NovelToon NovelToon
Dari Hidup Santai Ke Drama Antagonis

Dari Hidup Santai Ke Drama Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Romansa Fantasi
Popularitas:13.2k
Nilai: 5
Nama Author: ROGUES POINEX

Claire Sophia-- seorang Nona muda yang tidak pernah memikirkan hidup. Baginya untuk apa bekerja toh dia sudah kaya sejak lahir. Namun suatu hari saat dia memberikan pelajaran bagi sang kekasih yang telah berani berselingkuh darinya.

Claire mendapatkan sebuah notifikasi..

[Notifikasi: Tekan YA untuk Masuk!]

Untuk mengubah takdir dan alur hidup nya di drama itu. Claire memutuskan untuk merelakan Suaminya untuk pemeran Protagonis.

Namun satu yang Claire tidak tau-- alur dan peran yang berubah akan mengacaukan jalan cerita--juga mengungkapkan sebuah rahasia yang tidak pernah di sangka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ikatan Batin

Aspal hitam yang membentang di bawah langit tanpa bintang itu terasa mencekam, seolah-olah kegelapan di jalanan sepi tersebut siap menelan apa pun yang melintas.

Di tengah kesunyian yang pecah oleh raungan mesin, sebuah kejar-kejaran maut sedang berlangsung--- kilatan api dari moncong senjata api menyalak dari beberapa mobil hitam yang mengepung satu kendaraan di depan mereka.

Ares menyandarkan punggungnya, memejamkan mata sejenak untuk mengatur napas yang memburu, sementara sesekali kelopak matanya terbuka hanya untuk melirik spion tengah yang menampilkan bayangan musuh yang kian mendekat.

Di balik kemudi, Albert, sang tangan kanan yang setia, menunjukkan keahlian luar biasanya dengan memutar setir secara lincah, membiarkan ban mobil berdecit hebat saat melakukan manuver ekstrem guna menghindari hujan peluru yang menghantam bodi mobil modifikasi anti-peluru mereka.

Suara desing peluru yang menghantam bodi mobil terdengar seperti rintik hujan logam yang mematikan. Di dalam kabin yang kedap suara namun bergetar hebat, Ares perlahan membuka matanya. Ia kembali menatap spion tengah--- kilatan api dari moncong senjata lawan menerangi wajahnya yang sedingin es.

Sampai akhirnya ia memutuskan bahwa waktu untuk bertahan telah usai. Dengan tenang namun pasti, ia merogoh kolong jok mobil—tempat ia selalu menyembunyikan senjata rahasianya karena sadar betul akan banyaknya nyawa yang mengincar kepalanya.

Ares menekan sebuah tombol konsol, memicu mekanisme hidrolik yang membuat sebagian atap mobil bergeser terbuka membentuk celah kotak kecil yang presisi. Dengan gerakan yang terkendali meski mobil berguncang hebat, Ares bangkit berdiri, mengeluarkan moncong senjatanya ke udara malam, dan mulai melepaskan tembakan balasan yang mematikan.

Di bawah kendali penuh Albert yang terus memacu kecepatan menembus kegelapan, Ares berubah menjadi malaikat maut yang siap menyapu bersih siapa pun yang berani mengusik ketenangannya di jalanan tak bertuan itu.

Suara dentuman logam yang dihujani peluru kaliber tinggi terdengar seperti simfoni kematian di telinga Ares. Ia menarik napas panjang, mencoba menstabilkan debar jantungnya sebelum muncul ke permukaan atap mobil lagi.

"Mereka gigih juga," gumam Ares pelan, hampir tak terdengar di antara deru mesin.

Sambil mengokang senjatanya, Ares berdiri sedikit, membiarkan angin malam yang buas menerpa wajahnya. Ia membidik dengan presisi yang mengerikan sebelum bersuara di tengah hiruk-pikuk tembakan.

"Albert, hubungi pasukan. Sinyal merah. Ini pasti sisa-sisa pecundang dari musuh yang pernah kita hancurkan. Mereka tidak datang untuk menang, mereka datang untuk mengantarkan nyawa mereka sendiri."

Albert merogoh saku celananya tanpa sedikit pun melepas pandangan dari aspal gelap di depan. Dengan satu ibu jari, ia mengirimkan sinyal darurat ke koordinat mereka. "Sinyal terkirim. Pasukan bayangan akan tiba dalam sepuluh menit. Bisakah Anda bertahan selama itu, Tuan?"

Ares tidak langsung menjawab. Ia menarik pelatuk, mengirimkan rentetan peluru yang menghantam ban mobil pengejar paling depan hingga terguling hebat. Di matanya, tidak ada ketakutan, hanya ada kalkulasi dingin yang mematikan.

" Sepuluh menit?" Ares tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang lebih menakutkan daripada senjata apa pun. "Dalam sepuluh menit, aku pastikan tidak akan ada satu pun dari mereka yang tersisa untuk melihat matahari terbit."

Ares dan Albert menyipitkan mata, menatap barisan lampu depan mobil musuh di depan mereka yang perlahan mengepung bak predator.

"Tuan, pasukan mereka bertambah, kita di kepung..." kata Albert, meski wajah nya datar, suaranya menyimpan kecemasan.

"Tetap di jalurnya, Albert. Jangan biarkan kecemasanmu menginjak pedal rem lebih dalam dari keberanianmu," ucap Ares dengan suara yang sangat rendah namun tajam, kontras dengan kegaduhan di luar.

Albert memutar setir dengan sentakan kasar, menghindari tabrakan frontal. "Tapi Tuan, ini bukan lagi sekadar pengejaran. Ini jebakan maut. Sinyal merah sudah terkirim, tapi pasukan kita butuh sepuluh menit untuk menembus perimeter ini. Kita terjepit di antara dua mulut singa."

Ares menarik napas panjang, merasakan getaran mesin modifikasi di bawah kakinya. "Jangan coba-coba mencari jalan keluar, Albert. Terjang saja. Jika mereka ingin tarian maut, maka aku akan menjadi penabuh dramnya. Fokuslah pada aspal, dan biarkan aku yang mengurus sisanya. Ingat, tidak ada musuh yang benar-benar kuat, yang ada hanyalah musuh yang belum bertemu dengan ajalnya di tanganku."

Albert mengertakkan gigi, kemudi di tangannya terasa semakin mantap. "Dimengerti, Tuan. Jika kita harus mati malam ini, setidaknya kita akan menyeret mereka semua ke neraka bersama kita."

Ares tersenyum tipis, sebuah senyum tanpa kehangatan. "Mati? Tidak hari ini, Albert. Malam ini kita hanya sedang menyapu sampah yang menghalangi jalan."

Sementara itu, di tengah keheningan yang mencekam, jauh dari hiruk-pikuk desing peluru yang merobek langit malam di garis depan, Claire terbaring di dalam kamar luas yang kini terasa seperti penjara tak kasatmata. Tidurnya didera kegelisahan hebat, seolah-olah ada kekuatan gelap yang berusaha merenggut jiwanya ke dalam palung kehampaan.

Detik berikutnya, kelopak matanya terhentak terbuka--- ia terduduk dengan sentakan kasar, jemarinya mencengkeram dada yang terasa sesak oleh kecemasan yang tak terjelaskan. Napasnya memburu, tersengal - sengal dalam irama yang kacau, seakan ia baru saja melarikan diri dari kejaran maut yang membayangi alam bawah sadarnya.

"Ada apa ini? Kenapa aku terus merasa gelisah?" tanya Claire pada dirinya sendiri, suaranya parau dan bergetar.

Belum sempat ia meraup oksigen, sebuah suara melengking yang memekakkan gendang telinga menghantam kesadarannya, memaksa Claire meringkuk sembari menutup rapat kedua telinganya. Detik itu juga, sebuah adegan action dengan kejernihan yang menyakitkan muncul di benaknya--- sosok pria berselimut bayangan yang tengah memuntahkan timah panas ke arah musuh, di mana aliran darah di tangannya tampak mengental dan membeku secara ganjil.

Begitu gambaran adegan itu terhenti, Claire terkesiap dengan mata melotot, merasakan nyeri hebat yang menghunjam dadanya—sebuah gema rasa sakit fisik yang terhubung langsung dengan luka pria misterius tersebut.

"Siapa Dia?"

Di tengah kekacauan sensorik itu, sebuah perintah tanpa wujud bergema—"Selamatkan dia!"—memaksa Claire bangkit dengan tungkai yang bergetar. Ia menantang kekosongan kamar dengan tatapan nanar, mencari pemilik suara misterius itu, namun hanya keheningan dan rasa sakit yang mendesak yang menyambutnya, memperingatkan bahwa setiap detik yang terbuang adalah langkah menuju akhir yang tak terelakkan.

Claire mencengkeram dadanya lebih erat, jemarinya memutih karena tekanan yang ia berikan pada piyamanya. Rasa sakit itu bukan lagi sekadar fisik--- itu adalah gema dari sebuah penderitaan yang sangat jauh namun terasa sangat dekat.

"Siapa kau?!" teriak Claire, suaranya bergetar di antara dinding kamar yang bisu. "Kenapa kau menunjukkan ini padaku? Jawab!"

Keheningan menyelimuti ruangan, namun udara terasa menebal, seolah setiap partikel oksigen di sana mengandung sisa-sisa bubuk mesiu dan amis darah dari penglihatan tadi. Tiba-tiba, bisikan itu kembali, kali ini bukan di telinganya, melainkan merayap langsung ke dalam sanubarinya.

"Waktunya tidak banyak, Claire. Setiap tetes darah yang membeku di tangannya adalah detik yang hilang dari hidupmu. Hubungan ini... ikatan ini... kau adalah jangkar terakhirnya sebelum dia tenggelam dalam kegelapan yang abadi."

Claire terhuyung, kakinya terasa lemas hingga ia harus berpegangan pada tiang ranjang yang kokoh. "Aku bahkan tidak mengenalnya! Siapa kau sebenarnya? Dan siapa orang yang kau maksud?"

"Karena jiwamu telah memilihnya jauh sebelum peluru itu keluar dari selongsongnya," suara itu menyahut, kini terdengar lebih berat dan penuh duka. "Lihatlah lebih dekat. Lihatlah apa yang dia genggam di tangan kirinya, bukan senjatanya."

Seketika, bayangan itu kembali menghantam Claire. Kali ini lebih tajam. Di tengah kekacauan medan perang dan aroma maut yang menyengat, pria itu—yang punggungnya masih tegap meski bersimbah darah—menggenggam sebuah liontin perak yang sangat dikenal Claire.

Claire mundur selangkah, nafasnya tercekat, matanya melebar. " Mustahil! Liontin itu.. adalah lambang dari keluarga Sophia.. keluargaku di dunia nyata.. bagaimana liontin itu bisa ada di tangan pria itu? Disini? Di dalam dunia drama Antagonis?"

Tiba-tiba, sebuah bisikan kembali terdengar, kali ini lebih dekat, seolah-olah seseorang berdiri tepat di belakang telinganya. " Alur bukan lagi menjadi satu - satunya jalan cerita. Karena kau menolak menjadi Antagonis sejati, sebuah rahasia perlahan akan terbuka. Waktu tidak memihak pada mereka yang ragu, Claire. Darah Sophia memanggil pemiliknya. Jika dia jatuh di medan itu, maka kau pun akan lenyap dari kedua dunia. Selamatkan dia, atau biarkan takdir menghapus keberadaanmu selamanya."

Claire tersentak, berbalik dengan cepat namun hanya menemukan udara kosong. Ia tertawa getir, sebuah tawa yang bercampur dengan kebingungan. "Selamatkan dia? Menyelamatkan seseorang yang bahkan tidak aku kenali? Aku bahkan tidak tahu di mana dia! Dan liontin itu... apakah jika dia memegangnya, apakah itu berarti dia adalah kunci mengapa aku terjebak di dunia sialan ini?"

Ia berjalan dengan sisa tenaganya, menyambar jubah panjang di kursi dan menatap cermin besar di depannya. Bayangan di cermin itu bukan lagi sekadar Claire si Antagonis, melainkan Claire dari keluarga Sophia yang sedang mempertaruhkan segalanya.

"Baiklah. Jika ini adalah permainan yang harus kumainkan untuk pulang, maka aku akan menjemputnya. Aku tidak akan membiarkan lambang keluargaku ternoda oleh darah di dunia fana ini. Tunggu aku... siapapun kau, jangan berani-berani mati sebelum menjelaskan semua ini padaku!"

Penemuan lambang keluarga Sophia pada liontin misterius itu menghancurkan logika Claire tentang batas antara dunia nyata dan dunia drama tempatnya terjebak sekarang.

Terdesak oleh suara misterius yang memerintah nya untuk menyelamatkan nyawa tersebut, Claire menanggalkan segala keraguannya, bergerak gesit menembus kegelapan malam, tanpa menyadari bahwa sepasang mata Julian telah menangkap pergerakannya yang mencurigakan di bawah sorotan lampu yang dingin.

Julian yang tadinya terbangun hendak mengambil minuman, namun melihat pintu kamar balkon yang terbuka dan hendak menutup nya. Tiba - tiba melihat sesuatu yang bergerak di kegelapan. Wajah nya yang tertangkap sorotan lampu selama beberapa detik membuat Julian membeku.

"Claire?" Julian menyipitkan mata, tangannya gemetar saat menyentuh pagar balkon. "Mau ke mana dia tengah malam begini?"

BERSAMBUNG

1
Enah Siti
jdi anak kembar itu bnar anakya ares👍👍👍👍💪💪💪💪
Anne
hmmm penisirin bingitss
Anne
kulkas kalo cair emang suka gtuuu.. damage bukan kaleng kaleng🤣
Anne Soraya
lanjut
Anne
tikungan yg kaya gini yg saya sukaaa...
Sulati Cus
tikung aja🤣
Murni Dewita
tetap double up y thor
ROGUES POINEX: Sehari Dua Kali UP ☺☺☺
total 1 replies
khzaa
kaka semangatttt
khzaa
kaka semangatttt
Anne Soraya
lanjut
Murni Dewita
next
Anne Soraya
lanjut
Anne
seruuuu... ehhh abisss... rasany kaya apa tauu🤭
Sulati Cus
semakin menarik
rajin up
Sulati Cus
lah lg seru2nya mlh di potong😔
Murni Dewita
double up lah thor
Sulati Cus
knp g cb tes DNA dg si twins🤔
Murni Dewita
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Murni Dewita
👣
Siti Sa'diah
wah jangan2 clair iniii
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!