NovelToon NovelToon
Runtuhnya Tahta Langit

Runtuhnya Tahta Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Xiao Chen memiliki Tulang Patah Surga—kutukan yang membuatnya tidak mampu menyimpan Qi, dihina sebagai sampah Sekte Langit Pedang. Ketika dibuang ke jurang penuh mayat oleh tunangan yang menghianatinya, ia justru menemukan rahasia kuno: retakan di tulangnya adalah wadah kekuatan yang bahkan ditakuti para Dewa. Di dunia di mana Kaisar Langit telah mati dan Hukum Dao runtuh, Xiao Chen memulai jalan kultivasi terlarang yang akan mengguncang Tahta Surga. Ia tidak naik untuk berlutut pada takdir... ia naik untuk menghapus Langit itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Kapal Tulang dan Tiga Syarat

Xiao Chen menatap Lian Xin dengan campuran harapan dan kewaspadaan. Wanita setengah baya di hadapannya ini menyimpan lebih banyak rahasia daripada yang terlihat. Bekas luka di pipinya, cara bicaranya yang ceplas-ceplos, dan fakta bahwa Shen Lian mempercayakannya sebagai kontak—semua itu menunjukkan bahwa Lian Xin bukanlah pemilik penginapan biasa.

"Kau tahu di mana mendapatkan Kapal Tulang?" tanya Xiao Chen. "Katakan."

Lian Xin menyandarkan punggungnya ke dinding gudang yang penuh dengan tong-tong kayu dan karung-karung rempah. Ia melipat tangan di dada, senyum tipis masih bermain di bibirnya.

"Di kota ini, semua orang tahu tentang Kapal Tulang. Tapi tidak semua orang tahu siapa yang memilikinya. Dan dari mereka yang tahu, hanya sedikit yang berani mendekatinya." Ia menatap Xiao Chen. "Kau yakin ingin tahu? Begitu kau melangkah ke jalan ini, tidak ada jalan kembali."

"Aku sudah tidak punya jalan kembali sejak aku dilempar ke jurang," jawab Xiao Chen datar. "Siapa pemilik Kapal Tulang itu?"

Lian Xin menghela napas. "Namanya Mo Gui. Tapi orang-orang memanggilnya Kakek Tulang. Dia adalah mantan bajak laut yang pensiun dan menjadi kolektor benda-benda kuno. Kapal Tulang adalah harta paling berharganya. Dia tidak akan memberikannya pada sembarang orang."

"Di mana aku bisa menemukannya?"

"Di ujung utara kota, di atas bukit karang. Rumahnya besar, dikelilingi pagar dari tulang-tulang ikan paus. Kau tidak akan salah." Lian Xin berhenti sejenak. "Tapi ada satu hal lagi. Mo Gui tidak menerima tamu sembarangan. Kau harus membawa sesuatu sebagai tanda pengenal."

"Apa?"

Lian Xin merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah koin perak kuno yang sudah kusam. Di satu sisinya terukir gambar kapal, di sisi lain gambar bulan sabit—simbol yang sama dengan papan nama penginapannya.

"Ini koin dari Shen Lian. Dia meninggalkannya padaku dua puluh tahun lalu, bersama pesan bahwa suatu hari nanti seseorang akan datang untuk mengambilnya." Lian Xin melemparkan koin itu pada Xiao Chen, yang menangkapnya dengan mudah. "Tunjukkan ini pada Mo Gui. Dia akan tahu bahwa kau dikirim oleh Shen Lian."

Xiao Chen menatap koin di telapak tangannya. Koin itu hangat, dan samar-samar ia bisa merasakan sisa-sisa Energi Chaos di dalamnya. Shen Lian benar-benar telah merencanakan semuanya, bahkan setelah kematiannya.

"Terima kasih," katanya pada Lian Xin.

"Jangan berterima kasih dulu. Mo Gui mungkin menerimamu karena koin itu, tapi dia tidak akan memberikan Kapal Tulang begitu saja. Dia akan meminta sesuatu sebagai gantinya. Dan percayalah..." Lian Xin menatap Xiao Chen dengan serius, "...harga yang dia minta tidak pernah murah."

---

Xiao Chen meninggalkan Penginapan Bulan Sabit saat matahari mulai condong ke barat. Hui berjalan di sampingnya, mengendus-endus udara pantai yang asin. Mereka menyusuri jalanan Kota Karang Hitam menuju ujung utara, melewati pasar ikan yang mulai sepi, melewati gudang-gudang kapal, melewati rumah-rumah penduduk yang semakin jarang.

Semakin ke utara, semakin sunyi suasana. Jalanan batu berubah menjadi jalan setapak tanah yang menanjak. Pohon-pohon kelapa digantikan oleh semak-semak berduri dan batu-batu karang hitam yang tajam.

Dan akhirnya, mereka tiba.

Rumah Mo Gui berdiri di atas bukit karang tertinggi, menghadap langsung ke laut lepas. Bangunannya besar, terbuat dari kayu kapal-kapal tua yang disusun menjadi satu. Tapi yang paling mencolok adalah pagarnya.

Tulang-tulang ikan paus.

Ratusan, mungkin ribuan tulang paus dari berbagai ukuran ditancapkan di tanah, membentuk pagar melingkar setinggi dua manusia dewasa. Tulang-tulang itu sudah memutih dimakan waktu, beberapa di antaranya diukir dengan simbol-simbol aneh. Angin laut yang bertiup melewati celah-celah tulang menghasilkan suara siulan yang terdengar seperti nyanyian kematian.

Hui menggeram pelan. Bulu tengkuknya berdiri.

"Aku juga merasakannya," bisik Xiao Chen.

Ada sesuatu di tempat ini. Bukan Energi Chaos, bukan Qi biasa. Tapi sesuatu yang... kuno. Mirip dengan yang ia rasakan di katakomba Kota Batu Hitam.

Ia melangkah ke gerbang pagar tulang—dua tulang paus raksasa yang disilangkan membentuk lengkungan. Sebelum ia bisa mengetuk atau memanggil, sebuah suara tua dan serak terdengar dari dalam.

"Masuklah. Aku sudah menunggumu."

Xiao Chen dan Hui masuk ke halaman. Di tengahnya, duduk di atas kursi goyang yang juga terbuat dari tulang, ada seorang lelaki tua.

Mo Gui.

Usianya mungkin sudah melewati satu abad. Rambutnya putih semua, gimbal seperti sarang burung. Wajahnya penuh keriput dan bercak-bercak hitam, tapi matanya—matanya setajam elang, berwarna abu-abu pucat seperti langit mendung. Ia mengenakan jubah compang-camping yang dulunya mungkin berwarna merah, dan di lehernya tergantung kalung dari gigi-gigi hiu.

Di sampingnya, tertancap di tanah, ada sebuah tombak tulang sepanjang tubuhnya. Bilahnya terbuat dari tulang ikan todak, diasah hingga setajam pedang.

"Pewaris Ras Dewa Patah," kata Mo Gui, suaranya seperti kerikil yang digesekkan. "Aku bisa mencium Energi Chaos di tulang-tulangmu dari jarak satu mil. Dan kau membawa koin Shen Lian." Ia menyeringai, memperlihatkan gigi-gigi yang sebagian besar sudah tanggal. "Jadi, kau ingin Kapal Tulang-ku."

Xiao Chen mengangguk. Ia mengeluarkan koin perak dari sakunya, menunjukkannya pada Mo Gui.

Mo Gui menatap koin itu lama. Ada sesuatu di matanya—kenangan, mungkin. "Shen Lian... wanita itu menyelamatkan hidupku sekali. Aku berutang padanya. Tapi utang budi tidak cukup untuk Kapal Tulang. Kapal itu adalah warisan leluhurku. Satu-satunya yang tersisa dari klanku."

"Apa yang kau minta sebagai gantinya?"

Mo Gui menyeringai lebih lebar. "Tiga hal. Pertama, kau harus membuktikan bahwa kau layak. Tidak ada gunanya memberikan Kapal Tulang pada seseorang yang akan mati di tengah Laut Mati."

"Bagaimana caranya?"

Mo Gui menunjuk tombak tulang di sampingnya. "Bertarunglah denganku. Tidak perlu sampai mati. Cukup sampai aku puas."

Xiao Chen menatap tombak itu, lalu menatap Mo Gui. "Baik. Syarat kedua?"

Mo Gui mengangkat dua jari. "Kau harus membawakanku Mutiara Kegelapan. Ada di dasar Teluk Tanpa Bulan, di selatan kota. Di sana ada gua bawah laut yang dijaga oleh Ular Laut Bermata Satu. Ambil mutiaranya, bawa padaku."

Xiao Chen mengangguk lagi. "Dan syarat ketiga?"

Mo Gui mengangkat tiga jari. Kali ini senyumnya menghilang. "Kau harus berjanji padaku satu hal. Setelah kau selesai dengan urusanmu di Laut Mati... kau akan kembali ke sini. Dan kau akan membantuku mati."

Ruang itu hening. Bahkan angin seolah berhenti berembus.

Xiao Chen menatap lelaki tua itu. "Membantumu mati?"

Mo Gui mengangguk. "Aku sudah hidup terlalu lama, Pewaris. Lebih lama dari yang seharusnya. Aku telah melihat hal-hal yang tidak seharusnya dilihat manusia. Aku lelah. Tapi aku tidak bisa mati sendiri. Ada... sesuatu di dalam tubuhku yang menahanku tetap hidup. Hanya Energi Chaos yang bisa melepaskannya."

Ia membuka jubahnya. Di dadanya, ada sebuah simbol—bukan simbol Ras Dewa Patah, tapi sesuatu yang lebih gelap, lebih kuno. Simbol itu berdenyut pelan dengan cahaya ungu kehitaman.

"Aku dikutuk," kata Mo Gui. "Oleh sesuatu dari Laut Mati. Aku sudah membawa kutukan ini selama enam puluh tahun. Kau adalah satu-satunya harapanku untuk bebas."

Xiao Chen menatap simbol itu. Energi Chaos di tulang-tulangnya beresonansi, seolah mengenali kutukan itu.

"Aku akan melakukannya," katanya akhirnya. "Tapi setelah aku menyelesaikan urusanku. Aku tidak bisa mati sebelum itu."

Mo Gui tersenyum—senyum yang kali ini terlihat tulus. "Tentu saja. Sekarang..." Ia mencabut tombak tulang dari tanah, mengayunkannya ke posisi siap. "...mari kita lihat seberapa kuat kau, Pewaris."

Xiao Chen mencabut Yue Que dari balik jubahnya. Pedang patah itu bergetar pelan, siap bertarung.

Hui mundur ke pinggir halaman, memberi ruang.

Pertarungan pertama dari tiga syarat... dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!