NovelToon NovelToon
Bakti Suami Derita Istri

Bakti Suami Derita Istri

Status: tamat
Genre:Ibu Mertua Kejam / Romansa / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:209.2k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

"Bagimu, Ibu adalah surga. Tapi bagiku, caramu berbakti adalah neraka yang menghanguskan masa depan anak kita."

Disa mengira pernikahannya dengan Abdi adalah akhir dari perjuangan, namun ternyata itu awal dari kemelaratan yang direncanakan. Abdi adalah suami yang sempurna di mata dunia anak yang berbakti, saudara yang murah hati. Namun di balik itu, ia diam-diam menguras tabungan pendidikan anak mereka demi renovasi rumah mertua dan gaya hidup adik-adiknya yang parasit.

​Saat putra mereka, Fikri, butuh biaya pengobatan darurat, barulah Disa tersadar: Di dompet Abdi, ada hak semua keluarganya, kecuali hak istri dan anaknya sendiri.

​Kini, Disa tidak akan lagi menangis memohon belas kasih. Jika berbakti harus dengan cara mengemis di rumah sendiri, maka Disa memilih untuk pergi dan mengambil kembali setiap rupiah yang telah dicuri darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bakti Suami Derita Istri

​Apartemen Disa, 08.00 WIB.

​Pagi ini Disa mengambil cuti. Bukan untuk beristirahat, tapi untuk mempersiapkan amunisi terakhir bersama Rendi sebelum sidang perdana dimulai lusa. Di meja makan apartemennya yang minimalis namun elegan, tumpukan dokumen audit sudah tertata rapi.

​"Fikri sudah bangun, Sayang?" sapa Disa melalui sambungan video call ke kampung halamannya.

​Wajah mungil Fikri muncul di layar, tampak sehat dan ceria di gendongan kakeknya. "Sudah dari subuh Bun! Fikri habis makan bubur buatan Nenek dan setiap subuh Fikri ikut kakek sholat jamaah di masjid, oh iya Bunda kapan pulang?"

​Hati Disa terasa berdesir. Rasa lelahnya seolah menguap melihat senyum anaknya. "Masya Allah pintarnya anak Bunda, sebentar lagi ya, Nak Bunda pulangnya, nanti Bunda selesaikan pekerjaan di sini dulu, nanti Bunda bakal jemput Fikri lagi kok. Kita jalan-jalan ke taman Safari sama Kakek dan Nenek, mau?"

​"Mau!" seru Fikri girang.

​Setelah mengakhiri video call dengan putranya, Ibu Disa mengambil alih ponsel. "Dis, Bapak sama Ibu selalu berdoa buat kamu. Jangan takut sama mereka. Uang lima ratus juta yang mereka kirim itu memang hak anakmu, tapi jangan sampai itu buat kamu luluh. Ingat gimana hancurnya kamu waktu Fikri sakit dulu."

​"Disa ingat kok Bu tenaga saja. Disa nggak akan mundur satu langkah pun," jawab Disa mantap sebelum mengakhiri panggilan.

​Tak lama, bel apartemen berbunyi, dan akhirnya Disa mengakhiri panggilan video call dari kampung. Disa langsung berjalan kearah pintu apartemen dan membuka pintu.

Ternyata Rendi yang datang dengan pembawaan yang tenang seperti biasanya. "Pagi, Dis. Sudah siap untuk diskusi terakhir? Saya sudah membedah kemungkinan argumen pengacara Abdi nanti. Mereka pasti akan main di celah 'anak berbakti'."

​"Aku sudah siapkan mutasi rekening tambahannya, Ren. Rio juga sudah kirim data terbaru soal aset toko emas Rini yang ternyata ada beberapa yang atas nama Abdi sebagai bentuk 'hadiah'. Ini bisa kita tarik sebagai harta bersama," jelas Disa.

"Oke Dis kasus kali ini sungguh menarik." Jawab Rendi yang membuat Disa tersenyum.

​Di sisi lain kota, Abdi merasa seperti manekin hidup. Sejak pagi, Rini membawanya berkeliling toko pusatnya. Bukan untuk mengajarinya bisnis, tapi untuk memamerkannya kepada seluruh staf.

​"Ingat ya semuanya, ini Pak Abdi. Calon suami saya sekaligus pemilik baru di sini. Apa pun yang dia butuhkan, kalian harus layani," tegas Rini di depan puluhan karyawannya.

​Abdi hanya bisa tersenyum kaku. Ia mengenakan kemeja sutra yang harganya mungkin setara dengan tiga bulan gajinya dulu. Namun, ia merasa sangat tidak nyaman. Bukan hanya pakaian, bahkan pilihan dalaman yang ia pakai pun sudah disiapkan oleh Rini. Rini ini memiliki sifat yang sangat posesif bahkan dia tidak membiarkan Abdi memilih apa pun sendiri.

​"Mas, jangan ditekuk dong mukanya. Kamu itu sekarang sudah jadi bos," bisik Rini sambil merapikan kerah baju Abdi yang sebenarnya sudah sangat rapi.

"Nanti siang kita makan di Cafe Royale. Aku dengar itu tempat favorit para eksekutif. Aku mau dunia tahu kalau kamu sudah jauh meninggalkan masa lalumu."

​Abdi hanya mengangguk patuh. Ia merasa jiwanya perlahan terkikis. Ia rindu saat-saat ia bebas menentukan ingin makan apa atau memakai apa, meski dulu hidupnya pas-pasan bersama Disa. Kini, ia punya segalanya, tapi ia merasa tidak memiliki dirinya sendiri.

​Siang harinya di Cafe Royale, pukul 13.00 WIB. ​Takdir seolah sedang bermain-main dengan Abdi. Saat Rini dan Abdi masuk ke kafe kelas atas itu, mereka langsung menangkap sosok yang sangat mereka kenal di sudut ruangan. Disa dan Rendi sedang duduk berhadapan, asyik berdiskusi sambil menikmati makan siang mereka.

​Langkah kaki Abdi langsung terhenti. Matanya terpaku melihat Disa. Disa terlihat sangat cantik dengan rambut yang dibiarkan terurai dan aura profesional yang begitu kuat. Di depannya ada Rendi, Disa tampak tertawa kecil mendengar sesuatu, tawa yang sudah lama sekali tidak Abdi lihat karena dengan Abdi Disa selalu marah-marah.

​Rasa cemburu tiba-tiba membakar dada Abdi. Ia merasa ego lelakinya terinjak-injak melihat istrinya yang masih sah secara hukum terlihat sangat bahagia dengan pria lain yang tampak jauh lebih mapan darinya.

​"Wah, lihat itu. Ternyata auditor hebat kita lagi sibuk 'rapat' ya?" cibir Rini sengaja membesarkan suaranya.

​Disa dan Rendi menoleh. Disa hanya menaikkan alisnya, sementara Rendi tetap tenang, bahkan tidak beranjak dari kursinya.

​Abdi melangkah maju dan mendekati Disa dan Rendi, terlihat tangannya mengepal serta wajahnya dirundung amarah. "Disa! Ternyata benar kata Mama. Kamu itu sudah ada main sama laki-laki lain! Pantesan kamu ngotot minta cerai dan minta harta macam-macam, ternyata buat modal selingkuhanmu ini?" teriak Abdi, mencoba menarik perhatian pengunjung kafe lainnya.

​Beberapa orang mulai berbisik dan mengeluarkan ponsel. Abdi merasa di atas angin. Ia ingin membalikkan keadaan, mencitrakan Disa sebagai istri yang berkhianat.

​"Kamu nggak malu, Dis? Status kita masih suami istri, tapi kamu sudah berani jalan berduaan di tempat umum sama laki-laki ini? Di mana harga dirimu?!" lanjut Abdi dengan nada menghakimi.

​Disa perlahan meletakkan garpunya. Ia berdiri dengan sangat tenang, menatap Abdi dengan tatapan yang membuat nyali Abdi sedikit ciut.

​"Harga diri, Mas?" suara Disa terdengar jernih namun sangat tajam. "Kamu bicara soal harga diri di depan publik, sementara kamu sendiri datang ke sini mengenakan baju, jam tangan, bahkan mungkin sepatu yang dibelikan oleh perempuan di sampingmu itu?"

​Disa melirik Rini yang sedang bergelayut manja di lengan Abdi. "Kamu menuduhku selingkuh? Mas, kenalkan ini adalah pak Rendi beliau adalah Kuasa hukumku. Kami di sini sedang membahas bagaimana cara menyeret keluargamu ke pengadilan atas kasus penggelapan. Secara hukum, seorang klien bertemu pengacaranya di tempat umum adalah hal yang profesional."

​Rendi ikut berdiri, tersenyum tipis pada Abdi. "Pak Abdi, saya sarankan Anda berhati-hati dalam berucap. Menggiring opini tanpa bukti bisa saya laporkan sebagai pencemaran nama baik. Dan soal selingkuh..." Rendi melirik ke arah tangan Rini yang masih melingkar di lengan Abdi.

​"Bukankah Anda sendiri yang sudah tinggal satu atap dengan wanita lain padahal putusan cerai belum keluar? Siapa sebenarnya yang sedang berzina di sini? Saya punya bukti foto Anda keluar-masuk rumah saudari Rini loh. Apakah itu yang Anda sebut sebagai 'anak berbakti'?" skakmat dari Rendi.

​Wajah Abdi memerah padam. Para pengunjung yang tadinya menatap sinis pada Disa, kini justru menatap jijik ke arah Abdi dan Rini.

​"Jangan sok suci kamu, Disa! Kamu cuma mau hartaku kan?!" teriak Abdi putus asa.

​Disa tertawa renyah, tawa yang penuh penghinaan. "Hartamu, Mas? Harta yang mana? Uang seratus juta ganti rugi itu uang Rini. Uang lima ratus juta itu uang Rini. Rumah yang sekarang kamu tempati itu rumah Rini. Kamu itu cuma benalu yang pindah inang, Mas. Kamu tidak punya apa-apa."

​Disa melangkah mendekat, berbisik tepat di depan wajah Abdi yang mematung. "Jangan pernah bandingkan aku denganmu. Aku bekerja dengan otakku, sedangkan kamu... kamu menjual dirimu untuk menutupi hutang keluargamu. Selamat menikmati 'peran' barumu sebagai asisten janda kaya. Sampai ketemu di pengadilan, Mas."

​Disa kembali ke mejanya mengambil tasnya, dan menatap Rendi. "Ayo Ren, selera makanku mendadak hilang karena bau parasit di sini."

​Mereka berdua berjalan pergi meninggalkan Abdi yang berdiri mematung dengan rasa malu yang luar biasa, sementara Rini hanya bisa meradang karena dipermalukan di depan umum.

1
Ririn
semangat kak😍
fatmiatun sahono
sama sy juga. apa hubungan Tio ama abdi....
Soleh Sudarna
mobil dinas kantor mau diembat juga Mpookk..!!?!! dasar mertua sableng.. gakngitak bngt.. 😠😡
Soleh Sudarna
good job sweety..
Soleh Sudarna
kerreenn Diiss.. hajjarr bleehh.. 😀
jueriyah juer13
👍
jueriyah juer13
👍👍
jueriyah juer13
getok ajalah biar ancur🤣🤣🤣
Evi Goenharto
mana kak, ga ada yg judulnya itu yg session 2
Evi Goenharto
nah itu nyadar lu Mel
Evi Goenharto
org kufur nikmat, org sombong yg menyebut nama Allah ya gt, ga nyadar atas kesalahannya...
Evi Goenharto
hajaaarrrr Dis ampe mampus, aduh thor dirimu menguras emosikuh 🤣🤣🤣🤣
blcak areng: kak slahku apa 🤣
total 1 replies
Evi Goenharto
bagus, emang hrs gt jd istri, semakin kita diem makin diinjak2 ama keluarga parasit
Lina Ina
keluarga biawak hidup malas kerja tp mahu mewah2
Lina Ina
terbaik dasi 💪💪💪💪
blcak areng: Disa kak
total 1 replies
Lina Ina
💪💪💪💪 semangat disa
Sayekti 0519
keren bangett thooor,sukses slalu ya
blcak areng: terima kasih jangan lupa baca novel aku lainya ya kak 🙏
total 1 replies
Sayekti 0519
tragisnya dan kasian banget.tp apa mau d jata semua ada imbal baliknya
Sayekti 0519
dah mati ajalah kauu abdi,abdi nya setannn
Sayekti 0519
hadeeh... makin hancur moral sikawsn,bentar lagi kk nyalah d jual
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!