Di bawah langit Jakarta yang lembap dan aroma melati yang pekat, Nikolai Brine tidak pernah menyangka akan menemukan kelemahannya. Sang predator berdarah Dubai-Rusia ini datang ke Indonesia untuk menghancurkan musuh, namun ia justru terpaku pada Clara Marine.
Pertemuan tak terduga itu memicu obsesi liar yang membawa Clara dari hangatnya tanah tropis menuju dinginnya benteng baja di Moskow. Nikolai tidak hanya menculik seorang wanita; ia menculik takdirnya sendiri. Di antara dinding es Rusia, sang mafia yang kejam harus belajar bahwa satu-satunya cara memiliki Clara adalah dengan bertekuk lutut pada kelembutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mahkota dalam sunyi
Lampu-lampu gantung di mansion Moskow kembali menyala, namun suasananya tak lagi seperti markas mafia yang dingin. Persiapan pernikahan sedang berlangsung, meski dalam skala yang sangat tertutup dan rahasia. Nikolai Brine tidak menginginkan pesta megah di aula hotel bintang lima; ia ingin sumpah itu diucapkan di kapel pribadi miliknya, di bawah pengawasan ketat pasukannya.
Namun, sejak cincin perak itu melingkar di jari Clara Marine, sifat posesif Nikolai bukannya melunak, justru semakin menjadi-jadi. Baginya, Clara bukan lagi sekadar tunangan, melainkan jantung yang jika berhenti berdetak, maka seluruh dunianya akan runtuh.
Penjara Sutra
Nikolai memerintahkan seluruh tim penjahit terbaik dari Italia untuk datang ke Moskow hanya untuk membuatkan satu gaun pengantin. Namun, ia tidak membiarkan para penjahit itu menyentuh Clara tanpa pengawasannya.
"Terlalu terbuka," desis Nikolai saat melihat rancangan bagian punggung gaun yang sedikit rendah.
"Nikolai, ini hanya gaun," protes Clara sambil berdiri di depan cermin besar. "Kita hanya akan berdua dan beberapa orang kepercayaanmu di kapel itu."
Nikolai melangkah maju, berdiri di belakang Clara dan melingkarkan lengannya di pinggang wanita itu dengan protektif. Ia menatap pantulan mereka di cermin. "Setiap jengkal kulitmu hanya milik mataku, Clara. Aku tidak ingin ada satu pun pria di ruangan itu, bahkan pengawal terbaikku, melihat apa yang menjadi hak mutlakku."
Sifat posesif ini mulai merambah ke segala aspek. Nikolai bahkan membatasi akses Clara ke taman. Setiap kali Clara ingin menghirup udara segar, Nikolai harus ada di sampingnya. Ia tidak lagi memercayai siapa pun—bahkan Sebastian Reef sekalipun—untuk menjaga Clara.
Obsesi dalam Persiapan
Di ruang kerja Nikolai, tumpukan dokumen pernikahan berserakan di antara peta logistik dan laporan intelijen. Nikolai memastikan bahwa secara hukum, nama Clara Marine akan dihapus sepenuhnya dan diganti dengan identitas baru yang terhubung langsung dengan garis keturunannya.
"Tuan Nikolai," Sebastian masuk dengan ragu. "Pihak dari klan Rusia bagian timur bertanya mengapa Anda membatalkan pengiriman minggu ini. Mereka merasa Anda mulai kehilangan fokus karena... pernikahan ini."
Nikolai bahkan tidak mendongak dari daftar tamu yang sedang ia saring dengan ketat. "Katakan pada mereka, jika mereka merasa aku kehilangan fokus, mereka boleh mencoba masuk ke properti ini. Tapi ingatkan mereka, aku punya satu orang untuk dicintai dan ribuan peluru untuk siapa pun yang mengganggunya."
Nikolai mencoret satu lagi nama dari daftar tamunya. Ia hanya menyisakan lima orang saksi. Baginya, pernikahan ini bukan untuk dipamerkan, melainkan sebuah ritual pengikatan kepemilikan.
Di Bawah Tatapan Sang Mafia
Malam sebelum hari besar itu, Clara menemukan Nikolai sedang duduk di balkon kamar, membersihkan belati kecil yang selalu ia bawa. Nikolai tampak begitu tegang, seolah ia sedang bersiap menghadapi perang, bukan hari bahagia.
Clara mendekat dan duduk di pangkuan Nikolai, mencoba meredakan ketegangan pria itu. "Kau bertingkah seolah-olah aku akan lari, Nikolai."
Nikolai meletakkan belatinya dan memeluk Clara dengan sangat erat, menenggelamkan wajahnya di leher Clara. "Aku pernah kehilangan ibuku karena pengkhianatan. Aku tidak akan membiarkan sejarah berulang. Kau adalah satu-satunya hal yang benar dalam hidupku yang salah ini, Clara. Jika aku harus menjadi monster yang mengurungmu agar kau tetap selamat, maka biarlah begitu."
"Kau tidak mengurungku, kau mencintaiku," bisik Clara, meskipun ia tahu bahwa garis antara cinta dan obsesi bagi Nikolai sudah sangat kabur.
"Aku memujamu," koreksi Nikolai dengan suara parau. Ia mengangkat wajah Clara, menatapnya dengan pandangan yang begitu posesif hingga Clara merasa seolah oksigen di sekitarnya tersedot habis. "Dan besok, saat kau mengucapkan sumpah itu, kau bukan lagi milik dunia. Kau hanya milik Nikolai Brine."
Nikolai mencium Clara dengan rasa lapar yang seolah tak pernah terpuaskan. Persiapan pernikahan ini hanyalah awal dari fase baru di mana Nikolai tidak akan membiarkan jarak sedikit pun memisahkan mereka. Di matanya, Clara adalah ratu yang mahkotanya terbuat dari kesetiaan mutlak dan perlindungan yang menyesakkan.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...