NovelToon NovelToon
"Transmigrasi: Putri Lemah Berhati Bar-Bar!"

"Transmigrasi: Putri Lemah Berhati Bar-Bar!"

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Fantasi / Transmigrasi ke Dalam Novel
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: acep maulana

PENGUMUMAN PENTING!

Saya Acep Maulana memohon maaf kepada para pembaca. Karena satu dan novel ini akan saya Remake Total.
Saya sadar masih banyak belajar sebagai pemula, dan saya ingin memberikan karya yang lebih layak untuk kalian baca. Versi baru akan segera hadir dengan judul yang sama namun dengan kualitas tulisan yang jauh lebih baik.

Sampai jumpa di versi terbaru yang lebih bar-bar!

‎"Sial beneran! Erika, mantan agen rahasia yang energinya tak habis-habis, malah transmigrasi ke dalam novel tragis menjadi Rosalind von Astride, sang Putri Terbuang yang lemah dan sakit-sakitan!
‎Lebih parahnya lagi, keluarganya adalah kumpulan orang 'Tampan tapi Telmi (Telat Mikir)' yang ditakdirkan hancur total dalam dua tahun. Beruntung, Erika punya Sistem Makan Melon (Gosip) yang bisa membongkar semua rahasia musuh.
‎Sambil menikmati martabak diskon dari Ruang Sistem, Erika bertekad merombak takdir tragis keluarganya. Tapi masalahnya... radio batin Erika ternyata bocor ke seluruh keluarganya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon acep maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 Harapan di Ujung Pedang

​Udara di halaman Panti Asuhan Gema Harapan mendadak terasa begitu berat, seolah oksigen telah dihisap keluar oleh gravitasi yang tidak kasat mata. Langit yang sebelumnya cerah dengan semburat jingga sore, perlahan tertutup oleh awan tipis yang bergerak statis, seolah alam sendiri ikut menahan napas menyaksikan konfrontasi yang mustahil ini.

Para penjaga panti yang tadinya berteriak kasar kini berdiri kaku layaknya patung garam, sementara anak-anak yang bersembunyi di balik jendela yang retak hanya bisa mengintip dengan mata gemetar, menyaksikan pemandangan yang akan terukir selamanya dalam ingatan mereka.

​Di tengah halaman yang berdebu, Baron Malvin Sandro berdiri dengan wajah yang perlahan-lahan berubah warna. Awalnya, wajah itu penuh dengan guratan keangkuhan dan percaya diri yang meluap-luap. Namun sekarang… wajah itu retak, hancur berkeping-keping di bawah tekanan atmosfer yang mematikan. Tatapannya bergeser dengan patah-patah dari satu sosok ke sosok lain yang baru saja mengepungnya dengan formasi yang sempurna.

​Xanders Wiraatmadja. Sang Putra Mahkota Duke yang dingin.

Julian, sepupunya yang liar.

Lalu… sosok yang membuat jantung Baron hampir berhenti berdetak: Pangeran Pertama Kekaisaran, Risky Pratama.

Tak berhenti di situ, di belakang mereka berdiri Yanuar Mahesa yang tegap, Liandra Dirgantara yang tajam, dan Arga Wicaksana yang misterius.

​Bukan hanya satu ancaman. Ini adalah enam. Enam pewaris kekuatan dari keluarga-keluarga besar yang memegang pilar kekaisaran.

​[Batin Baron Malvin Sandro Harapan di Ujung Pedang:]

"Apa ini… kebetulan? Tidak… tidak mungkin. Anak Duke Xanders di sini? Dan sepupunya Julian? Bahkan… Pangeran Pertama Kekaisaran? Kenapa mereka berkumpul di tempat kumuh seperti ini hanya untuk membela tumpukan kayu lapuk dan anak-anak yatim tidak berguna?!"

​Setetes keringat dingin mengalir di pelipisnya, meluncur jatuh ke kerah sutranya yang mahal. Ia mencoba tetap berdiri tegak, memaksakan kakinya yang gemetar untuk tidak bertekuk lutut. Namun instingnya—insting seekor tikus yang terpojok oleh sekumpulan singa—berteriak dengan sangat kencang. Bahaya. Ini bukan sekadar bahaya biasa yang bisa diselesaikan dengan uang atau koneksi politik. Ini adalah kehancuran total jika ia salah mengambil langkah satu inci saja.

​Di sisi lain halaman, Ibu Sarah, sang pemilik panti, berdiri dengan tubuh yang gemetar hebat. Tangannya yang keriput saling menggenggam kuat di depan dada, seolah-olah ia sedang memegang satu-satunya harapan yang tersisa di dunia ini. Matanya yang sudah mulai kabur oleh usia kini berkaca-kaca, terombang-ambing antara rasa takut yang amat sangat dan ketidakpercayaan yang luar biasa.

​[Batin Pemilik Panti:]

"Ini… ini tidak mungkin… mereka semua… anak-anak bangsawan tingkat tinggi yang biasanya hanya bisa kulihat di kejauhan saat perayaan kekaisaran… Kenapa mereka datang ke sini, ke tempat yang bahkan dilupakan oleh peta? Apakah… apakah Tuhan akhirnya mendengar doa-doa kami yang selama ini hanya menguap ke langit? Tapi… jika mereka marah dan melepaskan kekuatan mereka… panti ini bisa hancur dalam sekejap bersama kami di dalamnya…"

​Ia menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa kering dan perih. Tubuhnya ingin sekali berlutut untuk menghormati kehadiran sang Pangeran, namun kakinya seolah telah menyatu dengan tanah, tak mampu bergerak sedikit pun.

​Di belakang pilar kayu yang mulai membusuk, Lily berdiri kaku. Gadis kecil itu menggenggam ujung bajunya yang kasar hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya yang besar menatap Xanders… lalu beralih ke Julian… lalu ke sosok-sosok lainnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Jantungnya berdetak begitu cepat, seolah-olah ingin melompat keluar dari dadanya yang tipis.

​[Batin Lily:]

"Itu mereka… orang-orang yang Kak Martha lindungi selama ini… orang-orang hebat yang sering Kakak ceritakan dalam surat-suratnya. Mereka semua datang… Tapi… kenapa rasanya malah semakin menakutkan? Suasana ini… seperti badai yang akan meledak. Kalau mereka bertarung di sini… panti ini… impian Kak Martha untuk menjemput ku… semuanya bisa hancur menjadi abu. Kak… aku takut sekali…"

​Ia menggigit bibir bawahnya hingga terasa perih. Namun di balik rasa takut yang melumpuhkan itu, ada sebuah percikan harapan kecil yang mulai menghangat di hatinya. Harapan bahwa mungkin, kali ini, keadilan tidak akan memalingkan wajahnya dari mereka.

​Langkah kaki yang ringan namun tegas terdengar memecah kesunyian. Xanders maju satu langkah ke depan. Tatapannya sedingin es di puncak pegunungan utara. Ia tidak tampak marah, tidak terlihat terburu-buru untuk mencabut pedangnya. Namun justru ketenangan itulah yang membuatnya terasa lebih mengerikan daripada iblis mana pun. Aura tekanan atau inten yang keluar dari tubuhnya membuat udara di sekitar Baron Malvin seperti menekan dada, memaksa jantung pria tambun itu bekerja dua kali lebih keras hanya untuk mendapatkan oksigen.

​[Batin Xanders:]

"Dia berani menyentuh tempat ini… tempat yang dilindungi oleh batin adikku… berarti dia sudah siap menanggung akibat paling pahit. Tidak perlu banyak kata atau negosiasi basi. Orang serakah seperti dia hanya mengerti satu bahasa universal di dunia ini—kekuatan yang menghancurkan."

​Xanders berhenti tepat beberapa meter di depan Baron Malvin Sandro. Ia menatap lurus ke dalam mata Baron yang mulai goyah. Lalu, ia berkata dengan suara datar yang menggema di seluruh halaman panti.

​“Baron Malvin Sandro… kau punya dua pilihan yang akan menentukan nasib seluruh klanmu hari ini.”

​Suaranya tenang, sangat tenang. Namun setiap kata yang keluar terasa seberat gunung yang siap menghimpit.

​“Menyerah… atau bertarung.”

​Julian tersenyum tipis, sebuah seringai yang lebih mirip dengan seringai serigala yang telah mengunci mangsanya. Ia melangkah ke samping Xanders dengan gaya yang santai namun penuh dengan ancaman yang tersirat dalam setiap jengkal gerakannya. Aura yang ia keluarkan berbeda dengan Xanders; aura Julian lebih liar, lebih tajam, seperti mata pedang yang sudah menempel di leher lawan dan hanya menunggu perintah untuk menebas.

​[Batin Julian:]

"Akhirnya ada sedikit hiburan di tengah hari yang membosankan ini… Tapi kalau babi gemuk ini memilih untuk bertarung, dia benar-benar bodoh. Sangat bodoh. Bahkan tanpa aku harus mengotori tanganku, Xanders sudah cukup untuk meratakannya dengan tanah. Aku hanya ingin melihat ekspresi putus asanya."

​Ia menatap Baron dengan mata yang sedikit menyipit, penuh dengan ejekan.

Rosalind ​“Kalau kau cukup pintar untuk ukuran orang yang hanya tahu cara memeras rakyat, kau sudah berlutut dan mencium tanah sekarang,” nada suaranya ringan, hampir seperti gurauan, tapi penuh dengan racun ancaman. “Jadi, Baron… bagaimana? Menyerah… atau bertarung?”

​Langkah kaki yang berat dan berwibawa terdengar dari sisi lain, memecah perhatian Baron yang sudah hampir hancur. Pangeran Pertama, Risky Pratama, maju ke depan. Aura yang ia bawa benar-benar berbeda dari yang lain. Tenang, namun… absolut. Seperti seseorang yang terlahir untuk memerintah hidup dan mati jutaan orang. Semua orang, termasuk para tentara sewaan Baron, tanpa sadar menundukkan pandangan saat sang Pangeran bergerak.

​[Batin Risky Pratama:]

"Ini benar-benar menyusahkan. Mengurus panti asuhan kecil seperti ini di wilayah Duke… tapi masalah yang ditimbulkannya bisa menjadi noda besar bagi kekaisaran jika dibiarkan. Jika pria ini cukup gila untuk melawan… aku harus memastikan semuanya selesai dalam satu tarikan napas. Aku tidak punya waktu untuk drama rendahan."

​Ia menatap Baron dengan pandangan dingin yang menghakimi.

​“Keputusan yang kau ambil saat ini akan menentukan apakah kau masih diperbolehkan untuk bernapas setelah matahari terbenam hari ini,” suaranya rendah, namun efeknya seperti palu godam yang menghantam fondasi mental Baron.

​“Menyerah… atau bertarung.”

​Yanuar Mahesa melangkah maju berikutnya. Tubuhnya yang tegap dan berotot tampak seperti tembok baja yang mustahil untuk ditembus. Tatapannya tajam dan liar seperti harimau yang siap menerkam. Aura kekuatan fisik yang murni dan besar terasa jelas memancar dari dirinya, membuat tanah di bawah kakinya seolah-olah bergetar halus.

​[Batin Yanuar Mahesa:]

"Kalau dia memilih bertarung… itu berita bagus buatku. Sudah terlalu lama aku tidak menghajar seseorang yang memang pantas untuk dihancurkan seluruh tulangnya. Aku butuh pemanasan sebelum kembali ke ibu kota."

​Ia mengepalkan tangannya dengan kuat. Suara retakan kecil dari buku jarinya terdengar jelas di tengah kesunyian yang mencekam.

​“Jangan buang-buang waktu berhargaku hanya untuk melihatmu gemetar seperti jelly,” tatapannya menusuk tajam ke arah Baron. “Pilih dengan cepat. Menyerah… atau bertarung.”

​Liandra Dirgantara melangkah maju dengan gerakan yang sangat anggun, seolah-olah ia sedang berjalan di aula pesta dansa istana, bukan di halaman panti asuhan yang berdebu. Rambutnya bergerak pelan tertiup angin sore yang dingin. Aura yang ia pancarkan adalah aura elegan… namun sangat berbahaya. Seperti badai besar yang sedang terperangkap dalam botol kaca, menunggu untuk dilepaskan.

​[Batin Liandra Dirgantara:]

"Situasi ini bisa berakhir dalam satu detik jika dia memiliki sedikit saja akal sehat… atau bisa menjadi kekacauan berdarah jika keangkuhannya lebih besar dari insting bertahan hidupnya. Semua tergantung pada pilihan pria malang itu."

​Ia menatap Baron dengan mata yang tenang namun mematikan.

​“Kesempatan untuk meminta maaf dan tetap hidup tidak akan datang dua kali dalam satu takdir,” suaranya lembut, namun setiap kata mengandung ketegasan yang mutlak. “Menyerah… atau bertarung.”

​Terakhir, Arga Wicaksana melangkah maju untuk menutup formasi pengepungan tersebut. Langkahnya terlihat santai, namun matanya menatap dengan keseriusan yang mendalam. Seperti seseorang yang sudah melihat terlalu banyak pertempuran dan tahu persis bagaimana cara mengakhiri hidup seseorang dengan cara yang paling efisien.

​[Batin Arga Wicaksana:]

"Dia pasti bisa merasakan tekanan ini… tekanan yang sanggup meremukkan mental ksatria tingkat tinggi sekalipun. Kalau dia masih nekat melakukan perlawanan, berarti dia bukan sekadar bodoh… tapi dia sudah benar-benar putus asa dan kehilangan akal sehatnya."

​Ia menghela napas pendek, lalu menatap lurus ke arah mata Baron Malvin yang sudah berkaca-kaca oleh ketakutan.

​“Ini bukan pertarungan yang bisa kau menangkan, bahkan jika kau membawa seluruh tentara bayaran di kerajaan ini,” nada suaranya datar, tanpa emosi sedikit pun, yang justru membuatnya terasa semakin mengerikan. “Menyerah… atau bertarung.”

​Sunyi. Benar-benar sunyi yang menyakitkan.

​Hanya suara angin sore yang berbisik pelan di antara bangunan-bangunan tua panti asuhan yang terdengar. Baron Malvin Sandro berdiri mematung di tengah-tengah tekanan yang luar biasa dahsyat. Enam arah. Enam tekanan batin yang berbeda karakter namun memiliki satu tujuan yang sama. Semuanya mengarah ke satu hal yang pasti: Kehancuran total bagi dirinya dan seluruh klannya.

​Tangannya mulai bergetar tak terkendali. Kakinya terasa seberat timah, seolah-olah gravitasi di tempat ia berdiri telah meningkat seribu kali lipat. Namun harga dirinya sebagai seorang bangsawan—harga diri yang dibangun di atas penderitaan orang lain—masih mencoba untuk bertahan di antara puing-puing keberaniannya.

​[Batin Baron Malvin Sandro:]

"Menyerah… menyerah begitu saja di depan mereka semua…? Jika berita ini sampai ke ibu kota, aku akan menjadi bahan tertawaan selamanya. Tapi… kalau aku memilih bertarung… aku tidak hanya akan mati, aku akan dihapuskan dari sejarah kekaisaran ini oleh tangan sang Pangeran sendiri… Sial! Kenapa harus hari ini?! Kenapa di tempat sampah seperti ini mereka semua harus berkumpul?!"

​Matanya bergerak cepat ke arah para tentara sewaannya, namun ia hanya melihat wajah-wajah yang jauh lebih ketakutan darinya. Bahkan para ksatria bayarannya sudah mulai menurunkan senjata mereka perlahan-lahan. Semua jalur pelarian telah tertutup rapat. Tidak ada celah, tidak ada ruang untuk bernegosiasi.

​Di belakang pilar, Lily menahan napasnya hingga dadanya terasa sakit. Matanya tak lepas dari sosok Baron yang tampak semakin kecil dan menyedihkan di depan para pahlawan itu.

​[Batin Lily:]

"Tolong… menyerah saja… jangan bertarung… aku tidak mau melihat darah mengotori rumah kami… aku tidak mau ada yang terluka lagi… Biarkan Kak Martha pulang ke tempat yang damai ini…"

​Ibu Sarah, sang pemilik panti, menutup matanya rapat-rapat. Bibirnya komat-kamit merapalkan doa dalam diam, memohon agar badai ini segera berlalu tanpa membawa nyawa.

​Sementara itu, Xanders tetap berdiri dengan ketenangan yang absolut. Tatapannya tidak berubah sedikit pun sejak awal. Tidak ada rasa kasihan di matanya, tidak ada keraguan, tidak ada kebencian yang meledak-ledak. Ia hanya menunggu. Menunggu sebuah keputusan. Keputusan yang akan menentukan apakah halaman panti asuhan ini akan menjadi tempat penebusan dosa atau akan menjadi kuburan massal bagi Baron dan pengikutnya.

​Angin mendadak berhenti berhembus. Seolah-olah dunia sendiri sedang menahan napas menunggu satu jawaban terakhir.

​Di bawah tatapan tajam sang Pangeran, kemarahan Xanders yang dingin, dan kesiapan tempur kawan-kawannya, Baron Malvin Sandro akhirnya membuka mulutnya yang kering. Tenggorokannya bergerak naik turun, berusaha mengeluarkan suara di tengah cekikan aura yang menghancurkan.

​Namun… apakah yang akan keluar dari bibir yang gemetar itu adalah sebuah kata penyerahan diri yang menghinakan? Ataukah sebuah tantangan konyol yang akan mengantarkannya langsung ke gerbang kematian yang menyakitkan?

1
Manusia Ikan
sistem b like :
Manusia Ikan
ooh ada sistem nya😏👍
Manusia Ikan
bro kena mag :v
Manusia Ikan
jangan remehkan kekuatan dari lantai yang licin di kamar mandi😂
Manusia Ikan
ah biasa ini mah😏
Rina Yuli
celana dalam lagi 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Rina Yuli
urusan celana dalam pakek mau dibongkar segala lagi 🤣🤣🤣🤣🤣
Rina Yuli: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
acep maulana
sama 2 kk maaf kalau cerita sebelumnya saya hapus 🤣🤣🤣🤣
acep maulana: rekomendasi untuk bab berikutnya hehehe
total 2 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Manusia Ikan: hadir thor
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!