NovelToon NovelToon
SERIBU LANGKAH PAPA

SERIBU LANGKAH PAPA

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Keluarga & Kasih Sayang / Chicklit
Popularitas:53.8k
Nilai: 5
Nama Author: Hellena24

Ellena adalah sosok gadis yang mandiri, kuat, keras kelapa, sedikit kasar, namun hatinya baik dan murah hati. Ellena sangat sering membantu teman-teman di daerahnya yang kurang mampu.

Ia dibesarkan dari sepasang suami istri yaitu Papa dan Mamanya, yang memulai hidup berumah tangga dari O saat mereka menikah, sampai mereka membuka bisnis dan hidup berkecukupan.

Masa pertumbuhan Ellena, ia mendapat didikkan yang sangat keras oleh Papanya. Karenaa banyaknya pengalaman saat merantau semasa muda, menjadikan Papa Ellena sangat keras dalam mendidik anak-anaknya. Begitu juga dengan Ibunya yang menjadi guru SD dan SMP didaerahnya. Ia adalah wanita mandiri.

Papa Ellena sering melayangkan tangan, kaki, barang atau pun dengan ucapan yang keras dan kasar kepada Ellena dan Mamanya.

Ellena memilih satu Adik laki-laki yang sangat di sayangi oleh Papanya. Dibanding terbalik dengan Ellena.

Karena semua itu, bertahun-tahun lamanya, Ellena memendam kebencian terhadap Papanya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hellena24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27. Pesan Dari Mama

“Mau makan apa ni?” tanya Mila.

“Aku pengen bakso Pak Sabar” kata Pipit menjawab.

“Jangan bakso dong, aku belum makan nasi seharian. Ayam ulekan aja yuk… Aku pengen makan ceker ayam mercon dan cah kangkung segar.” kata Ellena.

“Ayolah… Setuju aku, di ayam ulekan juga banyak pilihan makanannya.” sambung Tutu.

“Oke, setuju!” kata yang lain.

“Tutu, antara aku ambil helm dulu ya ke asrama.” kata Pipit pada Tutu.

Begitu juga dengan Mila yang menumpang sepeda motor Ellena. Karena Mila dan Pipit tinggal di asrama yang sama dan tidak terlalu jauh dari kampus, jadi semua teman-teman yang menggunakan motor masing-masing juga sekalian pergi ke asrama menemani Ellena dan Tutu yang mengantarkan Pipit dan Mila mengambil helm nya.

****

Ellena yang masih menggunakan setelan kampus berbaring terlentang menghadap plafon kamarnya.

Matanya beralih melihat jam dinding besar berwarna oren, yang menempel di dinding kamarnya. Jarum jam menunjuk pada pukul 15.46 wib. Tidak terasa hari ini sudah hampir malam kembali.

Lelah rasanya badan, mengantuk rasanya mata. Happy dan bersorak ria saat bersama teman-teman tadi, di ruangan karaoke seakan lenyap dari ingatan.

Ellena menarik tas nya yang tergeletak di atas tempat tidur, tidak jauh dari tempatnya baring. Ia membuka kocek bagian depan tempat ia menyimpan hanphone.

Jari kecil itu mengusap-usap layar hanphone nya. Seperti ada yang ingin ia lakukan.

Tut…

Tut…

Tut…

“Hallo…” terdengar suara wanita menjawab. “Iya, Len?” kata wanita itu, yang tidak lain adalah Mama Ellena.

“Hallo, Ma… Mama dimana? Hanphone Mama sudah balik?” tanya Ellena segera.

“Iya, Nak. Sudah… Papa mu sudah di rumah, tadi siang dia datang.” kata Mama Ellena menjelaskan.

“Terus dia datang bagaimana? Ada minta maaf atau masih marah-marah?” tanya Ellena lagi khawatir.

“Iya seperti biasa, datang diam tanpa kata. Kadang baik seperti tidak ada apa-apa.” jawab Mama Ellena.

“Em… Kenapa selalu begitu? Itu kebiasaan yang tidak baik. Kalau salah harusnya minta maaf. Sekecil apa pun kesalahannya harus minta maaf, jangan mentang-mentang merasa kuat, lalu salah pun di anggap benar.” serbu Ellena lagi kepada Mama nya. Tidak disadari kekesalan terhadap Papa, ia lampiaskan kepada Mama nya.

“Mama malas bicara, Len. Kamu tahu sendiri, kalau Mama bicara pasti salah. Apa yang keluar dari mulut Mama ini, tidak ada benarnya di telinga dia itu.”

“Sekarang dia dimana?” kata Ellena bertanya lagi.

“Mama tidak tahu, tadi dia pergi pakai sepeda motor ke arah hilir. Entah kemana, mungkin nonton orang latihan bola di lapangan.”

“Iya, Ma. Kalau bisa Mama lem saja mulut Mama, biar dia senang.” kata Ellena kesal, namun membuat Mama nya tertawa.

“Hehe… Itu lah… Bergerak tidak boleh, bicara tidak boleh, mungkin maunya Mama ini diam saja jadi patung.” kata Mama Ellena mencairkan suasana.

“Ya itu namanya pembunuhan karakter, Ma. Setiap orang punya hak, setiap orang punya karakteristik masing-masing. Kalau aku, jangan harap lah dia mau gituin aku juga. Tidak akan bisa. Kecuali hal yang benar akan ku dengar.” kata Ellena lagi kesal.

“Iya selagi anak Mama tidak salah, Mama tetap dukung. Ingat ya, ada Mama yang selalu ada dan selalu mendukung kamu dan adek. Mama juga sudah tidak bisa memahami Papa, yang tabiat nya seperti ini . Tapi Mama malas dan capek untuk mikirin itu terus, Mama tidak akan bisa berkembang, lebih baik masa bodoh saja sekarang.” kata Mama Ellena berusaha menenangkan Ellena.

Kebencian terhadap Papa nya, yang sudah mendarah daging sulit untuk di buang. Entah sampai kapan ia akan tetap sabar seperti Mama nya. Entah sampai kapan ia akan berusaha menerima keberadaan, lelaki yang sudah melukai hatinya sedari kecil itu.

“Mama selalu begitu, aku heran sama Mama. Apa kalau sudah ada korban karena kegilaan dia nanti, Mama masih sabar juga?” tanya Ellena kepada Mama nya.

“Mama tidak takut Ellen. Selagi Mama berada di jalan yang benar, Mama tidak takut. Mama selama ini hanya fokus dengan usaha kita di rumah, kalau dia memikirkan yang aneh-aneh ya sudah terserah dia.Kita tidak akan bisa merubah kebiasaan buruk dia, tetapi bagaimana kita bisa mengatasi dan menyesuaikannya saja.”

“Aku cuma takut, Ma… Kalau ada apa-apa sama Mama, sama Adek aku harus bagaimana? Sekarang posisi kita jauh. Aku tidak bisa menjaga kalian di sana.”

“Jangan takut, ada Tuhan yang selalu menjaga Mama dan Adek. Tuhan pasti memberikan cobaan kepada kita sebesar ini,!karena kita mampu dan kuat menjalaninya. Mama masih kuat kok, Mama belum lihat kamu pakai toga, Mama belum lihat kamu punya anak. Jadi tenang saja ya? Mama baik-baik di sini.” Mama Ellena berusaha menenangkan anaknya yang sedang khawatir.

“Iya lah, Ma… Pokok nya ada apa-apa ngomong langsung sama aku ya. Jangan sembunyi-sembunyi, aku tidak suka Ma. Apa lagi harus dengar dari mulut orang lain, aku lebih sakit lagi.” tegas Ellena kepada Mama nya.

“Iya, Len. Kamu dimana sekarang? Di kos kah?”

“Iya Ma, di kos ini. Baru pulang aku.”

“Pulang dari mana?”

“Tadi dari kampus, kami makan ramai-ramai terus kami pergi karaoke Ma. Ini baru pulang ke kos.”

“Sama mereka Widia, Tutu dan yang lainnya?” tanya Mama Ellena. Ellena selalu menceritakan kepada Mama nya segala hal dan semua teman-teman yang berada di dekatnya. Walau pun Mama Ellena jarang mengunjungi Ellena selama kuliah, tetapi Mama Ellena tetap memantau dari seluler.

Mama Ellena selalu meminta nomor telepon teman-teman Ellena. Untuk berjaga-jaga karena ia tidak bisa berada di samping anak perempuan satu-satunya itu.

“Iya betul, Ma” jawab Ellena.

“Iya lah, jangan boros ya… Usahakan masak di kos, jadi tidak boros makan di luar terus. Ingat pesan Mama.” pesan Mama Ellena.

“Iya, dari kemarin sampai hari ini aku gak ada selera masak Ma.”

“Kenapa? Mikirin Mama?”

“Ya, iya lah Ma. Sedih aku mikirin Mama sama Adek di sana.” jawab Ellena cepat.

“Mama baik-baik saja sama adek, jangan khawatir lagi ya.” tenang Mama Ellena.

Tut… Tut… Suara dari hanphone Ellena berbunyi.

“Ma, sudah dulu ya. Sepertinya pulsa ku sudah mau habis ini.”

“Iya sudah, istirahat ya… Belajar yang benar. Kabari Mama terus ya.”

“Iya Ma, daaaa…”

Tut Tut Tut… Panggilan Ellena dan Mama nya berakhir.

Ellena kembali mengotak atik hanphone, untuk melihat media sosial miliknya. Banyak video seru dan lucu saat ia karaoke dengan teman-teman tadi, yang sudah terupload di story media sosial miliknya.

Joget bersama sampai naik ke atas sofa, padahal sebenarnya tidak di perbolehkan dari pihak pemilik tempat karaoke. “Dilarang menginjak sofa” tulisan di dinding ruangan karaoke itu.

Tertawa bersama, nyanyi dengan suara kencang bersama, sampai tidak ingat lagi caranya menyeimbangkan suara yang indah.

Memiliki teman yang satu frekuensi itu memang asik banget.

1
Di babb ini kita dapat menyimpulkan .. jangan menunda-nunda pekerjaan yang bisa kita kerjakan sekarang... 🤭🤭🤭
Malaikat berhati batu 😂😂 bukan nya yang namanya malaikat gak punya hati ya 🤭🤭🤭maaf klo salah 🤭🤭🤭🤭🤭🏃🏃🏃🏃🏃
Ela Jutek
seng sabar non tu pasti chat lupa waktu jadi ribet sendiri😂😂
玫瑰
next please
𝒯ℳ
Keren
𝒯ℳ
Numero ☝️ buat komen dan like oyeeeeee
𝒯ℳ
Orange seharusnya
𝒯ℳ: Kalah taruhan ?
total 4 replies
𝒯ℳ
Sunblock dan eyeliner..... maap kepo ratu
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨: lha.. bisa2nya tau alat make up🤣🤣😅😅🤭
total 1 replies
𝒯ℳ
Hairdryer seharusnya ratu
𝒯ℳ
Harusnya alarm ratu... bkn alaram 🙏🙏🙏
玫瑰
Kehidupan kampus yang sungguh dirindui..
🦋⃟ℛ⚜️ʜᴇʟʟᴇɴ⭐️🌸💜ᴬ∙ᴴ࿐: yuk kak kita ikut bus ellena dkk aja 😂
total 1 replies
🦋⃟ℛ★Bintang☀️✡️ᴬ∙ᴴ࿐
Esi pemborosan 🤣, belanja sesuai kebutuhan bukan ke inginkan. Tapi kalau uang sudah banyak sih gak masalah haha
🦋⃟ℛ★Bintang☀️✡️ᴬ∙ᴴ࿐
Iyaa sama suka pink juga wkwk
🦋⃟ℛ★Bintang☀️✡️ᴬ∙ᴴ࿐
Compalek wkwk, itu seperti di tawarin makan harus di colet
🦋⃟ℛ★Bintang☀️✡️ᴬ∙ᴴ࿐
Terus aja es, terusss sampai sana. Masih terus lagi 🤣🤣
🦋⃟ℛ★Bintang☀️✡️ᴬ∙ᴴ࿐
Kebayang dua cewek ini duduk di atas motor wkwk
玫瑰
Next
🦋⃟ℛ⚜️ʜᴇʟʟᴇɴ⭐️🌸💜ᴬ∙ᴴ࿐: Done kk hihi
total 1 replies
Ela Jutek
nah kan ada yg lupa lagi tu si Esi, untung belom malem coba bawa koper aja ntar kalo udah tutup toko nya ya hee
Ela Jutek: hooh bener tu kak😂
total 6 replies
Alhamdulillah akhirnya up juga meski hanya satu babb 🥰🥰🥰.... semangat kk ..
next next
🦋⃟ℛ⚜️ʜᴇʟʟᴇɴ⭐️🌸💜ᴬ∙ᴴ࿐: Makasih dek udah doain jadi kk up hari ini wkwk
total 3 replies
🥀⃟ʙʀ 🎀 🅐🅨🅐 🎀
kehidupan yg sangat keras dihadapi oleh Ellena dan keluarganya..ikut kesel bacanya ngelihat kelakuan papanya yg gk punya hati bgt..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!