WARNING!
NO BOOM LIKE! HARGAI KARYA ORANG!
“Permisi! Maaf saya mengganggu, kenapa kamu malam-malam sendirian disini?” tanya Radit.
Wanita itu berhenti bernyanyi, ia sedikit mengangkat kepalanya. Tapi, ia tidak menjawab pertanyaan Radit.
“Hey, Mbak. Kenapa diam saja? Kenapa mbak berada di kelas ini sendirian? Apakah mbak tidak takut?” tanya Radit.
“Saya gak bisa pulang!” sahut wanita itu dengan suara pelan.
“Kenapa?” tanya Radit. Wanita itu hanya menggeleng pelan.
“Saya antar, ya!” tawar Radit. Wanita itu menjawab lagi dengan anggukan kepala.
Radit segera mengulurkan tangannya, wanita itu menyambut tangan Radit yang hangat. Radit terkejut setelah meyentuh tangan wanita itu, tangan yang begitu dingin.
“Kenapa tangannya begitu dingin? Apakah dia sakit?” batin Radit.
.
.
.
Cerita ini hanya fiktif belaka, apabila ada kesamaan tempat dan nama tokoh. Itu semua hanya kebetulan semata. Dan karya ini hasil imajinasi saya sendiri, bukan PLAGIAT!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Syantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 27
“Aku akan beri perempuan jal*ng itu pelajaran, dia gak boleh memiliki Harun.”
Tepat dua bulan setelah kepergian Harun ke singapura. Lastri yang merasa sakit hati, mengajak Herman dan Darto untuk bekerja sama. Kedua pemuda yang sama-sama menyukai Cempaka. Dengan iming-iming, mereka berdua bisa sama-sama memiliki dan menikmati tubuh Cempaka.
Tanpa pikir pajang, kedua pemuda itu menyetujui tawaran Lastri.
“Aku punya tawaran buat kalian berdua,” kata Lastri.
“Tawaran apa?” tanya Herman.
“Tawaran buat menjauhkan Cempaka dari Harun, selama-lamanya,” kata Lastri dengan tersenyum licik.
“Maksud kamu?” tanya Herman lagi.
“Kalian berdua kan menyukai Cempaka, jadi gimana kalau kalian berdua kerjain dia,” ucap Lastri. “Setelah itu, kalian berdua bisa menikmati tubuhnya.”
“Aku gak mau!” tolak Darto mentah-mentah. “Ini bahaya, dan pelecehan namanya.”
“Payah banget sih! Gitu aja takut,” kata Herman yang langsung setuju dengan tawaran yang di berikan Lastri.
“Bukannya gitu, kalau kita ketahuan gimana?”
“Serahin sama aku, kalian berdua Cuma kerjain tugas kalian dan menikmati tubuh Cempaka. Sisanya, biar aku yang tanggung,” kata Lastri.
“Jadi, kapan kita mulai rencananya?” tanya Herman dengan begitu antusias.
“Besok sore, saat keadaan kampus sudah sepi. Dan para pekerja bangunan sudah pada pulang,” kata Lastri.
Darto lebih banyak diam, ia tidak banyak bicara. Pemuda itu tampak menyimak pembicaraan temannya dan Lastri.
Maka, keesokan harinya. Ketiga orang itu segera menjalankan rencana mereka. Dan disitulah berawal nya kemalangan yang menimpa Cempaka.
Sore hari itu, seperti biasa. Cempaka selalu mencari buku pelajaran di perpustakaan terlebih dahulu sebelum pulang.
“Cempaka!” panggil Lastri pada Cempaka yang baru saja keluar dari perpustakaan.
“Iya, kenapa Las?” tanya Cempaka dengan suara lembutnya.
“Bisa bantu carikan kalung ku enggak? Kalungku jatuh,”
“Bisa, emang jatuhnya di sekitar mana?” Cempaka medekati Lastri yang berdiri tidak jauh dari tempatnya.
“Kayaknya sih, di sana!” tunjuk Lastri pada ujung lorong kampus itu.
Tanpa curiga, Cempaka pun mengikuti langkah Lastri. Cukup lama mereka Cempaka membantu Lastri yang hanya berpura-pura, hingga akhirnya Cempaka angkat suara. “Gak ketemu, Las. Mungkin jatuhnya bukan di sekitar sini,” kata Cempaka.
“Oh, iya. Aku tadi abis dari ruangan yang ada di situ!” tunjuk Lastri pada ruangan yang paling pojok. “Kamu bantuin aku, ya. Aku takut di marahin ibu ku.” Lastri memelas pada Cempaka, hingga membuat Cempaka yang berkepribadian halus menjadi tidak tega.
Cempaka pun berjalan ke ruangan yang paling pojok sekali. Ia masuk kedalam ruangan itu, tapi saat ia masuk. Lastri malah mengunci pintu itu dari luar.
Brak! Cempaka begitu terkejut, ia kembali ke arah pintu dan memanggil Lastri.
“Las, Lastri! Kamu dimana, kenapa di kunci?” Cempaka terus menggedor pintu itu.
“Percuma di gedor-gedor! Lastri gak akan bukain,” kata Herman yang tiba-tiba berada di belakang Cempaka.
“Herman!” Cempaka begitu terkejut, ia mundur dari posisinya.
“Hahahaa! Mau kemana kamu?” Herman tertawa dan menarik pergelangan tangan Cempaka dengan kasar.
“Lepasin!” teriak Cempaka sembari memberontak. Cempaka pun menendang pusaka Herman, membuat Herman terjatuh dan meng*rang kesakitan, spontan ia melepaskan tangan Cempaka yang ia cengkram.
Cempaka hendak lari, tapi di depan pintu itu ada Darto yang menatapnya tanpa berkedip seperti orang bodoh.
“Darto, tolongin aku. Herman, Herman dan Lastri, mereke-“
“Darto, cepat tangkap dia. Jangan biarkan dia lari!” teriak Herman kepada Darto yang terus diam.
“Aku mohon, Darto. Tolong aku,” pinta Cempaka dengan begitu memelas.
“A-a-aku, a-a-aku,” ucap Darto.
Darto bingung, menolong atau menangkap. Jika ia menolong Cempaka, maka ia akan di habisi oleh Herman dan Lastri. Tapi, jika ia menangkap Cempaka, itu artinya ia berbuat dosa dan kejahatan.
Dari pada mati konyol, lebih baik ia membantu Herman dan Lastri. Begitu pikir Darto. Darto pun segera menangkap dan menggendong paksa tubuh Cempaka, ia menyerahkan Cempaka kembali kepada Herman.
“Kalian jahat, tolong lepaskan aku!” teriak Cempaka.
“Herman, jangan!” Cempaka memberontak saat Herman merobek paksa gaun putih sebawah lutut yang ia kenakan.
“Herman, kamu yakin?” tanya Darto yang berdiri tidak jauh dari Herman yang hendak memperkosa Cempaka.
Tanpa ampun dan tanpa kasihan, Herman menciumi dan meninggalkan banyak jejak di tubuh Cempaka.
Cempaka hanya bisa menangis saat di gagahi oleh Herman dengan paksa. Kesucian yang telah ia janjikan untuk Harun, di renggut begitu saja oleh Herman.
“Akkhhh! Harun!” pekik tertahan Cempaka saat Herman berhasil menerobos barang berharga miliknya.
Tampak, Darto yang menyaksikan hal itu memejamkan matanya. Ia begitu takut, ia sangat kasihan melihat keadaan Cempaka. Tapi, ia tidak bisa berbuat apapun.
“Harun,” nama itulah yang selalu di sebut oleh Cempaka saat ia di gagahi oleh Herman tanpa ampun dan tanpa henti.
Setelah Herman puas, barulah pemuda itu berhenti. Cairan putih bercampur merah terus keluar dari bawah sana. Cempaka yang merasakan sakit di sekujur tubuhnya, hanya bisa menangis dan terbaring lemah di lantai ruangan itu.
“Sekarang giliran mu, Darto!” Herman bangkit dan memakai pakaiannya di hadapan Cempaka dan Darto.
“Aku aku gak mau!” tolak Darto sembari berjalan mundur.
“Darto!” bentak Herman. “Cepat, perjanjian nya kan kira berdua sama-sama menikmati tubuhnya.”
“Tapi?”
“Gak ada tapi-tapian. Nanti setelah coba sekali, kamu pasti ketagihan,” kata Herman.
Dengan terpaksa, Darto pun ikut melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan oleh Herman.
“Cempaka, maafin aku, ya. Aku terpaksa, aku takut mereka membunuh aku,” ucap Darto dengan lirih. Ia membenarkan tubuh Cempaka yang meringkuk sembari menangis.
Tidak ada penolakan lagi dari Cempaka, ia hanya pasrah saat Darto memompa tubuhnya dengan ritme yang naik turun. “Cempaka!” Darto yang berada di atas tubuh Cempaka tidak berani membuka matanya.
“Harun.. Harun..” panggil Cempaka dengan lirih.
Setelah melakukan pelepasannya, Darto segera bangkit dari atas tubuh Cempaka. Ia kembali memakai kan pakaian Cempaka yang sudah tidak sempurna.
“Udah, Dar?” tanya Herman. Pasalnya, baru 10 menit Darto bermain, tapi sudah berhenti.
“Udah,” kata Darto.
“Kalau belum puas, puasin lagi. Aku yakin dan pastikan, dia gak akan berani buka mulut kok,” kata Herman.
“Aku gak mau lagi,” kata Darto tangan tangan yang gemetar. Ia memakaikan gaun Cempaka. “Yang kita lakuin ini salah, Her. Neneknya pasti sedih banget kalau tau nasip cucunya kayak gini.”
“Alah! Persetan sama neneknya,” kata Herman sembari mengh*sap sebatang rokok yang ada di tangannya. “Emang kamu gak ingat, gimana dia menolak kamu?”
“Aku ingat, ingat betul. Tapi gak seharusnya kita melakukan semua ini,” Kata Darto.
Saat Darto dan Herman sedang berdebat. Tiba-tiba, Lastri masuk kedalam ruangan itu dengan sebotol air di tangannya.
terbongkar dech persembunyian x
walau telat sih 🥺
maaf bukannya sok tau hanya menyampaikan sja mungkin endingnya beda ya kn. saya harap seeprti itu