Zayn adalah korban bully di sekolah dan di lingkungan rumahnya.
suatu hari Zayn yang sedang dikerjai oleh Clara dan teman-temannya di sebuah rumah kosong yang terlihat tua. Mendadak Zayn dapat melihat hantu setelah terjatuh dari kursi saat hendak mengambil sepatunya yang tersangkut di lampu hias yang tergantung di ruang tamu rumah kosong tersebut.
Zayn yang terjatuh itu pingsan dan setelah siuman, Zayn mendadak dapat melihat hantu cantik si pemilik rumah kosong itu.
Maudy. Ya, nama hantu cantik itu adalah Maudy.
Setelah pertemuan itu keduanya menjalin hubungan pertemanan.
Awalnya pertemanan itu tidak ada ketulusan karena saling ingin memanfaatkan.
tetapi apa jadinya kalau mereka berdua menjadi saling jatuh cinta karena terbiasa bersama?
"Kenapa lo jadi hantu?" tanya Zayn.
"Karena gue masih penasaran sebelum dendam gue terbalas."
"Lalu, setelah terbalas apa yang akan lo lakukan?"
"Gue hilang dari dunia ini, karena itulah perjanjian nya saat dulu gue nolak untuk dibawa ke alam selanjutnya," jawab Maudy.
"Deg," jantung Zayn seolah berhenti berdetak saat mendengar itu.
bagaimana kisah percintaan antara hantu dan manusia kali ini? yuk simak kaka semoga suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mala Cyphierily BHae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode dua puluh delapan (takut)
Jangan lupa tinggalkan dukungan 🤗
_______
Malam ini, Widuri tak dapat memejamkan mata, karena telah mengetahui perasaan putri semata wayangnya yang ternyata menyukai anak tetangga.
Lalu, Widuri yang tengah berbaring di ranjang, ia memunggungi suami yang sudah terlelap, merasa jengah dengan ia yang tak dapat tidur, ia memutuskan keluar dari kamar untuk mencari angin di luar, ia berdiri di balkon rumahnya yang menghadap ke jalanan.
Dan dari tempatnya berdiri, ia melihat Zayn yang baru saja pulang bekerja, terlihat Zayn seperti sedang bercanda dengan seseorang tapi tidak ada siapapun, lalu Widuri terkejut dan merinding saat melihat pagar rumah Zayn yang kecil itu dapat terbuka sendiri.
"Kan, memang nggak bener ini anak, Jangan-jangan usahanya dia yang semakin sukses itu juga karena bantuan jin!" gumam Widuri yang sok tau.
Setelah itu Widuri kembali masuk ke kamar, ia menarik selimut hingga menutup dadanya.
"Hiii, masa iya saya punya mantu model gitu, ngeri ah, takutnya ntar jadi tumbal," gumam Widuri, kemudian ia memaksa masuk ke pelukan suami yang sudah berada di alam mimpinya.
_________________
Sementara itu, ada seorang pria yang memiliki usia menuju sepuh, yaitu Samuel, pria yang berusia hampir 50 tahun ini sedang kebingungan karena rumah yang ia miliki terancam akan di sita bank.
"Sialan, kenapa gue bisa ketipu gini sih, kalau rumah ini di sita gue mau tinggal dimana? Ini lagi, Marina sama Clara dimana mereka, di saat gue susah aja kalian nggak ada," gerutu Samuel yang sedang mondar-mandir di kamar.
"Bodohnya gue, mau aja investasi yang Bambang tawarkan."
Merasa pusing, Samuel memilih untuk mendinginkan otaknya di bawah guyuran shower.
"Maudy, kalau lo liat ini, gue jamin lo bakal ketawain kehancuran gue," gumam Samuel seraya meninju dinding kamar mandi.
____________
Sementara itu, Maudy sedang menemani Zayn di kamarnya.
"Gimana? Enak nggak?" tanya Maudy yang duduk di samping Zayn, keduanya duduk di tepi ranjang.
"Gue boleh jawab jujur kan?" tanya Zayn seraya menatap wajah Maudy.
"Jujur aja, gue lebih suka sama orang jujur," jawab Maudy seraya tersenyum.
"Ini udah enak, tapi enakkan yang tadi, Dy," lirih Zayn, ia takut akan membuat Maudy kecewa.
"Iya udah besok kita bikin lagi," jawab Maudy.
"Zayn, gue pulang dulu ya. gue lagi sebel di rumah."
"Kenapa? Apa yang bikin lo sebel?"
"Tuyul itu nggak mau pergi dari rumah gue! gue benci jadinya," tutur Maudy.
Setelah itu, Maudy pergi dari rumah Zayn dengan menembus dinding, dan Zayn merenggangkan otot-ototnya. Ia menjatuhkan dirinya di ranjang, saking lelahnya membuat Zayn cepat terlelap.
________________
Di kamar kos Clara, ia sedang berada di pelukan Marina.
"Mah, Mamah kok nggak pulang? Nanti Papah nyariin loh," kata Clara.
"Mamah mau nemenin kamu aja, asal ada uang Papah ngga butuh kita," jawab Marina mengundang pertanyaan Clara.
"Maksud Mamah?" tanya Clara menatap wajah ibunya yang masih terlihat cantik walau sudah berusia di atas 40 tahun.
"Sudah, tidak usah di pikirkan," kata Marina seraya mengusap rambut Clara, "tidur, udah malam. Jangan mimpi buruk lagi," lanjutnya.
Clara mengangguk lalu memejamkan mata, berusaha untuk tidur walau tidur itu adalah hal yang tida ia sukai setelah melakukan aborsi, karena Clara selalu akan bermimpi buruk.
Dan kembali malam ini, Clara seolah di teror janin yang ia gugurkan.
"Maah," lirih janin tersebut yang menempel di kaki Clara.
Clara membuka mata, ia melihat kakinya dan ternyata tidak apa-apa di sana.
Malam ini Clara kembali terjaga, ia menatap langit-langit kamarnya, tidak ingin memejamkan mata.
"Sampai kapan gue hidup kaya gini," gumam Clara dalam hati.
"Ya Tuhan, apa ini karma buat gue karena udah ngegugurin anak yang enggak berdosa?"
Clara menangis, ia ingin bercerita pada Marina tapi takut, dan perasaan ini sungguh menyiksa batinnya.
__________________
Dan bukan hanya Clara yang terganggu oleh mimpi buruk, di sana ada Zayn yang baru Saja membuka mata dari tidurnya, ia berlinang air mata karena baru saja bermimpi kalau Maudy pergi meninggalkannya.
Zayn mengubah posisinya menjadi duduk. "Kenapa seperti nyata, ini cuma mimpi," gumam Zayn seraya menghapus air mata.
"Gue cowok enggak boleh nangis!" kata Zayn.
Kemudian ia keluar, dan pergi meninggalkan rumahnya, ia ingin segera menemui Maudy. Di tengah gelapnya malam, dingin angin menusuk kalbu seorang Zayn yang tengah dilanda kegalauan, ia takut akan kehilangan belahan jiwanya.
"Gue nggak akan sanggup tanpa lo, Dy," lirih Zayn seraya menangis, ia benar-benar merasa kalau mimpinya sangat nyata, sehingga dadanya merasa nyeri seperti di tikam oleh cintanya.
Zayn tidak lagi memperdulikan area sekitar yang mungkin akan ada seseorang melihatnya masuk ke rumah kosong. "Perduli apa gue sama mereka," batin Zayn.
Zayn memarkirkan motornya di tempat biasa, tempat yang dulu Maudy tunjukkan. Sekarang Zayn mencari Maudy yang ternyata sedang berada di kamar sedang melihat album foto lamanya.
"Maudy," lirih Zayn yang berdiri di pintu, ia segera membawa Maudy ke pelukan.
Dengan tersengguk Zayn memeluknya.
"Zayn, lo kenapa?" tanya Maudy seraya mengusap punggungnya.
Maudy melepaskan pelukan itu tetapi Zayn semakin mempererat pelukan itu.
"Jangan pernah pergi dari hidupku, Dy," lirih Zayn seraya menciumi setiap inci wajah Maudy yang pucat dan dingin.
Maudy menjadi heran dengan sikap Zayn.
Bersambung.