NovelToon NovelToon
Kembali Sebelum Penghianatan

Kembali Sebelum Penghianatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Reinkarnasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nurizatul Hasana

Lisa Yang adalah wanita lembut yang percaya pada cinta. Ia menikah dengan pria yang ia cintai sepenuh hati, Arvin Pratama.
Namun pernikahan yang ia kira akan menjadi kebahagiaan justru berubah menjadi neraka.
Suaminya berubah menjadi pria dingin dan kejam. Lebih menyakitkan lagi, sahabatnya sendiri sejak kecil—Clara—ternyata adalah selingkuhan suaminya.
Selama bertahun-tahun Lisa dipermalukan, dimanfaatkan, dan diperlakukan seperti pembantu di rumahnya sendiri.
Pada akhirnya pengkhianatan itu mencapai puncaknya.
Lisa dibunuh oleh suaminya sendiri bersama sahabatnya demi merebut seluruh warisannya.
Saat napas terakhirnya hilang, Lisa bersumpah dalam hatinya.
"Jika aku diberi kesempatan hidup lagi... aku akan menghancurkan kalian berdua."
Namun keajaiban terjadi.
Lisa membuka mata dan menyadari dirinya kembali ke masa tiga tahun sebelum pernikahannya.
Kali ini Lisa tidak akan menjadi wanita bodoh yang sama.
Ia akan membalas semua pengkhianatan.
Dan dalam rencananya, ia mulai mendekati se

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 Permainan Yang Selalu Mengikat

Pertemuan antara Lisa dan Clara di lounge lantai atas tidak lagi terasa seperti percakapan dua sahabat lama, melainkan seperti duel tanpa senjata yang berlangsung dalam diam, di mana setiap kata menjadi ujian dan setiap jeda menjadi tekanan yang perlahan mengikis pertahanan, sementara Lisa duduk dengan sikap tenang yang nyaris tidak berubah sejak awal, seolah semua pertanyaan yang diajukan Clara sudah ia prediksi bahkan sebelum wanita itu mengucapkannya.

Clara menatap Lisa dengan lebih dalam, mencoba membaca sesuatu yang selama ini selalu ia pahami dengan mudah, namun kali ini ia menemukan sesuatu yang berbeda, sesuatu yang tidak lagi transparan seperti dulu, dan itu membuatnya merasa tidak nyaman.

“Kamu berubah,” kata Clara akhirnya, nada suaranya tidak lagi ringan.

Lisa tersenyum tipis, tidak menyangkal.

“Semua orang berubah,” jawabnya pelan, “atau mungkin… aku hanya berhenti berpura-pura.”

Kalimat itu membuat Clara sedikit mengernyit.

“Berpura-pura tentang apa?” tanyanya.

Lisa menyandarkan tubuhnya dengan santai, matanya tetap tertuju pada Clara tanpa sedikit pun ragu.

“Berpura-pura tidak melihat hal-hal yang sebenarnya sudah jelas,” katanya.

Clara terdiam.

Untuk sesaat…

Ia tidak tahu harus menjawab apa.

Namun ia segera menguasai dirinya kembali.

“Kamu bicara seolah aku menyembunyikan sesuatu,” katanya dengan nada yang mulai lebih tajam.

Lisa tidak langsung menjawab.

Ia justru menatap Clara lebih lama.

Lalu berkata dengan tenang…

“Bukankah kamu memang begitu?”

Pertanyaan itu seperti pisau tipis yang menyentuh tepat di permukaan.

Tidak melukai secara langsung.

Namun cukup untuk membuat Clara merasakan tekanan yang nyata.

“Kamu mulai berlebihan,” kata Clara, mencoba mengalihkan arah.

Lisa tersenyum.

“Atau kamu mulai merasa tidak nyaman?” balasnya.

Keheningan kembali muncul.

Namun kali ini…

Lebih berat.

Clara menarik napas pelan, lalu berkata dengan nada yang lebih terkendali, “Lisa, kalau ada sesuatu yang ingin kamu katakan… katakan saja langsung.”

Lisa sedikit memiringkan kepalanya.

“Kalau aku mengatakan semuanya sekarang…” katanya pelan, “apa kamu siap mendengarnya?”

Clara menatapnya tanpa berkedip.

“Aku selalu siap,” jawabnya.

Lisa tersenyum.

Namun senyum itu…

Tidak hangat.

“Sayangnya…” lanjutnya, “aku tidak ingin mengakhirinya secepat itu.”

Kalimat itu membuat Clara benar-benar terdiam.

Karena untuk pertama kalinya…

Ia menyadari sesuatu yang sangat jelas.

Lisa tidak sedang mencari jawaban.

Lisa sedang bermain.

Dan itu berarti…

Semua yang terjadi sekarang hanyalah permulaan.

Di tempat lain, suasana di lounge eksklusif tempat Devan dan Luna bertemu juga tidak kalah intens, meskipun terlihat lebih santai di permukaan, karena Luna yang terbiasa mengendalikan situasi dengan pesona dan permainan kata-katanya kini justru menemukan lawan yang tidak mudah terpengaruh, seseorang yang tidak bereaksi seperti pria-pria lain yang biasa ia hadapi.

“Kamu tidak banyak bicara,” kata Luna sambil menyilangkan kakinya dengan anggun.

Devan menatapnya sekilas.

“Aku hanya bicara kalau perlu,” jawabnya.

Luna tersenyum.

“Dan sekarang?” tanyanya.

Devan sedikit condong ke depan.

“Sekarang aku ingin tahu satu hal,” katanya.

Luna mengangkat alis.

“Apa?”

Devan menatapnya lebih dalam.

“Seberapa jauh kamu bersedia melangkah untuk menang?” tanyanya.

Pertanyaan itu membuat Luna terdiam sejenak.

Namun kemudian ia tertawa kecil.

“Sejauh yang diperlukan,” jawabnya tanpa ragu.

Devan mengangguk pelan.

“Bagus,” katanya.

Luna memperhatikan reaksinya.

“Kenapa?” tanyanya.

Devan menyandarkan tubuhnya.

“Karena itu berarti kamu akan tetap berada di dalam permainan,” katanya.

Luna tersenyum.

“Dan kamu?” tanyanya balik.

Devan tidak langsung menjawab.

Namun matanya menunjukkan sesuatu yang jelas.

“Aku tidak pernah keluar dari permainan,” katanya pelan.

Kembali ke kantor…

Pertemuan Lisa dan Clara akhirnya mencapai titik di mana tidak ada lagi percakapan ringan yang bisa menutupi ketegangan yang sebenarnya, dan Clara yang mulai merasa kehilangan kendali atas arah pembicaraan akhirnya berdiri dari kursinya, gerakannya tidak terlalu cepat namun cukup menunjukkan bahwa ia tidak ingin berada di posisi ini lebih lama.

“Aku tidak tahu apa yang kamu rencanakan,” kata Clara, “tapi kalau ini tentang kita… kamu sedang membuatnya jadi lebih rumit.”

Lisa tetap duduk.

Tatapannya tenang.

“Yang membuatnya rumit bukan aku,” jawabnya, “tapi apa yang kamu lakukan.”

Clara mengerutkan kening.

“Kamu menuduhku?” tanyanya.

Lisa berdiri perlahan.

Jarak di antara mereka kini lebih dekat.

Namun justru terasa lebih dingin.

“Aku tidak perlu menuduh,” katanya pelan, “aku hanya perlu menunggu kamu menunjukkan semuanya sendiri.”

Kalimat itu seperti ancaman yang dibungkus dengan ketenangan.

Clara menatap Lisa beberapa detik lebih lama.

Lalu tersenyum tipis.

Namun senyum itu…

Tidak lagi tulus.

“Kalau begitu kita lihat siapa yang lebih dulu kehabisan waktu,” katanya.

Lisa membalas dengan senyum yang sama tipisnya.

“Aku tidak pernah terburu-buru,” jawabnya.

Clara tidak berkata apa-apa lagi.

Ia berbalik.

Dan pergi.

Namun langkahnya tidak lagi seringan biasanya.

Di luar gedung, Clara masuk ke dalam mobilnya dengan ekspresi yang jauh lebih gelap dari sebelumnya, dan begitu pintu tertutup, ia langsung mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.

“Luna,” katanya begitu panggilan tersambung.

“Aku lagi sama dia tadi,” jawab Luna santai.

Clara tidak tertarik dengan basa-basi.

“Kita harus bergerak lebih cepat,” katanya.

Luna terdiam sejenak.

“Secepat apa?” tanyanya.

Clara menatap ke depan dengan mata yang dingin.

“Buat Devan menjauh dari Lisa,” katanya tegas.

Luna tersenyum tipis di seberang sana.

“Itu tidak akan mudah,” jawabnya.

Clara tidak ragu.

“Aku tidak minta mudah,” katanya, “aku minta berhasil.”

Sementara itu…

Di dalam kantor, Lisa kembali ke ruangannya dengan langkah tenang, seolah pertemuan tadi tidak meninggalkan beban apa pun, namun begitu pintu tertutup, ekspresinya berubah sedikit—bukan menjadi lemah, melainkan menjadi lebih tajam, lebih fokus, seperti seseorang yang baru saja memastikan bahwa langkah pertama telah berhasil.

Ia berjalan menuju mejanya, lalu duduk dan mengambil ponselnya.

Beberapa detik ia menatap layar kosong.

Lalu mengetik sebuah pesan.

Untuk Devan.

> Dia mulai bergerak.

Pesan itu terkirim.

Dan tidak lama kemudian…

Balasan datang.

> Bagus. Itu yang kita butuhkan.

Lisa tersenyum tipis.

Namun senyum itu…

Mengandung sesuatu yang lebih dalam.

Karena ia tahu sekarang…

Semua orang sudah mulai masuk ke dalam permainan yang sama.

Dan tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar menyadari bahwa setiap langkah yang mereka ambil…

Sudah berada dalam kendalinya.

Lisa menyandarkan tubuhnya di kursi, matanya menatap ke arah jendela dengan sorot yang tidak lagi ragu.

“Sekarang…” gumamnya pelan.

Jari-jarinya mengetuk meja dengan ritme ringan.

“Ayo kita lihat… siapa yang bertahan paling lama.”

Dan di luar sana…

Permainan itu tidak lagi tentang siapa yang benar atau salah.

Melainkan tentang siapa yang lebih kuat…

Untuk menghancurkan yang lain terlebih dahulu. 🔥

1
Su Darno
blm ada ending nya msh penasaran thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!