Guntur, pemuda Sidoarjo dengan rambut gondrong dan jurus silat warisan kakek, harus menerima kenyataan pahit saat cintanya dikandas oleh Amanda. Dengan bekal uang saku hasil menjual mesin pompa air dan sekeranjang perbekalan sederhana, Guntur berangkat ke Jakarta untuk mengubah nasib.
Di hari pertamanya, Guntur hampir ditabrak oleh Vaneshaseorang CEO galak yang ia juluki "Mak Lampir"yang ternyata adalah sepupu mantan kekasihnya! Takdir kemudian membawanya menyelamatkan Bang Soni, bos penguasa dunia malam yang anti-narkoba namun gemar minum keras, dari serangan preman.
Kini, Guntur terjebak di antara tugas menjaga Sekar putri Bang Soni yang tak kalah galak dan intrik keluarga kaya yang dulu meremehkannya. Dengan sifatnya yang sulit ditebak dan jurus silat yang mematikan, Guntur siap menggoncang Jakarta dan membuktikan bahwa jagoan sejati tidak butuh jas mewah untuk berkuasa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Naga Mengamuk, Aspal Membara
Baron lari tunggang langgang dengan wajah sepucat kain kafan. Kabar kegagalannya menjarah truk umpan tadi langsung sampai ke telinga Rian. Di kantor elit kawasan Sudirman, Rian sudah tidak bisa menahan emosinya lagi. Dia mengambil asbak kaca tebal lalu menghantamkannya ke wajah Baron.
"Goblok! Seratus orang dikalahkan cuma sama satu tukang ojek?! Kamu sekolah tinggi-tinggi itu belajar apa?! Makan tempe?!" bentak Rian dengan mata yang hampir keluar.
Baron hanya bisa bersimpuh di lantai sambil memegang wajahnya yang berdarah. "Ampun Bos, Guntur itu bukan ojek biasa. Dia seperti punya mata di mana-mana. Ratusan motor langsung mengepung kami seperti semut menemukan gula."
Rian tertawa sinis, suaranya terdengar sangat mengerikan. "Oke, kalau lewat jalan halus kamu bisa menang, Guntur. Sekarang kita main lewat jalan gelap. Baron! Kirim orang-orang yang paling sadis untuk menculik bapaknya Guntur di kampung! Kalau anaknya terlalu banyak tingkah, bapaknya yang jadi tumbal!"
Sementara itu, Guntur sedang asyik makan gorengan di pinggir jalan bersama Vanesha. Suasananya sebenarnya sedang tenang, tapi tiba-tiba HP jadul Guntur berdering. Ada telepon dari nomor yang tidak dikenal.
"Halo? Siapa ini? Kalau mau nawarin pinjaman online, sori ya, saya sudah kaya karena jadi mitra CEO," ucap Guntur dengan gaya kocloknya.
Namun, wajah Guntur tiba-tiba berubah menjadi sangat gelap. Matanya yang biasanya penuh canda kini berubah tajam seperti keris yang baru saja diasah. Suara di telepon itu adalah suara Rian yang sedang tertawa mengejek.
"Guntur... Naga kecil dari Sidoarjo. Bapakmu sekarang lagi bermain dengan orang-orangku. Kalau kamu ingin bapakmu selamat, serahkan kontrak V-Group sekarang juga di gudang Cakung, sendirian! Jangan berani lapor polisi kalau tidak ingin bapakmu pulang tinggal nama!"
KLIK. Telepon dimatikan. Guntur meremas HP-nya hingga hancur berkeping-keping di tangan kanannya. Vanesha yang berada di sampingnya langsung merasakan aura yang berbeda. Ini bukan Guntur yang suka melucu, ini adalah Naga yang bangkit dari tidurnya karena harga dirinya diinjak-injak.
"Guntur? Ada apa? Wajahmu... kamu menakutkan sekali," tanya Vanesha dengan tangan yang sedikit gemetar.
Guntur berdiri, dia mengambil jaket ojeknya lalu memakai helm bogo kesayangannya. "Mbak V, sampeyan balik ke hotel sekarang. Jaga diri baik-baik. Ada anjing yang berani menyenggol macan tidur. Sekarang waktunya Naga Sidoarjo mengeluarkan api yang sebenarnya."
"Aku ikut, Guntur! Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa!" teriak Vanesha.
Guntur hanya menoleh sedikit, matanya memerah menahan amarah. "Ini bukan urusan bisnis lagi, Mbak. Ini urusan nyawa dibayar nyawa. Tetap di hotel, atau sampeyan bakal melihat neraka di aspal Jakarta malam ini!"
Guntur langsung menggeber motornya, suara knalpotnya meledak-ledak memecah keheningan. Dia segera menghubungi semua rekan-rekannya menggunakan sandi darurat. "Semua saudara ojek Sidoarjo dan Jakarta! Naga sedang disakiti! Kepung gudang Cakung! Siapa pun yang ada di sana, jangan beri ampun! Bakar aspalnya, gilas anjing-anjing itu!"
Malam itu, Jakarta menjadi saksi. Ribuan lampu motor ojek mulai bergerak seperti aliran lahar panas menuju satu titik. Guntur tidak butuh jas mahal lagi, dia hanya butuh nyali dan amarah yang sudah tidak bisa dibendung. Rian sudah salah besar, karena dia tidak hanya menyentuh bisnis, tapi menyentuh garis nyawa yang paling suci bagi Guntur: Keluarga.
Gudang tua di kawasan Cakung itu tampak seperti kuburan massal. Di tengah ruangan yang hanya diterangi satu lampu gantung, Bapaknya Guntur diikat di kursi dengan mulut dilakban. Di depannya, Baron berdiri sambil memegang pisau lipat, didampingi dua puluh preman bayaran kelas berat yang membawa balok kayu dan celurit.
BRAAAKKKK!
Pintu gudang yang terbuat dari seng tebal itu jebol dihantam tendangan maut. Guntur berdiri di sana, sendirian, dengan helm bogo yang kacanya sudah pecah separuh. Auranya bukan lagi ojek lucu yang suka melucu, tapi malaikat maut yang baru saja keluar dari kawah candradimuka.
"Lepaskan Bapak saya... atau kalian semua pulang dalam kantong plastik," suara Guntur rendah, dingin, dan bergetar karena amarah.
Baron tertawa sombong. "Cuma sendirian? Hajar dia sampai lumpuh! Sisakan kepalanya buat saya kirim ke Vanesha!"
Dua preman berbadan raksasa maju menerjang. Guntur tidak menghindar. Dia malah melangkah maju dengan kecepatan yang sulit diikuti mata.
BUAAKKKK!
Satu pukulan keras menghantam ulu hati preman pertama hingga dia langsung muntah darah dan ambruk tak sadarkan diri. Guntur memutar tubuhnya, kakinya melesat secepat kilat.
KRAAAKKKK!
Tendangan tumit Guntur menghantam rahang preman kedua. Suara tulang patah terdengar jelas memenuhi ruangan. Gigi-gigi preman itu rontok seketika.
"Maju semua!" teriak Guntur yang suaranya menggelegar seperti guntur beneran.
Sepuluh orang sekaligus mengeroyoknya. Guntur mengambil sebatang besi sisa konstruksi di lantai. Dia mengamuk seperti naga yang terluka.
DESSSSSS!
Besi di tangan Guntur menghantam tulang kering lawan hingga melengkung.
BUGH! BUGH! BUGH!
Guntur menghantamkan kepalanya ke dahi lawan, lalu menyikut lehernya hingga pria itu terkapar dengan mata putih semua. Tidak ada ampun. Setiap gerakan Guntur berarti patah tulang atau pingsan permanen.
SLREEEETTTT!
Sebuah celurit sempat menyayat lengan Guntur hingga darah segar mengucur. Tapi Guntur seolah tidak merasakannya. Dia malah mencengkeram tangan pemegang celurit itu.
KREEEEKKKK!
Guntur memelintir tangan preman itu sampai posisi sikunya berbalik arah. Teriakan kesakitan yang memilukan menggema, tapi Guntur langsung membungkamnya dengan satu hantaman lutut ke wajah.
Dhuuuaaarrrr!
Kini hanya tersisa Baron yang berdiri gemetar di samping Bapaknya Guntur. "Ja... jangan mendekat! Atau saya potong leher bapakmu!" ancam Baron sambil menempelkan pisau ke leher Bapak Guntur.
Guntur berhenti tiga meter di depannya. Wajahnya bersimbah darah, sebagian darahnya sendiri, sebagian darah musuhnya. Matanya merah menyala.
"Baron... kamu boleh menghina saya sepuasmu. Tapi kamu sudah menyentuh orang tua saya. Itu artinya... kamu sudah memesan tiket ke neraka jalur VVIP," ucap Guntur dengan suara yang sangat tenang namun mematikan.
Tiba-tiba, dari luar gedung terdengar suara gemuruh ribuan mesin motor. Cahaya lampu dari ratusan ojek menyinari celah-celah gudang. Suasana jadi mencekam. Baron panik, tangannya bergetar hebat.
"Lepaskan pisau itu... atau tanganmu yang saya lepas dari pundakmu!" gertak Guntur sambil melangkah maju satu demi satu.
Baron ketakutan luar biasa melihat sosok Guntur yang sudah seperti iblis aspal. Dia menjatuhkan pisaunya dan mencoba lari lewat pintu belakang, tapi terlambat. Guntur sudah melesat dan mencengkeram leher Baron, lalu membantingnya ke dinding beton.
BRAAAAKKKKK!
Guntur menghajar wajah Baron bertubi-tubi tanpa henti.
PLAAAKKK! BUGH! DESSS!
Sampai wajah Baron tidak lagi berbentuk. Guntur baru berhenti saat tangan bapaknya menyentuh pundaknya dengan lembut, memberikan tanda bahwa semua sudah berakhir. Guntur terduduk lemas, dia memeluk bapaknya erat-erat sementara ribuan rekan ojeknya merangsek masuk membersihkan sisa-sisa anak buah Rian yang masih bernapas.
"Maafin Guntur, Pak... Guntur telat," bisik Guntur dengan air mata yang bercampur darah. Malam itu, Jakarta tahu, Naga Sidoarjo bukan sekadar julukan. Dia adalah hukum jalanan yang tidak bisa dibeli dengan uang sebanyak apa pun.