Cinta tidak selalu datang dengan gemuruh.
Kadang ia tumbuh perlahan—seperti pucuk kecil yang bertahan di antara badai.
Arga adalah pria yang belajar mencintai melalui tanggung jawab. Ia percaya pernikahan bukan tentang romantika yang riuh, melainkan komitmen yang dijaga diam-diam, hari demi hari. Sementara Nara adalah perempuan yang membawa harapan di balik luka masa lalu—ia ingin dicintai sepenuhnya, tanpa ragu dan tanpa setengah hati.
Pertemuan mereka sederhana, namun keputusan untuk menikah mengubah segalanya. Di balik janji suci, ada perbedaan cara berpikir, ketakutan yang tak terucap, dan realitas hidup yang tak selalu sejalan dengan harapan. Mereka belajar bahwa cinta setelah pernikahan bukan hanya tentang saling memiliki, tetapi tentang saling memahami—bahkan ketika kecewa, bahkan ketika lelah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisi Lembut yang Tersembunyi
Nara masih gemeteran pas mereka jalan balik ke motor. Bayangan surat kontrak itu kesebar di internet bener-bener bikin dunianya gelap. Dia ngebayangin gimana kalau semua orang menghujatnya, gimana kalau Arga harus turun dari jabatannya gara-gara skandal ini.
"Ga, mending gue balik ke kontrakan lama gue aja. Kalau gue masih sama lo, wartawan bakal terus-terusan nyerang lo," bisik Nara pas mereka udah nyampe di depan motor gede Arga.
Arga nggak jawab. Dia malah narik bahu Nara supaya hadap-hadapan sama dia. Tangannya yang gede nangkup pipi Nara yang dingin banget karena panik.
"Nara, liat mata gue," suara Arga rendah, pelan banget tapi nusuk ke hati. "Gue bawa lo ke sini buat liat sisi asli gue. Dan sisi asli gue nggak pernah ninggalin orang yang udah bikin gue ngerasa hidup lagi."
Arga ngelepas jaket kulitnya, terus dia pakaikan ke Nara yang badannya makin menggigil karena takut. Baunya Arga yang khas langsung meluk tubuh Nara, bikin dia ngerasa sedikit lebih tenang di tengah badai.
"Tapi surat itu... Rio bener-bener mau hancurin kita, Ga," keluh Nara lagi.
"Rio cuma bisa nyerang kertas, Nara. Dia nggak bisa nyerang apa yang gue rasain sekarang," Arga nunduk, terus nempel keningnya ke kening Nara. "Sisi lembut gue ini... cuma lo yang punya. Dan gue nggak bakal biarin siapa pun ngerusak itu. Paham?"
Nara cuma bisa ngangguk pelan. Dia ngerasa Arga yang sekarang beda banget sama CEO kaku yang pertama kali dia temuin. Di balik ototnya yang keras dan tatapannya yang tajam, ternyata ada cowok yang sebegitu takutnya kehilangan "warna" di hidupnya.
"Kita pulang sekarang. Tapi nggak ke kantor, kita ke rumah utama Papa," kata Arga sambil makein helm ke Nara.
"Hah? Ketemu Pak Surya lagi? Lo mau cari mati?" Nara melongo.
"Nggak. Gue mau kasih tahu dia, kalau anak yang selama ini dia didik jadi robot, sekarang udah punya hati. Dan hati itu milih lo. Kalau Papa mau pecat gue, silakan. Gue udah nggak peduli sama jas mahal itu lagi," Arga naik ke motor, terus narik tangan Nara buat meluk pinggangnya kencang-kencang.
Motor itu melesat lagi, membelah jalanan dengan kecepatan tinggi. Sesampainya di rumah utama Pak Surya yang gedenya kayak istana, Arga nggak ngetuk pintu. Dia langsung masuk, narik tangan Nara dengan langkah mantap. Di ruang tengah, Pak Surya udah duduk sambil megang tablet yang nampilin berita soal kontrak pernikahan mereka.
"Bagus. Kamu bener-bener bikin malu keluarga, Arga," kata Pak Surya tanpa nengok, suaranya dingin kayak es.
Arga berhenti tepat di depan papanya. "Papa mau bahas soal malu? Atau mau bahas soal gimana Papa paksa saya jadi orang lain selama tiga puluh tahun?"
Nara cuma bisa nahan napas, tangannya gemeteran dalam genggaman Arga. Tapi Arga nggak ngelepasin. Dia malah makin ngeratin genggamannya.
"Kontrak itu emang ada, Pa. Tapi kontrak itu udah saya bakar di hati saya sejak saya sadar kalau saya cinta sama Nara. Jadi kalau Papa mau ambil semua jabatan saya, ambil sekarang. Tapi jangan pernah sebut nama Nara sebagai alasan kegagalan saya," tegas Arga.
Pak Surya akhirnya nengok, matanya yang tajam natap Arga lama banget. Hening. Suasana di ruangan itu bener-bener mencekam.
"Kamu... beneran mau lepasin semuanya demi dia?" tanya Pak Surya pelan.
"Semuanya," jawab Arga tanpa ragu sedetik pun.
Nara ngerasa air matanya netes. Dia nggak nyangka Arga bakal sejauh ini. Sisi lembut yang tadi dia liat di rumah kayu kakeknya, sekarang berubah jadi kekuatan yang luar biasa buat ngelawan dunia. Pak Surya cuma diem, natap anaknya kayak baru pertama kali kenal.
---
Nara menahan isak tangisnya, matanya nggak lepas dari punggung tegap Arga yang berdiri membelanya habis-habisan di depan sosok paling berkuasa di hidupnya. Selama ini, Nara cuma tahu Arga itu kaku, dingin, dan selalu mikir pakai logika. Tapi malam ini, di depan ayahnya sendiri, Arga berubah jadi perisai yang nggak bisa ditembus.
Pak Surya berdiri pelan dari kursi kebesarannya. Langkah kakinya yang berat bergema di lantai marmer, bikin suasana makin tegang. Dia jalan mendekat sampai jaraknya cuma satu meter dari Arga dan Nara.
"Kamu bilang... kamu bakal lepasin semuanya?" tanya Pak Surya lagi, suaranya pelan tapi bergetar hebat. "Jabatan CEO, saham perusahaan, warisan keluarga... kamu tukar sama satu wanita yang baru masuk ke hidup kamu lewat selembar kertas?"
"Iya," jawab Arga tanpa jeda. Genggamannya di tangan Nara makin kuat, seolah mau ngasih tahu kalau pilihannya nggak bakal berubah sampai kapan pun. "Karena selama tiga puluh tahun ini Papa kasih saya semuanya, kecuali kebahagiaan. Dan Nara... dia satu-satunya yang bisa kasih itu tanpa minta imbalan apa pun."
Nara merasa hatinya bergetar. Dia meremas ujung jaket Arga yang masih dia pakai, mencoba mencari kekuatan di tengah badai ini.
Tiba-tiba, Pak Surya mendengus. Bukan dengusan marah, tapi lebih kayak dengusan sinis yang ditujukan buat sesuatu yang lain. Dia melempar tabletnya ke atas meja sofa dengan bunyi *brak* yang cukup keras.
"Rio Pratama itu bener-bener anak ingusan yang nggak tahu diri," gumam Pak Surya tiba-tiba.
Arga sama Nara langsung melongo. Mereka udah siap-siap bakal diusir atau dicoret dari kartu keluarga, tapi reaksi Pak Surya malah di luar prediksi.
"Papa... nggak marah soal kontrak itu?" tanya Arga bingung.
Pak Surya menoleh, menatap Arga dengan mata yang tajam tapi kali ini ada sedikit binar bangga yang tersembunyi. "Papa marah karena kamu main belakang. Papa marah karena kamu ambil risiko sebodoh itu buat hindarin perjodohan. Tapi..."
Pak Surya menjeda kalimatnya, matanya beralih ke Nara. "Tapi Papa jauh lebih marah kalau ada orang luar yang berani nyentuh keluarga Papa pakai cara kotor kayak gitu. Rio pikir dengan nyebarin dokumen pribadi, dia bisa bikin saya malu? Dia salah besar."
Pak Surya merogoh kantong safarinya, mengeluarkan HP, dan langsung menekan satu tombol panggilan cepat.
"Halo? Bayu? Siapin tim hukum paling galak malam ini juga. Saya mau Rio Pratama dapet surat panggilan atas kasus pencurian dokumen, pelanggaran privasi, dan pencemaran nama baik sebelum matahari terbit besok pagi," perintah Pak Surya tegas, suaranya kembali ke mode 'penguasa'.
"Dan satu lagi," lanjut Pak Surya sambil melirik Arga. "Cek semua portofolio keluarga Pratama. Kalau mereka mau main api sama keluarga kita, sekalian aja kita bakar rumah mereka sampai rata sama tanah. Saya mau besok pagi mereka nggak punya modal lagi buat sekadar beli pulsa internet buat posting berita sampah kayak gitu."
Begitu Pak Surya menutup teleponnya, keheningan menyelimuti ruangan itu. Nara merasa kakinya mendadak lemas. Dia hampir aja merosot ke lantai kalau Arga nggak buru-buru merangkul pinggangnya.
"Papa... beneran mau bantuin?" tanya Arga, suaranya agak serak.
Pak Surya nggak menjawab langsung. Dia cuma membenarkan kerah safarinya, lalu berjalan menuju tangga. "Besok jam sembilan pagi, kamu sama Nara harus ada di kantor. Adain konferensi pers. Kamu harus jujur soal kontrak itu, tapi kamu juga harus buktiin kalau kontrak itu sudah nggak ada artinya lagi sekarang."
Pak Surya berhenti di anak tangga pertama, dia menoleh sedikit ke arah Nara. "Dan buat kamu, Nara... lain kali kalau simpen rahasia, simpen yang bener. Jangan taruh di laci yang gampang dicongkel orang suruhan pecundang. Besok, pakai gaun yang paling bagus. Tunjukin ke dunia kalau menantu saya bukan cuma sekadar 'kontrak'."
Setelah Pak Surya hilang di lantai atas, Arga langsung memeluk Nara erat-erat. Dia menenggelamkan wajahnya di leher Nara, menarik napas panjang seolah seluruh beban dunianya baru aja diangkat.
"Gila... gue kira kita bakal diusir beneran," bisik Nara sambil membalas pelukan Arga, air matanya menetes lega di bahu cowok itu.
Arga mencium kening Nara lama banget. "Gue nggak bakal biarin itu terjadi. Sisi lembut gue mungkin cuma buat lo, tapi buat mereka yang coba nyentuh lo... gue bakal tetep jadi robot paling kejam."
Malam itu, di rumah besar yang biasanya terasa dingin, ada kehangatan baru yang tercipta. Perang belum selesai, tapi setidaknya mereka tahu kalau mereka nggak bertarung sendirian. Sisi lembut Arga yang tersembunyi malam ini jadi bukti, kalau cinta emang punya caranya sendiri buat ngeruntuhin tembok paling keras sekalipun.
---
Nara masih berdiri mematung, kepalanya bersandar di dada Arga yang detak jantungnya sekarang sudah jauh lebih tenang. Aroma kayu manis dan sisa-sisa angin gunung dari jaket Arga seolah jadi benteng paling aman buat Nara. Di ruangan semegah ini, yang biasanya cuma berisi tekanan dan tuntutan, Nara akhirnya ngerasain kalau Arga bener-bener pasang badan buat dia.
"Ga... bokap lo beneran nggak apa-apa? Gue ngerasa bersalah banget kalau gara-gara surat itu nama keluarga lo jadi jelek," bisik Nara, suaranya masih agak serak.
Arga ngelepasin pelukannya dikit, terus dia nangkup muka Nara pakai kedua tangannya. Ibu jarinya ngusap sisa air mata di pipi Nara dengan gerakan yang lembut banget—sisi yang nggak bakal pernah dia tunjukin ke klien atau musuh bisnisnya.
"Nara, dengerin gue. Papa itu orangnya pragmatis. Dia mungkin marah soal cara kita, tapi dia lebih benci liat orang luar ngerasa bisa injak-injak harga diri keluarganya. Dengan dia mutusin buat nyerang balik Rio, itu artinya dia udah nerima lo sebagai bagian dari 'wilayah' yang harus dia lindungin," jelas Arga panjang lebar.
Arga nunduk sebentar, nempel keningnya ke kening Nara lagi. "Dan soal nama baik... gue udah nggak peduli. Gue lebih peduli gimana cara gue bisa tidur nyenyak tiap malem tanpa harus takut lo tiba-tiba kabur karena ngerasa terbebani."
Nara senyum tipis, tangan kecilnya megang pergelangan tangan Arga yang kokoh. "Gue nggak bakal kabur, Ga. Setelah liat lo 'ngamuk' kayak tadi demi gue, mana berani gue pergi. Bisa-bisa gue dicariin pakai detektif internasional."
Arga ketawa pelan, tawa yang bener-bener tulus tanpa beban. Dia narik Nara buat jalan pelan ke arah pintu keluar. "Ayo balik ke rumah kita. Kita butuh istirahat total. Besok bakal jadi hari yang panjang, dan gue mau lo kelihatan cantik banget di depan kamera. Biar semua orang tahu kalau CEO ini nggak salah pilih."
Pas mereka jalan keluar menuju motor, suasana malam di halaman rumah Pak Surya kerasa lebih damai. Arga sempet berhenti bentar di samping motor gedenya, dia ngelihatin Nara yang masih pakai jaket kulitnya yang kedodoran.
"Nara?"
"Ya?"
"Makasih udah milih buat tetep berdiri di samping gue pas Papa nanya lo mau apa tadi. Kalau lo tadi bilang mau pergi, mungkin gue beneran bakal hancurin rumah ini," kata Arga setengah bercanda, tapi tatapannya serius banget.
Nara ngerangkul pinggang Arga, nyelipin tangannya di balik kaos oblong hitam cowok itu. "Sama-sama, Pak Bos. Lagian... gue juga pengen liat gimana kelanjutan cerita 'robot yang punya hati' ini."
Arga makein helm ke kepala Nara, terus dia ngecup singkat ujung hidung Nara sebelum mereka naik ke motor. Motor itu meluncur pelan keluar dari gerbang istana Pak Surya, ninggalin semua ketegangan di belakang. Di balik sosok Arga yang selalu pakai jas mahal dan terlihat sempurna, sekarang Nara tahu ada sisi lembut yang rapuh tapi juga sangat kuat. Sisi yang cuma dibuka buat satu orang: Nara.
Malam itu, Jakarta mungkin lagi heboh sama berita kontrak mereka, tapi di atas motor yang membelah jalanan sepi, Arga dan Nara ngerasa kalau dunia cuma milik mereka berdua. Kontrak itu mungkin terbongkar, tapi perasaan yang tumbuh di antaranya... itu rahasia paling indah yang nggak bakal bisa dicuri siapa pun lagi.