Bebas promosi!
Bukan, Pengantin yang tak Dirindukan.
Dicintai, atau mencintai. Mana yang akan kamu pilih? Jika Winda memilih untuk mencintai, berharap sosok yang dicintai balik mencintai. Namun, sayang. Harapan tidak sesuai kenyataan.
Kepahitan harus diterima. Kala orang yg terlihat benar berjuang. Nyatanya, hanya tipu muslihat semata.
Lantas, apa yang akan terjadi? Penasaran, yuk kita simak kisah selengkapnya!
Happy reading!
IG: @fakhiral2013
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fakrullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Sedari tadi Dedi gelisah. Winda yang di bawanya sekarang hilang entah kemana. Begitupula Rafka, Istri tercinta pergi tanpa pamit kepadanya. Ingin menghubungi, tapi ponsel ada padanya. Karena tadi, Annisa menyuruh Rafka memegang dompetnya, tak ingin ribet karena ingin makan dessert sepuasnya.
Ya, sebelumnya Annisa sudah bilang kepada Rafka jika ia ingin sekali dessert yang ada di sana. Pertama kali mereka memasuki tempat itu, pandangan mata Annisa sudah tertuju kearah dessert yang tersaji di ujung sana.
Mungkin karena saat ini Annisa sedang hamil, maka dari itu indera penglihatannya tentang makanan sungguh sangatlah luar biasa.
Dari ujung sana, kini sudah tampak Winda beserta Annisa yang berjalan berdampingan. Winda tampak tersneyum, begitupula dengan Annisa. Begitu melihat Rafka, seketika senyumnya merekah dengan sendirinya.
“Maaf Bang, jadi bikin khawatir. Tadi Nisa nemanin Winda ke toilet. Lihat Abang lagi sibuk ngobrol, Nisa jadi nggak permisi deh, takut ganggu.” Jelas Annisa.
Sementara itu disana.
“Winda, kamu pergi kok nggak bilang-bilang sih?” terlihat gurat kekhawatiran di wajah Dedi.
“Mau pipis harus bilang dulu kah sama Kak Dedi?” Winda mengerutkan keningnya.
“Ya, harus. Karena tadi, aku hampir takut saat melihatmu tidak ada disini.”
“Hampir takut kan Kak, belum takut sama sekali.” Winda memperjelas kalimat Dedi.
“Ya,” Dedi mengangguk ragu. “Eh, bukan seperti itu.” Sudah ragu akan ucapannya.
“Kak, udah larut nih. Antarin Winda pulang ya.” wajah Winda terlihat kecut. Semangatnya hilang seketika, saat mendengar kalimat hampir dari Dedi.
“Kenapa buru-buru? Kita kan belum makan.”
“Iya, tapi Winda sudah kenyang.” Ketus Winda.
Entah mengapa, gadis itu merasa kesal sekarang. Kesal karena mendengar kata hampir yang diucapkan Dedi barusan.
“Yasudah, kalau gitu kita pamit sama Nisa dan Rafka dulu ya.” ajak Dedi. Lelaki itupun kini membalikkan badan lalu berjalan menghampiri Annisa dan Rafka. “Nisa, Rafka. Aku balik duluan ya, Winda dah nggak betah disini.” Tukas Dedi.
“Loh, kok bisa?” sambar Annisa. “Perasaan tadi Winda asik-asik aja. Tapi kok sekarang jadi minta pulang?”
Tanpa ingin menunggu jawaban dari Dedi. Annisa lantas segera melangkah pergi mendekati Winda yang berdiri tak jauh darinya.
“Win, kamu benar ingin pulang sekarang?” tanya Annisa.
Winda menjawab dengan menganggukan kepalanya pelan.
“Loh, kok gitu?” Annisa mengerutkan dahinya, menatap tajam kearah Winda.
“Winda ngantuk Kak. Udah malam juga, nggak enak sama Ibu dan Ayah nanti.” Kilah Winda.
“Hmm,” Annisa menghembuskan sembarangan nafasnya. “Ibu dan Ayah, itua urusan Kakak. Sekarang kita makan bersama di sana, baru setelah kita pulang bersama-sama. Kakak akan ngantar kamu pulang sampai rumah.” Tutur Annisa.
Tak ingin mengecewakan Kakaknya. Winda pun mengangguk, menuruti ucapan Kakaknya.
***
Malam semakin larut. Rintik-rintik hujan mulai turun perlahan membasahi bumi. Angin di luar sana bergerak meniup daun-daun kering yang kini perlahan terkena dengan rintikan air hujan. Di sebuah kamar yang terbilang cukup luas, telah terbaring seorang pemuda tanpa memakai pakaiannya. Lelaki itu bertelanjang dada, dengan memakai celana panjang.
Berulang kali ia berusaha memejamkan mata. Namun, rasa kantuk tak kunjung datang juga. Dedi kembali terbangun dari tidurnya, ia bangkit lalu memilih duduk seraya menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur miliknya. Membentangkan sayap, lalu menghembuskan kasar nafasnya.
“Huffft! Ada apa denganku. Kenapa aku terus memikirkannya.” Dedi menatap keatas, melihat langit-langit kamarnya yang temaram karena cahaya lampu tidur yang redup.
Di palingkannya wajahnya kearah samping, dimana Dedi meletakkan ponselnya. Di sebuah meja kecil yang ada di samping ranjangnya. Dedi pun mengulurkan tangannya dan mengambil ponsel itu. Perlahan, ia mengusapkan jari tangannya ke layar ponsel miliknya. lalu kini memilih satu menu yang ada di sana. Galery , menu itu pilihannya.
Di bukanya beberapa foto lama, saat ia masih sekolah dengan Annisa. Waktu itu Dedi masih gemuk dan tak ada satupun yang mau berteman dengannya, kecuali Annisa. Dedi tersenyum mengingat masa-masa indah bersama,
mengenang kejenakaannya saat sedang bersama Annisa.
Sekilas, di tengah keasyikannya mengenang masa lalunya itu wajah Winda seketika hadir di benaknya. Dedi mengedipkan matanya, berusaha menghilangkan bayangan itu. Namun entah mengapa, wajah Winda muncul lagi saat Dedi berusaha mengenang kembali saat-saat bersama Annisa.
“Ada apa ini? Kenapa denganku? Jelas-jelas wanita yang ku cintai adalah Annisa. Tapi kenapa kini wajah Winda tiba-tiba saja melintas di fikiranku?” pertanyaan itu terlontar untuk dirinya sendiri.
Dedi mengerutkan keningnya. Tak habis fikir dengan pemikirannya sendiri. Wajah Winda terus hadir dalam benaknya. Senyumnya, tawanya, bahkan tingkah malunya saat tadi Dedi menjemput Winda dirumahnya juga
ada di benaknya.
“Oh, Tuhan, mungkinkah aku—“
Dedi tak melanjutkan kalimatnya. Seketika ia tersadar jika ia tak harus memikirkan hal itu. Bagaimana bisa posisi Annisa tergantikan begitu saja oleh wanita lain di hatinya. Ya, meskipun Dedi sadar, jika ia dan Annisa tak mungkin bersama. Namun perasaannya ini masih terpupuk dengan baik untuknya.
“Maafkan aku Annisa. Perasaan ini tak bisa hilang begitu saja.” Lirihnya seraya membayangkan kembali wajah Annisa. “Maafkan aku Rafka, aku tidak bermaksud mengkhianatimu. Perasaanku ini sudah ada sebelum kau mengenal Annisa dan menjadi suaminya. Dan juga percayalah, melihatmu dan Annisa bahagia sudah cukup membuatku senang.” Lirihnya lagi.
Dedi kini kembali menggeser foto-foto yang ada di ponselnya. Melihat beberapa kenangan yang masih tersimpan rapi di sana. hingga pada suatu ketika saat Dedi menggeser asal foto-foto yang tersimpan di sana. sebuah foto
dengan wajah yang sangat ia kenal kini muncul di depannya.
“Winda.” Dedi tersenyum. “Akankah aku menjadi orang jahat jika aku memilih memulai hubungan dengannya?” pertanyaan konyol tiba-tiba saja muncul di benaknya. “Gadis ini cantik, baik, pintar dan juga sangat ceria. Bersamanya mampu mengobati lukaku, melupakan Annisa walau hanya sebentar saja.” Lirihnya.
Dedi lalu memejamkan matanya sejenak membayangkan saat-saat ia sedang bersama Winda. Pria itu kemudian tampak mengulum bibirnya, mengulas senyumnya saat membayangkan Winda tersenyum dan juga menunduk malu di depannya.
Perlahan Dedi merosotkan tubuhnya ke ranjang empuk miliknya. Membaringkannya, seraya terus memejamkan mata. Pesona Winda, kini seolah berhasil meluluhlantakkan hatinya yang tengah dilema.
Hayo.. bagaimana tanggapan kalian dengan sikap Dedi. Apakah kalian setuju jika Dedi membuka hatinya serta melabuhkannya untuk Winda. Atau kalian ingin Winda mendapatkan yang terbaik, yang benar-benar sayang, cinta, tulus kepada Winda. Siapa kira-kira pria yang cocok untuknya? Dedi, Fery, Ardish, atau ada yang lain lagi? Isi jawaban kalian di kolom komentar ya, siapa tau hal itu bisa menjadi referensi untuk kisah selanjutnya^^ jangan lupa juga tinggalkan Like, Vote dan Tips nya ya, terimakasih.
TBC.
sudah sekian lamanya, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun.. akhirnya bisa lanjut lgi alur ceritanya.
aq suka banget ceritanya .
please thor.. episode berikutnya jangan kelamaan..🙏❤️❤️
ternyata Reno.mantan suami Maya, kalo gak salah.