Dimas Saputra seorang pemuda tampan yang sholeh, mendapatkan hati seorang wanita cantik yang kaya raya.
Seorang pemuda yang bekerja di sebuah perusahaan besar milik keluarga Haristian, kini telah memikat hati seorang putri cantik dari pemilik perusahaan tersebut.
Berawal dari kehidupan yang sederhana, membuat dirinya merasa tak pantas untuk mendampingi wanita yang begitu terlihat sempurna. Namun kenyataannya jika yang kuasa sudah berkehendak, semua yang tidak mungkin akan menjadi mungkin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enchya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
"Dimas," Ujar pemilik cafe.
"Iya pak,." Ujar Dimas sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Perkenalkan nama saya Ferdi, Pemilik cafe ini."
"Iya pak, saya Dimas."
"Viki memang benar, suara kamu bagus Dimas, tidak salah saya memilih kamu untuk bernyanyi disini. Semoga kedepannya cafe saya lebih ramai lagi."
"Terima kasih pak, semoga saja saya bisa memberikan kepuasan untuk pelanggan disini." Ujar Dimas tersenyum.
"Iya Dimas, saya berharap begitu."
"Maaf Dimas saya masih ada pekerjaan, saya tinggal dulu ya." Lanjut pak Ferdy.
"Baik pak, silahkan."
Dimas dan Viki berbincang-bincang sebentar, kemudian Dimas pamit pulang karena waktu sudah mulai petang.
Vili melanjutkan bekerja, dan Dimas melangkahkan kakinya keluar dari cafe menuju parkiran. Dimas lalu mengendarai motornya menuju rumah.
Sesampainya di rumah, seperti biasa Dimas di sambut oleh ibunya. Dan Dimas masuk rumah dengan tak lupa mengucapkan salam.
Ibu Sofia tersenyum melihat putranya yang kini tumbuh menjadi pribadi yang sangat sopan dan santun.
"Nak, kamu baru pulang? dari mana saja?"
"Iya bu, Dimas tadi mampir di cafe SS, Dimas di terima buat nyanyi di sana setiap hari Minggu bu, dan tadi Dimas sudah mulai kerja."
"Alhamdulillah nak, tapi apakah tidak menggangu waktu kamu nak?"
"Tidak bu, Dimas ke cafe sepulang dari kampus dan itu juga kerjanya setiap hari Minggu saja bu, jadi tidak menggangu pekerjaan Dimas di kantor juga."
"Ya sudah nak, asalkan itu tidak mengganggu waktu belajar kamu, ibu selalu mendukung mu nak."
"Iya bu, terima kasih bu."
"Sama-sama nak, ya sudah sana kamu mandi dulu."
"Iya bu, Dimas ke kamar dulu ya bu."
Dimas melangkah pergi ke kamarnya, dan keluar lagi untuk mandi. Setelah itu dia melaksanakan sholat isya berjama'ah bersama ibunya.
Selesai sholat mereka makan malam bersama, dan dilanjutkan dengan menonton acara televisi di ruang keluarga, sambil sesekali ibu Sofia bercerita tentang masa mudanya. Dan tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 21.00, Lalu Dimas beranjak untuk beristirahat ke kamarnya. Begitu juga dengan ibu Sofia, dia juga ikut masuk ke kamarnya untuk beristirahat.
.
.
.
Lisa...
Di hari Minggu yang cerah, mereka berlima bangun agak siang, karena malamnya mereka begadang, jadi malas untuk bangun pagi-pagi. Mereka merasa sangat bahagia bisa berkumpul berlima di hari libur, karena memang sudah lama tidak bisa menikmati suasana liburan seperti sekarang ini.
Mereka berlima beranjak dari tidurnya dan berjalan-jalan, lalu Vika mendekati tenda yang tak jauh dari tempat mereka untuk sekedar menyapa orang di dalamnya, dan yang lainnya juga mengikuti langkah Vika. Mereka berkenalan dengan menanyakan dari mana asal mereka dan mereka sempat bercerita dan bersenda gurau bersama. Akhirnya di sini mereka mendapatkan teman baru.
Selesai dengan acara berkeliling, mereka kembali ke tenda dan membersihkan diri mereka masing-masing. Setelah itu mereka memasak bersama untuk sarapan pagi mereka.
--__--
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 15.00. Lisa menghubungi pak Mamat untuk bersiap menjemput mereka. Vika, Rere, Sela, dan juga Aulia sedang berkemas. Mereka semua merapihkan barang-barang bawaan mereka masing-masing.
Setelah menghubungi pak Mamat, Lisa juga ikut berkemas. Lalu mereka berlima berlanjut membereskan tenda dan semua perlengkapan yang mereka bawa kemarin. Selesai dengan semuanya, sambil beristirahat dan menunggu kedatangan pak Mamat, mereka sibuk dengan ponsel mereka masing-masing.
Vika dan Rere berjelajah ke online shop, karena mereka memang hoby untuk shopping. Sela dan Aulia juga mulai berjelajah dengan dunia Maya mereka. Dan Lisa juga mulai membuka sosial medianya.
Setelah lama melihat akun Instagramnya Lisa dibuat terkejut melihat sebuah unggahan foto dari salah satu teman Lisa yang berlokasi di cafe SS, di sana terlihat foto Dimas yang berada di kerumunan para wanita.
"Dimas." Gumam Lisa
"Iya benar ini Dimas, dan ini,,, ini foto ngapain cewek-cewek deket-deket Dimas begini, iih ini juga apaan centil banget." Ujar Lisa dalam hati mengomentari foto cewek-cewek yang berada di cafe dan meminta foto bersama Dimas waktu itu.
Seketika mood Lisa berubah, dia jadi merasa sedih melihat Dimas yang berfoto bersama para wanita-wanita di cafe itu.
"Jadi sekarang dia punya pekerjaan di cafe itu." Ujar Lisa dalam hati.
Lisa merasa tidak rela melihat Dimas yang berada di kerumunan para wanita, dalam hati dia ingin sekali dirinya yang berada di dalam foto itu bersama Dimas. Namun apalah daya, cintanya hanya bisa di pendam seorang diri, bahkan untuk berkenalan langsung dengan Dimas saja rasanya dia tak bisa untuk melakukannya.
--_--
Pak Mamat datang, dan mereka berempat beranjak dari duduknya untuk memasukkan barang-barang bawaan mereka. Pak Mamat juga turut membantunya. Sedangkan Lisa masih terdiam dan dia tidak mengetahui kalau pak Mamat sudah sampai di tempat itu. Lalu Vika menghampiri Lisa dan menyadarkan lamunannya.
"Lis, ngapain kamu masih bengong di sini?"
"Hah, apa? ada apa Vik?" Tanya Lisa yang masih belum sadar sepenuhnya.
"Kamu ngelamun ya Lis? duh nih anak, mikirin apaan sih?"
"Ga ada Vik." Jawab Lisa berbohong.
"Kamu jadi mau pulang ga nih? tuh lihat yang lain udah siap-siap juga, kamu malah masih diam aja di sini."
"Eh iya Vik, ayo."
Lisa beranjak dari duduknya dan berjalan beriringan dengan Vika menuju mobil Vika. Di tempat lain pak Mamat juga sudah selesai membereskan semua barang bawaan mereka.
Mereka berlima memasuki mobil Vika dan Vika langsung melajukan mobilnya menuju rumah Lisa. Begitu juga dengan pak Mamat, dia juga ikut melajukan mobilnya membuntuti mobil Vika.
Sesampainya di rumah Lisa, mereka turun dan mengantarkan Lisa masuk ke rumah mewahnya. Mereka juga mengambil barang-barang mereka yang di angkut oleh pak Mamat tadi.
Setelah selesai berberes-beres, mereka berpamitan dengan kedua orang tua Lisa dan juga bi Inah. Mereka juga berpamitan dengan pak Mamat dan tak lupa mengucapkan terima kasih atas bantuan pak Mamat yang sudah membantu mereka.
Lisa mengantarkan Vika dan yang lainnya sampai di depan rumah. Mereka berempat memasuki mobil Vika, dan Vika langsung melajukan mobilnya. Setelah mobil Vika sudah tidak terlihat lagi, baru Lisa masuk dan berjalan ke lantai dua menuju kamarnya untuk membersihkan diri.
Papa Adit dan mama Ita menunggunya di lantai bawah, mereka sedang bersantai di ruang keluarga sambil menunggu waktu makan malam tiba.
Selesai dengan ritual mandinya, Lisa memakai piyama tidurnya. Lalu dia melangkahkan kakinya untuk turun ke lantai bawah dan bergabung bersama papa dan mamanya yang sedang asyik menonton acara televisi.
Papa Adit yang melihat Lisa berjalan menuju ke sofa yang ada di ruang keluarga, langsung meminta Lisa untuk duduk di sebelahnya.