-TAMAT-
Muhammad Faiz Al Ghifari atau Gus Faiz adalah seorang anak laki-laki dari seorang Kyai besar yang memiliki pondok pesantren di pedalaman Jawa. Dia adalah sosok yang sempurna dan selalu menjadi bahan incaran para gadis dan ibu-ibu di manapun dia berada.
Suatu ketika Gus Faiz bertemu dengan Anindya Athaya Zahran, seorang santri putri angkuh yang selalu mencari 1001 cara untuk mengakhiri hidupnya.
Gus Faiz yang selalu tergerak untuk menggagalkan upaya bunuh diri Nindy tidak sengaja terlibat dalam perjanjian yang di luar nalarnya. Perjanjian yang benar-benar mengubah jalan hidupnya, perjanjian yang tidak berterima oleh akal sehatnya, dan perjanjian yang menyalahi aturan hidupnya.
Akankah Gus Faiz menepati janji itu? Bolehkah Gus Faiz melaksanakannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Upi1612, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BB 27 - Gelap Mata
Rizki yang tadinya berada di belakang Gus Faiz langsung menyejajarkan dirinya. Dia sangat ingin menggoda Gus Faiz, sekalian ingin menghibur Gus Faiz lewat candaannya itu.
“Cie, cie, yang abis pelukan sama Ning Aisha.” kata Rizki.
“Dia hanya jatuh dan saya menolongnya, tidak berpelukan.” kata Gus Faiz.
“Tapi pas Ning Aisha jatoh dan lo tangkap, asli so sweet banget.” kata Rizki sambil terkekeh.
Gus Faiz hanya tersenyum singkat. Menghargai usaha Rizki. Tapi dia tetap tidak mau melanjutkan pembicaraan tentang Aisha. Ning Aisha memang primadona untuk santri putra, hampir semua santri putra begitu mengaguminya, kecuali Gus Faiz. Gus Faiz tidak tertarik sama sekali dengan Aisha.
“Riz, bolehkah sebelum saya kumpulkan ponsel saya, saya pinjam dulu untuk menelepon Umi?” tanya Gus Faiz.
“Oh, boleh, Is. Tapi lo teleponnya di tempat yang aman ya. Tau kan?” tanya Rizki.
“Baik, saya akan ke sana sekarang juga. Terima kasih.” kata Gus Faiz. “Oiya, boleh saya minta tolong lagi, Riz?” tanyanya.
“Tolong apa, Iz?” tanya Rizki.
“Tolong laporkan ke Ustaz Ridwan kalau saya sudah kembali.” kata Gus Faiz.
“Baik, lo serahin aja itu ke gue. Beres pokoknya.” kata Rizki.
“Baik, terima kasih. Saya pergi dulu.” kata Gus Faiz.
Rizki hanya mengangguk menanggapi.
Gus Faizpun pergi ke sebuah tempat rahasia yang sangat jarang diketahui oleh para santri. Dia benar-benar ingin menelepon Uminya. Dia sangat merindukan beliau. Dia pergi ke atas loteng. Bagian atas pondok yang dijadikan Gudang, tidak banyak santri yang bisa masuk ke sana selain pengurus.
Gus Faiz menjatuhkan tubuhnya. Matanya menerawang ke depan sebentar. Kepalanya benar-benar pening.
Gus Faiz mengamati nomor telepon Umi. Dia benar-benar merindukan Uminya. Diapun lekas mengklik ikon hijau untuk menelepon Uminya.
TUT.. TUT.. TUT..
Tersambung. Seiring bunyi suara tanda menyambung jantung Gus Faiz kalut. Jujur, dia bingung hendak mengatakan apa pada Uminya. Hanya saja dia sangat ingin menelepon Uminya. Kepalanya sangat sakit.
“Halo, Assalamualaikum.” salam Umi di seberang sana.
“Waalaikumsalam, Umi.” Gus Faiz.
Kini Gus Faiz merasakan suaranya serak.
“Kamu kenapa, Nak?” tanya Umi yang menyadari ada sesuatu yang tidak beres pada putranya.
Gus Faiz mengeleng. Lalu menutup matanya, hingga loloslah air mata bening dari sudut matanya. Mulutnya kelu.
“Kamu kenapa, Nak? Kamu sakit?” tanya Umi yang mulai panik.
“Umi..” panggil Gus Faiz.
“Iya, Sayang?” tanya Umi lembut.
“Umi..” Gus Faiz tidak bisa mengatakan hal selain itu.
“Istighfar, Nak. Ada apa Nak?” tanya Umi.
Umi sangat paham. Ini bukanlah jadwal santri bisa menelepon orang tuanya, Umi tahu ada sesuatu yang telah terjadi pada putranya meski beliau tidak bisa memastikan masalah apa yang tengah menimpa putra semata wayangnya itu.
Gus Faiz beristighfar lalu mulai mengatur nafasnya. “Saya ingin pulang, Umi.”
DEG!
Bagai petir menyambar, Umi di seberang sana mulai terdiam. Kekhawatiran Umi semakin menjadi-jadi mendengar permintaan anaknya yang tiba-tiba ingin meminta pulang, padahal sebulan lagi waktu perpisahannya.
Umi tidak bisa berkata-kata. Dan di seberang sana, Abah langsung merebut ponsel itu.
“Nak, dengarkan Abah. Apapun yang terjadi, tahanlah dulu. Tinggal sebulan lagi, Nak. Selesaikanlah semuanya baik-baik.” kata Abah.
“Tapi Abah..”
“Kamu anak laki-laki, Nak. Abah harap kami bisa mempertahankan waktu satu bulan ini, ingat jangan buat Abah malu, jadilah anak baik.” kata Abah.
“Baik, Abah.” kata Gus Faiz. Suaranya tercekat di tenggorokan.
Gus Faiz mengusap wajahnya gusar. Ponselnya terjatuh dari genggamannya. Gus Faiz mulai lupa memberi salam dan lupa mematikan sambungan telepon.
“Allah..” kata Gus Faiz lirih, sambil mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya.
Umi yang masih menempelkan ponselnya di telinga mulai menitikkan air mata. Abah sudah pergi keluar kamar, meninggalkan Umi sendiri.
“Nak..” panggil Umi.
Karena sepi, suara Umi begitu terdengar. Gus Faiz yang tersadar kalau teleponnya masih tersambung langsung menempelkan ponselnya lagi di telinganya.
“Nak, dengarkan Umi..” kata Umi. Umi merasakan kalau anaknya tengah mendengarkannya.
Gus Faiz mengangguk. Gus Faiz menarik nafas dan menghembuskan perlahan, mencoba menghilangkan sesak di dada. Dia mencoba mendengarkan Umi.
“Pulanglah, bila kamu sudah merasa tidak bisa menjalaninya. Umi akan mencoba berbicara pada Abah." kata Umi lembut.
“Terima kasih, Umi.” kata Gus Faiz.
“Umi akan selalu ada untuk kamu. Kamu jangan sedih lagi ya.” kata Umi.
“Faiz sayang Umi.” kata Gus Faiz.
“Iya, Sayang. Umi tahu. Umipun sangat menyayangi Faiz.” kata Umi.
“Assalamualaikum.” salam Gus Faiz.
“Waalaikumsalam wa rahmatullahi wa barakatuh.” Gus Faiz menjawab.
Kini, sedikit beban mulai menghilang dari benaknya setelah berbicara dengan Umi. Meski Umi memperbolehkan dia untuk pulang, namun Gus Faiz bertekad untuk mencoba bertahan sampai hari kelulusan tiba.
Selesai menelepon Umi, Gus Faizpun turun dan menuju ruang pengurus untuk mencari Rizki dan menyerahkan ponselnya pada Rizki.
Setelah menyerahkan ponselnya, Gus Faizpun melangkah berjalan ke arah kamarnya, namun ntah mengapa dia melihat semua santri menatapnya dengan tatapan tidak suka. Gus Faiz yang bingung hanya diam saja.
“Ini dia, santri teladan yang abis meluk-meluk Ning Aisha!” seru Dimas.
Gus Faiz memandangnya dingin. “Kenapa memangnya? Kamu cemburu?”
“Gue? Cemburu? Hahaha mana mungkin.” kata Dimas.
“Dimas, dia itu anak Kyai. Lo tadi gak denger Abah panggil dia Gus? Jangan macem-macem lo.” seru teman Dimas yang tadi bersama Dimas.
“Oh, mentang-mentang dia anak Kyai, terus dia boleh seenak jidatnya gitu peluk-peluk Ning Aisha? Itu yang diajarin bokap lo ya? Bokap lo punya berapa istri? Pasti lebih dari empat ya? Hahaha.” tanya Dimas.
BUG!
Gus Faiz menonjok Dimas. Dia bisa menerima jika Dimas mengoloknya, namun dia tidak terima kalau ayahnya disebut-sebut seperti itu.
“Tau apa kamu soal ayah saya?” seru Gus Faiz. Matanya menggelap.
Keadaannya sedang tidak baik. Dan Dimas benar-benar mencari masalah dengan Faiz di waktu yang salah.
BUG!
Dimas balas menonjok Gus Faiz. Merekapun kini berkelahi di lantai.
“Bokap lo itu pasti Kyai nggak bener. Anaknya aja begini.” kata Dimas.
“Jaga mulut kamu!” Gus Faiz.
Merekapun terus berkelahi tanpa henti.
Anak-anak santri yang melihatnya langsung melerai mereka berdua. Namun tidak ada yang bisa melerainya. Seorang santri melaporkan kejadian ini pada Ustaz Ridwan. Ustaz Ridwan pun langsung kembali ke lokasi.
“Astaghfirullah al azim! Dimas! Faiz! Berhenti!” seru Ustaz Ridwan.
Gus Faiz dan Dimaspun berhenti setelah mendengar suara Ustaz Ridwan. Mereka lalu berdiri dan menunduk. Bagaimanapun kemarahan mereka antara satu dengan yang lain, namun mereka tetap menghormati guru mereka, salah satunya Ustaz Ridwan.
“Apa yang kalian lakukan?” seru Ustaz Ridwan. “Ingin jadi jagon? Iya?” bentak beliau.
“Dia yang menonjok saya duluan Ustaz!” seru Dimas.
“Afwan, Ustaz. Saya hanya membela ayah saya. Saya tidak terima dia menjelekkan nama ayah saya.” seru Gus Faiz.
Seketika Ustaz Ridwan terdiam. Dia belum pernah melihat Gus Faiz berkelahi apalagi menatap seseorang dengan mata penuh kebencian. Gus Faiz memang terkenal dingin namun untuk memperlihatkan kebenciannya, dia tidak pernah. Ustaz Ridwanpun langsung mengerti bahwa sesuatu telah terjadi pada Gus Faiz.
“Dimas, kamu bersihkan toilet lantai 1 dan 2. Faiz, kamu bersihkan toilet lantai 3 dan 4.” kata Gus Faiz.
“Tapi, Ustaz..” Dimas dan Gus Faiz bersamaan.
“Tidak ada tapi-tapian.” kata Ustaz Ridwan. Beliau langsung mencari Rizki, berniat untuk menanyakan apa yang terjadi pada Gus Faiz.