Asep seorang pemuda biasa saja, yang selalu tersisih dari kancah dunia percintaan, ditolak ciwi-ciwi karena selalu tongpes, bokek dan misquin.
Tiba-tiba suatu hari Asep ketiban Durian runtuh sepohon-pohonnya. Walhasil Asep dalam sekejap jadi OKB.
Yuk kita intip, apa yang membuat Asep bisa memperbaiki nasibnya... Hihihi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilamici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Hari Pertama
Dari siang hingga sore hari, Asep sibuk di kios tampat ia mengerjakan pesanan etalase.
Ia mengerjakan pesanan Tuan Anonymous dengan semangat karena uang sebagian yang telah ada di tangan.
Asep hari ini membuat etalase sekaligus mengajari Bani dan Sobir.
Untungnya Sobir memang cukup cerdas, sejak sekolah ia termasuk anak yang mudah paham dengan pelajaran.
Tak heran, jika hari ini, meski pertama kali untuk Sobir membuat etalase, namun Sobir sudah sangat membantu Asep.
Bani sendiri memang lambat paham, tapi kelebihan Bani adalah tak mudah lelah dan tenaganya selalu tumpah-tumpah.
Jadi ini juga tentu saja cukup menguntungkan bagi Asep.
Sekitar hampir pukul empat sore, di mana akhirnya satu etalase sudah berhasil dibuat, Asep, Sobir dan Bani tampak tersenyum puas.
"Ternyata tidak sesulit yang aku bayangkan Sep."
Kata Sobir.
Asep mantuk-mantuk.
"Ya memang."
Sahut Asep.
Mereka kemudian duduk di depan kios dengan rolling door nya yang masih terbuka.
Kebetulan sekali Bu Selasih lewat bersama Ibu lain.
Bu Selasih yang melihat kios Asep masih buka menyapa, dan begitu melihat di kios sudah ada etalase, jadi menyempatkan diri mampir.
"Wah ini etalase saya, Bang Asep?"
Tanya Bu Selasih tampak terlihat senang.
"Oh ini pesanan dari Tuan Anonymous, Bu. Nanti punya Bu Selasih besok pagi saya kerjakan, soalnya ukurannya kan kata Sobir pas tanya ke Ibu minta yang dua meteran."
Jawab Asep sambil berdiri karena tak sopan jika diajak bicara orang tapi tetap duduk sementara yang mengajak bicara berdiri.
"Ooh iya benar, tidak apa-apa Bang Asep."
Bu Selasih yang baik hati dan tidak sombong itu mengangguk sambil tersenyum.
"Oh Minarni, kamu sekalian saja pesan juga etalase untuk konter hp si Eti. Bukannya kata kamu mau buka satu konter lagi di dekat Fit Yan Swalayan?"
Bu Selasih pada saudaranya.
"Oh bisa ya bikin untuk etalase hp juga?"
Tanya Bu Minarni, saudara Bu Selasih.
"Bisa Bu, bisa sekali, gerobak juga bisa, atau lemari kaca untuk butik juga bisa."
Ujar Asep.
"Wah luar biasa, kalau begitu saya pesan satu dulu Bang untuk hp."
Bu Minarni akhirnya jadi ikut pesan etalase.
Asep mengangguk cepat.
Tampak ia begitu semangat menerima setiap pesanan yang datang.
Ah tahu begini, dari dulu disuruh Emaknya meneruskan usaha Bapak, Asep langsung mau. Mungkin jika Asep dari dulu manut pada Emak, sekarang dia sudah sukses dan punya mobil keren.
Tapi...
Tenang Sep, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.
Telat makan jadi magh, telat datang bulan jadi anak, telat manut orangtua asal kemudian dilakukan tetap jadi berkah.
Hihihihi...
"Nanti kalau sudah jadi kabari Bu Selasih saja."
Kata Bu Minarni.
"Oke Bu, siap."
Sahut Asep.
Bu Minarni tersenyum.
"Seneng lho kalau ada anak muda yang semangat berwirausaha seperti ini Bu Selasih, mengingat saat ini tidak banyak lapangan pekerjaan yang bisa dibuka untuk anak-anak muda yang baru lulus, usaha seperti ini salah satu yang berpotensi menyerap tenaga kerja kan?"
Bu Minarni pada Bu Selasih yang mengangguk mengiyakan.
"Betul Bu, wong saya buat usaha londrian itu juga salah satunya untuk membuat ibu-ibu yang suka duduk di rumah saya ngobrol ngalor ngidul, ngeluh mau beli beras belum ada uang dan lain-lain akhirnya bisa punya pekerjaan tetap. Kan saya belum bisa bantu secara cuma-cuma, kalau bikin usaha kan mereka dapat uang, saya juga jadi punya lebih misal ada yang butuh dibantu lagi."
Kata Bu Selasih.
Asep tampak tersenyum melihat kedua Ibu di depannya.
Wah syukurlah, Ibu-ibu yang ada di sekitar Asep nyatanya Ibu-Ibu Nusantara yang sungguh-sungguh menggunakan semangat emansipasi Kartini dengan baik dan benar.
Asep jadi ingat Bu Putri Marfuah, Bu Arinda dan Bu Resti yang kata Emak sedang merencanakan membuat Kelompok Bermain untuk anak-anak sekitar Kampung Raja Pete yang biaya nya tak terlalu mahal supaya bisa terjangkau.
"Eh sudah sore ini, nanti suami saya keburu pulang dari kantor."
Ujar Bu Minarni.
"Mari Bang Asep, permisi dulu, kalau perlu Depe nanti saya titip ke Bu Selasih ya."
Bu Minarni pada Asep.
"Tidak usah Bu, nanti saya langsung buatkan saja."
Kata Asep.
"Oke."
Bu Minarni mantuk-mantuk, lalu bersama Bu Selasih berjalan menuju mobil kecil matic warna hijau yang terparkir di sisi jalan depan.
Asep jadi kepikiran ingin beli mobil serupa.
Tidak apa belum bisa beli Pajero, sepertinya mobil itu dulu juga lumayan. Batin Asep.
Ah ya, besok Asep akan coba ke showroom nya Wak Imah, siapa tahu ada mobil yang serupa, sekalian Asep akan mengembalikan saja uang pinjaman Wak Imah, karena uang dari Tuan Anonymous sudah lebih dari cukup untuk pegangan.
"Aku mau mandi ya Sob, habis itu mau ke tempat Emak."
Ujar Asep.
"Nginap di sana Sep?"
Tanya Sobir.
Asep melihat jam yang sudah jam empat lewat.
"Kalau kemalaman mungkin aku akan menginap."
Kata Asep.
"Wah kalau gitu mending aku balik rumah saja."
Ujar Bani.
"Aku juga."
Kata Sobir.
Asep memandangi kedua temannya.
Tampaknya mereka sebetulnya takut di rumah Bik Marni.
"Hmm... Dasar anak laki-laki jaman sekarang, sama hantu saja takut."
Komen hantu Nenek julid.
"Duh, tapi bahan-bahan etalase nanti tidak ada yang jagain dong kalau kalian pergi juga."
Kata Asep.
"Apa nanti malam aku tetap pulang wis, yang penting kalian tetap di sini, nanti aku belikan Ayam bakar taliwangnya Bu Retno Guntara yang nampol banget itu."
Kata Asep.
Mendengar ayam bakar Taliwang disebut-sebut, Sobir dan Bani langsung mengangguk setuju.
"Baiklah Sep."
Kata mereka.
Asep pun kemudian masuk ke rumah untuk mandi sore dan bersiap pulang ke rumah Emak.
Di luar rumah Bani dan Sobir memilih merokok lagi sambil menutup rolling door kios mereka.
"Coba Asep udah begini dari dulu, aku pasti nggak sampai kesandung kasus sama Nia."
Kata Bani.
"Kenapa memangnya?"
Tanya Sobir.
"Ya aku sama Nia pacaran tidak dapat restu karena aku anak orang kurang mampu, aku juga cuka ngojek, dia jadi dijodohkan dengan orang lain, tapi ya begitulah, kami tidak bisa berpisah Bir, semua terjadi begitu saja dan akhirnya begini, Nia hamil di luar nikah, aslinya aku nyesel banget Bir. Aku sebagai laki-laki merusak perempuan yang aku cinta banget, ini salah besar Bir, salah besar."
Kata Bani.
Sobir mantuk-mantuk.
"Ya yang sudah ya sudah, mau diapakan juga sudah terjadi. Ibarat kata, tempe yang sudah jadi keripik ya tidak mungkin kamu bisa paksain jadi tempe oreg."
"Iya juga ya Bir."
"Iyalah, yang penting sekarang, bagaimana caranya kamu tetap bisa menikahinya, membawanya ke posisi yang kembali terhormat sebagai isteri yang dinikahi secara sah, lalu kamu bisa nafkahi dia, bahagiakan dia, lindungi dia, jagain dia, kasih dia masa depan yang baik."
Ujar Sobir pula.
"Wah kamu kok bijak amat Bir."
"Ya ini efek cukup kopi dan rokok Ban, hahahaha..."
"Hahahahaha..."
Keduanya terbahak bersama.
**-------------**
Bismillahirrahmanirrahim
izin maraton thor . . . .
Aq mampir nih...
sukses buat penulisnya karya yg bagus