Dia terlahir dari setitik cahaya yang membentuk sebuah kehidupan.
Tidak tahu darimana dia berasal atau kemana tujuannya.
Tapi segala yang dia lihat saat ini membuatnya merasa asing.
Entah dibalik asal usul kehidupan yang dia jalani sekarang akan seperti apa takdir membawa semua ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shina Yuzuki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kuda lumping
Untuk hari ini secara kebetulan keluarga cabang datang ke kediaman utama...
Davendra yang belum pernah bertemu dengan saudara-saudara dari Salman, dan Sintia, karena sebagian besar dari mereka sudah hidup berkeluarga.
Meski begitu, saudara-saudara, entah itu keponakan, paman, sepupu, kerabat jauh, kerabat dekat, paman dari sepupu saudara jauh, atau pun keponakan saudara dekat yang masih sedarah di klan harimau api.
Mereka semua memiliki nama di kediaman ini, tapi untuk segala urusan Salman yang menjadi Patriark bertanggung jawab untuk menjaga klan harimau api di bawah kekuasaannya.
Sedangkan para saudara itu sendiri, hanya memegang peran untuk menjalankan bisnis-bisnis dari klan utama yang juga tersebar di wilayah kota Batavia, serta kota-kota lain di sekitar.
Cukup berbeda dari kondisi yang di inginkan oleh raja kota, atau pun kaisar kerajaan Margasura, dimana penyebaran bisnis klan harimau api, hanya sebatas pemasok barang, atau berinvestasi dengan klan lain.
Bukan mendirikan bisnis di kota tersebut, karena hal itu bisa menimbulkan beberapa masalah, ini tidak menyenangkan bagi siapa pun, ketika ada orang lain mencoba mencuri keuntungan di rumah orang.
Ada tiga puluh orang yang membawa serta para anggota keluarga mereka ke kediaman utama klan harimau api.
Salaman sudah berdiri menyambut mereka semua, begitu pula dengan Davendra, Asmi serta para pelayan yang berbaris rapi di sisi kiri dan kanan.
Berawal dari seorang lelaki bertubuh kekar dan wajah sangar, Salman membungkuk hormat kepadanya.
"Paman pertama, selamat datang kembali." Terlihat sopan Salman kepada seorang lelaki paruh baya yang nyatanya menjadi adik dari ayah Salman itu sendiri.
"Salman, sehat kah kau ?."
"Beginilah yang terlihat, aku sesekali merasakan sakit pinggang."
"Ya usia kita sudah tidak muda lagi, jadi itu wajar."
"Iya paman Wasoi, sungguh berbeda dari masa kejayaan kita dulu."
"Aku ingat dulu kau bisa mematahkan pedang dengan mulutmu."
Davendra bingung, begitu juga Asmi, dia tidak menyangka tentang cerita Wasoi mengingat kembali masa muda dari Salman.
"Aku baru tahu kalau tuan Salman, dulu seperti kuda lumping yang bisa makan pedang." Ucap Davendra tersenyum sendiri.
"Sepertinya itu yang mengakibatkan giginya keropos dan ompong."
Nyatanya percakapan Davendra dan Asmi didengarkan oleh Salman, dia tertawa lemas untuk hal ini, karena masa mudanya dia termasuk orang yang liar.
Mungkin itu sebabnya Sintia yang memang masih muda memiliki sifat seperti Salman ketika dia belum menjadi Patriark klan harimau api.
Tapi paman Wasoi pun mengarahkan pandangan kepada Asmi, memang bukan hal aneh jika kehadiran dari orang kuat menarik perhatian orang kuat yang lain.
Antara mereka berdua, sama-sama seorang lord alam raja, hanya saja Asmi tahap tengah dan Wasoi tahap akhir, cukup membingungkan jika orang sekuat Wasoi tidak menjabat sebagai kepala keluarga.
Nyatanya memang bukan tentang kekuatan, melainkan garis keturunan yang menjadi kepala keluarga di setiap generasinya.
"Oh, aku baru tahu jika di sini ada putri pedang matahari." Wasoi mengenal sosok Asmi.
"Itu hanya sebuah julukan, sedangkan aku disini hanya seorang pelayan dan tukang bersih-bersih." Asmi pun menjawab sekaligus membungkuk untuk memberi hormat.
"Bagaimana bisa seorang putri pedang matahari yang sangat berbakat ini, hanya sebatas pelayan." Dengan serius Wasoi mempertanyakan tentang Asmi.
"Panjang ceritanya." Sekali lagi orang-orang di kediaman klan harimau api menyukai cerita yang di perpanjang.
"Katakan saja." Wasoi memaksa.
Tapi memang benar kehidupan yang di jalani oleh Asmi sangat lah rumit, dan juga panjang, banyak hal terjadi, hingga bertemu dengan Salman.
Meski begitu perjalanan Asmi demi mencari Warsono, memang terkenal dikalangan ahli beladiri yang hidup di kerajaan Margasura.
"Aku di selamatkan oleh tuan Salman." Jawab Asmi.
"Dan kau membalas budi dengan menjadi pelayan di kediaman klan harimau api ini." Tebak Wasoi.
"Ya itu versi singkatnya."
"Sungguh sangat di sayangkan." Menggeleng kepala Wasoi karena memang bakat Asmi terbilang sangat tinggi.
Di usia belum mencapai seratus tahun, dia menjadi lord alam raja, jika dibandingkan, hanya satu dari seratus orang mampu mendapatkan bakat seperti dirinya.
"Memang gaji di sini sangat kecil, bahkan di bawah standar, tapi aku bukan orang yang tidak tahu balas budi, dan juga.. aku bisa mendapatkan tempat tinggal sampai menemukan pembunuh orang tua ku." Asmi memiliki alasan lain.
"Kejadian itu memang sangat kelam, seratus orang dari klan delapan Matahari dibantai habis oleh Warsono, cukup di sayangkan keturunan murid dewa pedang harus berakhir." Ucap Wasoi merasa kasihan.
"Tidak berakhir, aku masih hidup."
"Harusnya begitu, tapi apa yang bisa kau lakukan nona muda." Dia pun di pojokan oleh satu pertanyaan telak.
"Aku akan membalaskan dendam kepada Warsono, dan akan aku cari orang yang menginginkan klan ku dibantai." Tegas jawabannya.
"Aku tidak yakin, Warsono bukan lawan yang bisa kau kalahkan dengan mudah, karena dia sama kuatnya seperti kaisar kerajaan Margasura." Sebuah fakta yang tidak bisa di bantahan oleh siapa pun.
"Aku tahu itu." Dan Asmi pun memahami tindakannya.
Davendra memperhatikan bagaimana tingkah semua orang dari keluarga klan harimau api, mereka terlihat begitu tegas mengangkat kepala.
Tidak bisa Davendra menghakimi siapa pun yang bersikap seperti itu, karena memang disini adalah rumah mereka sendiri.
Walau beberapa kerabat lain jauh lebih santai, kalem dan cukup sopan kepada orang-orang yang lebih tua dari mereka.
Dan entah kenapa Davendra tidak terlalu menyukai Wasoi, dia menang tua, bahkan lebih tua dari Salman, hanya saja di raut wajah itu, seperti tersimpan emosi lain yang cukup sulit digambarkan.
"Jadi bagaimana dengan kondisi kakakku."
"Ayah ?, Dia baik-baik saja, tapi untuk beberapa tahun ini, dia menyibukkan diri di dalam pelatihan tertutup, bahkan aku tidak bisa menemukannya."
"Kakak memang begitu, dia selalu saja menyibukkan diri untuk berlatih padahal, dengan usianya sekarang harus lebih bersantai."
Ini membuat Davendra terkejut, mereka berdua yang sudah terlihat sangat tua, bau tanah pula, masih memiliki saudara lebih tua lagi.
Terlebih Salman, dari usianya yang sudah ratusan tahun, dia memiliki ayah dan mungkin tidak terbayang seperti apa orang itu.
Sejurus kemudian, Wasoi merasa tertarik untuk membahas tentang Davendra, untuk beberapa alasan, perhatian karena di tubuhnya tidak dirasakan kekuatan menjadi suatu hal uang menarik.
"Salman siapa lelaki ini." Ucapnya bertanya."
"Dia Davendra, dia orang baru yang aku angkat sebagai penjaga untuk Sintia."
"kau yang tidak pernah mengharapkan orang lemah di klan kita, tapi membawa lelaki seperti dia, apa alasannya."
"Memang Davendra tidak memiliki kekuatan, tapi apa paman percaya, lelaki ini mengalahkan Murid langsung dari Guan Hou." Perjelas salman.
"Oh, ini menarik."
Tentu Davendra tidak menyukai cara Wasoi melihatnya, karena seperti biasa, banyak hal terjadi ketika ada seseorang membahas dirinya.
judul lainya apa thor? yg kamu tulis biar tak baca semua