"Saat Setya membuang Arumi demi wanita muda yang lebih cantik, ia lupa bahwa rezekinya tertitip pada doa sang istri sah. Kini, setelah jatuh miskin dan dipecat, Setya terpaksa kembali bersimpuh hanya untuk mengemis pekerjaan di gudang milik Arumi—wanita yang kini menjadi bosnya sendiri."
Selamat membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Ceroboh di Atas Bara
Suasana malam di Gudang Berkah Arumi terasa jauh lebih sunyi dibandingkan hari-hari biasanya. Jam dinding di ruang administrasi telah menunjukkan pukul delapan malam. Sebagian besar buruh angkut dan staf kantor sudah pulang, menyisakan Pak Joko, sang kepala keamanan, yang sedang berjaga di pos depan bersama satu orang anggotanya.
Di selasar belakang gudang, Setya masih mengayunkan kain pelnya dengan gerakan lambat. Punggungnya terasa pegal, namun otaknya bekerja dua kali lebih keras. Di dalam saku celananya, ponsel jadulnya sempat bergetar pendek beberapa menit lalu—sebuah pesan singkat dari Raya yang menagih informasi mengenai rute dan jadwal pengiriman bumbu instan untuk esok subuh. Raya menegaskan bahwa "bos besar" mereka, Valerie, ingin memastikan pengiriman kedua Arumi ini gagal total agar para klien benar-benar memutus kontrak kerja sama.
Setya memeras kain pelnya ke dalam ember hitam dengan sisa tenaga yang ada. Matanya melirik ke arah lantai dua kantor Arumi. Lampu ruangan Arumi masih menyala terang, memantulkan bayangan siluet mantan istrinya yang masih sibuk memeriksa berkas di meja kerja.
"Arumi pasti memegang manifes jalan yang baru di atas mejanya," bisik Setya dalam hati, hatinya berdegup kencang karena cemas sekaligus serakah. "Kalau aku bisa memfoto lembaran itu lagi malam ini, Raya pasti akan mengirimkan uang lebih banyak besok pagi."
Setya meletakkan kain pelnya bersandar pada dinding koridor. Dengan langkah yang diatur sepelan mungkin agar suara sepatu bot karetnya tidak menimbulkan bunyi kelat-kelit di atas lantai keramik yang basah, ia mulai berjalan menuju tangga ruko. Jiwa pecundangnya didera ketakutan yang hebat mengingat ancaman Arumi kemarin malam tentang sel penjara, namun bayangan tumpukan uang di apartemen mewah Raya jauh lebih menggoda akal sehatnya yang sudah tumpul.
Setya mengintip dari balik celah tangga berundak. Pintu ruangan kantor Arumi terbuka sedikit. Dari posisinya, ia bisa melihat Arumi sedang berdiri membelakanginya, berbicara dengan seseorang melalui telepon genggamnya dengan nada suara yang terdengar sangat lelah namun penuh penekanan.
"Benar, Pak... Untuk pengiriman besok subuh pukul empat, armadanya tidak akan melewati jalur Barat yang kemarin. Saya sudah memindahkan rute utama melalui jalur tol lingkar luar untuk menghindari cegatan dinas perhubungan palsu itu. Berkas administrasinya sudah saya perbarui semua di lembar kendali utama," terdengar suara Arumi menjelaskan dengan detail yang sangat jelas.
Setya yang mendengar hal itu langsung melebarkan matanya. Senyuman licik seketika terkembang di wajah kusamnya. "Jalur tol lingkar luar... Lembar kendalinya pasti ada di atas meja pengawas gudang bawah yang belum dikunci!" batin Setya girang. Ia tidak perlu mengambil risiko naik ke lantai dua dan masuk ke ruangan Arumi. Dokumen salinan fisik itu pasti sudah diturunkan ke meja pengawas gudang untuk persiapan supir subuh nanti.
Setya buru-buru membalikkan badannya, turun kembali dengan tergesa-gesa menuju area gudang belakang yang sudah gelap gulita, hanya diterangi oleh satu lampu neon redup di sudut ruangan.
Ia mendekati meja kayu milik pengawas gudang. Benar saja, di atas meja yang berdebu tipis itu, terdapat papan klip besi yang menjepit lembaran manifes rute baru dengan cap basah "Gudang Berkah Arumi". Dengan tangan yang mulai basah oleh keringat dingin, Setya meraba sakunya, mengeluarkan ponselnya, lalu mengarahkan kamera ke lembaran dokumen fisik tersebut.
Cekrek. Cekrek.
Dua kali jepretan kilat berhasil mengabadikan seluruh daftar plat nomor truk, nama supir, dan titik koordinat peristirahatan armada Arumi untuk esok hari. Setya mengembuskan napas lega yang panjang, buru-buru memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celana kerjanya. Ia merasa sangat beruntung karena aksi pencurian data fisiknya berjalan sangat mulus tanpa ada halangan.
Setya segera mengetik pesan singkat di bawah meja, mengirimkan hasil foto tersebut kepada Raya dengan kalimat tambahan: “Ini rute barunya, semua lewat tol lingkar luar subuh nanti. Pastikan bonusku ditransfer besok pagi.”
Setelah menekan tombol kirim, Setya segera mengambil kembali sapu lidinya, bersikap seolah-olah dia hanyalah staf kebersihan rajin yang sedang menyelesaikan sisa tugas lemburnya sebelum gerbang samping dikunci oleh Pak Joko.
Setya sama sekali tidak menyadari bahwa di saat yang bersamaan, di sebuah ruangan kantor modern ber-AC di pusat kota Jakarta, sebuah layar komputer berteknologi tinggi sedang berkedip-kedip menampilkan visual gelombang sinyal transmisi.
Rian, kepala tim investigasi internal bentukan Dhanu, sedang duduk dengan penyuara jemala (headphone) yang terpasang erat di telinganya. Di sampingnya, Dhanu berdiri tegap dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana kainnya, menatap layar monitor dengan pandangan yang luar biasa tajam dan mengintimidasi.
"Pak Dhanu, sinyal dari nomor telepon target atas nama Setya Utama baru saja melakukan aktivitas transfer data seluler yang cukup besar dari koordinat gudang Ibu Arumi," ujar Rian sambil mengetikkan beberapa baris perintah di papan tik kerjanya. "Target mengirimkan file gambar ke sebuah nomor sekunder yang tidak terdaftar atas nama pangkalan data nasional."
"Bisa kamu lacak lokasi nomor tujuan sekunder tersebut saat menerima data?" tanya Dhanu, suaranya berat, tenang, menyiratkan bahaya yang besar bagi siapa saja yang mengusik ketenangannya.
"Sedang berjalan, Pak... Sebentar," Rian memperbesar peta digital pada layar monitornya. Sebuah titik merah berkedip-kedip di area apartemen vertikal mewah di pusat kota Jakarta. "Ketemu, Pak. Nomor tujuan tersebut berada di Apartemen Sentra Kemang, lantai tiga puluh, kamar nomor tiga ratus empat. Pemilik unit apartemen tersebut terdaftar atas nama sebuah perusahaan properti... yang terafiliasi langsung dengan keluarga besar Nona Valerie."
Mendengar nama 'Valerie' disebut, rahang Dhanu seketika mengeras. Sepasang matanya menyipit penuh kemarahan yang tertahan. Benar dugaan instingnya sejak awal. Sabotase skala besar kemarin bukanlah kemampuan seorang kuli sapu seperti Setya, melainkan ada tangan gurita bisnis milik mantan kekasihnya yang ikut bermain di balik layar. Valerie sengaja memanfaatkan status Setya untuk menghancurkan Arumi.
"Lalu, siapa pengguna nomor telepon di apartemen itu? Apakah Valerie sendiri?" tanya Dhanu lagi, nadanya semakin dingin.
Rian memeriksa log aktivitas pendaftaran kartu sim tiruan yang digunakan nomor tersebut. "Bukan, Pak Dhanu. Berdasarkan data manifestasi pemesanan makanan daring dan kurir yang sering datang ke unit tersebut dalam dua hari terakhir, nama pengguna yang tercantum di sana adalah... Raya Utama."
"Raya?" Dhanu sedikit terkejut, namun dalam hitungan detik, otaknya yang cerdas langsung menyatukan seluruh potongan teka-teki logika yang sempat hilang. "Istri Setya yang seharusnya berada di penjara karena kasus pembakaran?"
"Benar, Pak. Tampaknya Nona Valerie menggunakan koneksi hukum keluarganya untuk mengeluarkan Raya dengan status penangguhan penahanan atau tahanan luar, lalu memfasilitasinya dengan apartemen mewah itu agar bisa mengendalikan Setya dari jarak jauh," jelas Rian dengan analisis yang sangat akurat.
Dhanu berjalan mendekati jendela kaca kantornya, menatap kerlip lampu jalanan Jakarta dengan napas yang teratur. Seringai tipis yang sarat akan ancaman muncul di sudut bibirnya. Valerie dan Raya mengira mereka sudah sangat cerdas dengan memanfaatkan Setya yang bergerak secara manual tanpa menyentuh sistem komputer gudang Arumi. Mereka mengira mereka berada di atas angin setelah berhasil menyabotase pengiriman ronde pertama kemarin.
Namun, mereka melakukan satu kesalahan fatal: mereka meremehkan pengawasan Dhanu.
"Pak Dhanu, apakah kita harus langsung memberitahu Ibu Arumi malam ini agar beliau bisa membatalkan pengiriman subuh nanti dan langsung memecat Setya?" tanya Rian meminta instruksi selanjutnya.
Dhanu terdiam sejenak, menimbang-nimbang strategi terbaik dengan otak bisnisnya yang matang. Jika ia memberitahu Arumi sekarang, Arumi pasti akan langsung memecat Setya, dan hal itu akan membuat Valerie serta Raya tahu bahwa rencana mereka telah bocor. Mereka akan menarik diri, bersembunyi kembali, dan menyusun rencana lain yang mungkin jauh lebih berbahaya bagi keselamatan fisik Arumi serta ketiga anaknya, termasuk Liam.
Dhanu ingin menghancurkan mereka semua sekaligus dalam satu kali hantaman yang tak kenal ampun, persis seperti keinginan para pembaca setianya yang haus akan keadilan tertinggi.
"Jangan dulu, Rian," ujar Dhanu dengan suara baritonnya yang mantap dan penuh wibawa.
"Biarkan pengiriman subuh nanti tetap berjalan sesuai manifes yang difoto oleh Setya. Tapi, hubungi tim pengawalan jalur logistik swasta milik kita. Kawal setiap truk Arumi dari jarak aman dengan armada bersenjata. Biarkan orang-orang suruhan Valerie mencoba mencegat truk itu lagi subuh nanti, dan saat mereka bergerak... tangkap mereka semua di tempat dengan bukti tangan merah yang tidak bisa diganggu gugat."
Dhanu membalikkan badannya, menatap Rian dengan mata yang berkilat kejam. "Kita biarkan Valerie dan Raya merayakan 'kemenangan semu' mereka malam ini. Biarkan Setya merasa dirinya adalah mata-mata yang paling hebat di dunia. Karena subuh nanti, aku sendiri yang akan menarik tali jerat ini dan membuat seluruh rencana busuk mereka berbalik menghantam mental mereka sampai jatuh sejatuh-jatuhnya."
Di dalam kegelapan malam yang kian pekat, Setya baru saja melangkah keluar dari gerbang gudang sambil bersiul kecil, mengantongi ponselnya dengan perasaan menang. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa hasutan dan pengkhianatan keduanya malam ini bukanlah awal dari kejayaannya kembali, melainkan sebuah umpan matang yang sengaja dibiarkan oleh Dhanu untuk mengunci mati nasib dirinya, istrinya, dan selingkuhan masa lalu Dhanu ke dalam lubang kehancuran yang paling menyeramkan.