NovelToon NovelToon
Ratu Yang Memilih Takdirnya

Ratu Yang Memilih Takdirnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Cintapertama
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Anaya Barnes

Arcelia Virellia pernah menjadi putri yang hidup dalam kemewahan. Namun ketika bisnis keluarganya berada di ambang kehancuran, ia dijadikan alat transaksi melalui pernikahan politik dengan pewaris keluarga Ravert.
Pernikahan yang seharusnya menyelamatkan segalanya justru menghancurkan hidupnya.
Dihina keluarga suami…
Diabaikan oleh pria yang menjadi suaminya sendiri…
Dan ketika kematian misterius merenggut nyawa suaminya, Arcelia dituduh sebagai pembawa sial dan diusir tanpa belas kasihan.
Semua orang mengira hidupnya telah berakhir.
Namun tiga tahun kemudian, seorang investor misterius muncul dan mulai menguasai dunia bisnis elit kota. Tidak ada yang tahu identitasnya… sampai wanita itu kembali muncul dengan nama yang membuat masa lalu mereka bergetar.
Arcelia telah kembali.
Bukan lagi sebagai putri yang patuh…
Melainkan ratu yang siap menagih semua pengkhianatan.
Karena bunga mawar mungkin terlihat indah…
Tapi mereka lupa bahwa mawar selalu memiliki duri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anaya Barnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27

Hujan turun tipis sejak sore, membasahi kaca jendela kamar Arcelia dengan bunyi berderai yang teratur. Lampu meja belajarnya menyala redup, memantulkan bayangan samar di dinding, bayangan yang entah kenapa terlihat lebih tinggi dari tubuhnya sendiri.

Arcelia menatap buku catatannya yang terbuka, tapi pikirannya tidak di sana. Ia memikirkan suara itu lagi.

Bisikan yang tak pernah benar-benar jelas, tapi cukup membuat dadanya bergetar setiap kali malam datang.

“Arcelia…”

Ia tersentak. Napasnya tercekat.

Suara itu seperti datang dari sudut ruangan, tepat di dekat lemari tua yang sudah ada sejak ia kecil.

“Aku di sini…”

Arcelia berdiri perlahan. Tangannya dingin. Ia tahu suara itu tidak nyata, setidaknya begitu yang ia yakini setiap pagi. Tapi malam selalu membuat keyakinan terasa rapuh.

Ia melangkah mendekat ke arah lemari. Pintu kayunya sedikit terbuka, padahal ia ingat jelas sudah menutupnya.

“Berhenti,” gumamnya pelan. “Kamu cuma halusinasi.”

Namun tepat saat ia hendak menyentuh gagang pintu, bayangannya di cermin lemari bergerak sepersekian detik lebih lambat dari tubuhnya.

Arcelia membeku. Bayangan itu… tersenyum.

Bukan senyumnya.

Senyum yang berbeda. Lebih miring. Lebih tahu.

Lampu meja tiba-tiba berkedip.

“Arcelia Sayang” suara mamanya terdengar dari luar kamar.

Sekejap suasana kembali normal. Bayangan di cermin mengikuti gerakannya lagi. Lemari tertutup rapat.

Ia mundur satu langkah, jantungnya berdegup keras.

“Iya, Ma!” jawabnya berusaha terdengar biasa.

Beberapa menit kemudian ia turun ke ruang keluarga.

Ruang keluarga terasa hangat. Aroma teh melati memenuhi udara. Mamanya duduk di sofa, mengenakan cardigan lembut berwarna krem. Di sampingnya, Papa Alveron terlihat lebih lelah dari biasanya, tapi tetap berusaha tersenyum saat melihat putrinya.

“Elvarin sudah tidur Ma?” tanya Arcelia.

“Sudah sayang, katanya capek habis latihan basket,” jawab mamanya lembut.

Papa Alveron menatap Arcelia lebih lama dari biasanya. “Kamu kelihatan pucat Kak,” ucapnya pelan.

“Aku cuma capek aja Pa,” Arcelia mengalihkan pandang.

Ia tidak ingin menambah beban Papanya. Terlebih sejak masalah perusahaan mulai berembus semakin kencang.

Beberapa klien besar tiba-tiba membatalkan kontrak. Investor yang biasanya setia mendadak meminta audit ulang. Dan entah bagaimana, gosip tentang stabilitas perusahaan mulai beredar di media bisnis.

Papa Alveron tahu ini bukan kebetulan.

Ada yang sedang bermain... Dan ia punya firasat siapa.

Wanita bermata tajam itu. Yang muncul di kafe beberapa minggu lalu. Yang berpura-pura “tidak sengaja” bertemu lagi di sebuah gala perusahaan. Ia terlalu rapi untuk disebut kebetulan.

Malam semakin larut,

Di kamar utama, Papa Alveron berdiri di dekat jendela, memandangi halaman yang basah oleh hujan.

Mama Mirella menghampiri dan menyentuh lengannya pelan. “Kamu memikirkan kantor lagi Pa?”

Papa Alveron menghela napas, “Aku tidak takut perusahaan jatuh,” katanya jujur. “Aku cuma takut kalau semua ini mulai menyentuh kalian.”

Mama Mirella tersenyum lembut. “Kita sudah melewati lebih banyak dari ini.”

Ia mendekat, menyandarkan kepala di dada suaminya. Tidak ada kata-kata besar. Hanya keheningan yang penuh pengertian.

Di tengah gempuran wanita-wanita dengan tujuan tersembunyi, di tengah godaan yang sengaja diatur untuk meretakkan fondasi rumah tangga mereka, yang tersisa hanyalah dua orang yang memilih tetap berdiri berdampingan.

Dan itu cukup... Setidaknya untuk malam ini.

Di sisi lain kota,

Sebuah klub malam dipenuhi lampu ungu dan biru yang berkelip. Wanita bergaun hitam satin itu duduk menyilangkan kaki, menatap layar ponselnya dengan senyum tipis.

“Dia belum goyah,” katanya pada seseorang di ujung panggilan.

Suara di seberang terdengar samar.

“Kita percepat.”

Wanita itu tertawa kecil. “Tenang. Semua pria punya titik lemah.”

Ia mematikan panggilan.

Matanya berkilat, “Dan kalau bukan dia… mungkin bisa anaknya.”

Keesokan paginya.

Sekolah Arcelia terasa berbeda. Lorong yang biasanya ramai kini terasa seperti lorong panjang yang tak berujung. Suara langkah kakinya menggema lebih keras dari biasanya.

Saat ia membuka loker, selembar kertas jatuh.

Tulisan tangan merah.

“Kamu mulai mengingatnya, bukan?”

Tangannya gemetar.

Ia berbalik cepat. Lorong kosong.

“Kaelion?” panggilnya pelan.

Tidak ada jawaban.

Namun tepat di ujung lorong, sesosok bayangan berdiri, tinggi, diam, mengawasinya. Saat Arcelia berkedip, sosok itu menghilang.

Dan di saat bersamaan, ponselnya bergetar.

Pesan masuk dari nomor tak dikenal.

“Ulang tahun Elvarin akan jadi awalnya.”

Jantung Arcelia terasa seperti dihantam sesuatu yang tak terlihat.

Ia tahu.

Sesuatu sedang bergerak.

Bukan hanya di perusahaan papanya.

Bukan hanya di balik wanita-wanita itu.

Tapi sesuatu yang lebih lama. Lebih gelap. Dan ia merasa… semua benangnya perlahan mengarah padanya.

Di kantor pusat,

Papa Alveron menatap laporan keuangan yang baru masuk.

Angka merah.

Kerugian signifikan dalam satu malam.

Ia menutup map itu perlahan.

“Mulai,” gumamnya.

Permainan telah dimulai.

Dan tanpa mereka sadari, di balik konflik bisnis dan intrik manusia, sesuatu yang lain telah bangun, menunggu momen yang tepat untuk menyatukan semua retakan menjadi kehancuran.

Atau… kebangkitan.

Ponsel Arcelia masih bergetar di tangannya.

Pesan itu belum hilang dari layar.

“Ulang tahun Elvarin akan jadi awalnya.”

Napasnya memburu. Jarinya hampir menjatuhkan ponsel itu. Ia memaksa dirinya berpikir rasional.

Seseorang hanya sedang bermain-main. Seseorang hanya ingin menakutinya.

Tapi kenapa selalu tentang Elvarin?

Tentang adiknya.

Tentang keluarganya.

“Lia?” Suara Kaelion membuatnya menoleh cepat.

Kaelion berdiri beberapa langkah di belakangnya, tas selempang hitam di bahu, wajahnya terlihat lebih serius dari biasanya.

“Kenapa kamu pucat banget Lia?,” tanyanya pelan.

Arcelia ragu sepersekian detik. Lalu ia menunjukkan layar ponselnya tanpa berkata apa-apa.

Kaelion membaca. Rahangnya menegang.

“Nomor tak dikenal?”

Arcelia mengangguk.

“Sudah sering?” tanyanya lagi.

Ia terdiam.

“Lia”

“Bukan pesan,” bisiknya. “Tapi… hal lain.”

Kaelion menatapnya dalam. “Hal lain seperti apa?”

Arcelia ingin menjawab. Tentang bayangan di cermin. Tentang suara yang memanggil namanya saat malam terlalu sunyi. Tentang mimpi yang terasa seperti kenangan. Tapi kata-kata itu terasa gila bahkan di kepalanya sendiri.

“Aku merasa… ada yang mengawasi,” akhirnya ia berkata pelan.

Kaelion tidak tertawa. Tidak menganggapnya berlebihan.

Sebaliknya, ia melangkah lebih dekat.

“Kalau itu tentang keluargamu, kita cari tahu,” ucapnya tegas. “Aku nggak akan biarin kamu sendirian.”

Arcelia menatapnya. Untuk pertama kalinya hari itu, dadanya terasa sedikit ringan.

Sementara itu,

Di kampus yang tidak terlalu jauh dari kantor pusat Virellia Group. Bang Kaiven duduk di ruang diskusi fakultas bisnis, laptop terbuka di hadapannya. Di layar, grafik saham perusahaan keluarganya turun tajam.

Ia menekan rahangnya. “Ini bukan fluktuasi normal,” gumamnya.

Temannya, Radhit, mengintip layar. “Perusahaan bokap lo, kan?”

Bang Kaiven mengangguk.

“Kayaknya ada yang sengaja mainin.”

Ia menutup laptopnya pelan.

Sebagai mahasiswa, mungkin ia terlihat seperti anak kampus biasa. Tapi sejak dua tahun terakhir, Papa Alveron sudah mulai melibatkannya dalam rapat-rapat strategis tertentu. Bukan sebagai pewaris manja, melainkan sebagai pengamat.

Belajar membaca pola.

Belajar membaca manusia.

Dan pola ini terlalu rapi untuk disebut kebetulan.

Bang Kaiven mengambil ponselnya.

Pesan singkat untuk Papanya,

“Pa Aku akan ikut meeting sore ini.”

Balasan datang cepat.

“Datanglah. Kita butuh semua kepala yang bisa berpikir jernih.”

Di kantor pusat.

Papa Alveron berdiri di ruang rapat besar. Layar proyektor menampilkan daftar klien yang menghentikan kontrak secara bersamaan.

“Empat klien utama. Dalam waktu dua puluh empat jam,” ucapnya datar.

Wanita pertama, yang elegan dan profesional, berdiri di sisi kirinya. Ia mengenakan setelan abu-abu tua, rambutnya disanggul rapi.

“Polanya sama, Pak. Semua mendapat tawaran lebih tinggi dari perusahaan pesaing… yang baru berdiri tiga bulan lalu.”

Papa Alveron menyipitkan mata.

“Perusahaan bayangan,” gumamnya.

Pintu ruang rapat terbuka.

Bang Kaiven masuk dengan langkah cepat.

Beberapa eksekutif menoleh. Ada yang masih memandangnya sebagai anak kuliahan. Tapi Papa Alveron tidak pernah memperlakukannya seperti itu.

“Duduk,” ujar Papa Alveron singkat.

Bang Kaiven membuka laptopnya, menghubungkannya ke layar.

“Perusahaan pesaing ini,” katanya, “punya investor anonim. Tapi aliran dananya terhubung dengan ke tiga rekening yang sama, rekening yang juga pernah muncul di audit internal kita dua bulan lalu.”

Ruangan hening.

Wanita profesional di sisi Papa Alveron mengangguk pelan. “Artinya ada kebocoran dari dalam.”

Papa Alveron mengepalkan tangannya.

Pengkhianatan.

Di tempat lain,

Wanita bergaun hitam itu berdiri di balkon apartemennya, memandangi kota dari ketinggian.

Ia tersenyum ketika notifikasi masuk.

Laporan: Perusahaan mulai goyah.

Ia menyesap minumannya.

“Perlahan saja,” gumamnya. “Yang penting runtuhnya menyakitkan.”

Ponselnya berdering lagi.

Kali ini dari wanita lain, yang lebih hiper, lebih terang-terangan.

“Dia belum tergoda,” suara di seberang terdengar kesal. “Istrinya selalu muncul di momen yang salah.”

Wanita bergaun hitam tertawa pelan. “Kalau pintu depan tidak bisa dibuka, kita masuk lewat jendela.”

“Anaknya?”

“Anaknya.”

Sore itu,

Arcelia pulang lebih cepat. Rumah terasa terlalu sunyi.

“Elvarin?” panggilnya.

Tidak ada jawaban.

Ia melangkah ke ruang keluarga. Dan membeku.

Di meja, tergeletak sebuah kotak kado kecil.

Tanpa kartu nama.

Tanpa pita.

Hanya kotak hitam polos.

Perlahan ia mendekat. Jantungnya berdetak keras. Ia membuka tutupnya.. Di dalamnya, sebuah jam tangan anak laki-laki.

Model yang sama seperti yang pernah Elvarin tunjukkan padanya beberapa minggu lalu di etalase toko.

Di bawah jam itu, ada secarik kertas,

“Hitung mundurnya sudah dimulai.”

Lampu ruang keluarga tiba-tiba mati. Seluruh rumah gelap.

Arcelia terdiam, napasnya tercekat. Dan dalam kegelapan itu, ia mendengar suara yang sama seperti di kamarnya semalam.

Lebih dekat.

Lebih jelas.

“Arcelia…”

Bukan hanya bisikan.

Kali ini, terdengar seperti seseorang berdiri tepat di belakangnya.

1
Anaya Barnes
siap kaka
makasih udah mampir🙏
mfi Pebrian
aku dah mampir yah.....cerita nya bagus.....tetap semangat.
jangan lupa mampir juga di novel aku judul nya"Dialah sang pewaris"di tunggu yah....
Raine
jujur ceritanya bagus, tapi sedikit bosan untuk saya, narasi author di setiap bab selalu mengulang kalimat dengan arti yg sama, kayak udah baca tadi trus di baca ulang lagi dan lagi
mfi Pebrian: mampir kak di novel saya"Dialah sang pewaris"
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!