Intan Rasyid sudah terikat pertunangan, tak lama lagi akan melangsungkan pernikahan, tetapi hubungan dari hasil perjodohan itu tak lantas dapat menggeser sebuah nama terukir dalam sanubari selama sepuluh tahun lamanya. Intan mencintai dalam diam pria telah berpunya.
Sampai sosok pria sangat jauh dari kriterianya tiba-tiba hadir, membawa warna baru bagi kehidupan monoton, berhasil menjungkirbalikkan dunianya.
Hal yang semula ia kira sempurna ternyata memiliki banyak kekurangan, membuatnya gamang antara dua pilihan – memutuskan pertunangan yang berarti melibatkan dua keluarga besar, atau mempertimbangkan kegigihan pria tak mengenal lelah mengejar cintanya.
Pada akhirnya, siapa yang akan dipilih oleh Intan, sang tunangan atau malah pria teramat menyebalkan, menurutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menuju hunian : 27
Sabiya mengangguk polos, mata bulatnya menatap jujur. “Iya. Walaupun kami beda fakultas, tapi kan masih satu kampus. Kebetulan beberapa hari ini jam kuliah kami usainya hampir berbarengan.”
“Aku lihat mobil bang Kamal terparkir di area luar kampus. Awalnya tak kira bukan dia, bisa jadi temannya atau siapa lah yang disuruh jemput Rania dan Lanira. Pas Biya berkendara lawan arah, ternyata betulan tunangan kakak, sebab dirinya keluar dari dalam mobil,” jelasnya apa adanya.
Perlahan tubuh Intan kaku, ponsel dalam genggamannya dicengkeram lebih kuat lagi. ‘Bagus sangat perangaimu Kamal Nugraha.’
“Ada apa, Kak?” Sabiya cemas melihat wajah kakaknya memerah.
“Tak ada.” Dia menggelengkan kepala, pas kebetulan menu pesanan tiba. Setelah mengucapkan terima kasih ke pramusaji, Intan pun menyuruh adiknya. “Ayo kita nikmati.”
Sebelum mengiyakan, Sabiya menelisik wajah kakaknya. Bibirnya mencebik kala melihat mata indah itu berkaca-kaca, tanpa kata – tangannya terulur, menggenggam jemari saudari kandungnya. “Tak elok makan sambil nangis, kalau mau menangis, keluarkan saja! Setelahnya, kakak wajib cerita ke aku. Kalau tak mau, bakalan Biya adukan sama ayah dan mamak!”
Sebelah tangan yang tidak digenggam, mengambil selembar tisu dalam tas. Intan menahan napas, lalu menutupi wajahnya, mengusap air mata mulai berlinang.
Sabiya melepaskan genggamannya, membiarkan sang kakak menumpahkan tangis meskipun tidak bersuara, dan tak tampak oleh mata sebab tertutup tisu mulai basah. Dia tidak jadi menyendok nasi hainan – menunggu dengan sabar.
Sampai tujuh menit berlalu, barulah Intan membuka telapak tangan menutupi wajahnya. Matanya memerah, jejak bening masih membasahi pipi. “Kau tahu tak, kira-kira hunian ayah tua yang aman teruntuk wanita sendirian dimana?”
Meskipun bingung, tidak paham arah pertanyaan kakaknya, Sabiya mengangguk tanda dia tahu.
Intan berkata dengan suara parau seraya mengelap wajah menggunakan tisu. “Habiskan dulu makanan ini, jangan sampai mubazir.”
“Iya, Kak.”
Kakak beradik itu makan dalam diam, sesekali Intan menyusut sudut mata.
***
“Rubah, aku lelah, loyo, lunglai, kurang dibelai. Tak mau lagi meladeni ngidam anehmu itu!” Tas belanjaan dijatuhkan begitu saja. Anggara Pangestu duduk di pojokan butik menjual perlengkapan baju hamil.
Sahira Maheswari Pangestu langsung meradang. Dia bersedekap tangan, menatap mengancam. “Kau sudah disewa suamiku selama dua jam, jangan sampai kuadukan ke dia!”
Pria berpakaian kantoran tapi berkelakuan layaknya anak-anak – berselonjor kaki, melepaskan sepatu hitam mengkilap. “Kalau tahu bakalan se-melelahkan ini, tak mau aku mengiyakan imbalan sedikit itu!”
“Dua puluh juta kau bilang sedikit?!” Sahira layaknya tante-tante girang menyewa seorang gigolo.
“Menurutmu?” tantang Anggara.
“Angga, aku masih mau cari baju hamil lagi. Ayolah,” suaranya melunak.
“Ckk … usia kandunganmu masih satu bulan, Hira. Lihatlah perutmu itu – rata. Untuk apa beli baju hamil banyak-banyak? Mana badan kerempeng lagi,” tetap saja dirinya enggan berdiri.
“Bukan aku yang mau mengenakannya, tapi Thariq. Entah kenapa gairahku langsung naik kalau lihat dia pakai baju hamil,” Sahira tersenyum mesum.
Anggara menatap horor sang sepupu. “Alamak, bulu-bulu lembut badanku merinding. Jangan sampai kalau nanti permata hatiku hamil, jadi sepertimu, Hira.”
Sahira mendengus, senyumnya mengejek. “Carilah psikiater, sepertinya kau sudah butuh penanganan kejiwaan. Jelas-jelas dia tak mau denganmu, masih saja menghayal tingkat dewa.”
Dia tak terima dikatai, tapi tak pula kuasa membalas dikarenakan memang faktanya Intan Rasyid tidak mau dengannya. “Apa tak ada kata-kata lain lebih manusiawi?”
"Ada.” Sahira mengedip-ngedipkan matanya. “Mungkin tidak akan lama lagi, kau bakalan duduk satu tenda pesta dengan dia, tapi sebagai tamu undangan dan dirinya mempelai pengantin perempuan dari pria lain.”
Meradang lah Anggara Pangestu, cepat-cepat dia berdiri, memakai lagi sepatunya. Kemudian memungut paperbag berserakan di lantai.
“Andai saja kau tak hamil, sudah kubanting. Buruan cari lagi baju buat Thor monitor, habis itu balek kandang!” Anggara bergegas melewati sepupunya yang terpingkal-pingkal.
Sahira pun tidak sungkan-sungkan memanfaatkan tenaga pria banyak mau dan akalnya itu untuk membawa barang belanjaannya.
Selama dua jam penuh, Anggara jadi pengawal pribadi sang sepupu dengan imbalan dua puluh juta rupiah.
“Sebetulnya aku ini kaya, tak kekurangan harta. Kenapa bisa matre betul, ngga bisa mendengar tawaran menggiurkan. Jiwa gila uang siapa yang ku ikuti ini?” suaranya terdengar tidak mempercayai kata-katanya sendiri.
“Daripada kau macam orang hilang arah, berbicara sendiri seperti mulut dukun komat-kamit, alangkah baiknya bantu aku pilih kutek kuku,” tegur calon ibu muda tengah memilih warna yang pas di jari suaminya.
“Satu pilihan, satu juta bayarannya. Mau tak?” Anggara berdiri disamping Sahira.
“Baik, tapi kau bayar dulu menu yang dulu kumasak buat wanita tidak sudi menerimamu itu!”
“Perhitungan betul kau ini, Rubah.”
“Kalau denganmu wajib hitung-hitungan, jika tidak … habislah aku kau porotin.”
Perdebatan itu masih terus berlangsung seraya memilih warna cat kuku, dan aksesoris rambut. Membuat penjaga toko saling lirik.
***
Di bawah teriknya matahari pukul dua siang, sebuah kendaraan roda dua membelah jalanan, mencari celah di antara padatnya para pengendara.
Sabiya duduk tenang dibelakang, sementara motor matic nya dikendarai oleh sang kakak.
Biasanya, putri kedua Rasyid itu pasti akan berteriak ketakutan setiap diajak balapan sang kakak. Kali ini dirinya bungkam, mengesampingkan detak jantung seperti dikejar-kejar binatang buas.
“Perempatan depan, belok kiri, Kak!” Sabiya memajukan badan, membuka penutup helm, memberi instruksi.
Begitu lampu merah berubah kuning lalu hijau – Intan langsung tancap gas, sangat lihai dia mencari celah.
Laju motor sudah berbelok memasuki perumahan kelas menengah, sewaktu tiba di pos jaga – Sabiya yang turun tangan, dia sudah pernah kesini diajak Rania, sehingga diperbolehkan memasuki komplek terbilang cukup besar.
“Kak, biar Biya saja yang bawa motornya.” Pundak Intan di tepuk kuat.
Intan menurut, sebab jemarinya telah bergetar, dan dada kian panas. Dia berhenti ditepi jalan lalu tukar tempat duduk.
Sabiya masih mengingat rute ini, dan di mana letak rumah berlantai satu milik orang tuanya Kamal Nugraha. ‘Aku takkan memaafkan kalian bila dengan sengaja, dan secara sadar menyakiti kakakku!’
Laju motor melambat, lalu berhenti tepat di belakang mobil sport hitam mengkilap.
Intan langsung turun sebelum standar diturunkan. Langkahnya tenang, setenang pandangan menatap penuh bangunan tidak berpagar.
“Lira, kalau nanti pengantar makanan sudah datang, ambil saja uang di dompet Abang untuk bayar!”
.
.
Bersambung.
siap2 tu di marah ayah tua
Ayah tua...,, hajar saja dulu si Nuha noga2 itu,, babak belur dulu baru minta penjelasan 🤭
semoga retensi Kaka d bab 40, 80, 120 terbaik semuanya .. Aamiin.
Hanya orang yang mqkn otaknya jauh lebih parah dari anggora kewarasannya kalo baca ceritamu harus lompat2 bab. Lha wong setiap bab mu d tunggu kayak lagi nunggu cuan dari paksu😅,, sangat begitu d nantikan🤣.
Deg deg AQ nunggu sidang ini,, semuanya akan terkuak dengan begitu jelas dan gamblang....,, akan banyak hati yang sedih,, kecewa...,, tapi ini yang terbaik...