NovelToon NovelToon
Tuhan, Dia Titipan Sahabatku

Tuhan, Dia Titipan Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Persahabatan
Popularitas:10.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nufierose

“Segera pulanglah,, Kita butuh kamu untuk menjadi saksi Kha!”

Mendapat kabar tentang pernikahan kedua sahabatnya, kini Arka yang memang menetap tinggal di Italia Kembali dengan Sangat mendadak, Bagaimana tidak Dua sahabat baiknya akan menikah dan Arka harus menghadirinya.

Namun beberapa langkah Arka tiba di tempat dimana janur kuning melengkung terdapat juga bendara kuning di sampingnya.

Bayu Putra!

Bagaimana bisa sahabatnya meninggal tepat di acara sakralnya?

“Aku hancur Kha, Kenapa Bayu harus meninggalkan aku?”

Arka tak mampu menahan tangisnya, di peluk Vina dengan penuh belas kasih.

“Bagaimana Acaranya? Penghulu sudah datang namun pernikahan tidak bisa di lanjutkan!”
Arka menatap Vina yang sudah berderai air mata, rasanya dia ingin menghapuskkan kesedihan sahabatnya itu, tapi bagaimana caranya?

Kesedihan menyelimuti kediaman mempelai, pernikahan sudah pasti batal.
Namun, Satu pucuk surat yang Bayu tinggalkan untuk Arka membuat suasana semakin mencekam, Bayu meminta Arka yang menggantikan dia menikahi Vina.

Dan menikahi SAHABATNYA sendiri tidak pernah terlintas di dalam benak seorang ARKANA.

“Lanjutkanlah,, Arka yang akan menjadi pengantin penggantinya!”

Satu pernnyataan Sang Ibu yang membuat seluruh mata mendelik.

“Mah!”

“Lanjutkan Nak, Hujudkan permintaan terakhir sahabatmu!”

Apa Akra akan mengabulkan permintaan terakhir sahabatnya? Dan bagaimana bisa dia menikahi sahabat perempuannya?

Tidak!!

Pria Tampan itu gelisah memandang Cincin tunangan di jemari kirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nufierose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEBENARAN YANG TERUNGKAP

BAB 27

Perjalanan pulang dari lokasi syuting terasa seperti perjalanan menuju tiang gantungan bagi Arka.

Di dalam mobil, Sefa hanya diam seribu bahasa. Ia menyandarkan kepalanya pada kaca jendela, menatap lampu-lampu jalanan Roma yang kabur oleh air mata yang terus ia tahan.

Arka berkali-kali mencoba meraih tangan Sefa, namun gadis itu menariknya dengan halus, sebuah penolakan yang lebih menyakitkan daripada tamparan bagi Arka.

"Sef, kamu lelah? Maaf soal adegan tadi," ucap Arka memecah keheningan dengan suara serak.

Sefa tidak menoleh. Ia hanya menjawab dengan gumaman pendek. Di dalam kepalanya, kata 'Rumah Tangga' yang diucapkan Arka kepada Rendy terus berputar seperti kaset rusak.

Siapa yang dimaksud Arka? Benarkah itu Vina? Pikirannya berperang antara kepercayaan yang sudah ia bangun bertahun-tahun dengan kenyataan pahit yang baru saja ia dengar.

Begitu sampai di rumah, suasana terasa dingin.

Vina sedang berada di ruang tengah, baru saja meletakkan sebuah buku saat ia melihat Arka dan Sefa masuk. Vina segera menyadari ada yang tidak beres. Wajah Arka nampak pucat pasi, sementara Sefa berjalan lurus tanpa menyapanya, sesuatu yang tidak pernah dilakukan gadis itu sebelumnya.

"Sefa? Kamu sudah pulang?" tanya Vina hati-hati.

Sefa menghentikan langkahnya di anak tangga pertama. Ia berbalik, menatap Vina dengan sorot mata yang belum pernah Vina lihat sebelumnya, sebuah tatapan yang penuh dengan selubung kecurigaan dan luka yang dalam.

"Iya, aku pulang, Vin. Aku pulang setelah mendengar sesuatu yang sangat menarik di lokasi syuting," jawab Sefa dengan nada datar yang menusuk.

Arka segera berdiri di antara mereka, mencoba menengahi.

"Sefa, kamu butuh istirahat. Kita bicarakan semuanya besok pagi, ya?"

Sefa tak menjawab dia berlalu begitu saja meninggalkan Vina dan Arka dengan rasa penasaran yang mendalam.

Gadis yang biasanya ceria dan begitu manis sekejap berubah menjadi cuek dan dingin.

Vina menatap Arka yang juga terlihat lelah.

“Aku tinggal mandi ya Vie..”

“Iya Kha.”

-----

TIGA HARI BERLALU.

Malam di italia biasanya terasa romantis dan menenangkan, namun bagi Sefa, atmosfer rumah itu selama tiga hari terakhir terasa seperti jerat yang perlahan mencekik lehernya.

Suara Rendy di lokasi syuting yang menyebut kata ‘rumah tangga’terus berdengung di kepalanya layaknya kutukan yang tak kunjung hilang.

Ia berada di titik nadir kebimbangan, berdiri di persimpangan antara logika yang meneriakkan kecurigaan dan hati yang masih ingin memercayai bahwa Arka adalah pria paling jujur yang pernah ia kenal.

Sore tadi, sebelum matanya terpejam karena kelelahan batin, Sefa sempat melihat sesuatu yang mengusik nuraninya. Di jemari Vina, saat gadis itu sedang menyesap teh di ruang tengah, tersemat sebuah cincin nikah dengan desain simpel namun elegan.

Pikirannya buntu. Bukankah Bayu sudah meninggal? Jika tunangannya tiada sebelum janji suci terucap, lantas atas nama siapa cincin itu melingkar di sana?

Namun, rasa kantuk yang luar biasa berat akibat obat sakit kepala dan denyutan di pelipisnya membuat Sefa menyerah dan memilih tidur lebih awal, berharap semua itu hanya manifestasi dari rasa paranoianya.

Namun, takdir nampaknya enggan membiarkan Sefa hidup dalam kebohongan lebih lama lagi.

Tengah malam, Sefa terbangun dengan napas tersengal.

Mimpi buruk tentang pemakaman ibunya bercampur dengan bayangan Arka yang menjauh. Ia meraba sisi tempat tidur di sebelahnya, namun hanya menemukan sprei yang dingin dan kosong.

Vina tidak ada di sana. Kamar tamu itu terasa hampa, menyisakan kesunyian yang mencekam.

“Kemana Vina?”

Sefa melirik jam yang ternyata sudah dini hari.

Gadis bule itu memberanikan diri mencari Vina.

Jantung Sefa berdegup kencang, seirama dengan langkah kakinya yang gemetar menyusuri lantai marmer yang dingin tanpa alas kaki.

Ia keluar dari kamar dengan napas yang tertahan di kerongkongan. Lorong rumah itu remang-remang, namun indranya yang tajam menangkap cahaya kuning temaram yang berasal dari arah dapur.

Sayup-sayup, suara tawa kecil dan obrolan akrab menyapa telinganya, suara yang seharusnya hanya menjadi miliknya.

"Sayurannya yang banyak, Kha. Aku sedang ingin makan yang segar-segar," suara Vina terdengar manja, sebuah nada bicara yang tidak pernah ia tunjukkan saat mereka sedang bersama bertiga.

"Mau pakai saos atau cabai? Aku tau kamu suka pedas, tapi perutmu sedang tidak bersahabat belakangan ini," sahut sebuah suara bariton yang sangat Sefa kenali.

Suara Arka. Suara yang biasanya membisikkan kata cinta di telinga Sefa setiap pagi.

"Cabai boleh, sedikit saja. Tapi kamu harus bantu aku habiskan makanan ini ya? Aku tidak mau Bi Inah melihat sisa makanan di meja pagi-pagi," balas Vina disertai tawa kecil.

Sefa berjalan perlahan, bersembunyi di balik pilar besar ruang makan yang gelap gulita.

Matanya membelalak, dadanya terasa seperti dihantam palu godam dengan kekuatan penuh. Di sana, di bawah cahaya lampu gantung dapur, dunianya runtuh seketika menjadi debu.

Vina tidak sedang bersikap layaknya seorang tamu atau sahabat yang tahu diri. Ia sedang duduk di atas meja dapur dengan santai, mengayun-ayunkan kakinya yang menjuntai.

Sementara itu, Arka berdiri tepat di depannya, berada di dalam celah kedua kaki Vina yang terbuka sedikit. Posisi itu begitu intim, begitu intim hingga membuat Sefa merasa mual karena syok.

Arka mengulurkan tangannya, merapikan beberapa helai anak rambut Vina yang menutupi mata dengan gerakan yang sangat lembut, penuh kasih sayang, dan terlihat sangat terbiasa.

Tidak ada kecanggungan. Apa lagirasa bersalah.

"Tidurlah setelah ini, Vie. Kamu butuh istirahat agar luka di jarimu dan lebam di hatimu cepat pulih," bisik Arka, suaranya mengandung nada perlindungan yang selama ini Sefa pikir adalah hak eksklusifnya.

Vina tersenyum, menatap Arka dengan binar mata yang begitu dalam, sebuah tatapan yang hanya dimiliki oleh wanita yang sangat mencintai suaminya.

“Aku tidak bisa tidur Kha,”

“Kenapa?” tanya Arka lembut seraya mencubit hidung mancung milik Istrinya.

“aku selalu membayangkan, jika suatu hari Sefa tau soal hubungan ini.”

“Aku akan pikirkan lagi itu Vie.”

Vina menggelengkan kepalanya, menatap Arka dalam.

“Aku seperti pencuri Kha, aku mengambil Kamu dari Sefa.”

"Kamu bukan pencuri, Vie. Takdir yang membawa kita ke sini. Kamu adalah istriku, istri sahku. Itu kenyataan yang tidak bisa diubah oleh siapa pun, bahkan oleh wasiat Bayu sekalipun. Sefa akan mengerti... suatu saat nanti."

Sefa membekap mulutnya sekuat tenaga dengan kedua tangan hingga buku-buku jarinya memutih.

Air mata panas mengalir deras tanpa henti, membasahi telapak tangannya. Pemandangan itu, cara Arka memeluk pinggang Vina, cara mereka berbagi potongan makanan dari piring yang sama di tengah malam adalah bukti nyata yang jauh lebih tajam dari sekadar gosip atau ancaman Rendy.

Mereka benar-benar nampak seperti sepasang suami istri yang baru menikah, menikmati waktu pribadi di rumah mereka sendiri tanpa gangguan orang luar. Dan di sini, Sefa menyadari posisi pahitnya dialah ‘orang luar’itu.

Sefa tidak tau bagaimana hubungan Vina dan Arka sebagai sahabat. Apa yang Vina lakukan pada Arka adalah hal biasa, karena memang mereka sangat dekat. Bahkan kerabat mereka pun selalu mengira Vina mengencani 2 sahabat sekaligus.

Hati Sefa hancur berkeping-keping. Pria yang ia puja, pria yang ia jadikan sandaran terakhir hidupnya setelah kepergian ibu dan ayahnya, ternyata telah membangun mahligai di atas penderitaannya.

 Dan wanita itu... Vina, yang selama ini ia hibur karena kehilangan Bayu, ternyata adalah belati yang telah lama menusuknya dari belakang.

"Aku membenci kalian... aku sangat membenci kalian..." bisik Sefa dalam hati, suaranya tercekat di tenggorokan.

Ia ingin berlari keluar, melempar piring-piring itu ke wajah mereka, dan meneriakkan semua rasa sakitnya. Namun, kakinya terasa lumpuh. Kekuatannya menguap begitu saja.

Dengan sisa tenaga yang ada, ia merosot jatuh ke lantai di balik kegelapan pilar, memeluk lututnya sendiri sambil terus menangis tanpa suara, menyaksikan tunangannya memberikan cinta yang seharusnya miliknya kepada wanita lain.

Malam itu, di dapur yang hangat dan harum aroma masakan, Sefa menyadari bahwa hidupnya selama ini hanyalah sebuah panggung sandiwara di mana ia adalah satu-satunya orang yang tidak memegang naskah.

“Kenapa kamu sejahat ini padaku Kaa?”

1
Nufie
Haii. kak.. jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar ya😍...
like dan berikan ulasan.. agar authornya semangat UP setiap bab 🙏😍😍😍
Siti Patimah
dan sebentar lg senua akan terbongkar, yg sabar ya kha, semua pasti bisa di lalui, semoga sefa bisa nerima kenyataan yg ada, di sini gak ada yg salah senua korban, 💪💪💪
Nufie: author juga korban kak 🤭
total 1 replies
Dew666
🌼🌼🌼
Riyall Arieserra
up lagi dong min🤭
Helmin Lawi
bagus buat penasaran
Nurgusnawati Nunung
Hadir..
Siti Patimah
bentar lagi botak itu kepala arka, yg satu istri, yg satu, tunangan, cari satu lg ka swlingkuhan biar pas😄😄😄
Siti Patimah
dag dig duk bacanya, smangat up nya kak💪💪💪
Siti Patimah
cinta yg rumit, tapi aku suka, bacanya kayak ada tantangan, setiap episode sllu di tunggu up ny
Nufie: terimakasih kak😍 jangan lupa follow authornya yaaa🙏
total 1 replies
Sumarni Ris
lanjutkan ceritamu bagus
Nufie: trimakasih kak.. jangan lupa follow authornya yaa😍
total 1 replies
Siti Patimah
sabar ya ka, kamu hanya butuh waktu, smnagt ka, buat isteimu klepek2 ya
Dew666
💜💜💜💜💜
Dew666
🌻🌻🌻
Muna Junaidi
Nabung dulu ya thor💪💪
Nufie: siap kak.. jangan lupa follow authornya yaa
total 1 replies
Siti Patimah
kalo horang kaya mah bebas yak, dari italia pulang ke tanah air cuma buat ngadirin reunian gak sampe 5 menit🤣🤣🤣
Nufie: hahaha
total 1 replies
Siti Patimah
hay kak aku baru mampir kak tapi aku suka ceritanya,
Nufie: haii kak.. terimakasih sudah mampir
jangan lupa follow autornya yaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!