Hati wanita mana yang tidak sakit saat mengetahui bukan satu-satunya wanita di hidup suaminya?
Tapi aku tidak akan menangis, aku akan membuat akulah satu-satunya wanita di hidup suamiku. Untuk pernikahanku, untuk anak-anakku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon d'nafray, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Bersabar Tidaklah Mudah
Sejak pagi badan Arka sudah panas. Sebenarnya Mas Hendra khawatir dengan keadaannya, ingin membawanya ke dokter. Tapi aku berkeras mengatakan bahwa panasnya akan turun setelah minum obat. Memang turun dan naik lagi sore ini. Arka memang tidak rewel, tapi dia tidak banyak tingkah dan bicara seperti biasanya. Mungkin karena dia menahan sakitnya. Aku memutuskan membawanya ke rumah sakit saat panasnya semakin meninggi.
Aku menyesal tidak memeriksakan Arka sejak awal. Dia terkena gejala DBD dan harus opname. Baru saja aku berniat menghubungi Mas Hendra, ada pesan masuk dari Alina.
Biarkan Mas Hendra menginap. Fajar sedang demam karena tadi pagi imunisasi.
Dia juga mengirimkan foto saat Mas Hendra menggendong Fajar. Apakah sebaiknya aku membiarkan Mas Hendra di sana dulu? Mengapa perasaanku tidak enak? Arka juga membutuhkannya kehadiran ayahnya. Dengan cepat aku mengetik balasan pesan itu.
Tolong beritahu Mas Hendra kalau Arka opname, gejala DBD.
Pesan itu hanya dibaca saja. Sebaiknya aku menelepon Mas Hendra langsung. Sayangnya, ponsel suamiku tidak aktif. Terpaksa aku hanya mengirimkan pesan.
Hingga pukul tujuh malam, Mas Hendra masih belum bisa ku hubungi, Alina pun juga tidak. Panas di tubuh Arka juga belum menurun. Sekarang dia tidur setelah meminum obat. Ku usap kepalanya berharap kondisinya cepat membaik. Sesekali aku mengusap perutku yang beberapa kali terasa kram. Aku berusaha tenang, menghindari perasaan tertekan. Arka pasti cepat membaik dan Mas Hendra akan segera datang. Semua akan baik-baik saja.
Aku menoleh saat pintu kamar inap Arka terbuka. Ibu mertuaku datang bersama Hana. Wajahnya tampak panik saat menghampiriku.
"Kenapa tidak langsung menelepon Ibu kalau Arka di sini? Mana Hendra?"
"Ibu tahu darimana Arka di sini?"
"Ibu tadi ke rumah, Kenzo yang cerita. Jadi Ibu berangkat sama Hana. Rania, kamu sudah hubungi Hendra?"
Bagaimana aku menjawabnya?
"Su-sudah, Bu. Ponsel Mas Hendra tidak aktif."
Ibu berdecak kesal. "Ke mana anak itu?"
"Bersama Alina."
Wajah Ibu berubah menjadi sendu dan menatapku prihatin. Digenggamnya erat tanganku dan mengajakku duduk di sofa dekat tempat tidur Arka.
"Fajar sedang demam dan Alina memintaku untuk mengizinkan Mas Hendra menginap. Fajar tampak nyaman dengan Mas Hendra."
"Kamu sudah makan?"
Dari tadi siang aku belum sempat makan karena menjaga Arka. Sampai sekarang pun belum, aku menunggu Hana datang untuk menggantikanku menjaga Arka. Ibu mengajakku ke kantin. Wanita yang melahirkan suamiku itu sengaja membiarkan aku menyelesaikan makan sebelum dia berbicara.
"Jika Ibu tidak terlalu memaksa Hendra, mungkin situasinya tidak akan sulit seperti ini." Wanita itu menatapku memohon maaf. "Seharusnya Ibu tidak ... "
Hening.
Ibu menyesal tapi semua tidak bisa diulang lagi. Mau tidak mau semua harus tetap berjalan.
"Ada satu hal yang Ibu dan Alina sembunyikan."
Ada rahasia lagi?
"Kecelakaan yang menimpa Alina membuat rahimnya bermasalah. Dokter memvonis Alina sulit untuk hamil. Itulah mengapa Ibu memberi syarat kepada Hendra saat ingin menikahimu. Jangan pernah melepas Alina."
Entah mengapa aku tidak merasakan apa pun saat mendengar informasi itu. Seolah aku tidak mempedulikannya, aku pun hanya diam dan tidak merespon.
"Ibu tidak menyangka jika akhirnya seperti ini. Ibu pikir Hendra akan bisa menerima Alina bukan sebagai adiknya. Tapi Hendra semakin menutup hatinya. Beberapa bulan yang lalu Hendra menemui Ibu dan memohon sesuatu. Dia ingin mengakhiri pernikahannya dengan Alina."
Kami saling bertatapan. Mengapa aku mengartikan tatapan Ibu sebagai penolakan? Aku merasa Ibu tidak ingin hal itu terjadi. Ibu masih ingin suamiku mempertahankan Alina. Sungguh aku tidak rela. Kapan semua ini berakhir? Aku kecewa.
Ibu meraih tanganku dan menggenggamnya. "Maafkan Ibu, Rania. Maaf."
Bolehkah aku marah dan protes dengan keadaan ini? Mengapa harus Alina yang selalu dipikirkan? Mengapa Alina yang harus selalu diprioritaskan? Apakah aku juga tidak mempunyai hati? Aku juga merasakan sakit. Terlebih Kenzo, semakin hari sulungku semakin pendiam. Membuatku bertambah cemas.
"Ibu tidak tahu harus berbuat apa. Winda berkeras menyuruh Alina bercerai dari Hendra."
Kepalaku mendongak, tidak percaya.
"Ibu berusaha mencegahnya, karena kondisi kesehatan Alina. Ibu tidak bisa membayangkan keadaan Alina jika Hendra meninggalkannya. Ibu sangat menyayangi Alina."
Air mataku menetes tanpa ku sadari, cepat-cepat aku menghapusnya. Ku tahan rasa nyeri di perutku.
Tenanglah, Nak. Kita akan baik-baik saja, ucapku dalam hati. Berharap bayi yang ada di kandunganku tidak protes karena kegelisahanku. Lebih tepatnya sakit hatiku.
Ibu memelukku sebelum dia pulang bersama Hana. Keadaan Arka pun sudah lebih baik. Panasnya menurun saat aku kembali dari kantin. Ku tatap wajah mungil itu dan aku teringat kakaknya. Mereka tidak layak mendapat keadaan seperti ini. Mereka harus mempunyai keluarga utuh. Air mataku kembali meleleh saat mengingat pesan ibu mertuaku.
Bersabarlah, Rania. Jika Ibu bisa hidup berdampingan dengan Winda, Ibu yakin kamu juga bisa.
Bersabar tidaklah mudah. Membayangkan saja aku tidak sanggup. Aku tidak mau berbagi untuk kesekian kalinya. Semua harus berakhir, semua harus dimulai lagi dari yang benar. Jika aku terus membiarkan srmua ini berlangsung, nasib anak-anakku bagaimana? Sekarang saja, Arka harus menunggu ayahnya yang masih meluangkan waktu untuk 'saudara'nya yang lain. Ku cium tangan Arka yang bebas dari selang infus dan menggenggamnya.
Bunda akan berusaha mempertahankan keluarga kita, sayang.
Entah mengapa aku tidak bisa menghentikan air mataku. Aku berharap Tuhan bermurah hati kepadaku agar Kenzo dan Arka selalu mendapatkan ayahnya secara utuh.
Baru saja aku menghapus air mataku, pintu kamar inap terbuka. Mas Hendra setengah berlari menghampiriku. Dia memelukku dan mengucap maaf, membuatku kembali menangis.
"Maafkan aku, sayang." bisiknya tepat di telingaku. "Maaf."
Aku mengangguk dalam dekapannya, merasa lega karena dia sudah ada di sini. Yang terpenting aku sudah bersamanya. Untukku.
"Bagaimana keadaan Arka?"
Mas Hendra mendekati tempat tidur Arka. Diusapnya kepala Arka dan menciumnya. "Maaf atas keterlambatan Ayah, sayang. Cepat sehat ya."
Air mataku kembali mengalir mendengarnya. Ku gigit bibirku agar tangisanku tidak pecah. Apalagi saat tangan Mas Hendra merangkum kedua pipiku dan menatapku sebelum menyuruhku istirahat.
Aku memang meminta tempat tidur tambahan karena tidak memungkinkan untuk tidur di sofa dengan kondisi hamil begini. Bukan hanya kelelahan fisik yang ku rasakan, batinku juga. Mas Hendra membiarkan lengannya ku jadikan bantalan kepalaku. Kami saling menatap sementara tangannya mengusap perutku. Seolah tahu itu ayahnya, ada sebuah tendangan dari dalam perutku. Tanpa melepas tatapan, kami saling melempar senyum.
"Ayah sangat mencintai Bunda kalau kamu ingin tahu, Nak." ucapnya membuat mataku terpejam karena terasa berat.
***
Aku terkejut tidak menemukan Arka di tempat tidurnya. Aku sendirian. Dengan cepat aku bangun dan berlari keluar kamar sambil memeluk perutku. Aku bernapas lega saat melihat Arka berlarian dengan Kenzo. Di belakang mereka ada Mas Hendra yang mengejar. Senyumku lenyap saat melihat Alina yang menatapku tajam dan menghampiriku.
"Aku akan mengambil kembali apa yang menjadi milikku."
Mataku melebar saat sekelilingku berubah menjadi gelap. Aku tidak bisa melihat apa pun. Tiba-tiba suasana berganti terik dengan aku yang duduk di sebuah taman. Alina menangis di sampingku sambil menutup wajahnya.
"Kenapa Mas Hendra tidak bisa jadi milikku saja?"
Dia bertanya padaku?
"Seharusnya dulu aku tidak pernah mengizinkan Mas Hendra mendekati wanita lain. Aku yang menjadi istrinya seorang. Aku menyesal sudah membagi suamiku, Rania. Kembalikan suamiku."
Sekarang Alina menatapku marah, tangannya mengepal hingga buku-buku jarinya memutih. Napasnya pun naik turun. Tubuhku membeku merasakan kedua tangannya yang meremas leherku dengan kuat. Aku berusaha menahannya, tapi tenaganya sangat kuat.
"Tinggalkan suamiku."
Aku terbangun dengan napas tersengal sambil menekan dada sebelah kiriku. Tubuhku tertarik masuk dalam sebuah dekapan, rasanya nyaman sekali.
"Mimpi buruk?"
Aku hanya mengangguk dan menyandarkan tubuhku dalam dekapan itu. Berharap memang hanya mimpi saja. Aku harus benar-benar bangun dari mimpi buruk ini.
alina, terima aja krn hendra itu kan TERPAKSA menikahimu, SADAR dong
u/ elin, ceraikan stlh anak'a lahir & tes DNA