"Sudah menjadi kewajiban saya, Tuan." Dokter Ramos tersenyum.
Sri kini pamit pada David dan Dokter Ramos untuk kembali masuk ke dalam kamar Cipto untuk menemaninya. Meninggalkan David yang masih berdiri bersama Dokter Ramos.
"Saya ingin menginformasikan satu hal lagi pada anda Tuan." ucap Dokter Ramos.
"Apa itu, Dokter?. Katakan saja." jawab David.
Dokter Ramos memberitahukan pada David bahwa keadaan Rohana kini makin membaik. Dan kedua kakinya telah berfungsi kembali seperti semula.
"Terima kasih Dokter Ramos. Saya sangat puas sekali dengan kinerja anda." puji Adolf yang kini hadir dan bergabung di tengah tengah mereka.
Dokter Ramos mengangguk bangga dengan pengabdianya.
"David, cepat kau transferkan bonus dua Milyar ke rekening Dokter Ramos." titah Adolf pada David.
"Iya, Kek." jawab David.
David terlihat berkutat dengan handphonenya. Dan tak berselang lama sebuah notifikasi masuk ke dalam ponsel Dokter Ramos.
Dokter Ramos segera mengecek notifikasi di dalam ponselnya. Dan senyum bahagia seketika terpancar dari dalam wajahnya.
"Terima kasih Tuan besar. Terima kasih juga Tuan David." ucap Dokter Ramos dengan senang.
"Sama sama, Dokter." jawab Adolf dengan David bersamaan.
Setelah itu. Dokter Ramos pamit undur diri untuk kembali bertugas di rumah sakit milik keluarga Morata.
Di lain tempat. Tepatnya di dalam kamar Amanda. Dirinya kini benar benar ketakutan.
"Pembantu sialan! ini semua adalah rencanamu dan apabila David sampai mengetahuinya. Jangan pernah berani kau menyeret namaku, camkan itu!" ucap Amanda sambil menunjuk muka Erika.
"Tidak bisa gitu donk, Non. Saya bertindak seperti ini juga atas persetujuan dari anda sendiri, bukan?" ucap Erika membalikan fakta.
Amanda yang geram seketika melangkah menghampiri Erika yang sudah mulai berani mengancamnya.
Plak
Sebuah tamparan keras melayang dan tepat mengenai pipi Erika.
"Dasar pembantu sialan! enyahlah kau dari pandanganku!" Amanda mencekik leher Erika.
"Nona ... nona ... nona Amanda." Erika mencoba melepas cengkraman kuat tangan Amanda yang mencekik di lehernya.
Prok ... Prok ... Prok
Sebuah tepukan tangan terdengar jelas di telinga Amanda. Dan seketika dirinya langsung melepas tanganya dari leher Erika.
"Uhuk ...Uhuk ..." Erika terbatuk karena nafasnya tersengal.
"Oscar ..." ucap Amanda yang kaget.
"Iya, ini aku. kenapa? kau takut?" ejek Oscar.
Apa dia tadi mendengar pembicaraan kami?
"Kenapa kau diam, Amanda?" tanya Oscar dengan senyum mengembang di wajahnya.
"Sejak kapan kau berada disini?" selidik Amanda.
"Jujur, aku sedari tadi berdiri disini. Menyaksikan adegan drama seseorang yang berencana jahat mencelakai calon istri penerus keluarga Morata." jawabnya dengan santai.
Erika yang tak mau berurusan dengan Oscar. Dirinya lebih memilih untuk pergi menyelamatkan diri.
"Apa maumu? cepat katakan padaku!" ketus Amanda sambil melipat kedua tanganya di dada.
Dengan santai Oscar melangkah menghampiri Amanda dan dengan berani memeluknya dari belakang.
"Oscar lepaskan aku!" Amanda mencoba melepas pelukan Oscar, namun Oscar semakin mengeratkan pelukanya.
"Aku menginginkan tububmu, Amanda. Aku tahu kau masih Virgin, dan aku ingin sekali mencicipinya." ucap Oscard.
Amanda memutar tubuhnya merasa geram dengan Oscar. Namun Oscar dengan cepat mencercap dan meninggalkan kissmark di leher Amanda.
"Sialan kau Oscar! Kau sudah berani berbuat kurang ajar pada calon penerus keluarga Morata. Aku akan melaporkan perbuatanmu pada Kakek Adolf dan David." ucap Amanda sambil mendorong dada Oscar hingga menjauh darinya.
"Katakan saja! maka kehancuran akan segera datang padamu, Ha ... ha .. ha." Oscar tertawa puas.
"Tak bisa di aku bayangkan jika seorang Amanda akan terlunta lunta hidup di jalanan seperti pengemis yang meminta minta. Ha.. ha ..ha." Oscar kembali tertawa dengan puasnya.
Amanda mengeratkan kepalnya. Ingin sekali dirinya mencabik cabik tubuh Oscar dan memberikanya pada binatang.
"Turuti keinginanku, Amanda. Dan kau akan tetap bisa menikmati kehidupan mewahmu." Oscar mencium pipi Amanda dan kemudian pergi dengan seribu tawa liciknya.
Hai ... jangan lupa like rate dan commentnya jiak teman2 suka dengan karya saya.
yaelah Thor kok nanggung sehhh....
up dunk.
Rahwana
rohani
Dan terakhir Dorna(sampe salah baca aku Thor bacanya dorra, karena begadang Ampe jam 1 mlm bacanya, mo dlanjutin besok kok sayang😁😁)
motor mionk...🤣🤣🤣🤣
aimakjang, bacanya aja dah bikin pipiku sakit gak bisa brnti ketawa..🤣🤣🤣
penggal aja bg David si rohhalus tu...