"Mengapa wajahmu selalu merasuki pikiranku setelah mencuri ciuman pertama darimu" Kim Charlos Antony
"Sialan wajah laki-laki itu merusak pikiranku setelah ia mencuri ciuman ini" Puput Fernandez
"Mengapa hati ini begitu sulit mengungkapkan perasaan padanya" Devander
Kisah cinta segitiga antara seorang anggota TNI dengan seorang agen rahasia yang memperebutkan sebuah hati beku dari wanita tomboy
Dapatkan mereka memperjuangkan cinta & juga akan mengulik masa lalu dari agen rahasia yang di panggil jendral tersebut yang merupakan anak dari ketua mafia yang berjaya pada masanya.
cuss baca aja cerita lengkapnya.
SILAKAN PROMO DI LAPAKKU
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon othor_si_tomboi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 24
“Jangan khawatir. Gua udah baikkan oke,” jawabnya dengan santai dan juga berusaha bangun dari tempat brankar tersebut.
“Apakah Mia masih lama menghubungi mami?” tanya Qya pada Hariansyah.
Yang membuat seseorang tengah duduk di brankar tersebut menaikkan sebelah alis tentang pertanyaan yang di ajukkan oleh Qya.
“Mami?” gumamnya dengan lirih tanpa terdengar oleh siapa pun.
“Ngomong-ngomong gua boleh tanya kalian enggak?” tanyanya dengan suara serak dan dingin.
“Wah gawat kalau suara dia dingin ini pertanda.....” batin Nico serta dengan raut wajah yang panik.
“Memangnya apa sih yang ingin di tanyakan olehmu?” Jawab Hariansyah sambil berjalan menuju sofa dan menjatuhkan diri di atas sofa tersebut.
“Kan gua cuman mau nanya saja. Apa tidak boleh?” sahutnya dengan nada cemberut, setelah ia menangkap raut wajah Nico yang terlihat panik.
Dengan wajah yang cemberut tersebut membuat semua sahabatnya gemas dengan kekonyolan dari sang pasien itu.
“Gua mau nanya sama kalian semua. Siapa yang bawa gua sampai di sini?” tanya Puput to the point.
Degg....
Tubuh mereka menegang saat mendengar pertanyaan dari sahabat yang di ajukkan olehnya.
Karena tidak ada satu pun dari mereka yang mau menjawab sebuah pertanyaan dari Puput.
“Ya sudah deh. Gua gak akan tanya lagi, tapi akan gua pastiin mendapatkan apa yang gua mau,” gumamnya dengan lirih tanpa terdengar oleh siapa pun.
“Ekhem-ekhem apa lu masih marah sama kita?” tanya Qya.
“Buat apaan coba gua marah sama lu pada. Intinya sekarang, apa lu semua kagak kangen sama gua,” ucapnya seraya menaikkan sebelah alisnya.
Mereka pun akhirnya berpelukakan. Melepaskan perasaan rindu yang tidak bisa di jabarkan.
“Ngomong-ngomong kemana istri lu Hari?”
“Masih di luar kamar. Kan tadi dia yang sedang menghubungi mami lu,” ucap Hariansyah dengan mendengus.
Beberapa saat kemudian seseorang yang mereka bicarakan tersebut menampakkan batang hidungnya dengan senyum ceria.
Ceklek.....
“Holla everbody. Mia yang cantik dan bohay ini come back hobah,” cerocos Mia seraya dua tangannya menenteng plastik minuman yang ia bawa.
“Bawa apaan lu Mi?” tanya Qya.
“Gua bawa minuman nih buat kalian. Tadi gua beli di sekitar luar rumah sakit,” ucap Mia seraya berjalan menuju sofa tempat sang suami duduk dengan santai sambil memainkan sebuah handphone miliknya.
Saat Mia membagikan beberapa minuman yang ia beli. Ada suara serak dan parau yang sangat ia kenali.
“Lalu bagian gua mana?” tanyanya pada Mia.
“Eh bukan kah lu belum boleh makan dan minuman dari luar?” sahut Putri El.
Yang langsung mendapat delikkan dan tatapan yang tajam setajam silet itu tengah merajuk pada sahabatnya.
“Ya sudah deh. Gua tiduran aja. Bangunkan gua kalau mami sudah datang,” ucapnya sambil membaringkan tubuhnya serta memejamkan mata kembali.
Mereka semua pun di buat bingung dengan sifat dan sikap sahabatnya yang sensitif seperti ibu hamil itu kembali memejamkan mata dan terdengar dengkuran halus, menandakan ia terlelap kembali ke alam mimpi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sementara itu di sebuah bangunan kantor yang megah di ruangan pribadi CEO. Terdapat seorang pria dengan tatapan datar dan dingin.
Duduk di sebuah kursi kebesaran sambil mengetuk-ngetuk jari telunjuk di meja ruangan pribadnya itu tengah memikirkan sesuatu yang membuat pikirannya terganggu.
“Sial kenapa dia selalu menganggu pikiranku,” lirihnya seraya mengacak-ngacak rambut frustasi.
Lamunannya buyar tak kala melihat sang papa yang tiba-tiba memasukki ruangan pribadinya.
Brraakkk
Pintu ruangan terbuka dengan kencang, dan masuk lah seorang pria paruh baya dengan santai dan berjalan mendekati sang putra sulungnya itu.
“Pa kalau masuk ketuk pintu dulu jangan asal nyelonong,” ucapnya dengan nada ketus.
“Lagian papa tadi sudah ketuk berkali-kali. Kamu aja kali yang tidak dengar Chars,” sindirnya pada Chars.
“Memangnya ada perlu apa pa?” tanya Chars pada sang papa.
“Ekhem-ekhem, begini son. Sebelum kamu berangkat tugas negaramu. Papa hanya minta ke kamu untuk menyelidiki sesuatu yang mengganjal ini!” jawab sang papa dengan lugas.
“Lalu apa yang mesti perlu di selidiki?” ucap Chars.
“Kamu tahu bukan, saat ini yang sedang mengganggu pikiran papa adalah seseorang yang tengah bermain-bermain dengan perusahaan yang sudah papa bangun susah-susah dari nol” sahut William dengan nada serius.
“Bermain-main,” beo Chars seraya mengangkat sebelah alisnya.
Sentilan maut dari sang papa mendarat di wajah tampan dan mulus seorang Chars.
“Papa ini serius Chars. Bisa-bisanya kamu tidak fokus,” omelnya pada sang putra.
“Oke-oke akan aku lakukan, apa yang papa minta. Lalu sekarang mau apa lagi”
Sebelum menjawab perkataan dari putranya. William menghela nafas panjang dan mengatakan pernyataan yang membuat sang putra bingung dengan pernyataan darinya.
“Son apa kau tidak ingin menjenguk wanita yang telah kau tolong itu”
Hal itu membuat Chars mengerutkan dahi dan bingung mendengar perkataan dari sang papa.
“Apa maksud papa. Udah deh pa jangan bertele-tele” sungut Chars.
“Maksud papa itu, apa kamu tidak ingin menjenguk seorang wanita yang telah kamu tolong di pesta itu Chars,” sahutnya dengan nada ketus.
“Oh itu. Nanti akan aku pikirkan,” jawabnya dengan ambigu.
“Ya sudah papa tidak akan memaksamu, yang penting sekarang tunjukkan keahlianmu itu pada orang-orang yang sedang bermain dengan perusahaan papa. Apa kamu paham,” titah William dengan nada tegas.
Mendapat perintah dari sang papa membuat Chars harus menunjukkan kartu AS yang ia milikki untuk seseorang yang sedang bermain-main dengannya.
“Serahkan semuanya pada putramu ini,” sahutnya dengan nada sombong yang membuat sang papa memutar bola mata malasnya melihat kelakuan sang putra sulungnya itu.
“Ya sudah kalau begitu papa ke ruangan sebelah dulu. Lakukan tugas itu dengan baik”
Setelah sang papa pamit ke ruangan sebelah miliknya. Tinggal lah Chars seorang diri yang tengah memikirkan tugas misi yang di berikan langsung dari sang papa tercinta.
“Siapa yang ingin bermain-main dengan perusahaan ini. Pasti ada pengkhianat di sini,” gumamnya seraya menatap langit-langit di ruangan pribadi miliknya.
Lalu selang beberapa menit kemudian Chars merogoh saku jas dan mengambil handphone miliknya untuk menghubungi seorang teman seliting yang akan ia minta untuk membantunya menyelidiki seorang pengkhianat di perusahaan sang papa tercinta.
“Hallo,” sapa Chars dengan nada dingin.
“.....”
Chars pun menjauhkan sedikit handphone dari telinganya, tak kala mendengar teriakkan di seberang telepon.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
kira-kira alur nya makin ngebosenin tak?
kalian tahu nggak aku buat 2 karya sekaligus.
semoga kalian tak pernah bosen dengan cerita kegabutanku yang ini ya
jangan lupa vote or kasih tips biar makin semangat nulis.
see you next time
pas koma nengoin pas udah sadar lupa ruangan nya...
MAAF YA ALUR YANG KU BUAT INI SANGAT MEMBAGONGKAN KARENA INI MURNI HASIL PEMIKIRANKU SENDIRI
JADI BILA KALIAN TAK KUAT DENGAN ALUR YANG BERTELE-TELE SILAKAN SKIP AJA LAGIAN GAK NGARUH JUGA D AKU YANG PENTING AKU TETAP BUAT NERUSIN ALUR SAYANG KAN KALAU GAK D TERUSIN JADI NIKMATIN AJA YA ALUR YANG SANGAT MEMBAGONGKAN DAN TERIMA KASIH BUAT YANG SUDAH MAU MAMPIR MAAF BILA AKU TAK MEMBALAS KOMEN KALIAN BUKAN BERARTI AKU SOMBONG KARENA KALIAN NGOMEN JELEK DI KARYA INI PUN GAK NGARUH BUAT AKU KITA KETEMU LAGI UNTUK BAB BARU YA TERIMA KASIH SALAM LITERASI 😊😊😊