Rania, gadis yatim piatu yang hidup bersama neneknya. Kesulitan ekonomi membuatnya terpaksa tidak melanjutkan kuliah dan membantu neneknya bekerja di rumah majikannya di kota. Kasih sayang sang majikan dengan menganggap Rania seperti cucunya bahkan membiayai kuliahnya, membuat seisi rumah perlahan membencinya. Hingga pada puncaknya ketika Tuan Haryo sang majikan terbaring sakit tak berdaya, sejak itulah penderitaan Rania dimulai. Nasib baik tak melulu berpihak pada Rania, bahkan sang kekasih yang selama ini selalu mendukungnya pun meninggalkan Rania saat hamil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon baby Fy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. "Pindah"
“Kita akan keluar dari pulau ini” Ujar kedua pria tersebut sesaat setelah mobil mereka memasuki pelabuhan, mata Rania membulat tak percaya.
Devi menatap puing-puing rumah dengan tatapan kosong, pikirannya masih tertinggal pada beberapa saat lalu. Saat-saat sebelum nyawa sahabat nya terenggut.
Flashback
Rosa dan Devi berjalan menuju rumah Devi, mereka hendak mengambil beberapa berkas yang nantinya akan di perlukan untuk pindah ke Batam.
Sesampainya di dalam rumah, Devi dikejutkan oleh api yang sudah melahap sebagian besar dapurnya.
Rumah yang lumayan jauh dari tetangga membuat kebakaran sulit dicegah, saat Devi berteriak minta tolong, Rosa berusaha mengambil beberapa barang yang sekiranya bisa di selamatkan.
Rosa berhasil mengambil berkas-berkas penting milik Devi akan tetapi, saat hendak keluar api yang semula masih kecil mulai membesar karena terpaan angin yang begitu kencang, Rosa yang memiliki riwayat asma kesulitan untuk berjalan menuju pintu keluar.
Devi datang dengan bala bantuan, dicarinya Rosa ke segala tempat akan tetapi Devi tidak menemukan, ia hendak masuk ke dalam rumah sebelum para warga menahan tubuhnya.
“Awas! Bahaya itu.” Ujar salah satu tetangga Devi.
“Teman saya di dalam pak.” Devi tanpa pikir panjang menerobos celah api yang masih bisa dilewati tubuh kecilnya, ia berlari menuju tubuh tergeletak sahabatnya.
“Dev... Berkas kamu..uhukk.” Rosa tidak kuat menahan sesak karena asap.
Devi sendiri kesulitan membopong tubuh Rosa yang lumayan berat.
“Rosa bertahanlah!” Devi hendak membopong tubuh Rosa.
Dan beruntungnya beberapa tetangga masuk setelah berhasil memadamkan api di bagian depan.
ebagian tetangga membantu Devi membawa Rosa pergi, sebagiannya lagi mencoba memadamkan api di bagian dalam rumah.
Devi segera membawa Rosa ke rumah sakit bersama dengan tetangganya, berulangkali Devi menepuk pipi Rosa untuk memastikan temannya itu tetap terjaga.
“Rosa, bangun! Hei!” Napas Rosa tersenggal, dipengangnya tangan Devi.
“Tolong..jaga a..adik aku.. Dia belum tahu wajah ku... Tolong gunakan identitas ku Dev.. Jaga dia.” Bersamaan dengan itu, Rosa menghembuskan napas terakhirnya.
Devi menangis tersedu meratapi kepergian sahabat nya itu.
Flashback off
Devi melihat foto adik Rosa, sahabatnya itu baru saja menemukan satu-satunya anggota keluarganya setelah bertahun-tahun terpisah.
Rosa adalah anak yatim piatu yang ditemukan oleh kepolisian saat menangani kasus perdagangan manusia, Rosa hampir saja dikirim ke luar negeri kalau saja polisi tidak cepat datang.
Dan setelah itu Rosa memilih panti sebagai rumah untuknya berpulang, berbeda dengan sang kakak, adik Rosa yang bernama Dito rupanya telah dijual pada keluarga kaya raya.
Dan setelah bertahun-tahun terpisah Rosa baru menemukan sang adik lewat informasi yang diberikan oleh pelaku penjual adiknya yang kini sudah berhasil diringkus oleh kepolisian.
“Bagaimana bisa, Ros? Kamu meninggalkan aku, dan menyuruhku untuk menjadi dirimu.” Devi mengusap wajahnya, pikirannya sedang kacau.
“Jadi benar, Rosa menyuruhmu untuk menggantikan identitas nya?” Kepala Devi terangkat menatap orang di depannya, sejenak ia ragu menjawab akan tetapi tatapan mata orang tersebut tanpa sadar membuatnya mengangguk.
“Saya akan bantu kamu.” Devi semakin bingung.
“Tapi, adik saya..” Devi segera berdiri mengingat Rania, ia lupa telah meninggalkannya di tempat praktek bidan.
“Kalau kamu menjadi Rosa, tolong jangan libatkan adikmu.” Ujar orang tadi seketika Devi berhenti.
Ingin ia menolak untuk menjadi Rosa, akan tetapi tatapan memohon Rosa sebelum ajal menjemputnya membuat Devi bimbang.
“Kehidupan adikmu akan terjamin setelah ini, kamu bisa percayai saya.” Lagi-lagi tatapan mata orang tersebut membuat Devi tidak bisa menolak.
“Si..siapa nama anda?”
“Pras, panggil saya Pras.” Devi mengangguk begitu saja seperti dihipnotis, bahkan saat Pras membawanya pergi menggunakan mobil.
-
“Maaf, tuan. Dari kabar yang saya dengar, rumah itu sudah habis terbakar.” Vano memejamkan matanya.
Baru tadi ia dengar kondisi Keisha belum ada kemajuan lalu sekarang ia mendengar kabar bahwa rumah Rania terbakar.
“Tunggu! Bagaimana dengan Rania?” Vano menegakan tubuhnya, ia berharap masih sempat memohon ampunan pada Rania.
“Maaf, tuan. Para tetangga berkata ada seorang laki-laki yang menyelamatkan teman nona Rania. Namun setelah itu kabar mereka berdua seperti hilang ditelan bumi.”
“Aku tanya Bagaimana keadaan Raniaku!!” Vano membentak orang suruhannya itu.
Bahkan keadaan lorong rumah sakit yang ramai seketika sepi dan semua pandangan tertuju pada Vano.
“Nona Rania baru saja melahirkan anak berjenis kelamin laki-laki, akan tetapi saya tidak berhasil menemukan informasi lebih lanjut terkait keberadaan nya sekarang.” Ucap orang suruhan Vano saat melihat emosi Vano mulai tenang.
“Pergi!” Hari Vano yang segera dituruti oleh orang itu.
Vano jatuh terduduk di depan pintu ruang rawat Keisha, tangannya meremas dada kirinya yang begitu sakit.
Sebelahnya lagi mengusap air mata yang turun dengan kasar.
“Brengsek! Kau bodoh, Vano!” Umpat Vano pada dirinya sendiri.
-
Rania melirik malas ke arah depan, sedari tadi Arkan terus menyusu pada dirinya sedangkan tenaganya mulai terkuras habis.
Bahkan untuk melawan pada dua preman yang sedang menculiknya sekarang saja Rania tidak mampu.
Ckitt..
“Turun! Kita sudah sampai.” Ujar pria yang memegang kemudi mobil tersebut.
“Aku tidak kuat.” Rania berkata sejujurnya, sebelum melahirkan dia belum amakn apapun lalu setelah melahirkan ia belum sempat mengistirahatkan tubuhnya dengan baik.
Jangan lupakan rasa ngilu yang masih dirasakan Rania karena dibawa paksa disaat jahitannya belum kering. Jujur saja jika di suruh jalan sekarang dia tidak akan kuat.
Kedua preman itupun saling pandang, lalu setelahnya salah satu dari mereka mengeluarkan kursi roda dari bagasi untuk dipakai oleh Rania.
Rania hanya pasrah sambil menggendong Arkan ketika kedua pemuda manyuruhnya naik ke atas kapal yang begitu sepi. Rania berpikir kapal tersebut pasti milik pribadi.
“Bos!” Panggil kedua preman tadi pada seseorang yang tengah menatap lautan, karena merasa terpanggil orang tadi pun menengok.
“Hai.” Sapa orang tersebut pada Rania, sedangkan Rania mendengus mengalihkan pandangannya.
“Ah sombong sekali. Sangat disayangkan nona cantik sepertimu harus diungsikan ke tempat yang jauh.” Rania menaikan sebelah alisnya mendengar perkataan barusan.
“Apa maksud anda?” Tanya Rania dingin.
“Padahal kau begitu pantas menyandang nama Wijaya, akan tetapi sepertinya keluargamu hanya menganggap kehadiranmu sebagai aib. Oleh karena itu, tuan Rama memintaku untuk membawamu keluar negeri.” Ujar pria tadi sambil tersenyum.
Rania lemas seketika mendengar pernyataan pria itu barusan. Didekapnya erat Arkan yang sedang tertidur di pelukannya, satu-satunya keluarga yang ia punya.
Rania tidak bisa menitipkan air matanya, rasa kaget dan benci seakan mendominasi hatinya sekarang.
“Kita akan berlayar ke Surabaya dulu untuk menjemput orang tua angkatmu kelak di luar negeri. Dan selama di perjalanan luka mu akan diobati, setidaknya tuan Rama masih berbaik hati pada anaknya sendiri.” Kuping Rania semakin panas mendengar perkataan orang itu.
Dadanya naik turun menahan emosi sedangkan orang tadi menyeringai puas melihat keadaan Rania.
“Oh iya, kalau ada apa-apa kau bisa minta bantuanku. Namaku Prasetya, panggil saja Pras.” Ujarnya lalu pergi meninggalkan Rania yang kini diantarkan menuju kamarnya.
----
Rate Menunggu Mu
ga sudi pake banget klw rania balik sm vano yg najisin....
yuhhh.. sudah bekasan gitu... menjijikan..