Ganteng tapi galak. Euh, punya manager gitu bikin nggak betah di kantor nggak sih?
Kerja di luar negeri memang enak. Punya banyak teman dari negara lain plus memiliki kesempatan untuk dapat calon laki yang H.O.T banget
Tapi apa daya jadi budak corporat startup, sebagai copywriter, Dania Daneswara cuma bisa duduk di balik komputer sambil di marahin sama manager super duper galak yang bikin hari tambah runyam di negeri asing.
"Ganteng mah bebas ya," pikirnya setiap kali si manager berkoar-koar di balik mejanya.
Keagan O'Malley, pria berdarah campuran Indonesia-Jerman. Sebagai manager, ia kerap dianggap galak dan tidak berperasaan.
Tapi ketika bertemu Dania, pelan-pelan pribadinya berubah. Lebih usil dan tengil.
IG : @althamirafrishka
Saran dan kritik sangat diterima. Terimakasih sudah membaca 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althamira Frishka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertahan
Sepanjang hari Dania terlihat lebih sering mendesah. Walau semua pekerjaannya sudah diselesaikan dengan baik, tapi tetap saja hati tidak bisa berdusta. Ada sesuatu yang mengganjal. Ada sesuatu yang ingin dia tanyakan.
Tapi Dania tahu, dia bukanlah siapa-siapa. Dia hanya harus tetap pada porsinya. Menjadi budak corporat untuk memperkaya perusahaan.
Ada kalanya dia ingin berteriak. Mengaku bahwa dirinya tidak baik-baik saja.
Ada kalanya ingin sendiri. Merenungkan setiap momen yang pernah di rasakan.
Ada kalanya sehari saja tidak memikirkannya. Menikmati kehidupan di luar tanpa kehadirannya.
Bukankah setiap perjalanan hidup tidak bisa diperkirakan? Karena kadang apa yang dijalani sekarang bukanlah keinginan sesungguhnya.
Dania memotret beberapa fasilitas dojo. Mulai dari ruang latihan yang di desain menggunakan lantai kayu mengkilat. Sementara jendela-jendela kayu berpatri kaca besar mengelilingi aula. Membuat siapa saja yang berada di luar, bisa melihat proses latihan mereka.
Langit-langit aula tampak jauh untuk di gapai. Bahkan, dengan tongkat galah sekalipun. Rangka-rangka galvalum pada langit-langit menjadi hiasan, ketika mau tidak mau atlet karateka terkapar. Kalah dalam sesi tarung.
Dania beralih ke gudang peralatan. Tidak semerawut. Tidak pula berdebu. Peralatan latihan di susun pada rak-rak setinggi orang dewasa. Di susun rapi sesuai kelompoknya. Di sudut ruangan, berdiri dua karung samsak. Sementara rak yang terbuat dari alumunium sebagai tempat menyimpan sarung tinju, alat pelindung diri, dan stok karategi. Sementara matras bela diri tergulung rapi dan diletakkan pada rak paling atas.
Setiap detail tidak luput dari perhatian Dania. Dia mengarahkan lensa kamera, menyesuaikan fokus dan ISO. Antara di dalam ruangan ataupun di luar ruangan. Sesekali Dania me-review hasil bidikan kameranya.
Melihat komposisi atau hasil foto. Apakah backlight atau bahkan buram.
Dia sedang tidak ingin di omeli Keagan, atau bagian design nantinya. Sementara Roki melihat sekeliling dan memanggil Dania. Mengingatkan jika ada yang terlewat.
Keringatnya bercucuran. Untung hari ini dia hanya memakai kaos berlengan pendek dan celana jeans panjang. Blazernya sudah di tinggalkan di kantor. Dia yakin siang ini matahari akan terik.
Roki mencari jalan untuk Dania. Menuju halaman belakang dojo. Tempat para karateka berlatih fisik di luar aula. Jika ada jalan setapak yang tidak rata, Roki tidak segan menggandeng Dania dan menuntunnya mencari jalan yang layak.
Sungguh seperti kakak yang selalu Dania idam-idamkan.
Atlet karateka tampak sedang berlari mengelilingi lapangan. Keringat mereka bercucuran. Tak dipungkiri kini wajah mereka sama letihnya dengan Dania. Namun semangat meraih pengakuanlah alasan mereka bertahan. Dania dengan cepat membidik wajah-wajah anak-anak tangguh itu. Seperti dia dulu. Tidak ada yang dipikirkannya kecuali meraih kejuaraan waktu itu.
Matahari terik sudah mulai sendu. Memperlihatkan langit senja terang bewarna kelabu. Udara pun semakin menyejukkan kalbu. Lambat laun, keringat Dania dan Roki yang sedari tadi bercucuran semakin menghilang.
Roki meninggalkan Dania sebentar dan kembali membawa minuman dingin. Dia memberikannya pada Dania.
“Thank you.” Ucap Dania mengambil minuman yang diberikan Roki. Lagi-lagi jemari mereka bersentuhan. Kini Dania sadar. Sengatan listrik membuyarkan lamunannya. Dilihatnya Roki. Wajahnya lempeng. Dia tidak merasakan apapun. Alhasil, Dania hanya mengusapkan tangannya pada celana jeansnya.
“Ayo kembali. Matahari sudah mulai turun.”
“Yeah. Nanti di gerbang depan aku ingin motret sekali lagi. Mumpung mataharinya pas.” Terang Dania.
“Ayo.” Ajak Roki mengulurkan tangannya. Membantu Dania berdiri. Dania menerima uluran tangannya, jemari mereka terpaut. Menciptakan sensasi yang entah kenapa sangat di rindukan Dania. Yang tidak pernah dia dapatkan. Kasih sayang dari seorang saudara.
Sampai di depan gerbang, Dania membidik kameranya. Memposisikan komposisi ekstra long shot pada gambar. Menciptakan seluruh gedung dan suasana sekitarnya tertangkap kamera. Matahari senja menambah manis gambar yang dihasilkannya.
Memang ciptaan Tuhan tidak pernah salah. Hanya manusia yang keliru. Tidak bisa menjaga alam sama dengan menjaga dirinya sendiri.
Akhirnya proses pengambilan materi selesai. Berkas yang perlu diambil seperti jumlah alumni, jumlah atlet sekarang, dan kepengurusan saat ini sudah diambil Roki saat Dania sibuk memotret lapangan.
Kini mereka tinggal menyusun materi yang hendak di masukkan ke website saja. Sambil menambahkan sentuhan mereka sebagai copywriter.
🍁🍁
Roki dan Dania kembali ke kantor. Melepas penat mereka sambil duduk santai di pantry. Menikmati segelas coklat panas. Cukup untuk memulihkan tenaga.
Lee Nan masih duduk di kubikelnya. Wajahnya disinari layar komputer. Hari semakin sore, kantor semakin sepi.
Sementara Keagan bolak-balik menelpon. Dia sudah melepaskan kacamata berbingkai silvernya. Posisi duduknya mulai santai. Punggungnya bersandar pada kursi kewibawaannya. Kemejanya masih tetap rapi membungkus tangannya. Dengan jas digantungkan di sebelahnya. Kakinya bersilang, ia menghadap samping.
“Besok aku akan mengerjakan bagian profil.” Kata Roki memecah kesunyian karena dia melihat Dania sibuk memandang ke arah lain.
“Kalau gitu aku bagian fasilitas saja. Tagline apa yang bagus ya?” ucap Dania kini perhatiannya berfokus pada Roki.
“Tagline? Belum terpikirkan. Mungkin bisa dipikirkan di rumah. Masing-masing kita bawa satu ide untuk besok.” Jawabnya sambil menopang dagu.
“Okay. Apa aku bisa menambahkan gambar anak-anak yang sedang latihan?”
“Nggak masalah. Tapi ingat, Pak Bao tidak ingin para orang tua berpendapat bahwa bela diri itu kekerasan. Kita diajarkan menggunakan ilmu di saat yang tepat dan tidak sembarangan bukan?”
“Ya benar.” Ucap Dania teringat saat ia menjalani pelatihan.
“Kita diajarkan berulang kali untuk selalu menahan emosi. Sebaiknya masukkan gambar ketika mereka bersama berlatih kata.”
“Oke.” Dania menghabiskan sisa coklat panasnya yang tertinggal di gelas keramik bergambar karakter miliknya. Dengan senyum lebar dan rambut ikalnya.
Selepas itu, Dania dan Roki berbincang santai dan bersenda gurau. Mereka berdua menunggu Lee Nan. Berencana untuk makan malam bersama.
Keagan mulai mengemas barangnya. Dia bersiap meninggalkan kantor.
“Saya pulang dulu. Mau menjenguk Bu Mai. Kalian jangan pulang terlalu malam.” Ucap Keagan sekaligus kepada mereka bertiga.
“YES SIR.” Ucap mereka bertiga kompak. Tanpa sepengetahuan Lee Nan dan Roki, Dania mulai murung kembali.
🍁🍁
Mereka berjalan bertiga. Dania berada di tengah. Di apit Roki dan Lee Nan.
“Akhirnya selesai!” teriak Lee Nan sambil menarik tangannya ke atas. Meregangkan tubuhnya.
Roki hanya tertawa melihat tingkah Lee Nan.
“Besok masih ada lagi.”
“Nggak senang lihat orang gembira saja.” Balas Lee Nan merasa jengkel Roki mengingatkan pekerjaannya besok. “Hei girl, mau makan apa kita?” tanya Lee Nan merangkul pundak Dania santai.
“Apa ya? Dekat rumahku saja. He he.” Jawab Dania sekenanya.
“Sekalian ngantar kamu pulang ya?” tanya Roki menggoda.
“Tahu saja nih, Pak Roki.” Dania menyengir dan menyikut lengan Roki.
🍁🍁
Dania bukan selera kamu keagan 😁
mangats Dania..keagan layak diperjuangkan 😀
aku suka..aku suka 😀