NovelToon NovelToon
ALUNA : Transmigrasi Cegil

ALUNA : Transmigrasi Cegil

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Teen / Transmigrasi
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dhanvi Hrieya

𝐀𝐥𝐮𝐧𝐚 𝐂𝐚𝐥𝐢𝐬𝐭𝐚 nyaris mati tenggelam dan saat matanya terbuka, ia mulai menyadari jika dunianya yang sekarang hanyalah dunia novel fiksi. Ia terbangun sebagai karakter figuran dalam sebuah novel 𝚝𝚑𝚛𝚒𝚕𝚕𝚎𝚛-𝚛𝚘𝚖𝚊𝚗𝚌𝚎 yang pernah ia bacanya. Sialnya lagi, Aluna bukan siapa-siapa hanya pemeran kecil yang dikenal sebagai biang kerusuhan. Tapi apa jadinya saat ia mulai menyadari, ulah kecilnya mengacaukan alur cerita?
Dalam usahanya untuk memperbaiki kesalahan dan bertahan hidup di dunia yang bukan miliknya, Aluna justru menarik perhatian empat karakter pria berbahaya. 𝐆𝐚𝐯𝐢𝐧𝐨, si obsesif yang tak bisa membedakan cinta dan obsesi. 𝐊𝐚𝐢, si manipulatif yang pandai bermain peran. 𝐉𝐚𝐲𝐝𝐞𝐧, si red flag yang sulit ditebak-beracun tapi memikat. Dan 𝐒𝐞𝐛𝐚𝐬𝐭𝐢𝐚𝐧, ketua geng motor yang haus kendali. Dunia novel mulai runtuh. Alur cerita berubah liar. Aluna jadi buruan. Kini, hanya ada dua pilihan: kabur atau menghadapi mereka satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhanvi Hrieya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3| Oh No, Gue Ketahuan

Saat pintu mobil dibuka, Aluna turun dari mobil. Kedua matanya berbinar-binar melirik liar ke segala penjuru perumahan mewah di depannya, bibir merah merekahnya terbuka lebar. Decak kagum mengudara, gaya rumah Eropa Klasik memanjang mata sejauh mata memandang.

'Woah! Gila, ini benar-benar rumah impian gue banget. Gue beneran bakalan tinggal di rumah kayak gini?'

Kedua sisi bibir Aluna melengkung tinggi, suara derap langkah kaki dari pintu rumah yang terbuka terdengar nyaring. Beberapa maid dengan seragam khusus terlihat langsung mengeluarkan kantong belanjaan Aluna dari bagasi mobil tanpa harus dikomando, secara serentak dan teratur membawa masuk ke dalam rumah.

"Sayang!" seruan dari arah dalam menyentak lamunan kekaguman Aluna.

Wanita usia akhir empat puluhan melangkah cepat menuju Aluna, tubuh Aluna terhuyung ke belakang saat tubuhnya dipeluk tiba-tiba. Aroma mawar segar menguar di indera penciuman Aluna, dahi Aluna berlipat.

"Astaga putri cantik Mommy," tuturnya lirih, "kamu nggak apa-apa 'kan Sayang? Mommy dengar dari sekolah kalo kamu jatuh ke kolam renang dan kepalamu terbentur. Mommy dan Daddy panik setengah mati."

Aluna mendorong perlahan, atensinya melirik wanita yang kemungkinan besar adalah ibu dari pemilik tubuh. Ia mengulas senyum lembut, kehangatan yang tak pernah ia rasakan. Ibunya di dunia nyata tak seperti ini, waktunya dihabiskan untuk mencari uang serta membesarkan adik-adiknya. Aluna tak pernah dipeluk dengan hangat ataupun dimanja, Aluna tumbuh tanpa kasih sayang. Kehilangan figur ayah dan ibu, meskipun kedua ada di dunia tapi perannya kosong. Hati Aluna berdenyut nyeri, tabung cinta yang kosong dari kedua orang tua apakah bisa diisi di dunia ini. Diam-diam Aluna berharap ia bisa mendapatkan kasih sayang tulus dari kedua orang tua, meskipun mereka tidak pernah menjadi nyata. Setidaknya kasih sayang dan perhatian mereka nyata untuk Aluna terima.

"Aku baik-baik aja, Mom! Cuma..., sedikit bengkak aja. Hehe...." Aluna terkekeh dibuat-buat, hanya untuk menenangkan kepanikan ibunya ini.

"Nggak, ini nggak bisa kayak gini. Ayo kita ke rumah sakit sekarang juga, cek secara menyeluruh." Sonya menarik tangan Aluna, tanpa mengindahkan jawaban dari sang putri.

"Oh, No! Mommy. Aku nggak suka di sana, aroma obat-obatan nggak banget. Pokoknya Mommy dan Daddy jangan khawatir, aku baik-baik aja," tolak Aluna cepat, menggeleng kepalanya. "Lagian udah malam juga 'kan, aku pun capek banget. Buktinya aku bisa shopping, kalo aku emang nggak baik-baik aja nggak mungkin dong bisa berbelanja sesemangat ini," lanjut Aluna saat matanya menangkap ekspresi tak percaya Sonya.

"Oke," balas Sonya menyerah, setelah menatap putrinya lama sekali.

"Ayo, masuk Mom. Aku udah lapar banget," sahut Aluna, sealami mungkin ia merangkul manja lengan Sonya memasuki rumah besar di depan mereka.

Aluna akan menikmati apa yang ditawarkan di dunia ini, baik itu orang tua serta harta. Apa yang tak mampu ia dapatkan di dunia nyata, di sini ia miliki.

...***...

Beberapa mobil pribadi berhenti tepat di depan gerbang gedung sekolah, berbaris rapi menurunkan para nona muda dan tuan muda. Pagi pertama Aluna menjalani kehidupan sekolah yang dulunya terasa membosankan, kini untuk pertama kalinya ia merasa begitu bersemangat menghadapi kehidupan remaja yang dilewatkannya di dunia nyata. Mobilnya berhenti, sang supir turun dari mobil membuka pintu untuk Aluna-nona muda Calista.

Tungkai kaki jenjangnya terlihat ketika sepasang sepatu menapaki rerumputan, Aluna turun dan melangkah menuju pintu gerbang yang terbuka lebar.

'Dunia fiksi! I'm coming!' Aluna menjerit dalam hatinya, ia melangkah melewati siswa-siswi begitu saja di lorong.

Semangat pagi berkobar, sesekali sudut bibirnya melengkung tinggi ke atas. Setiap langkah kaki seakan menjadi harapan Aluna mendekati kebahagiaan tanpa harus bekerja keras, di tikungan kedua menuju kelasnya dahi Aluna membentur dada bidang keras hingga kedua kakinya terpukul mundur selangkah ke belakang.

"Ugh..., sakit banget," keluh Aluna mengalun, jari jemari lentiknya mengusap dahinya yang terbentur.

Kepalanya terangkat perlahan, sumpah serapah bersiap untuk dikeluarkan. Manik mata coklat terangnya tertegun saat menyapu name tag pemuda remaja di depannya, Aluna menengadah. Sorot mata dingin mampu membekukan lawan membuat bulu kuduk Aluna merinding, kedua kelopak matanya berkedip dua kali.

"Lo, ikut gue dengan tenang dan damai." Deep voice itu langsung memberikan perintah.

Aluna menelan sumpah serapah, ia melangkah mengikuti pria jangkung yang telah lebih dahulu melangkah. Jari jemari Aluna saling bertautan dan diremas kasar, manik matanya bergerak gelisah. Ini baru hari kedua ia berada di sini, lantas kenapa ia langsung bertemu dengan dua tokoh utama pria yang harusnya ia hindari.

Keduanya berhenti di pintu ruangan yang berada di sebelah barat gedung sekolah, pintu dibuka bibir Aluna mengerucut. Bahunya ditarik dan didorong masuk ke dalam ruangan. Suara pintu ditutup dan dikunci membuat Aluna menggigil, otot wajahnya mendadak kaku.

Tatapan dua orang di dalam ruangan sontak saja tertuju ke arah Aluna-gadis remaja yang dikenal sebagai dayang Karina, siapa di antara mereka berempat yang tidak tahu apa peran Aluna. Aluna adalah penghasut Karina, ia salah satu pembenci Zea. Entah apa yang membuat Aluna iri pada Zea, mereka semua tak paham. Entah karena mengikuti Karina-sahabat dekatnya, atau memang sedari awal Aluna-lah yang membenci Zea. Ini masih menjadi misteri untuk mereka.

"Kenapa lo bawa dia ke sini, Bas?" tanya Kai berhenti memainkan rubik di tangannya.

Sebastian melirik Kai—sahabatnya, lalu bergerak ke arah Gavino yang juga penasaran.

"Dia yang bikin Jayden masuk rumah sakit," jawab Sebastian blak-blakan.

Kedua mata Aluna melotot, ia menahan napas tanpa ia sadari. Semburan tawa dari sofa membuat Aluna merasa lantai yang ia pijak mendadak bergoyang, Kai tertawa terbahak-bahak hingga terbatuk-batuk bahkan rubik di tangan terjatuh ke lantai. Sebastian memutar malas kedua bola matanya, Gavino yang hanya tahu sekilas tentang Jayden yang masuk rumah sakit terlihat kebingungan. Awalnya ia pikir Jayden hanya kedok untuk menghindar dari pelajaran tak ia suka, siapa sangka jika sahabat gilanya satu itu ternyata memang memiliki masalah.

"Hei! Lo kenapa, Kai?" tegur Gavino merasa tawa Kai terasa berlebihan.

Aluna menoleh ke samping, ia menggeleng kuat-kuat. "Nggak! Ini pasti salah paham, gu—gue gimana mungkin ngenyelakain si Jayden," tukas Aluna tergagap, berbohong tanpa tahu malu.

Sebelah alis mata Sebastian ditarik tinggi ke atas, dan berkata, "Oh, ya? Lo yakin itu bukan lo, hm?"

Aluna mengangkat tangan kanannya ke atas. "Sumpah! Bukan gue yang nyeruduk masa depan si Jayden. Suer deh, bukan gue," kata Aluna bersumpah palsu, ekspresi wajahnya seakan sangat meyakinkan.

Tadinya tawa Kai mulai mereda namun, saat mendengar kata 'seruduk' dan 'masa depan' tawa Kai kembali menyembur. Kini giliran Gavino yang melotot, saat tahu apa alasan Jayden di rawat di rumah sakit kemarin sore. Naas sekali nasib adik kecil Jayden, diseruduk oleh Aluna.

Sebastian tidak tahu apakah ia harus tertawa atau menangis saat mendengar sumpah palsu Aluna, Aluna yang sadar membekap mulutnya dengan kedua tangannya. Hatinya kembali memaki lidah tak bertulang, kenapa lidahnya lebih cepat dibandingkan dengan otaknya. Ia menunduk dengan ekspresi nelangsa, dan mengembuskan napas berat. Ujung jari jemari lentik Aluna terasa dingin, ia meneguk kasar air liur tak berani menatap siapa pun yang ada di ruangan markas keempatnya.

"Gue punya bukti cctv lo keluar dari ruangan UKS, Aluna!" Sebastian berseru tenang.

Kedua kelopak mata Aluna berkedip-kedip polos, ia melirik Sebastian dengan ekspresi bersalah. Gavino terkekeh kecil melihat ekspresi wajah Aluna di depan sana, Kai masih tertawa terbatuk-batuk bulir bening di sudut matanya keluar tanpa bisa dicegah.

Aluna mendelik melirik ke belakang di mana tubuh Kai yang tadinya ada di atas sofa berpindah tergolek ke lantai, ia kesal bukan main pada Kai. Pria remaja itu malah tertawa di atas penderitaan Aluna, insiden naas terjadi bukan karena direncanakan. Aluna menyesal, sangat menyesali keputusan bodohnya kemarin. Andaikan waktu bisa diulang ia tak akan melakukan hal seperti itu. Hingga ia tak perlu harus berurusan dengan para tokoh protagonis pria, niat hati ingin menghindar malah membuat ia semakin dekat dengan kematian.

"Hah," desah Gavino mengulum bibirnya, "dia mau diapain sama Jay?"

Sebastian menaik-turunkan kedua sisi bahunya acuh tak acuh, lirikan mata Aluna beralih ke wajah Sebastian.

"Gue cuma punya tugas buat cari tau siapa orangnya, dan nyeret si Aluna ke depan Jayden. Soal dia mau diapain sama Jayden itu terserah dia," jawab Sebastian cuek.

Kai terbatuk wajahnya merah, tawanya mereda. "Paling-paling dia dicincang sama Jayden, lo harus ke rumah sakit pulang sekolah nanti, Gav. Liat keadaan Jayden kek anak kecil yang habis disunat," celetuk Kai menyela.

Lutut Aluna lemas, ia terduduk di lantai. Mencengkram ujung celana seragam sekolah Sebastian, menengadah dengan kedua mata berkaca-kaca.

"Gu—gue mohon, jangan ka—katakan sama Jayden kalo gue yang seruduk. Gue bakalan lakuin apapun, apapun yang lo dan yang lainnya mau. Tapi, jangan sebutin nama gue, please!" Aluna mulai menangis tersedu-sedu memelas pada Sebastian, menarik-narik ujung celana seragam sekolah Sebastian.

"Hei! Lo apa-apaan sih." Sebastian menarik kakinya dari Aluna, takut sekali celananya merosot karena ulah Aluna.

Kai mendesah kasar, ia kembali duduk di sofa. Melirik ke samping di mana sorot mata aneh Gavino terlihat sekilas, samar-samar Kai merasakan aura membunuh dari Gavino—sahabat gilanya itu. Kai membawa atensi ke depan, di mana Aluna masih berjuang keras membujuk Sebastian untuk tidak mengadukan dirinya pada Jayden. Sementara Sebastian menghindar dari tangan Aluna dan melotot tajam pada kegigihan Aluna, Kai bergidik jijik saat ingus Aluna terjun seperti benang terjalin saat mengenai sepatu mahal Sebastian.

"ALUNA!" teriak Sebastian mundur tiga langkah ke belakang, bergidik jijik melihat sepatunya yang ternodai ingus.

Aluna mengusap hidungnya, air mata di matanya berhenti mengalir karena malu.

Bersambung...

1
Jessica Elvira Aulia
lanjut🙏
Dhanvi Hrieya: 🫶🏻🫶🏻❤️❤️❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!