TAMAT
Visual Epis 69
Tania adalah gadis yang lugu dan polos, dia anak yatim piatu yang ditinggalkan oleh kedua orang tuanya akibat kecelakan mobil yang mengharuskan dia tinggal di rumah pamannya.
Tania bertemu dengan bos mafia serigala putih yang bernama Denis yang berhati dingin dan cuek
Setelah pertemuanya dengan Denis hidup Tania dalam semalam berubah total.
Pertemuan Tania dan Denis adalah awal hubungan yang dijalani tanpa cinta. Tanpa Denis sadari dia mulai mempunyai perasaan pada Tania sejak pertama kali bertemu.
Perjalanan hidup Tania yang berat dengan penuh rintangan hidup dimulai dengan perjuangan cinta mereka.
Dengan rahasia besar yang tersimpan antara Denis dan Tania, membuat hubungan mereka semakin sulit untuk bersatu. Dengan rahasia yang terbokar membuat kebencian muncul dalam diri mereka berdua.
Apakah Tania dan Denis bisa hidup bersama sama melewati kehidupan Mafia yang kejam, yang selalu berhadapan dengan kematian !!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Fitriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Epis 27 Rencana Alex
Tidak membutuhkan waktu yang lama Denis dan Arya sudah melewati laut dengan kurung waktu yang singkat, hanya 30 menit mereka sudah kembali ke tengah kota.
Menunjukkan waktu telah memasuki tegah malam. Aleta yang baru pulang setelah pergi berbelanja Seharian, dia pergi menemui Moris yang berada di dapur menanyakan keberadaan Denis.
"Mana Denis?" ucap Aleta sambil memegang kantong belanjaannya.
"Tuan Denis sedang ada urusan di luar." Ucap Moris.
"Kenapa dia pergi tanpa memberitahuku." Ucap Aleta dengan raut wajah kesal.
"Saya juga tidak tau Nona," ucap Moris.
"Kau bawakan barang belanjaanku, ke kamar!" ucap Aleta sambil meletakkan belanjaannya di atas meja makan.
Saat Moris mau membawa barang belanjaan Aleta, dari halaman belakang terdengar suara angin kencang dari helikopter milik Denis. Aleta yang mendengar suara itu bergegas pergi ke halaman belakang bersama Moris, dengan perasaan yang senang Aleta melihat helikopter milik Denis mendarat, dia berdiri di depan pintu halaman menunggu Denis datang. Alangkah terkejutnya saat Denis turun bersama Arya, dia melihat Denis berjalan ke arahnya sambil mengendong Tania, dengan perasaan yang cemburu dan marah Aleta bertanya pada Denis.
"Siapa wanita yang kau gendong itu?," ucap Aleta menahan Denis masuk ke dalam rumah.
Denis tidak menghiraukan perkataan Aleta, dia malah menyuruh Moris untuk menyingkirkan Aleta.
"Singkiran dia dari hadapanku." Ucap Denis
"Sebaiknya kau menyingkir dari hadapan Kakakku sebelum dia tambah marah," ucap Arya dengan raut wajah serius.
"Apa kau tidak mendengarku Moris." Ucap Denis berteriak.
Moris langsung menarik tangan Aleta menyingkir dari hadapan Denis.
Denis berjalan masuk ke dalam rumah, dengan emosi Aleta berteriak pada Denis.
"Siapa wanita itu, turunkan dia." Ucap Aleta.
Denis tetap berjalan tanpa menghiraukan Aleta.
Aleta berteriak-teriak memanggil Denis, tapi Denis bahkan tidak menoleh sama sekalih ke arahnya.
Denis membawa Tania ke kamarnya, membaringkan dia di tempat tidur.
"Kau periksa keadaannya," ucap Denis menyuruh Arya.
"Sebenarnya apa yang terjadi, pada gadis ini dan kenapa pria itu kau hajar habis-habisan." Ucap Arya bertanya sambil duduk di atas tempat tidur melihat luka di kepala Tania.
"Pria itu mencoba melecehkan gadis bodoh ini, untuk aku datang tepat waktu." Ucap Denis sambil melonggarkan kerak bajunya.
"Sepertinya benturan di kepalanya lumayan keras." Ucap Arya sambil membersihkan luka didahi Tania.
"Aku membutuhkan kontak peralatanku, kau bisa menyuruh Moris mengambilkannya di ruanganku." Ucap Arya.
"Kau tungu di sini, aku akan pergi mengambilkannya." Ucap Denis.
Denis berjalan pergi keluar dari kamarnya menemui Moris di lantai bawah.
Denis menghampiri Moris yang berdiri bersama Aleta di depan pintu halaman belakang.
"Kau ambilkan peralatan dokter milik Arya sekarang." ucap Denis.
"Baik Tuan." Ucap Moris.
Moris bergegas pergi ke ruangan Tuan muda kedua
Saat itu juga Aleta menarik tangan Denis.
"Siapa wanita yang kau bawa itu ?" ucap Aleta dengan raut wajah kesal.
"Itu bukan urusanmu." Ucap Denis dengan raut wajah datar.
"Denis kita akan bertunangan 3 hari lagi, aku tidak mau ada yang menganggu hubungan kita." Ucap Aleta.
"Aku tidak mau wanita itu ada di sini." Ucap Aleta dengan raut wajah kesal.
"Kau tidak berhak untuk mengatur siapa yang bisa tinggal di rumah ini, kau masih calon tunanganku. Aku bisa kapan saja membatalkan pertunangan itu." Ucap Denis dengan tatapan mata yang tajam.
Moris datang membawa kotak peralatan Arya, dia memberikan pada Denis.
"Tapi aku calon tunanganmu, kau lebih membela wanita itu." Ucap Aleta dengan raut wajah yang marah
"Jangan bangga dengan statusmu yang masih calon, Itu kapan saja bisa berubah." Ucap Denis dengan tatapan mata yang dingin, pergi meninggalkan Aleta.
"Sial, siapa gadis itu kenapa dia bisa membuat pria yang tidak punya hati seperti Denis, bisa bersikap seperti itu padanya." Ucap Aleta dengan raut wajah yang kesal.
Moris datang membawakan perlatan dokter milik Arya.
Denis memberikan kontak peralatan Arya, sembari menunggu Arya mengobati Tania, dia duduk di sofa sambil memperhatikan Arya mengobati Tania. Denis yang melihat pakaian Tania terbuka di bagian pahanya dan bagian tengah dadanya, dia langsung bergegas berdiri dari sofa ke tempat tidurnya menarik selimut sampai ke dada Tania.
Arya melihat tingkah Kakaknya tertawa.
"Apa yang kau pikirkan, aku tidak mungkin bertindak bodoh seperti pria itu." Ucap Arya sambil tertawa.
"Bahkan pada Adikmu sendiri kau masih tidak bisa percaya," ucap Arya sambil tertawa
"Kau diam saja, lakukan apa yang harus kau lakukan." Ucap Denis dengan tatapan mata yang dingin berjalan kembali duduk di sofa.
"Sebaiknya kau mandi, bajumu semua berlumuran darah," ucap Arya
"Aku akan mandi, setelah gadis itu kau obati." Ucap Denis sambil menyandarkan badannya ke sofa
"Kau tenang saja, gadis ini tidak apa-apa, dia cuman mengelami benturan di kepalannya, mungkin besok pagi dia akan mengalami pusing saat bangun." Ucap Arya sambil memperban kepala Tania.
Di sisi lain dari balik pintu kamar Denis, Aleta mengintim apa yang mereka lakukan.
"Ada apa dengan gadis itu, kenapa Denis bahkan selalu berada di samping wanita itu." Ucap Aleta.
"Aku harus menyingkirkan wanita itu, dia bisa merusak rencana yang aku sudah susun rapi." Ucap Aleta
"Bahkan pandangan Denis selalu mengarah kepadanya, bagaimana aku bisa merebut hatinya kalau begini, aku harus cepat-cepat menyingkirkan wanita itu dari jalanku." Ucap Aleta berbalik meninggalkan kamar Denis
Di sisi lain Alex yang masih di dalam kapal pesiar sedang berbicara dengan pamannya di telepon, di ruang kosong.
"Rencana kita berjalan sesuai dengan yang kita harapkan, Denis masuk dalam perangkap kita, dengan menggunakan wanita itu sangat mudah untuk menjebak Denis dalam masalah. Kita tinggal menunggu hasilnya." Ucap Alex sambil tersenyum licik
"Aku sengaja mengajak wanita itu, untuk aku jadikan umpan." Ucap Alex tertawa licik
"Bagus, kita tinggal tunggu bomnya meledak." Ucap Paman Alex sambil mematikan teleponnya.
...****************...
Sebelum kejadian Tania pergi ke toilet.
Alex keluar dari ruang pertemuan, pergi menemui pria paru baya sambil membawa sepotong kertas yang bertuliskan, aku menunggumu di toilet wanita dengan step kecup bibir berwarna merah yang dia buat sendiri.
Alex memberikan kepada pria baru baya itu.
"Sepertinya ini surat milikmu Tuan yang terjatuh, aku melihat wanita yang baru-baru saja keluar menjatuhkan kertasnya di samping anda, sepertinya ini untukmu Tuan." Ucap Alex sambil menyodorkan kertasnya.
Setelah memberikan kertas itu, Alex kembali ke dalam ruangan dengan tersenyum licik.
...****************...
Di sisi lain dari depan gedung kosong yang gelap gulita yang di mana tempat itu dijaga dengan orang-orang yang lengkap dengan senjata, dengan api opor yang menyala mengelilingi tempat itu, ada satu orang pria berlari masuk ke dalam gedung. Dia masuk ke dalam satu ruangan yang di mana ada seorang Pria yang sedang bermain biliar.
"Bos, paman ada telah dibunuh dengan keji oleh ketua geng serigala putih." Ucap anak buahnya dengan raut wajah yang ketakutan
"Apa..." Ucap Bosnya dengan raut wajah marah sambil mematahkan tongkat biliarnya.
"Dia telah mengibarkan bendera perang padaku," ucap pria itu sambil memukul meja biliarnya, sampai pukulan tangannya berbekas di meja dengan darah yang menetes.
"Aku akan membalasnya," ucap pria itu dengan wajah yang sangat marah.
Bersambung
Jangan lupa like dan komentar yah biar author semangat up nya 😊
Jangan lupa vote juga yah, 1 poin sangatlah berarti bagi author 🤗
membingungkan.
dah aku manut aja dngan alur ceritamu
bukan Denis ya kak....
patah jadi dua.
Denis, sini tak peluk aja
serasa nyata kita ikut bermain dlm adegan action.
moga anak buah Denis, biar bisa membuka sedikit tabir cerita masa lalu, to jangan back lg lho kak