Azimah gadis lulusan SMA yang harus berkorban demi kehormatan keluarganya. ia harus rela menjadi istri muda seorang pria kaya yang sudah kepala lima.
Dalam menjalani kehidupan poligami ia harus mengikuti serentetan peraturan yang merantai kebebasannya. Namun dengan keteguhan dan kecerdasannya ia dapat mengubah pemikiran suaminya dan para istri yang lain. Ia harus bertahan dan menunggu kebebasan dirinya datang dengan sendirinya tanpa melanggar norma-norma agama maupun hukum.
Di tengah kehidupan poligami yang menyiksa batinnya, ia bertemu dengan seorang pengacara tampan yang kemudian mendiami hatinya. Mampukah ia bersatu dengan pengacara tampan itu tanpa kata "selingkuh" ataukah ia memilih setia pada suaminya yang sah. Atau justru berlari dari kehidupan yang pelik.
Novel ini penuh dengan drama, skandal dan intrik para tokohnya. penuh misteri juga peristiwa tak terduga. Bagaimana akhir kisahnya???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mimi Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perpisahan di Narmada
Jam sepuluh malam.
Aku sudah mandi dengan air hangat. Itu pesan Ibuku jika aku beraktivitas hingga malam hari fan belum mandi di sore harinya, maka sebaiknya mandi dengan air hangat. Karena pada waktu itu, jantung sudah waktunya beristirahat. Sehingga jika air dingin yang membasahi tubuh akan memaksa jantung kembali bekerja, inilah yang kemudian menjadikan penyakit pada jantung. Untuk itu jika terpaksa mandi pada malam hari, sebaiknya gunakan air hangat.
Tanganku sudah menggenggam kertas itu. Aku siap membukanya. Bagaimanapun jika benar isinya adalah nomer telepon Varun? Jadi dia memintaku menghubunginya duluan? Wanita seperti apa yang menghubungi lelaki duluan. Bagiku itu masih hak yang tabu.
Aku tidak akan tahu jika tak kubuka. Lalu akan kuputuskan nanti. Apakah aku akan menghubungi nya atau tidak. Bismillah. Siap tidak siap harus siap. Kubuka pelan-pelan kertas itu. Bukan nomer telepon. Tapi sebuah alamat kurasa. Nama sebuah klinik dan lokasinya. Aku kurang paha wilayah Lombok ini. Meski aku sudah sekitar delapan bulan di rumah ini tapi aku belum pernah berkeliling Lombok.
Kreek....
Marni membuka pintu.
"Nyonya sudah tidur?"
Aku menggeleng.m
"Kenapa belum tidur?" Tanya Marni sambil memasukkan pakaian-pakaianku yang terlipat rapi ke dalam lemari.
"Marni, kamu tahu ini?" Tanyaku tanpa menjawab pertanyaan Marni sebelumnya.
Marni mendekat padaku. Ia memeriksa kertas yang kusodorkan.
"Iya Nyonya, ini di Mataram, tapi siapa yang memberikan ini pada Nyonya?"
"Duduklah Marni" Kataku.
Marni menuruti perintahku. Ia duduk sejajar denganku sekarang. Aku tahu seharusnya seorang pelayan duduk di bawah. Tapi aku juga tahu bahwa pelayan juga manusia, bukan budak yang melayani raja. Kurasa aku perlu hormat sedikit pada pelayanku uang usianya diatasku. Aku rasa itu wajar.
"Varun memberikan ini padaku"
Marni tidak kaget. Dia hanya mengangguk. Aku curiga dia melihat peristiwa tadi pagi. Peristiwa saat Varun memelukku. Bagaimana ini. Akankah ia bisa menyimpan rahasia ku? Dia dibayar oleh Romo buka olehku. Dia akan condong ke siapa? Ke Romo atau kepadaku?
"Apa Nyonya mencintai pemuda itu?"
Deg. Pertanyaannya seperti petir di telingaku. Dia bertanya langsung pada poinnya. Aku harus jawab apa.
"Aku tidak tahu. Menurutku dia penipu" Kataku berbohong.
Satu sisi hatiku memang menganggap dia seorang penipu karena semua kalimatnya membuatku curiga. Namun sisi yang lain mempercayainya, bahwa laki-laki itu mampu menyentuh hatiku.
"Menurutku dia mencintai Nyonya" Komentar Marni.
Hatiku berbunga-bunga mendengar itu. Ada satu orang yang paling tidak memberi rating untuk Varun.
"Darimana kamu tahu?"
Pliiisss tolong jangan bilang kalau kamu lihat kejadian itu. Plisss
"Setiap dia memandang Nyonya, dia seperti ingin melindungi Nyonya, tapi melindungi dari apa"
Syukurlah, dia tidak membahas tadi pagi.
"Nyonya ingin menemuinya?" Marni bertanya.
"Bagaimana menurutmu?"
"Menurutku Nyonya ingin menemuinya"
Aku hendak melanjutkan obrolan kami tapi tiba-tiba pintu diketuk. Marni segera menuju pintu untuk mengetahui siapa yang datang.
"Nyonya, Mas Mehmed ingin bertemu Nyonya" Kata Marni.
Mehmed? Ada apa dengan dia? Bukankah masalahnya dengan Romo sudah selesai? Aku segera keluar menuju tempat dimana Mehmed sudah menungguku. Mehmed menungguku di balkon samping, tempat dimana pertama kali kami ngobrol dengan cukup dekat.
Kulihat Mehmed berdiri menghadap keluar. Ia sendiri tanpa ditemani pelayannya. Kudekati dia pelan-pelan. Semoga tak ada masalah lagi.
"Mehmed" Panggilku.
Mehmed menoleh. Ekspresinya datar, tidak sedih tapi juga tak terlihat senang. Ada apa sebenarnya. Mehmed menyodorkan hapenya padaku. Aku tahu ia memintaku melihat sesuatu di dalamnya. Kupenuhi keinginannya. Sebuah pesan dari nomer yang diberi nama 'mel_mel'.
mel_mel :
Med, aku berangkat lusa.
Mehmed:
Semoga bahagia
mel-mel:
Bisa ketemu sebentar?
Mehmed:
Maksudnya
mel_mel:
Pertemuan terakhir. Taman Narmada.
Sudah dapat kusimpulkan, Melati ingin bertemu Mehmed di Taman Narmada. Aku tidak tahu dimana letaknya tapi kurasa itu tempat yang akan dijadikan sejarah bagi hidup Mehmed dan Melati.
"Kamu ingin bertemu dengannya Med?" Tanyaku.
"Aku tidak tahu Bu, apakah baik jika aku menemuinya. Apakah Romo akan menyetujui ini jika dia tahu?"
Pertanyaan yang aku sendiri tidak bisa menjawab. Dia bertanya pada orang yang salah.
"Tanyakan saja pada hatimu, apa kau ingin bertemu dengannya?" Tanyaku serius.
Mehmed mengangguk pelan.
"Aku ingin Ibu menemaniku" Katanya melanjutkan.
Aki terperangah sesaat. Dia ingin aki yang menemaninya dan bukan Ibu kandungnya. Bagaimana jika Mbakyu tahu hal iji, apakah ia akan memperbolehkan dengan ikhlas? Atau ia akan kecewa dan meminta anaknya menjauhiku. Ah Mehmed kau membuatku jadi serba salah.
***
Taman Narmada.
Terletak di kecamatan Narmada, sebelah timur dari kecamatan tempat tinggalku. Konon, Taman Narmada adalah replika dari gunung Rinjani yang menjadi gunung suci rakyat Lombok. Menurut cerita rakyat, dahulu masyarakat Hindu pulau Lombok setiap tahun merayakan upacara Pujawali, upacara persembahan kepada dewa Idha Bhatara dengan menaiki gunung Rinjani dan memberikan sesajen di puncak gunung itu. Namun karena Raja semakin tua dan tak mampu lagi menaiki gunung Rinjani, beliau memerintahkan untuk membangun replika dari gunung Rinjani lengkap dengan danau, semak, hutan yang menyerupai kondisi real gunung Rinjani. Replika ini dibangun dari anak gunung Ngurah-Ngurah Karangasem. Aku membaca semua berita itu dari internet semalam untuk mencari lokasinya dari jalan terdekat.
Aku dan Mehmed berangkat menuju Narmada menggunakan mobilku. Jujur saja aku tak percaya sopir lain selain Pak Usman. Beliau adalah satu diantara tiga pelayan yang kupercaya. Pak Usman, Marni dan Tina. Untunglah Mehmed menyetujui usulku untuk tidak membawa serta pelayannya. Mengenai Mbakyu, entah kenapa ia membolehkan begitu saja saat aku meminta ijin membawa Mehmed bersamaku dengan alasan menjadi guide ku keliling Lombok. Sepertinya Mbakyu merasa hitang budi atas jasaku membantu menyelesaikan masalah Mehmed dengan Romo.
Lokasi Taman Narmada sekitar 17 Km dari rumah kami. Dan perjalanan yang dibutuhkan sekitar 30 menit jika lancar.
Sampai di Taman Mundu. Kami mencari keberadaan Melati. Mehmed menelepon Melati sebentar.
"Di Balai Petirtaan Bu" Kata Mehmed melapor.
Kami menuju lokasi yang dimaksud. Setelah mendekayi lokasi itu. Aku berhenti sejenak. Aku bisa melihat Melati. Dia memang cantik dan menarik. Dia memakai kaos putih pendek, dan celana jogger warna abu-abu gelap. Rambutnya dibiarkan terurai namun semakin menambah pesonanya. Dia memang cantik. Penampilan yang sederhana tidak menutupi kecantikannya namun justru membuat penampilannya simpel namun berkelas.
"Ibu tunggu di sini. Kamu, selesaikanlah berdua. Ibu kasih waktu dua puluh menit ya" Kataku.
Mehmed mengangguk. Aku masuk dalam tempat peristirahatan serupa gazebo namun lebih besar dari lengkap. Dari sini aku bisa memantau mereka.
Mehmed mendekati gadis itu.mereka berhadapan lalu duduk berdua di tepi kolam namun di atas kursi yang terbuat dari batu. Mereka berbicara berdua. Aku pernah muda, aku tahu rasanya duduk bersanding dengan orang yang dicintai. Sungguh sangat bahagia. Karena itu aku tak mau merusak kebahagiaan mereka. Aku hanya butuh mengawasi agar tidak terlalu.
Dua puluh menit sudah. Mereka masih berbincang dengan posisi yang sama. Tampaknya mereka anak remaja yang polos, tidak perlu mengkhawatirkan yang berlebihan. Kuberikan sedikit waktu lagi untuk mereka. Sepuluh menit lagi sembari aku menikmati loloh cemcem yang kupikir hanya ada di Bali, ternyata di sini pun juga ada.
Sepuluh menit sudah penambahanku. Saatnya aku menemui mereka. Kudekati mereka pelan-pelan.
"Melati" Panggilku.
Melati menoleh dan tampak takut melihatku. Mungkin ia berpikir aku akan melakukan hal yang sama ketika di rumahnya. Jujur aku kasihan pada anak itu. Menurutku dia tulus menyukai Mehmed namun caranya masih salah. Dan kesalahan mereka dimanfaatkan oleh Ibunya untuk mengeruk kekayaan.
Aku memeluk Melati. Aku tahu rasanya berusaha berbakti pada orang tua.
"Semoga bahagia" Bisikku.
Melati memandangku lekat-lekat. Mungkin ia bingung ternyata aku tidak sekasar waktu di rumahnya. Aku tersenyum agar ia tidka takut lagi.
"Semoga perjalananmu menyenangkan" Kataku lagi.
Melati masih diam sampai Mehmed yang berbicara dahulu.
"Melati akan segera berangkat Bu, dia minta maaf" Kata Mehmed.
Suara Mehmed tak seperti biasanya. Sedikit parau. Dia pasti sedih sekarang.
"Maafkan saya dan keluarga saya Nyonya" Kata Melati terbata-bata.
Aku mengangguk. Aku tahu dia sangat malu. Semoga kelak ia bisa bahagia dengan keputusannya sendiri tanpa bayang-bayang Mehmed. Begitupun anak tiriku Mehmed.
"Ini untukmu" Aku melepas kalung permata berwarna merah yang diberikan Romo dulu dan kukalungkan di leher Melati. Kuberikan itu sebagai kenang-kenangan. Kalung itu tak begitu mencolok, sehingga cocok dipakai remaja seusianya. Kalungku masih banyak, Romo juga tak akan ingat dengan kalungku itu. Biarlah, semoga Melati menyukainya.
Kami meninggalkan Melati di sana. Kata Mehmed dia akan pulang ke rumah saudaranya di Narmada. Untunglah. Jika aku mengantarnya pulang aku khawatir timbul masalah baru. Semoga dia mengerti.
Sepanjang perjalanan kulihat Mehmed murung. Aku tahu dia sedang sedih berpisah dengan Melati. Tapi aku yakin perpisahannya tak semiris perpisahanku dengan Firman. Ah Firman lagi, apa kabarmu Firman?
***
cerita baguuusss...
seruuu...
sukses trs tuk karya2nya 💕💕💕💕