Di saat suasana yang kurang baik akibat kena PHK, seorang gadis bernama Alena malah melihat orang yang hendak bunuh diri.
Namun, bukannya berhasil menyelamatkan malah Alena terjun bebas dari atas gedung tersebut. Alena pasrah saat merasakan dirinya yang sudah tidak berdaya, namun ternyata Alena malah masuk ke dalam sebuah Novel yang sangat dia sukai.
Meski dia tidak suka akhir dari novel itu, tapi dia sangat menyukai sosok antagonis yang berakhir mengenaskan itu. Yah mungkin karena namanya dan nama antagonis itu sama.
Tunggu! Alena kini tersadar dalam tubuh antagonis? Bagaimana bisa? Sedangkan akhir mengenaskan kini berada di hadapannya.
Bagiamana Alena bisa lolos dari maut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Suara kepala terpenggal begitu nyaring, semua prajurit dan para penyihir menatap Mattias yang mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Darah hijau nampak mengalir di pedang Mattias hingga membasahi seluruh tubuhnya.
"Penggal kepala mereka!" Teriak Mattias, semua orang akhirnya mengangguk setuju. Para penyihir mulai memberikan pil mereka untuk mengisi kembali energi yang telah hilang.
Mattias menyeringai di hadapan para iblis, kini Mattias justru terlihat lebih menyeramkan dari para iblis. Tengkorak berwarna ungu keluar seperti hologram yang mengelilingi tubuh Mattias.
"Arrgh!" Teriak Mattias saat kedua lengannya mengayunkan pedang dengan kecepatan tinggi. Para iblis nampak kewalahan dengan pergerakan Mattias.
Langkah Mattias layaknya dewa kematian yang hendak menjemput mereka. Pedang muncul dalam tengkorak besar yang panjangnya sekitar 10 meter.
Mattias seperti terbang ke angkasa, kedua pedangnya di ayunkan bersamaan hingga para iblis dan prajurit Lapileon terseret pedang itu dan tubuh mereka terbelah menjadi dua.
Gemuruh teriakan penuh semangat terdengar dari prajurit Altair, Mattias memimpin mereka dengan kekuatan yang sungguh luar biasa di luar nalar. Seseorang kini nampak bergetar di atas singgasana megahnya di belakang para prajurit yang bertarung.
"Kemana lagi mereka? Cepat hancurkan Mattias!" Sentak pria itu yang tak lain adalah Pierta, raja saat ini dari kerajaan Lapileon.
"Yang mulia, kami terdesak. Para iblis telah terbasmi oleh prajurit Altair!" Pekik salah satu pemimpin pasukan.
"Serang mereka dengan panah!" Teriak Pierta saking paniknya, para pemanah nampak ragu.
"T-tapi, di sana masih terlalu banyak prajurit Lapileon yang mulia." Ucap pemimpin dari para pemanah, saking paniknya Pierta berdiri dari singgasananya dan mencengkram leher pemimpin pemanah itu.
"Apa perlu aku membunuh semua keluarga mu hah?" Bentak Pierta, pria itu bergetar hebat merasa ketakutan. Dia terbatuk-batuk saat lengan Pierta melepaskan cengkramannya dari leher pria tersebut.
Pria itu mengangkat tangannya sebagai pertanda untuk menyerang, para pemanah nampak ketakutan dan mengangkat busur merek tinggi-tinggi. Mattias yang melihat gelagat tak waras dari Pierta langsung memberikan aba-aba pada para penyihir.
Para penyihir membentuk formasi lengkap, sebuah ukiran formasi nampak dari tanah. Pemimpin para pemanah menurunkan tangannya hingga ribuan panah mulai naik ke atas dan turun dengan kecepatan tinggi.
Para prajurit Lapileon yang tak menyadari serangan itu merasa tertegun, mereka menatap Pierta yang merupakan raja mereka. Sebuah cahaya merah terpampang besar menjadi sebuah tempurung kura-kura besar.
"Ban*gsat! Kau bahkan mau membunuh orang mu sendiri? Apa kepala mu benar-benar rusak hah!" Bentak Mattias, Pierta tersenyum tak perduli dengan ocehan tersebut.
Para penyihir mengangguk dan mulai menampakkan kekuatan asli mereka, cahaya merah itu langsung mematahkan panah yang jumlahnya banyak itu, Mattias menyeringai dan tampaklah Elektra di antara para penyihir.
Elektra mengangguk memberikan aba-aba pada Mattias, serangan panah itu tak berhenti hingga serangan berikutnya yang tak lain berupa bola api besar dengan baja yang menyala kemerahan.
"Jangan remehkan aku yang pernah belajar di kota Nordin sia*lan!" Pekik Elektra menghentakkan tongkatnya hingga cahaya merah menyala dengan hebatnya.
Bola besar itu hampir meretakkan pertahanan para penyihir, Mattias kembali berubah menjadi tengkorak dan melingkarkan pedangnya di depan wajah.
Di belakang tubuh Mattias nampak ribuan pedang menyala dengan ukuran luar biasa besar, para prajurit yang melihatnya merasa terkesima sekaligus kagum pada pemimpinnya sendiri.
"Haik!" Mattias mengeluarkan nafasnya yang terdengar begitu berat, pedang besar itu maju mengikuti gerakan Mattias. Hingga suara benturan antara pedang Mattias dan baja panas terdengar menggema.
Elektra mengeluarkan kekuatannya hingga cahaya merah tajam menyelimuti tubuh Mattias dan baja besar itu akhirnya balik menyerang tembok besar Lapileon.
Duar!
Suara ledakan luar biasa dasyat menggema di peperangan itu, tembok besar Lapileon yang telah berdiri ratusan tahun itu kini roboh oleh senjata mereka sendiri, wajah lega terpancar dari pasukan Altair.
"Dan ini hadiah dari ku!" Elektra melemparkan sebuah pil berwarna hijau menyala, Mattias menatap pil aneh itu yang berubah menjadi sangat besar.
Pil itu memperlihatkan fungsinya, dia berpijar di antara kepulan asap hitam, Elektra nampak mengaktifkan sebuah sihir hingga serpihan dari benda itu mulai berjatuhan ke arah Pierta berada. Pierta jelas merasa panik dan lari tunggang langgang.
Elektra tak diam saja, dia terbang dan menunjuk Pierta. Pil hijau itu mendekati tubuh Pierta hingga mengenai tubuhnya. Pemandangan mengerikan terlihat jelas di depan mata mereka.
"Argh! Tidak! Takhta itu milik ku!" Pekik Pierta di antara kobaran api yang menyala, api berwarna hijau itu membakar tubuh Pierta hingga hangus.
Tulangnya bahkan tak tersisa semuanya berubah menjadi abu. Elektra turun dan berdiri di samping Mattias, Mattias mengangguk ke arah Elektra.
"Hidup Altair!" Teriak beberapa prajurit, sedangkan beberapa prajurit Lapileon menunduk pasrah akan kekalahan mereka. Mereka juga tak berniat memberontak, karena mereka merasa di khianati oleh pemimpin mereka sendiri.
Semua bersuka cita dengan kemenangan tersbut, pasukan Altair memasuki ibu kota Lapileon dan memusnahkan semua pemberontak yang ada. Tak ada yang tersisa dari antek-antek Pierta.
Mattias berjalan menuju istana kerajaan Lapileon, dia menaiki menara tertinggi dari istana itu. Bendera Altair di kibarkan di atas menara tertinggi di tanah Lapileon.
"Hidup Altair!" Teriak Elektra memberikan semangat pada seluruh prajurit yang ada, para prajurit akhirnya mengangkat pedang mereka.
"Hidup Altair!" Teriak para prajurit, Mattias yang mendengar gemuruh itu tersenyum tak kala melihat bendera Altair berkibar.
"Hidup Kaisar Altair!" Teriak lagi Elektra, para prajurit kembali berteriak.
"Hidup yang mulia Kaisar Altair!" Teriak para prajurit dengan semangat, rakyat Lapileon yang melihat itu merasa sangat ketakutan. Dari sekian generasi Lapileon tak pernah di taklukan siapapun.
Pemberontakan yang di lakukan oleh Mattias sudah membuat banyak rasa takut dari kalangan rakyat, selain karena Mattias yang terkenal dengan sosok Duke Monster, Mereka juga sama sekali tidak rahu bagaimana sosok Mattias yang sesungguhnya.
Demi membangun kembali tanah Lapileon yang kini berada di bawah kekuasaan Altair, Mattias menunjuk Elektra sebagai pemimpin dari Lapileon yang baru.
Pada awalnya Elektra menolak, alasannya sudah jelas karena dia adalah seorang penyihir dari menara sihir. Namun Elektra juga mengerti dengan kondisi mendesak Kekaisaran saat ini.
Sebelum pemerintahan kembali di susun, Mattias juga menunjuk beberapa orang kepercayaannya untuk berada di samping Elektra dan membantunya.
Para penyihir dari menara sihir akhirnya kembali di pimpin oleh Kakek Daisy untuk sementara waktu, Mattias akhirnya kembali ke tanah Altair.
Tanah Altair nampak semakin hidup, Mattias dan seluruh pasukan pada akhirnya memasuki kota Altair.
Prak!
Prak!
Prak!
Sebuah tekanan luar biasa tiba-tiba di rasakan oleh Mattias, beberapa prajurit bahkan tersungkur di atas tanah.