Naya dan Brama terjebak dalam perjodohan, mau menikahi Naya hanya karena sebuah perjanjian.
Brama : "Aku tidak mengijinkanmu untuk menyukaiku, karena itulah aku menikahimu."
Naya : "Tapi aku sudah menyukaimu."
Brama : " Hapuslah!"
AKU TIDAK MUNGKIN MENYUKAI BOCAH SMA SEPERTIMU, SUNGGUH BUKAN TIPEKU. - Brama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imelda Agustine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meyakinkan Diri
Brama merasa gugup, bahkan ketika mereka sudah berada didalam mobil bersama.
Naya memilih menyembunyikan wajahnya yang sudah bersemu merah, sedangkan Brama memilih fokus menyetir.
Entah dia harus merasa bahagia atau sebaliknya, suasana hatinya sungguh kacau. Dia merasa sudah memiliki perempuan yang telah menunggunya, tetapi kenapa seorang anak SMA mampu mengalihkan perhatiannya. Bahkan tanpa ia sadari, sampai sejauh itu.
"Kamu masuklah terlebih dahulu!" pinta Brama ketika mobilnya sudah terparkir didepan halaman rumahnya.
"Baik mas." sahut Naya, hanya mengiyakan tanpa mampu bertanya.
Ingin sekali ia menanyakan mau pergi kamana pemuda itu, tetapi ia ingat ketika Brama membentaknya karena merasa Naya mencampuri urusan pribadinya.
Naya memilih kembali ke kamar dengan perasaan gembira. Sedangkan Brama memilih menghubungi Ilham.
"Kamu dimana? Aku ingin berbicara denganmu, ini soal masalah pribadiku." ucapnya.
"Saya di apartemen Tuan." sahut Ilham diseberang.
"Baiklah, aku akan kesana."
Brama menutup panggilan telfonnya dan segera menemui Ilham di apartemen miliknya.
****
Sesampainya di apartemen Ilham, Brama menyandarkan tubuhnya disofa. Mengusap kasar wajahnya serta mengacak rambutnya dengan frustasi.
Ilham menuangkan minuman untuk Tuannya, menyodorkan minuman kepada Brama. "Minumlan Tuan."
"Terimakasih." ucap Brama ketika mengambil minuman itu lalu meneguknya.
"Apa terjadi masalah?" tanya Ilham memulai percakapan.
Brama ragu, tapi tak urung ia menjawab. "Aku.. aku tanpa sadar mencium Naya." sahutnya, seketika Ilham tertegun. "Ini gara-gara kamu berbohong padaku."
Lah, kenapa salahku. pikir Ilham, heran.
"Maaf Tuan." Ilham memilih tak memperpanjang. "Saya salah informasi mengenai ulang tahun Nona."
"Ah, kamu pasti sengaja, tapi ya sudahlah." mengacak rambutnya lagi. "Aku bingung ada apa denganku."
Ilham tersenyum. "Bukankah saya pernah menyarankan Tuan untuk menanyakan hati Anda langsung, jika Tuan menyukai Nona itu bukanlah suatu masalah. Nona Naya itu adalah istri Anda, bukan?"
"Ya, kamu benar. Tatapi aku masih bingung. Ah, mungkin ini hanya naluriku saja sebagai laki-laki. Dia sama sekali bukan seleraku, aku tidak mungkin menyukainya." yakinnya pada dirisendiri.
Ilham pun menghela nafas, mendengar jawaban yang masih menampik itu. "Ya, saya tidak bisa berkomentar apa-apa. Hanya Anda yang bisa memutuskan."
Brama memilih terdiam, mencoba menetralkan perasaannya sebelum kemudian ia kembali pulang.
Tetapi kemudian ia mendapat panggilan telefon dari kekasihnya, Selena.
"Hallo." jawab Brama.
"Sayang, kamu dimana?" tanya Selena.
"Aku ada di apartemen Ilham, ada apa?"
"Ah tidak apa-apa, aku cuma ingin memberitahu kalau besok kita tidak bisa bertemu karena aku ada jadwal pemotretan."
"Ya baiklah." sahutnya singkat, langsung mematikan sambungan telefonnya. Tidak membiarkan kekasihnya untuk mengobrol dengannya.
"Yah, kenapa dia bahkan bersikap dingin padaku sih?" gumam Selena heran, berada diseberang.
Tiba-tiba tangan seorang pemuda yang ia kenal memeluk pinggangnya dari belakang.
Selena menoleh. "Astaga, kamu mengagetkanku." keluh Selena, kemudian melingkarkan lengannya juga dileher pemuda itu sehingga mereka saling bertatapan.
"Aku merindukanmu." bisiknya.
"Aku juga." sahut Selena, sebelum mereka saling memagutt bibir masing-masing dan berakhir jatuh diatas ranjang. "Berikan apa yang tidak bisa Bram berikan padaku!" pinta Selena mulai mengeram.
"Baiklah, jika itu yang kamu minta dengan senang hati aku akan melakukannya." mendekatkan bibirnya ditelinga Selena. "Memuaskanmu." godanya.
****
Brama kini memutuskan kembali kerumah tetapi dia memilih untuk tidur dikamar tamu guna menetralkan pikirannya kembali.
Dan ketika pagi tiba, Naya tak melihat suaminya itu ada didekatnya. "Apa sudah bangun, ya?" gumamnya.
"Apa aku tidurnya kaya kebo ya, sampek aku gak kerasa kalo mas Bram udah pulang." mengetuk dahinya sendiri. "Ah, bodoh!"
Naya kemudian segera membersihkan diri, bernyanyi dan bergembira didalam kamar mandi.
Apalagi saat ia ingin menyikat gigi, ia tersenyum sendiri ketika menyentuh bibirnya dan teringat kejadian tadi malam yang membuatnya bergembira hati.
Setelahnya, ia langsung keluar menuju ruang makan.
"Bik, Tuan kemana?" tanya Naya ketika ia mengedarkan penglihatannya tetapi tak menemukan suaminya di tempat biasa, meja makan.
"Oh Tuan Bram, dia pagi sekali sudah berangkat ke kantor dengan Tuan Ilham. Beliau juga berpesan kalau Nona sudah bangun, pelayan disuruh untuk memindahkan barang-barang Nona ke kamar Nona yang semula." sahutnya menjelaskan, sembari menata menu untuk sarapan.
"Hah?" Naya heran. "Kenapa dia malah memintaku untuk pindah kamar? Apa dia semalu itu untuk bertemu denganku?"
Naya malah bersemu merah kembali, malu-malu mengingat kejadian yang sudah melekat pada ingatannya itu dan berputar berulangkali.
Selesai menyantap sarapan, Naya segera berangkat ke sekolah dengan pak Umang.
Sesampainya digerbang, seperti biasa Dimas selalu menunggunya ketika datang.
"Hai Naya." sapa Dimas mendekati.
Naya memutar bola matanya, jengah. "Jangan dekat dekat lagi!" pintanya.
Dimas mengerutkan kening, bingung ketika gadis itu langsung berucap telak padanya. "Maksudmu apa?"
Segera Naya mengambil dompet barunya, membuka dompetnya yang sudah terpajang foto Brama didalamnya. "Nih! Naya sudah punya suami, ini suamiku." ucapnya memberitahu.
"Eh! Bukannya itu yang kamu bilang adalah pamanmu?" tanya Dimas tak percaya.
"Aku berbohong, dia adalah suamiku." sahutnya, melanjutkan jalannya.
"Tidak, kamu pasti hanya bercanda." sangkal Dimas.
"Terserahlah!" sahut Naya tak peduli, langsung memasuki kelas.
****
LIKE DAN KOMEN DONG!! hehe