NovelToon NovelToon
Perlindungan Terakhir (Zaman Es)

Perlindungan Terakhir (Zaman Es)

Status: sedang berlangsung
Genre:Hari Kiamat / Horror Thriller-Horror / Epik Petualangan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Thinkziam

Juni 2026
----
Aktivitas matahari menurun drastis. Zona es meluas dari kutub hingga mencapai Indonesia. Jakarta membeku dalam suhu minus belasan derajat, hukum dan negara runtuh, dan manusia saling berburu untuk bertahan hidup. Di tengah kiamat Es itulah Arka, seorang pemuda jenius tapi pemalas , mati dikhianati tunangannya sendiri. Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terbangun satu tahun sebelum bencana, dengan ingatan penuh akan enam bulan neraka yang telah ia lalui. Kini, dengan memanfaatkan pengetahuannya tentang masa depan, bisakah arka bertahan hidup di dunia tanpa hukum, di mana siapa kuat dia berkuasa saat ini ? ...

----

~ Jika waktu bisa mundur 1 tahun dari saat ini, Apa yg akan kamu lakukan? ~
----
@ThinkzIam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thinkziam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Pintu bunker terbuka. Bukan dari dalam. Dari luar. Pintu baja itu didobrak dengan ledakan kecil. Arka tersentak bangun dari kursi ruang kontrol. Di monitor, putih berganti hitam. Kamera mati.

Pratama sudah berdiri dengan pistol. “Mereka pakai bahan peledak.”

Arka meraih senjatanya. “Berapa banyak?”

“Tidak tahu. Tapi tidak mungkin sedikit.”

Dari lorong utama, suara langkah kaki. Banyak. Teratur. Bukan seperti gerombolan liar kemarin. Ini barisan.

Arka mematikan lampu darurat. Gelap total.

Suara laki-laki dari ujung lorong. Dalam. Tenang. “Kami tidak datang untuk membunuh. Kami datang untuk mengambil alih. Kalian menyerah, kalian hidup.”

Arka tidak menjawab.

“Saya hitung sampai tiga.”

“Satu.”

Arka berbisik ke Pratama, “Dia Komandan.”

“Dua.”

“Kita tembak bersama. Arah suara.”

“Tiga.”

Dua pistol meletus bersamaan. Sorot api menerangi lorong sesaat. Teriakan. Seseorang jatuh. Balasan tembakan dari arah lain. Arka berguling ke balik rak besi. Peluru bersiul di atas kepalanya.

Pratama pindah posisi. Dua tembakan lagi. Dua teriakan.

“Mundur!” perintah Komandan. Suaranya masih tenang, tidak panik.

Langkah kaki mundur. Sunyi.

Arka menunggu. Satu menit. Dua.

“Mereka tidak pergi,” bisik Pratama.

“Mereka menyusun ulang.”

Dari kejauhan, suara Komandan lagi. “Kalian hebat. Tapi kalian hanya berdua. Saya punya tiga puluh orang. Menyerahlah. Saya janji tidak ada yang terluka.”

Arka berteriak, “Janji Komandan untuk siapa? Badu? Budi? Orang-orang yang kau suruh mati di sini?”

Diam.

“Mereka tidak penting,” kata Komandan. “Kau yang penting. Bunker ini. Stok ini. Bergabunglah. Kita bisa bagi.”

“Kau bisa pergi. Bunker ini milik kami.”

“Sayang sekali.”

Suara langkah kaki mundur lagi. Lebih jauh. Lalu hening yang panjang.

Pratama berbisik, “Mereka pergi?”

“Atau mereka menyiapkan sesuatu.”

Arka berjalan ke ruang medis. Empat tawanan masih terbaring. Budi di antaranya. Lukanya sudah dibalut, tapi masih lemah.

“Kami harus pergi,” kata Arka. “Kalian bebas. Tapi jangan ikut kami. Kalian tahu sendiri apa yang dilakukan Komandan pada anak buah yang gagal.”

Budi menatapnya dengan mata sayu. Tidak menjawab. Yang lain hanya diam.

Arka meninggalkan mereka. Tidak ada waktu untuk memastikan.

Dua jam kemudian, Wawan melihat di monitor yang tersisa. Kamera pintu belakang hotel menampilkan gerakan. Bukan satu atau dua. Puluhan. Mereka naik ke atap hotel.

“Mereka mau masuk dari atas,” kata Wawan.

Arka melihat peta. Hotel tiga lantai. Atap terhubung ke bunker melalui lubang ventilasi. Lubang itu terlalu kecil untuk orang dewasa. Tapi cukup untuk memasukkan sesuatu.

“Bahan peledak,” kata Pratama. “Mereka mau meruntuhkan atap bunker.”

Arka merasakan dingin menjalari punggung. “Kita harus keluar. Sekarang.”

“Ke mana?”

“Ke stasiun. Lewat terowongan. Kita serang dari belakang.”

Arka memanggil semua orang. “Kita tinggalkan bunker. Bawa hanya yang penting. Makanan, air, obat, senjata. Wawan, matikan semua listrik. Rina, bawa benih. Dewi, obat. Umar, kamu bantu Pratama.”

Umar menggenggam obengnya. “Kita ke mana?”

“Ke stasiun. Lalu ke Kebayoran.”

Mata Umar membesar. “Sekarang?”

“Sekarang.”

Mereka bergerak cepat. Terowongan gelap, senter hanya satu untuk semua. Di belakang, suara letupan dari bunker. Komandan dan anak buahnya masuk.

Arka tidak menoleh. Tidak ada waktu.

Di stasiun Sudirman, mereka berhenti. Arka membuka peta. “Kebayoran delapan kilometer. Lewat jalur MRT. Kita bisa sampai dalam dua jam.”

“Dan setelah itu?” tanya Dewi.

“Kita cari tempat aman. Cari kelompok lain yang melawan Komandan.”

Umar berkata, “Keluarganya... mereka di Kebayoran. Aku harus cari.”

“Kita cari bersama.”

Mereka berjalan menyusuri rel. Gelap. Dingin. Sunyi. Sesekali, dari kejauhan, suara letupan dari arah bunker. Komandan pasti marah karena bunker kosong.

Pratama berbisik ke Arka, “Kita tinggalkan semuanya.”

“Kita tinggalkan bunker. Bukan semuanya. Kita masih punya tim. Kita masih punya stok. Kita masih punya hidup.”

“Dan Komandan?”

“Dia akan mengejar. Tapi kita akan siap.”

Arka berjalan di depan, pistol di tangan, mata menatap gelap. Di belakangnya, lima orang mengikuti. Tidak ada yang menoleh ke belakang.

Mereka meninggalkan bunker yang menjadi rumah selama berbulan-bulan. Meninggalkan dinding baja, rak stok, ruang tanam, ruang medis. Meninggalkan kenangan tentang aman yang semu.

Tapi mereka tidak meninggalkan harapan.

1
Nadja 🎀
hm... seru jg tp ulang² ttg bunker ? tp gpp semangat ya nulisnya!
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Gak bisa tidur... 😁
Jack Strom
Hmmm 🤔
Jack Strom
Tikus² got... 😁
Jack Strom
Ih... Ngeri aku!!! 😁
Jack Strom
Wow... 😁
Jack Strom
Waduh... Mengerikan!!! 😁
Jack Strom
Wow... Mulai merinding nih... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Seru cok!!! 😁
Jack Strom
Semangat... Cemangat!!! 😁
Jack Strom
Oh... Gitu!!! 😁
Jack Strom
🤔 Jika fisik Arka lebih kuat, Jika Arka punya skill bertahan hidup, jika Arka secepatnya menikahi Sari, jika Sari tidak kelaparan, jika Andre dan Toni tidak jumpa dengan Sari... Mungkin ceritanya beda, mungkin Sari tidak mengkhianati Arka... Mungkin!!? 🤔
Sudahlah... Siapa yang tau jalan pemikiran sang Author??? 😁
Jack Strom
Jika statnya beda, mungkin kejadiannya berbeda juga... 😁
Jack Strom
💪💪💪 SEMANGAT!!! 😁
Jack Strom
Jejak di atas salju tertinggal... 😁
erlang2402
macam kenal alur nya
Thinkziam: Hmm.. novel/manga sejenis emng banyak.. kk.
total 1 replies
Mauizatul Hasanah
coba dulu
alan32439
manarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!