NovelToon NovelToon
My Bastard Husband

My Bastard Husband

Status: tamat
Genre:Patahhati / Balas Dendam / Poligami / Selingkuh / Tamat
Popularitas:2.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Erna Surliandari

Bijaklah dalam memilih bacaan dan dalam berkomentar. Semua hanya fiksi, tapi maaf jika mengundang banyak emosi.

Happy reading!

Bertahan demi anak, adalah sebuah kata yang mudah di ucapkan, tapi begitu sulit untuk dilakukan. Sakit, dan perih, namun harus berusaha kuat dan tetap tersenyum di depan buah hati mereka. Apalagi, ketika terpaksa harus terus tinggal bersama.

Isti wulandari, seorang wanita karier dengan seorang anak perempuan berusia Sepuluh tahun. Dengan semua kesuksesan, kecantikan, dan bahkan kekayaan yang Ia miliki, nyatanya tak menjadikan sebuah jaminan untuk sang suami agar tetap setia. Suaminya kepergok selingkuh, dengan seorang wanita yang Dua belas tahun lebih muda darinya. Dan parahnya lagi, sang suami kekeuh menolak untuk diajak bercerai, dengan alasan anak mereka.

Berhasil mempertahankan rumah tangga, atau akhirnya Isti akan menyerah dan menjelaskan pada sang anak akan permasalahan ini meski harus sakit dengan keadaan yang ada?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kecurigaan Firman

Suara telepon menyadarkan Isti dari tangisnya. Ia segera mengusap air mata yang tumpah itu, dan mengatur suara untuk menjawabnya.

"Iya, Dok?" tanya Isti, ketika tahu yang menelpon adalah Firman.

"Dimana? Saya udah nungguin loh."

"Oh iya, maaf. Saya lagi kehalang macet, sebentar lagi saya sampai." ucap Isti, yang harus berbohong.

Isti kembali merapikan wajahnya dengan memoles kembali bedak yang hampir hilang. Kemudian, mulai menginjak pedal gas dan memacu mobilnya dengan cepat menuju tempat janjiannya bersama Firman.

*

*

*

" Maaf telat." ucap Isti yang menghampiri Firman.

"Hey, kau tak apa?" tanya Firman, yang melihat keanehan di wajah Isti.

"Ngga papa, capek aja karena belum sempet istirahat." balas Isti.

Firman hanya mengangguk, kemudian memepersilahkan Isti untuk memulai pembicaraan. Dan sesuai agenda, tak perlu banyak bicara karena mereka hanya ingin memberikan sebuah cek pada Isti sebagai sumbangan untuk Laras. Dan setelah itu semua sah, mareka pamit pergi, meninggalkan Isti dan Firman di cafe itu.

"Yakin ngga papa? Ngga habis nangis?"

"Kamu tahu?"

"Aku seorang dokter, aku tahu tentang psikologis orang. Apalagi kamu, yang diam-diam selalu ku perhatikan." balas Firman.

"Kau bertengkar dengan suamimu?"

Isti hanya mengangguk lemah, menahan air mata yang nyaris kembali tumpah.

"Aku sudah curiga, dari awal kita bertemu di pesta. Dia kenapa? Selingkuh?" tanya Firman lagi, dan lagi-lagi tebakannya pas.

"Sudah dua tahun menyembunyikan hubungan gelapnya, dan sudah setahun menikah siri. Aku baru mengetahuinya sebulan ini." jawab Isti.

"Kalian terlihat baik-baik saja, kau kuat?"

"Mau tidak mau, aku belum  bisa meminta cerai meski ingin. Anakku, mertuaku, mereka begitu rapuh untuk menerima semua ini."

"Tapi menjadi malaikat penenang, ketika sayapmu sendiri telah hancur itu begitu menyakitkan." ujar Fikri, yang tak tega melihat Isti seperti ini.

Isti hanya menggeleng sembari menunduk. Ia tak tahu harus bicara apalagi saat ini. Ia takut salah bicara, dan semakin jauh menceritakan semua pada orang lain yang bisa membongkar aib keluarganya. Isti lebih memilih diam, meski Firma mendesaknya untuk bercerita.

"Tolong, jangan ceritakan ini kepada siapapun. Jangan pernah." pinta Isti dengan sangat pada Firman.

Firman pun mengangguk, lalu menepuk bahu Isti agar sedikit tenang dalam dirinya. Setelah itu, Isti pamit pulang karena harus menjemput Bu Laksmi dan Zalfa di rumahnya.

Menghabiskan minuman yang tekah di pesan Fikri untuknya, Isti kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan tapi Bu Laksmi menelponnya agar tak menjemput, Ia ingin menginap di rumah itu malam ini.

"Zalfa biar diantar Rani kesana." ucap Bu Laksmi.

Isti meng'iyakan, lalu putar arah dan kembali kerumahnya. Betapa malas Ia untuk masuk, ketika melihat mobil Fikri masih terparkir di halaman rumah mereka.

"Kenapa masih disini, apakah Ia tak bekerja? Bagaimana menghidupi Dua istri, jika seperti ini." gerutunya, yang masih tetap didalam mobil untuk beberapa saat. Hingga akhirnya, Ia pun turun dan masuk ke rumahnya.

Kreeek! Isti membuka pintu, lalu masuk tanpa mengucap salam. Ia yakin, saat ini Fikri sedang tidur. Itu adalah kebiasaan Fikri jika sedang ada masalah dengan Isti. Ia akan berbaring, memejamkan mata dan meletakkan lengannya untuk menutupi matanya itu. Sedang berfikir, atau hanya ingin lari dari perdebatan. Hingga akhirnya, Zalfa menjadi penawar mereka, dan akan kembali seolah tak pernah terjadi apapun.

Isti langsung masuk ke kamar, ketika melihat Fikri tidur di sofa. Ia tak ingin mengganggu, dan memang sudah tak ingin bicara lagi. Isti mengganti pakaiannya, dan duduk membaca buku di kamarnya.

"Is..." panggil Fikri yang bangun, dan menghampirinya di kamar.

Isti tak menoleh, tapi Fikri tahu jika Isti mendengarkan semuanya. Fikri kemudian mengambil kursi, dan duduk di depan Isti.

"Aku tak mau bercerai." ucap Fikri.

"Tapi kamu sudah terlalu membuatku muak, Mas." jawab Isti, dengan nada datarnya dan tanpa melirik Fikri.

"Aku memang ayah yang buruk dimata Zalfa, Ia akan segera tahu itu. Tapi, apakah kamu ngga bisa terus berada di sampingnya? Bagaimana perasaannya, ketika Ia tahu ayahnya menikah lagi, dan Ibunya selalu keluar dan bertemu dengan pria asing? Jika aku ada di posisi anak, dan melihat kedua orang tuaku bertindak sesuka hati tanpa memperdulikanku, hatiku akan hancur berkeping-keping. Aku mohon, jangan sakiti hatinya demi kepuasan kita."

"Hah? Bicara apa kamu, Mas? Bisa kamu bicara seperti itu sekarang?" ledek Isti, yang menyunggingkan senyum penuh ledekan untuk Fikri.

"Is, anak perempuan itu lebih rapuh dari anak laki-laki. Mereka akan lebih bergantung pada Ibu daripada Ayah, banyak yang bilang begitu. Bukan kah kau mengerti?"

"Ya, aku mengerti, dan aku sangat faham." jawab Isti.

"Lalu?"

"Aku dan Firman sedang dalam sebuah misi menggalang dana untuk membantu seorang pasienku. Biayanya terlalu besar untuk operasi dengan gumpalan darah di otaknya. Dan dia tak memiliki oranh tua. Ia anak broken home."

"Nah... Kau bisa dengan begitu gigih membantu pasienmu yang broken home. Kau tahu, bagaimana dia menderita dengan semua itu. Dan jangan sampai, kau membantu orang lain dengan cara mengorbankan anakmu sendiri." balas Fikri, membuat Isti menatap heran pada pria itu.

"Bisa mengatakan hal semanis itu, seolah-olah dirimu adalah malaikat yang paling baik. Padahal.... Tak lebih dari pria berengsek dan tak memiliki pendirian."

"Terserah, kau mau jawab apa. Aku pergi, dan malam ini tak akan pulang karena menginap di kantor." ucap Fikri yang kembali berdiri dan mempersiapkan dirinya.

"Terserah mau menginap dimana. Aku sudah tak perduli." balas Isti, dan tak di hiraukan oleh Fikri.

Fikri sengaja tak menceritakan masalah kepindahan mereka di rumah Bu Laksmi esok. Ia tak mau, Isti kembali terpancing emosinya. Karena perdebatan tadi saja sudah begitu memusingkan fikirannya. Ia ingin pergi, dan bekerja dengan tenang malam ini. Tanpa adajya gangguan dari Isti maupun Naya.

"Setidaknya malam ini kamu sedikit tenang, Is. Masalah besok, akan kita selesaikan besok lagi." batin Fikri, yang kini sedang menyetir dan kembali ke kantornya.

Isti kini berbaring memijati kepanya yang semakin sakit. Ia mengakui, jika kata-kata yang di lontarkan suami brengseknya itu adalah benar. Zalfa akan rapuh ketika melihat mereka terus seperti ini. Meski bertahan selamanya juga tak akan mungkin. Ia hanya menunggu waktu yang tepat, agar bisa melaksanakan yang Ia inginkan. Meski harus mempertebal kesabaran dalam hatinya.

"Ini adalah hal yang tak mungkin lagi diperbaiki. Mau bagaimanapun caranya, tak akan bisa. Dengan senyum palsu, dengan keramahan palsu yang selalau ku berikan, pasti seorang anak akan merasakan, jika telah terjadi sesuatu pada Mama dan Papanya. Hanya tinggal menunggu waktunya, Mas." ucap Isti, yang bersiap dengan semua kemungkinan yang ada.

1
NaNa
Luar biasa
kinan kinan
Seru dan ceritanya bagus...
wo ai ni
lah gajelas bgt, takdir situkang selingkuh sama pelakor kok enk bgt hidupnya, kyk ga ada rasa sesal bersalah
Soraya
mksh y thor karyanya
Soraya
permisi numpang duduk dl ya kak👍
Ririn Nursisminingsih
suka karakter isti
Assyifa Ramadhani
untung isti masi liat ank ma ibu,
cb klo aq ogah lah.
lbih baik sendiri jga ank drpd mkn ati doang tiap hari liat wajahnya
Aas Azah
baru mampir thoor tapi udah bikin nyesek😭😭😭
Alexa Juliana
Semoga bayinya kembar biar rumah tambah rame..
Alexa Juliana
Jgn² nanti ternyata ayahnya Laras adalah Pak Bardo..
Alexa Juliana
Menjemputnya ---> menjenguknya
Alexa Juliana
Awal kehancuran hidupmu sdh di depan matamu Fikri..nikmati hari2mu saat sdh di ceraikan Isti..
Alexa Juliana
Jgn² Rani tuh yg ngehajar Naya
Alexa Juliana
Si Naya tuh yg ngirim foto ke sekolah Zalfa..
Alexa Juliana
Gaji Masih pas²an sok sok'an punya istri 2..
Alexa Juliana
Mengharapkan naik pangkat demi utk menghidupi selingkuhan bukan demi kebahagiaan anak dan istri sah..Semoga mimpimu g akan terwujud Fikri..kalau perlu posisimu diturunkan..
Alexa Juliana
Pak Bardo kan duda..semoga Isti bercerai dgn Fikri dan menikah dgn Pak Bardo biar si Fikri tau rasa klo berlian yg dia sakiti menikah sama si Boss..
Alexa Juliana
Klo ada di dekat si Fikri, asli pengen getok tuh kepalanya.. egois banget sih..
Alexa Juliana
Setuju sama perkataan Bu Laksmi..
Alexa Juliana
Tetap keukeuh g mau cerai tp ga mau juga ngelepasin selingkuhan hanya krn sdh dijebol..Iihh jijay banget itu otong udh nyelup lobang yg lain..di pikiran suami, klo suami selingkuh itu g apa dan dianggap wajar, tp klo istri selingkuh ga ada kata maaf dan langsung bilang istrinya seorang jalang dan diceraikan..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!