Lana, freshgraduated dari salah satu kampus kecil di pinggir kota akhirnya diterima kerja di sebuah perusahaan ternama di kota besar. Itulah awal mula Lana bertemu dengan Cleo, CEO muda pemilik perusahaan tersebut.
Sayangnya, keberuntungan berjalan berdampingan dengan nasib buruk.
Cloe yang selalu bersikap arogan dan dingin merasa tertarik pada Lana. Perlahan Lana mulai mengetahui rahasia besar yang bersembunyi dibalik sosok yang dingin itu. Begitu semuanya terungkap, Lana tak tahu lagi harus berlari ke mana. Karena pria itu selalu bisa menemukannya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika SR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 28 : Dave
My Psychopaths CEO
Bagian 28 : Dave
By Ika SR
Suara dentuman musik yang keras membahana memenuhi seluruh ruangan. Seorang pria duduk sendiri di lantai dua sebuah bar elit di kota metropolitan, Jakarta.
Beberapa pengawal diskotik itu nampaknya disewa secara khusus untuk mencegah tamu lain menginjakkan kakinya di lantai yang sama dengan pria itu.
“Heh,” Dave berdecak kagum melihat berbagai wanita penghibur malam meliukkan tubuhnya dengan seksi di atas sebuah panggung. Dance Pool yang seksi.
Dave, pria tampan nan mapan itu merupakan CEO muda Rayon Company, perusahaan properti terkemuka saingan berat CA Holding Company milik Cleo.
Usianya 27 tahun, seumuran dengan Cleo dan Reno.
Tingginya mencapai 189 cm, dengan berat proporsional dan tubuh atletis. Sebuah tato bergambar ular terukir di dadanya yang bidang.
Di tangan kirinya, sebuah tato yang bertuliskan namanya juga nampak terlihat karena ia menggulung lengan kemejanya sampai siku.
Kulitnya putih, rahangnya tegas, matanya berwarna coklat dalam dengan rambut senada. Gambaran sempurna untuk seseorang yang memiliki segalanya. Kecuali attitude atau sikap yang baik.
Selama ini, ia dikenal begitu arogan dan suka semena-mena terhadap bawahannya. Dave juga tidak pernah menghargai wanita.
Bagi Dave, satu-satunya tujuan wanita diciptakan hanyalah untuk dinikmati. Tidak lebih.
Seorang pria tua mendekat.
“Selamat malam, Tuan. Suasana di tempat ini begitu meriah karena kedatangan Anda,” sambut pria yang pemilik bar ini.
Dave mengangguk, sama sekali tak menggubris perkataan pemilik bar.
“Kalau begitu saya permisi dulu, Tuan. Saya harap Anda menikmati pertunjukan malam ini,” ucap pemilik bar sembari memandang para penari wanita yang mulai nampak semakin liar.
Begitu pria tua itu beranjak, Dave memanggilnya lagi. Memaksa pria tua itu mendekat lagi.
“Hei! Kemari!” perintahnya sambil menggerakkan jari telunjuknya sebagai isyarat agar pemilik bar itu mendekat. Yang tentu saja, langsung dituruti pria tua itu.
“Ya Tuan? Ada yang bisa saya bantu?”
Dave merangkul pria tua itu, membuat posisinya menjadi sedikit membungkuk.
“Kau harus ingat! Tuanmu sekarang adalah aku. Lupakan Cleo. Meskipun dia pernah menjadi salah satu klien di VIP di tempatmu. Tapi, sekarang yang memberimu uang adalah aku. Bukan dia. Paham!”
Bau alkohol menyeruak dari mulut Dave. Ia sudah setengah mabuk.
Pemilik Bar itu dengan cepat mengangguk.
“Bagus!” ucap Dave.
Ia mendorong tubuh pria tua itu menjauh.
“Pergilah! Husss ... huss....”
“Baik, Tuan. Segala permintaan Anda akan saya penuhi. Silahkan dilanjutkan.”
Pria itu turun ke bawah. Begitu sampai di ruangan pribadinya, ia langsung menggebrak meja. Salah satu wanita bar yang seksi datang mendekat padanya.
“Jangan marah-marah dong sayang. Nanti tambah keriput hlo,” bujuknya sambil menampakkan wajah cemberut. Tangannya memeluk pria tua itu dari belakang.
“Anak sialan! Cleo lebih baik 100 kali lipat dibandingkan denganmu. Sudah berapa banyak ladies club dan para wanita yang bekerja disini tewas karenamu,” umpatnya.
“Jika saja kau bukan orang kaya yang berkuasa, sudah pasti kau habis kuhajar.”
Wanita dengan pakaian minim itu mengelus dada pria tua itu dengan lembut.
“Jadi, kenapa Tuan Cleo tidak datang ke sini lagi. Padahal bar ini kan adalah bar favoritnya.”
“Ya, aku harap Tuan Cleo kembali. Sehingga aku tidak perlu melayani bocah tengik itu lagi.”
***
Dave mengemudikan mobil lamborghini sportnya dengan kencang. Ban mobilya berdecit keras taatkala, ia berhenti mendadak. Dave menurunkan kaca mobilnya.
Lalu bersiul mengamati seorang wanita dengan gaun mini berwarna krem yang seksi dengan wajah polos imut. Benar-benar tipe wanita kesukaan Dave. Wanita berwajah polos dengan tubuh yang menggoda.
“Hei! Cantik kesini!” ajak Dave.
Wanita yang bergerombol bersama temannya itu awalnya kebingungan. Namun, ia segera mendekat. Melihat dan mengagumi mobil mewah milik Dave.
“Ya? Anda memanggil saya?”
Dave tersenyum miring. Ia mengelus dagunya, mengamati tubuh gadis itu.
“Ya.”
Wanita itu menyelipkan rambut panjangnya ke belakang telinga.
“Mau ikut?” tawar Dave.
Wanita itu menoleh pada teman-temannya yang kompak menyuruhnya pergi.
“Baiklah.”
Wanita itu membuka pintu mobil dan duduk di samping Dave.
“Kita mau pergi ke mana?”
Dave menoleh, tersenyum licik. Hawa dingin menyusup ke dalam pikiran gadis itu. Ada sebuah firasat buruk yang menghampirinya dengan tiba-tiba. Tapi, semuanya sudah terlambat.
Dave mengemudikan mobilnya lagi. “Kita akan bersenang-senang malam ini.”
Perasaan wanita itu bertambah kalut. Mungkinkah ia salah mengambil keputusan dengan menaiki mobil pria ini?
“Maaf, aku lupa. Tadi, aku ada janji. Anda bisa turunkan saya di sini.”
Dave menoleh, menatap wanita itu dengan tajam. Keringat dingin mulai mengalir turun membasahi kening gadis itu. Tangannya gemetaran. Ia merasa seperti seekor domba yang tengah berada dalam cengkeraman seorang jagal.
“Turun? Haha ....”
Dave tertawa. Gadis itu semakin takut.
“Jangan bermimpi. Sudah kubilang kan malam ini kita akan bersenang-senang.”
***
“Hentikan! Aku mohon hentikan!” jeritan gadis itu membahana memenuhi seluruh ruang kamar hotel mewah di sebuah kawasan elit.
Sayangnya, tidak ada yang akan menggubris teriakannya. Mau sekencang apapun, tidak akan ada orang yang akan datang untuk menolongnya.
Gadis itu telanjang, tanpa sehelai benang pun yang menutup tubuhnya. Pakaian yang tadi dikenakannya telah terkoyak menjadi beberapa bagian. Kedua tangannya terikat sebuah tali.
“Argh! Hentikan! Itu sakit!” jeritnya lagi.
Dave yang sedang menindihnya, sama sekali tak menggubris ucapan gadis itu. Ia malah semakin tertawa senang.
“Kau menyukainya, bukan? Sudah kubilang kita akan bersenang-senang.”
Wanita itu menggeleng.
Dave menampar pipinya dengan keras, berulang sampai kedua sudut bibir wanita itu mengeluarkan darah.
“Berhentilah mengoceh. Harusnya kau berterimakasih j*****.”
Wanita itu merasakan pipinya terasa sakit dan panas. Tapi, itu semua tak sebanding dengan rasa sakit di bagian tubuh bawahnya. Pria ini begitu kasar.
Seluruh tubuhnya dipenuhi luka lebam, memar karena tamparan, cubitan, gigitan dan layangan cambuk yang pria itu daratkan.
Gadis itu perlahan mulai kehilangan kesadaran. Ia tak sanggup menahan beban ini lagi. Mati, mungkin adalah jalan terbaik saat ini. Ia memejamkan mata.
Dave menghentikan gerakannya. Mengamati gadis itu yang telah terpejam. “Hei!”
Ia menampar gadis itu lagi untuk menyadarkannya. Tapi, gagal. Ia memeriksa denyut nadinya dan mendapati gadis itu telah meninggal. “Dasar lemah.”
Dave tak merasakan simpati atau rasa bersalah dengan perbuatannya.
Dave melanjutkan aksinya dan baru berhenti setelah pagi menjelang.
Dave mengambil telepon dan memanggil sekretaris pribadinya.
“Bereskan sampah di sini.”
Tut!
Ia menutup sambungan telepon. Lalu beralih ke kamar mandi, mengguyur tubuhnya dengan shower.
Ia keluar kamar mandi dan mengenakan bathrobe. Begitu keluar, seorang pria yang berada di pertengahan usia 40 tahunan yang bertubuh tegap sedang menginstruksikan para staf hotel untuk memasukkan tubuh gadis itu ke dalam kantong jenazah.
Dave tersenyum. Seolah bangga dengan seluruh perbuatannya. “Gadis malang. Percuma ia menjerit dan menangis semalaman. Toh, hotel ini milikku. Tidak akan ada yang berani mengusikku. Haha ...”
“Singkirkan mayatnya!”
Pria itu membungkuk. “Baik, Pak. Anda tidak perlu khawatir. Silakan menikmati pagi Anda dengan tenang.”
Dave menyulut sebatang rokok, menghisapnya dan menghembuskan asapnya keluar.
Ia memandang pemandangan kota dari balik jendela kaca. Lalu meraih ponselnya. Ia menyeringai kecil sambil memandang kontak di layar ponselnya.
“Sudah lama tidak bertemu, Cleo. Rivalku tersayang.”
Reno kelihatan nya aja care tapi aku antang lihat cewek ditampar sama cowok apapun salahnya. kalo nanti Reno nikah sm lana dikit2 main tampar.. lbh ngeri dr Cleo
pdhl ini slh satu novel yg sering q tunggu² up nya ...
sayang sekali klw crta nya gk diteruskan ...
pdhl jln crta nya sangat bgs ...
apapun kesibukan author skrng,smga ntk bisa lagi y ....
seneng bgt pas dpt notif nya ..
berharap nya seh,smga novel nya msh diterusin crta nya ...
pengen tau endingnya gmn ...
gmn nasipnya cleo ..
semangat thor