Rosetta Luwig di hidupkan kembali setelah mengalami sebuah kecelakaan dimana ia sedang mengandung anak kakak tirinya. Dia mencintai Jhonatan Maxiliam, namun ternyata pria itu justru mencintai adiknya. Dengan berbagai cara dia menjebak Jhonatan hingga mengandung anaknya, namun sayang ternyata anaknya tidak di akui bahkan keluarganya membencinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sayonk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lili Bukan Anak Kandung Anda
"Rosetta setelah aku mengantar mu, aku tidak bisa menemani mu karena aku di sini ada urusan," ucap Mario.
Besok pagi ia akan mengantarkan Rosetta dan Javer ke kota Sisilia.
"Baiklah, tidak masalah."
Mario mengangguk, ingin sekali ia menceritakannya namun ia masih belum memiliki bukti yang jelas. "Rosetta bagaimana kalau kau punya adik lain? Maksudnya selaian Lili."
"Kalau aku memiliki adik lain ya tidak masalah, asalkan dia menerima ku sebagai kakaknya dan tidak seperti Lili," ucap Rosetta. Ia tidak ingin memiliki Lili kedua dalam hidupnya dan menjadi masalah untuknya.
"Ya aku harap jika kau memilikinya kau akan senang."
....
Beberapa hari kemudian.
Mario membaca semua berkas-berkas di tangannya, dan ia memberikan pada Albert untuk di baca sendiri. "Aku rasa mereka menukar mu karena mereka kesulitan ekonomi, tapi semua ini tidak bisa di benarkan. Pantas saja Lili memiliki sifat seperti itu, ternyata turun dari orang tuanya."
"Ternyata benar, aku anak Daddy Agam," ucap Albert dengan kedua mata berkaca-kaca.
Mario mengangguk, ia menyuruh seorang maid untuk mengambil rambut daddy Agam. "Sekarang sudah waktunya kau bertemu dengan Rosetta. Dia pasti menemani mu untuk bertemu dengan kedua orang tua mu."
"Iya aku mau bertemu dengan Kakak."
...
"Daddy!" teriak Javer. Sejak tadi ia menunggu kedatangan Mario karena pria itu mengatakan akan ke rumahnya hari ini.
Mario menggendong Javer dan mengecup pipi tembennya. "Anaknya Daddy, nunggu Daddy?"
Javer mengangguk namun ia menatap seorang pria di samping Mario. "Siapa dia Daddy?"
"Dia paman mu, panggil saja Paman Albert. Dimana Mommy?"
"Sedang buat kue," ucap Javer. "Aku tadi bantu Mommy Daddy."
Mario terkekeh, bukannya membantu justru Javer pasti membuat keributan. Anggap saja membantu Rosetta. Ia membawa Jave masuk ke dalam. Tanpa sadar Javer melihat sebuah mobil dan kedua matanya melihat seorang pria yang mengintip di balik jendela.
"Rosetta." Sapa Mario.
"Hay, kau sudah datang. Apa Javer menyambut mu?"
"Ya dia menyambut dengan tepung di pipinya."
Rosetta terkekeh, tepung adonannya menjadi semeja dan berserakah di lantai. "Siapa dia?" tanya Rosetta. Setaunya Mario tidak memiliki saudara.
Mario menoleh ke arah Albert, sepertinya pria itu menahan tangisnya agar tidak pecah. "Aku ingin berbicara dengan mu."
Rosetta penasaran melihat wajah Mario yang serius, di tambah ada seorang pria di sampingnya. Ia pun mengekorinya dan duduk di sofa di samping Mario.
"Ini kau bisa mebacanya, ada sebuah vidio untuk memperkuat buktinya." Tutur Mario.
Rosetta pun mengambilnya dan membacanya, sontak ia terkejut dengan test DNA, ia beralih pada vidio di ponsel Mario dan betapa terkejutnya dia melihat bayi yang di tukar oleh seorang wanita yang berpakaian suster.
"Dia adik kandung mu Rosetta dan Lili bukan adik mu, ternyata semuanya sudah di rencana. Dokter yang menangani ibu mu sudah aku jebloskan di penjara, kini tinggal kedua orang tua mu yang belum mengetahuinya."
"Kakak." Albert duduk di lantai sambil mendongak.
Rosetta pun memeluk Albert dengan erat, ia mencium keningnya. "Kau adik ku. Tapi Mario aku khawatir Lili akan melakukan segala cara untuk merebut perhatian Mommy dan Daddy, dia tidak akan menerima Albert dengan tulus."
"Benar Albert."
"Aku tidak akan melarang mu untuk bertemu dengan mereka, tapi aku khawatir, aku harap kau berhati-hati dengan Lili jangan sampai terjebak wajah polosnya."
Albert mengangguk, jika memabg begitu, ia akan membuat kakaknya berada di antara kedua orang tuanya. Ia akan mempersatukan keluarga yang sudah pecah.
"Albert, bisakah kamu menceritakan bagaimana kamu hidup di luar sana."
Alber menunduk, ia tidak di perlakukan baik oleh mereka. Justru ia bagaikan babu di rumah mereka. "Kakak aku memang sekolah, tapi aku mencari biaya sekolah sendiri, mereka hanya memanfaatkan ku untuk memenuhi kebutuhan mereka. Aku di perlakukan tidak seperti manusia kak, semenjak kecil aku belajar mandiri. Kedua kaki ku pernah di tumpahi oleh air panas saat ayah menyuruh ku membuat ku teh ..." Rosetta langsung memeluk Albert, ia tak sanggup lagi mendengarkan curhatan adiknya.
Albert menangis dalam pelukan Rosetta. Ia tak sanggup mendengarkan ucapannya. "Sayang jangan menangis, mulai saat ini Kakak tidak akan pernah membuat mu menangis. Kau harus tau, Kakak sangat menyayangi mu."
"Besok Kakak akan mempertemukan mu dengan Daddy dan Mommy."
"Iya Kak."
Rosetta melerai pelukannya. Ia menatap putranya. "Sayang, ini paman Albert, pamannya Javer saudaranya Mommy."
"Apa Tante jahat itu bukan saudara Mommy? Kan Mommy sudah punya saudara."
"Tidak sayang, dia bukan saudara Mommy."
"Huh, untung saja." Ia bersendekap. "Paman harus hati-hati sama tante jahat itu, Mommy sering di marahi oleh tante jahat itu."
"Iya sayang, boleh Paman menggendong Javer?"
Javer mengangguk dengan cepat. Albert pun menggendong Javer dan membawanya keluar.
"Rosetta aku senang kau bertemu dengan saudara mu."
Rosetta menoleh, Mario begitu baik padanya. "Jadi selama ini kau diam-diam tidak kesini hanya memastikan dia adik ku?"
"Iya, aku ingin kau bahagia."
Rosetta menggenggam tangan Mario. "Terima kasih Mario, kau memang teman baik ku. Aku bersyukur memiliki teman baik seperti mu."
Mario tersenyum, melihat Rosetta bahagia ia sudah senang.
"Ah aku memanggang kue, tunggu sebentar." Rosetta berlari menuju dapur, ia hampir melupakan kue yang ia panggang.
....
"Nyonya, Tuan, di luar ada Nona Rosetta," ucap seorang maid.
Daddy Agam tersedak, ia menatap maid di depannya. "Apa kau yakin dia Rosetta?" tanya Daddy Agam dengan tak percaya. Tidak mungkin Rosetta mendatanginya.
"Apa? Rosetta?"
Lili yang mendengarkannya pun langsung menuju ke ruang tamu. Daday Agam dan Nyonya Diane pun mengekorinya Lili.
"Mau apa Kakak kesini?" Lili langsung menyambar wanita yang duduk dengan santai.
"Apa ini ajaran keluarga Luwig di sini?" Tanya Rosetta. Semenjak ia pergi dari rumah ini, hidupnya harus berbuah total. "Aku tamu di sini, bukan bagian keluarga ini."
"Rosetta kau ingin mencari keributan lagi?"
"Tidak!" Tegas Rosetta. Ia memberikan sebuah vidio pada Daddy Agam. "Lihatlah, anda akan tau."
Daddy Agam mengambil dengan kasar ponsel di tangan Rosetta. Dadanya terasa panas saat Rosetta mengatakan bukan keluarganya.
"Dan ini, silahkan di baca. Kedatangan saya di sini hanya ingin mengantarkan adik saya dan maaf, ternyata Lili bukan anak kandung anda berdua."
Nyonya Diane mengambil amplop tersebut dan ia merasa tak percaya, sedangkan Daddy Agam mengambil test DNA di tangan nyonya Diane. Kedua tangannya gemetar, ia menatap pria di samping Mario yang menunduk.
"Terserah kalian percaya apa tidak."
Daddy Agam pun perlahan melangkah dan menatap pria di samping Mario. "Nak."